
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Beberapa Minggu kemudian.
Disebuah ruangan, tampak beberapa dokter dan perawat tengah bekerja membelah perut seorang wanita. Mereka tampak serius mengerjakan nya dengan keringat membasahi dahi mereka.
“Kasa."
“Gunting."
“Percepat deteksi jantung."
“Naikkan suhu oksigen."
Para perawat melakukan tugas yang diperintahkan oleh dokter.
Mereka kembali fokus pada apa yang dikerjakan. Kerjasama yang solit dan clop membuat operasi yang mereka lakukan bisa berjalan baik.
Tit tit tit tit tit tit
“Dok, jantung pasien melemah."
“Percepat tekanannya."
“Baik Dok."
“Dokter Stella, segera keluarkan bayinya," titah Luiz
“Baik, Dok," sahut Stella.
“Owe owe owe owe."
“Owe owe owe owe."
“Owe owe owe owe."
Ketiga bayi kembar itu keluar dari dalam perut Leona hanya berbeda beberapa menit saja.
“Cepat bersihkan bayi nya dan masukkan dalam box!" perintah Andika.
“Baik Dok."
Luiz dan Andika serta beberapa dokter yang lain nya membersihkan bagian rahim Leona, serta mencegah penyebaran sel kanker yang bersarang di bagian sana.
Andika sampai bergidik ngeri dan tak terbayang bagaimana Leona bisa mampu menahan rasa sakit yang menghisap tubuhnya.
“Dok, pasien kehabisan darah." Lapor salah satu perawat.
“Cepat tambahkan darah nya!" perintah Luiz.
“Baik Dok." Mereka kembali melakukan tugas masing-masing.
Luiz dan Andika bermandikan keringat. Sesekali perawat yang bertugas menyeka keringat mereka dengan tissue, agar konsentrasi mereka tidak terganggu.
__ADS_1
Tit tit tit tit tit tit tit
“Dok, jantung pasien berhenti."
“Cepat ambil oksigen uap," teriak Luiz.
Andika memasangkan oksigen uap itu kedalam mulut Leona, sedangkan Stella memantau alat monitor.
“Dok……..," para perawat itu terdiam sejenak saat melihat garis lurus dilayar monitor.
Andika dan Luiz menatap layar monitor tak
percaya.
Ada Pedho juga yang hadir didalam ruangan operasi tersebut untuk menemani istrinya. Pedho menggenggam erat tangan Leona.
"Sayang bertahan demi aku. Demi anak kita. Kamu bilang ingin merawat mereka dengan ku," lirih Pedho mengecup punggung tangan wanita berwajah pucat tersebut.
Tit tit tit tit tit tit tit
“Tidak," teriak Luiz.
“Cepat ambil CPR," titah Andika merebut kasar CPR itu dari tangan perawat yang menyerahkannya.
Andika mengontrol peredaran darah Leona tangannya sampai bergetar hebat saat darah-darah yang dialirkan pada tubuh Leona berhenti.
“Leona, aku mohon bertahan. Apa kamu tidak ingin melihat ketiga anakmu tumbuh. Kumohon Leona bangunnnnnnnnnnnnn." Andika berteriak sambil menekan-nekan CPR itu ke dada Leona.
“Leona," gumam Luiz, tubuhnya terasa dingin saat layar monitor jantung itu bergaris lurus dan bersahutan dengan bunyian alat lainnya.
“LEONA."
.
.
.
Prang
Gelas yang dipegang Pedro terhempas dilantai. Saat hendak mengambil minum gelas itu tiba-tiba terjatuh.
“Awwww," rintih Pedro saat pecahan gelas itu mengenai kakinya.
“Kenapa perasaanku tidak enak? Apa yang akan terjadi?” tanya Pedro pada dirinya sendiri.
“Tuan, ada apa?” tanya Bik Lian langsung menghampiri Pedro saat mendengar bunyi gelas pecah di arah dapur.
"Entahlah, Bik. Perasaan ku tiba-tiba tidak enak," jawab Pedro sambil mengusap tengkuknya. "Apa Leona baik-baik saja ya, Bik? Kata Mama dia sebentar lagi dia melahirkan," ucap Pedro tampak gelisah.
Ya walau Pedro sudah menyerah mengejar cinta Leona. Namun, perasaan cinta nya tak berubah sama sekali untuk wanita tersebut.
"Semoga Nona baik-baik saja, Tuan," sahut Bik Lian.
__ADS_1
Pedro merasakan perasaannya tidak nyaman, dia gelisah tak menantu. Perasaan khawatir, akan tetapi dia tidak tahu apa yang sedang dia khawatirkan.
Bik Lian membawa kotak P3K untuk mengobati luka Pedro.
“Biar aku saja Bik," tolak Pedro saat Bik Lian ingin mengobati lukanya.
“Baik Tuan," sahut Bik Lian.
Pedro membersihkan luka dikakinya, dia menarik dengan pelan pecahan kaca yang melekat dikakinya.
Pedro tampak melamun, perasaan nya seketika gelisah. Bayangan Leona tengah tersenyum melintas di benak nya.
"Leona," lirih pria tersebut. "Apa kamu baik-baik saja, Leona? Kenapa perasaan ku tak enak seperti ini?" tanya pada dirinya sendiri.
Lelaki itu menyandarkan punggungnya. Sejak dia memutuskan melepaskan Leona, serasa ada sesuatu yang hilang dalam diri Pedro. Memang tak mudah melepaskan orang yang begitu di cinta. Namun, cinta tak bisa di paksa. Pedro harus melepaskan cinta yang tak ingin memiliki nya.
.
.
.
Juliet bersandar dibahu suaminya, seraya menangis dalam diam. Perjuangan seorang wanita melahirkan adalah mempertaruhkan nyawanya.
"Tenang ya, Sayang," ucap Abraham menenangkan sang istri.
Ada Alexander dan Anjani juga disana. Anjani tampak melamun dengan tatapan kosong nya. Dia telah melakukan banyak kesalahan pada Leona. Pernah berpikir memisahkan Pedho dan Leona. Tetapi sekarang Anjani sadar, bahwa hanya Pedho yang cocok bersanding dengan Leona.
'Maafkan Mama Pedho,' ucap Anjani dalam hati.
Pedho adalah anak yang baik dan selalu menghormati Anjani. Tetapi mengingat siapa ibu kandung Pedho membuat wanita paruh baya itu membenci anak tirinya. Padahal selama ini, Pedho tetap berlaku baik padanya. Meski Anjani sendiri sering menyakiti hati putra tirinya tersebut.
"Kenapa Ma?" tanya Alexander melihat istrinya.
"Mama menyesal, Pa. Sudah jahat sama Pedho," lirih wanita paruh baya tersebut.
"Tidak usah dipikirkan lagi, yang terpenting sekarang adalah kelahiran bayi-bayi Leona. Kita sama-sama berdoa semoga mereka lahir dengan selamat," ucap Alexander menarik Anjani kedalam pelukannya.
Anjani melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. Wanita paruh baya yang sedang menikmati penyesalan nya tersebut menangis dalam diam.
Yuna juga tampak duduk gelisah disamping Lea dan Ricard. Wanita cantik itu terlihat tak tenang dari cara duduknya. Beberapa kali dia berdiri duduk dan berdiri duduk.
Sementara Ricard juga berjaga-jaga, namun tetap terlihat tenang dengan handset yang ada ditelinga nya. Walau begitu, dia memiliki kecemasan sendiri. Jika sampai terjadi sesuatu pada Leona. Ricard tak bisa bayangkan seperti apa kehidupan Pedho. Pasti lelaki itu akan sangat hancur.
Saat Pedro dan Leona menikah, disitulah Ricard melihat kehancuran diwajah Pedho. Saat itu, lelaki yang sudah menjadi ayah dari tiga bayi kembar sekaligus tersebut hidup tanpa arah dan tujuan. Dia ingin pergi sejauh mungkin, namun entah kenapa langkah kaki nya malah menuntun lelaki itu tetap bertahan di Indonesia. Pedho tetap percaya bahwa Leona akan menjadi miliknya, meski dia tahu jika wanita tersebut adalah istri dari adik nya sendiri.
Berbeda dengan Lea yang tenang dan santai sambil terus mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya
"Hmm, Nona. Bisakah Anda berhenti makan?" sindir Ricard memutar bola matanya malas.
"Memang nya kenapa, Om? Lea 'kan lapar," sahut.
Lea memaksa Luiz membawa nya ke rumah sakit karena dia penasaran orang melahirkan itu seperti apa. Meski di tolak ribuan kali, gadis tersebut tetap berhasil merayu Luiz. Saat dirumah sakit di malah tidak diperbolehkan masuk dan disuruh menunggu diruang tunggu bersama yang lain nya.
__ADS_1
**Bersambung.... **