Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Mama muda


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Pedho merenggut kesal. Ketika bayi laki-laki nya menghisap ASI sang istri. Lelaki itu terus mengomel.


"Kak, kenapa sih?" tanya Leona heran melihat wajah suaminya yang cemberut begitu.


"Sayang kenapa mereka tidak minum susu formula saja sih?" protes Pedho


"Yaellah Kak, 'kan aku Ibu mereka ya wajar dong mereka ASI ku. Formula itu lain lagi, Kak. Punya ku lebih sehat kok," ucap Leona tak habis pikiran dengan suami nya ini.


"Sayang punya mu itu milikku. Aku tidak ikhlas," renggek Pedho. Jiwa cemburu laki-laki itu tak berubah sama sekali. Meski itu anaknya sendiri tetap saja ia cemburu.


Leon mendelik sambil geleng-geleng kepala, "Kak, itu juga setiap malam Kakak hisap-hisap masih saja belum puas," gerutu Leona memutar bola matanya malas.


Kondisi Leona sudah jauh lebih baik. Setalah pulang dari rumah sakit, dia menjalani perawatan rutin. Supaya daya tahan tubuh nya tetap kuat.


"Kamu 'kan milikku, Sayang," jawab Pedho.


Pedho menatap kedua putra nya yang masih berbentuk bayi itu dengan jenggah. Andai mereka sudah besar pasti ia akan mengajak keduanya baku hantam sampai babak belur.


Entahlah, Pedho tak tahu. Kenapa dia sangat cemburuan? Apalagi sejak melahirkan wajah Leona lebih cantik. Meski tanpa rambut.


Leona masih menyusui ketiga anaknya secara bergantian. Sejak melahirkan dan menyusui tiga anak sekaligus, nafsu makan Leona semakin bertambah. Namun, aneh nya tubuh nya tetap ideal dan tidak gemuk apalagi berlebihan lemak. Pesona kecantikan nya semakin bertambah, bagaimana Pedho tidak cemburu?


Tentu nya Leona harus makan, makanan yang diperbolehkan oleh dokter. Apalagi dia selesai operasi.


Jiwa kecemburuan Pedho semakin bertambah. Ia mulai panik jika ketiga anaknya itu nanti tumbuh dewasa. Apalagi kedua putranya, pasti mereka akan tampan. Usia Leona juga masih muda. Bisa saja kan banyak yang mengira jika Leona bukan ibu dari mereka.


"Sini Sayang, biar aku yang gendong," ucap Pedho mengambil alih bayi lelakinya.


Pedho mengambil putra sulungnya digendongan Leona. Dalam hati ia menatap putra nya itu tajam seolah mengajak baku hantam.


'Awas saja kalau sudah besar nanti kamu merebut Mommy dari Daddy, akan Daddy coret kamu dalam kartu keluarga,' ancam nya dalam hati.


Naro kecil malah tertawa melihat ekspresi lucu sang ayah. Bayi berusia dua bulan itu seperti sudah mengerti apa yang di ucapkan oleh ayah nya yang memiliki jiwa posesif luar biasa.


Setelah menyusui ketiga anaknya bergantian. Leona meletakkan bayi-bayi itu kedalam box bayi, dia sudah lelah dan mengantuk.

__ADS_1


"Tidur duluan saja Sayang. Biar aku yang jaga mereka," ucap Pedho. Ia kasihan menatap istrinya yang tampak kelelahan.


"Memang Kakak tidak mengantuk?" tanya Leona sambil menguap beberapa kali.


"Tidak Sayang," sahut Pedho dengan senyuman hangat.


"Ya sudah, Kak. Aku tidur duluan ya, Kakak jangan hisap-hisap aku malam ini. Aku capek," ketus Leona memijit-mijit bahu nya.


Pedho terkekeh. Leona belum bisa melakukan hubungan suami istri setelah melahirkan selama dua bulan. Meski dokter tidak mengatakan hal tersebut. Namun, Pedho tidak mau egois. Dan dia hanya main hisap-hisap saja untuk menuntaskan hasratnya ia akan menidurkan adiknya itu di kamar mandi. Apalagi Leona menjalani operasi, tentu nya tidak boleh banyak bergerak.


"Iya Sayang. Mau aku pijitin?" tawar Pedho.


"Boleh Kak," sahut Leona naik keatas ranjang dan diikuti oleh Pedho.


"Apa masih ada yang sakit, Sayang?" tanya Pedho lembut.


"Tidak Kak. Aku sudah sembuh," jawab Leona menatap suaminya dengan cinta.


"Kamu tidur saja. Sambil aku pijit ya?" Pedho kasihan sendiri melihat perjuangan istrinya. Tidur tengah malam dan kadang terbangun saat ketiga anaknya menangis ingin ASI. Apalagi ketiga bayi itu tidak mau minum susu formula.


Pedho menjadi suami yang siaga menemani Leona setiap malam. Mereka berdua saling membantu dalam merawat ketiga bayi nya tanpa bantuan babysiter.


Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut Leona. Pedho menatap istrinya sambil tersenyum. Ia tahu menjadi seorang Ibu bukan lah hal yang mudah. Banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus di lewati.


"Terima kasih Sayang sudah hadir di hidupku. Maaf belum bisa membuatmu dan anak-anak bahagia. Kalian berempat adalah harta paling berharga dalam hidupku. Aku mohon bertahan bersama ku. Jangan tinggalkan aku dan anak-anak. Kami butuh kamu untuk berada disisi kami," lirih Pedho.


Pedho mengecup kening istrinya dengan sayang lalu menyelimuti tubuh wanita itu.


Pedho ikut berbaring disamping istrinya. Begitulah aktifitas nya setiap malam setelah memiliki anak ia dan dia akan begadang saat bayi-bayi itu terbangun.


.


.


.


"Kak lucu ya, muka nya sama seperti Kakak," celetuk Lea menciumi wajah Nara dengan gemes nya.

__ADS_1


Leona tersenyum sambil mengangguk. Pagi-pagi Lea sudah datang dengan alasan ingin bertemu di kembar.


"Kak, Om Dokter kemana?" tanya Lea celinggak-celinguk mencari keberadaan Luiz.


"Mau ketemu si kembar atau ketemu Kak Luiz?" goda Leona.


"Ketemu dua-dua nya Kak," jawab Lea cenggesan.


Tampak Pedho dari arah dapur membawa nampan berisi makanan untuk istrinya. Sementara ketiga anaknya belum bisa makan apapun selain susu dari Leona. Sebab anak-anak Leona tidak mau minum susu formula.


"Sayang, makan dulu," ucap Pedho duduk sembari meletakkan nampannya.


"Iya Kak," jawab Leona.


Lea tersenyum menatap keharmonisan kedua pasangan bahagia ini. Pedho lelaki paket komplit yang menjadi idaman para wanita.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Luiz ketus lalu ikut berkumpul disofa.


Luiz tinggal disini, untu memastikan perkembangan penyakit Leona serta bekas operasinya.


"Mau bertemu si kembar dan bertemu, Om," sahut Lea mengedipkan matanya jahil.


Luiz memutar bola matanya malas. Gadis ini seperti jalangkung datang tak di undang pulang tak diantar.


"Kamu tidak sekolah?" tanya Luiz memincingkan matanya curiga. Lea masih duduk dikelas dua belas sekolah menengah atas.


"Lea bolos, Om," jawab gadis itu jujur. "Lagian Lea homeschooling, bosan dirumah tidak punya teman," sambungnya sendu.


"Kenapa tidak ke sekolah saja?" tanya Luiz heran.


"Belum di perbolehkan sama Kak Dhika," jawab Lea.


"Hmm, Luiz. Seperti nya kamu bawa Lea jalan-jalan saja," ucap Pedho.


"Aku mau kerumah sakit," jawab Luiz mencoba menghindar dan entah kenapa gadis ini suka sekali menganggu hidupnya.


"Lea mau ke rumah sakit juga, Om. Sekalian saja," ajak Lea menaik turunkan alisnya menggoda gadis tersebut.

__ADS_1


Pedho dan Leona menahan tawa ketika melihat ekspresi Luiz dan kesal. Ada untungnya juga Lea hadir dikehidupan Luiz, setidaknya memberi warna pada hidupnya yang datar seperti aspal.


Bersambung...


__ADS_2