Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Sekretaris baru


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


"Nama kamu siapa?" tanya Pedro sambil melihat CV gadis itu


"Riana Antoinette, Tuan," jawab Rere


"Usia kamu berapa?"


"19 tahun Tuan," jawab Rere lagi.


"Tujuan kamu bekerja disini apa?"


"Mencari uang," jawab Rere jujur


Pedro mendelik saat gadis itu mengatakan bekerja disini mencari uang. Semua orang juga tahu kalau bekerja ya mencari uang.


"Saya tahu kamu bekerja memang mencari uang," ketus Pedro. "Maksud saya apakah ada motivasi lain kenapa kamu memilih melamar di perusahaan saya padahal usia kamu masih muda? Atau jangan-jangan kamu ini anak SMA yang sedang kabur dari rumah?" tebak Pedro menatap gadis itu curiga. Cara berpakaian Rere memang terlihat seperti gadis tomboy.


Rere mendelik. Kenapa Pedro bisa menebak kalau dia kabur dari rumah?


"Hiks hiks, saya orang susah, Tuan. Motivasi saya bekerja hanya mencari uang. Kalau tidak mencari uang saya mau makan apa," ucap Rere mengusap air matanya yang tidak jatuh sama sekali. "Saya sedang cuti kuliah Tuan, karena tidak ada dananya," sambung nya dengan wajah sesedih mungkin.


Pedro menatap Rere curiga. Dilihat dari merk-merk pakaian yang gadis ini pakai, terlihat seperti orang kaya. Tetapi kenapa dia malah mengatakan bahwa dirinya orang susah?


"Hm, baiklah. Saya mau kamu isi semua soal ini," ucap Pedro meletakkan dua lembar kertas didepan Rere.


Rere menatap kertas itu, dia mendelik melihat soal ulangan fisika, kimia dan matematika, pelajaran horor yang begitu menakutkan.


"Tuan, yang benar saja. Saya ini mau interview kerja. Kenapa malah disuruh kerjakan ulangan matematika?" protes Rere. Padahal itu alasan karena dia tidak bisa menjawab nya.


"Kamu tidak bisa?" Pedro melipat kedua tangannya didada. "Ya sudah kamu saya tidak saya terima_"


"Ehhh tunggu Tuan. Saya bisa." Secepatnya ia menarik kertas diatas meja itu sebelum Pedro menyimpannya kembali.


"Kerjakan. Dalam waktu dua puluh menit," sambil melirik arloji yang melingkar ditangannya.


"Tuan mana bi_"


"Tinggal 19 menit," potong Pedro


Rere mendengus kesal. Gadis itu mengambil bolpoin dan mengerjakan tugas yang diberikan Pedro. Ini sama saja seperti ujian yang paling dia benci. Dan nilai ulangan nya selalu saja rendah serta masuk kelas remidial. Apalagi ini hanya dikerjakan dalam waktu dua puluh menit. Rere rasa malaikat sorga pun takkan bisa menjawab nya.

__ADS_1


"Tinggal 10 menit," ucap Pedro memperingatkan.


"Sabar Tuan," ketus Rere. Ia mengerjakan nya sambil dengan mulut yang mengomel.


"Kerjakan dengan baik. Jangan banyak protes," tegur Pedro. Entah kenapa dia seperti anak kecil saat bertemu gadis ini? Biasanya dia irit bicara dan tidak suka basa-basi.


Ben tersenyum melihat Rere yang kalang kabut. Seperti nya gadis ini menyenangkan. Meski terlihat keras kepala dan susah diatur.


'Ayo Rere semangat. Kamu harus bisa kerjakan soal-soal mematikan ini, demi kelangsungan hidupmu,' ucapnya dalam hati.


"Tinggal 5 menit,"


"Satu... Dua.. Ti_"


"Selesai Tuan." Rere langsung menyedorkan kertasnya.


Pedro menatap tak percaya. Ia memincingkan matanya curiga. Jangan sampai gadis ini asal isi seperti yang sudah-sudah.


Kenapa Pedro memberikan soal hitung-hitungan? Karena ia butuh sekretaris yang lancar dalam menghitung cepat. Ia butuh yang cekatan dan pintar. Meski soal yang ia berikan tak berhubungan dengan angka uang. Namun sebagian besar mengarah ke soal hirarki yang sering muncul di kehidupan sehari-hari.


"Yakin kamu ini benar semua?" tanya nya sambil mengambil kertas itu lalu membaca isinya.


"Kalau misalnya kamu saya terima. Kamu mau gaji berapa?" tanya Pedro sambil meletakkan kertas bekas pekerjaan Rere.


"Sebentar Tuan." Rere mengambil ponselnya.


"Kamu sedang apa?" kening Pedro berkerut saat melihat gadis itu tampak sibuk dengan ponselnya dan membuka kalkulator.


"Sedang hitung-hitungan Tuan," jawab Rere tanpa melihat Pedro. "Bayar kost dua juta. Biaya makan tiga juta. Kebutuhan lain-lain lima juta. Uang semester satu juta. Ongkos berangkat kerja satu bulan dua juta jadi totalnya tiga belas juta," seru nya dengan mulut komat-kamit.


"Saya mau gaji saya tiga belas juta, Tuan," jawab Rere tersenyum. Uang tiga belas juta itu bukan uang banyak. Dulu saja ia memiliki kartu hitam, kartu tanpa batas yang bisa beli apa saja.


Pedro mendelik. Baru masuk saja sudah negosiasi gaji sebesar itu. Sementara Rere belum mendapat gelar, masih status mahasiswa.


Pedro menatap Rere licik. Seperti nya dia punya rencana untuk mengerjai gadis ini.


"Okey kamu saya terima," sahut Pedro.


"Yesss." Gadis itu bersorak gembira. "Terima kasih Tuan Tampan, tapi sudah tua. Ehh maaf kecoblosan," gadis itu cenggesan sambil menepuk bibirnya.


"Apa kamu bilang?" hardik Pedro "Kamu bilang saya tua?" Dia menatap Rere tajam.

__ADS_1


"Astaga Tuan, bikin kaget saja. Untung saya tidak gantungan ehh salah jantungan maksudnya." Lagi-lagi ia menepuk bibirnya. "Saya salah ucapkan Tuan, maksudnya terima kasih Tuan Tampan yang baik hati." Puji Rere. Puji-pujilah lelaki didepannya ini yang sebentar lagi menjadi boss nya asal dia diterima bekerja saja.


"Saya memang tampan," ucap Pedro percaya diri sambil memperbaiki dasi nya yang sedikit bergeser. Entah kenapa ia bahagia saat gadis kecil itu mengatakan dirinya tampan. Pedro merasa dirinya tampan, meski sudah berstatus duda.


Rere rasanya mau muntah mendengar ucapan Pedro. Ia akui lelaki tampan tetapi sudah tua. Rere tidak tahu saja jika pria yang sebentar lagi menjadi boss nya tersebut, sudah mendapat gelar duda.


"Saya sanggup memberikan kamu gaji besar. Dengan satu syarat. Kamu harus mengurus semua keperluan pribadi saya. Seperti jam makan siang. Sarapan pagi. Dan selalu siap sedia kapan saja saya butuhkan selama dua puluh empat jam. Tidak ada hari libur kecuali hari Minggu. Tanggal merah masuk seperti biasa," jelas Pedro. Karena Ben akan ia alihkan ke perusahaan cabang miliknya yang terletak di Bandung. Jadi ia butuh sekretaris sekaligus asisten yang bisa merangkap semua pekerjaan nya.


Sejak mendapat gelar duda, lelaki itu sudah jarang memperhatikan kesehatan nya. Dia butuh seseorang yang bisa selalu mengingatkan dirinya.


"Tuan yang benar saja sa_"


"Kalau kamu protes. Saya batalkan kontrak kamu," potong Pedro dengan tatapan mengancam.


"Ehhh iya tidak jadi," Pedro cenggesan.


Gadis itu sudah berpikir kuat. Bagaimana ia bisa kuliah kalau bekerja saja tidak ada libur? Bisa-bisa badannya remuk redam nanti.


"Tuan bolehkah saya melakukan penawaran unt_"


"Tidak bisa," putus Pedro. "Besok kamu sudah boleh masuk. Datang lebih pagi. Jangan lupa bawa sarapan pagi untuk saya," ucap Pedro.


"Ben berikan daftar makanan ku pada nya." Pedro berdiri dari tempatnya


"Baik Tuan," sahut Ben.


"Dan kamu_"


"Riana Antoinette, biasa dipanggil Rerez Tuan," ucap Rere. Secepatnya gadis itu mengucapkan namanya supaya Pedro tidak lagi memanggilnya dengan panggilan kamu.


"Ck, saya juga tahu nama kamu Riana," ketus Pedro kesal. "Kamu, catat baik-baik semua peraturan bekerja di perusahaan ini. Kalau satu saja kamu melanggarnya, gaji kamu saya potong dan kamu akan saya lempar ke planet Pluto," ancam Pedro.


Rere mendelik. Ada-ada saja Boss nya itu.


"Baik Tuan," sahut Rere malas.


Pedro keluar dari ruangan. Acara interview sudah selesai. Waktunya ia kembali ke ruangannya. Masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.


Sebelum nya Pedro tidak memiliki sekretaris, apalagi berjenis kelamin wanita. Sebab dia tidak suka melihat para wanita yang genit padanya seperti kekurangan kasih sayang. Rasa trauma karena penghianatan Tasya masih saja terngiang dikepala lelaki tampan berstatus duda tersebut.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2