Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Pergi


__ADS_3

**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**


Lea duduk dengan lemas di ranjang nya. Gadis itu memeluk boneka kesayangan nya, pemberian Galang ketika dia ulang tahun.


"Kenapa, Sayang?" tanya Ellena pada putri tunggalnya tersebut.


"Sudah siap putri, Daddy?" sambung Mikael mengecup kening anak perempuan nya itu.


"Harus pindah ya, Dad?" Lea menatap kedua orang tua juga berkaca-kaca, kenapa rasanya dia tidak sanggup pergi dari negara ini.


"Iya Sayang, setelah sembuh nanti kamu bisa kembali lagi," ucap Mikael lembut seraya mengusap kepala Lea.


Andika dan Yuna masuk kedalam ruangan Lea. Sebentar lagi kedua orang itu akan melangsungkan pernikahan dan sayang Lea tidak bisa hadir di hari bahagia kakaknya, karena dia harus segera berangkat ke luar negeri.


"Lea." Yuna mengusap lengan Lea. "Kamu jaga diri baik-baik ya, semoga cepat sembuh," sambungnya.


"Kakak." Lea memeluk Yuna dengan manja."Lea akan merindukan Kakak," ucapnya.


Yuna dan Lea menjadi dekat, setelah Yuna menjalin hubungan dengan Andika. Perasaan tak suka Yuna yang dulu perlahan menghilang, kini dia menyayangi Lea seperti adiknya sendiri.


"Kakak juga akan rindu sama Lea," balas Yuna.


Hari ini Lea akan pulang ke London, disana dia akan mulai serius berobat dan melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut mengenai penyakit nya. Bagi Lea sembuh adalah impiannya, dia yakin bisa melawan semua penyakit yang bersarang ditubuhnya.


"Adik Kakak hati-hati ya, jangan nakal," ucap Andika juga mengecup kepala gadis itu.


"Kakak jangan kangen-kangenan sama Lea ya. Pasti hidup Kakak akan sepi tanpa Lea," ucap Lea menampilkan rentetan gigi putihnya.


Andika memeluk adik sepupunya itu. Andika begitu menyayangi Lea, baginya Lea adalah sosok adik nya begitu menyenangkan. Benar kata Lea bahwa hidup Andika akan sepi tanpa Lea.


"Ayo Sayang," ajak Mikael mendorong kursi roda anak nya.


Andika mengangkat tubuh Lea dan mendudukkan gadis tersebut di kursi roda.


"Om Luiz kemana, Kak?" tanya Lea sendu. Dari tadi Lea mencari Luiz ingin mengucapkan salam perpisahan, tetapi dia tak melihat sosok yang sudah menemani nya beberapa waktu terakhir.


"Dia sedang ada jadwal operasi bersama para dokter yang lain," jawab Andika.


"Ya sudah ayo."


Wajah Lea tampak sendu. Padahal dia ingin mengucapkan salam terakhir sebelum berpisah dengan Luiz. Dia tidak tahu entah kapan waktu akan mempertemukan mereka lagi? Lea akan pergi jauh dan menetap disana.


"Sudah tidak perlu cemberut begitu," ucap Ellena mengusap kepala putrinya.

__ADS_1


Lea hanya mengangguk, wajah ceria yang biasa dia tampilkan kini terlihat sendu dan tak bersemangat.


Lea masuk kedalam mobil. Kaki gadis itu seperti tak mampu melangkah, sebab beberapa persendian nya seperti rusak akibat efek dari kemoterapi.


"Mom." Lea merebahkan kepalanya dibahu Ellena.


"Iya Sayang, ada yang sakit?" tanya Ellena lembut.


"Tidak Mom," jawab Lea lesu.


Lea memejamkan matanya. Entah kenapa bayangan Luiz terus melintas dikepala gadis cantik itu.


'Sadar Lea, kamu dan Om Luiz terlalu banyak perbedaan. Harusnya dari awal kamu sadar diri. Dia hanya menganggapmu adik. Tetapi kenapa kamu malah terbawa perasaan sendiri,' ucap Lea dalam hati.


Lea gadis berusia 19 tahun. Sebentar lagi dia akan ujian nasional dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, karena kondisi tubuhnya yang tidak sehat membuat gadis itu harus menunda segala kegiatan nya.


'Selamat berpisah Om Luiz. Semoga Om menemukan orang yang tepat untuk menemani Om nanti. Maafkan Lea jika selama ini selalu merepotkan Om dan membuat Om kesal. Sampai bertemu dititik terbaik menurut takdir, Om,' batin Lea. Tanpa sadar lelehan bening lolos dipelupuk mata gadis cantik itu.


.


.


Luiz segera masuk kedalam ruangan nya dan melepaskan jas kebanggaan di tubuhnya.


Luiz menuju ruangan Lea dan berjalan dengan tergesa-gesa. Tadi dia sedang menangani pasien yang tengah sekarat. Luiz juga lupa jika hari ini, Lea akan pindah ke luar negeri.


"Lea," panggil nya.


Luiz membuka pintu ruangan rawat inap Lea. Namun, ruangan itu kosong tidak ada tanda kehidupan didalam sana.


"Lea."


Luiz masuk sambil mencari keberadaan gadis itu. Kenapa dia panik ketika tak melihat Lea.


"Lea kamu di mana? Kamu jangan bercanda Lea," ucap Luiz.


Luiz mencari ke segala sudut ruangan, toilet dan ruangan ganti lainnya.


"Lea, jangan buat saya panik," ujar Luiz mengusap wajah nya kasar.


Luiz terduduk lemah di sofa. Lelaki itu tampak frustasi, kenapa serasa ada yang hilang ketika tak ada Lea disana? Hatinya kosong dan hampa.


"Lea jangan pergi," gumam Luiz. Lelehan bening lolos di pelupuk mata lelaki itu. "Maafkan saya," ucapnya lirih.

__ADS_1


Luiz keluar dari ruangan Lea dan menuju ruangan Andika. Barangkali Andika tahu di mana keberadaan gadis menyebalkan itu.


"Luiz, kenapa?" tanya Andika yang heran melihat penampilan Luiz.


"Dhika, Lea kemana? Apa dia sudah pulang?" cecar Luiz.


"Lea sudah berangkat ke London," jawab Andika. "Kenapa? Tadi Lea mencarimu," sambung Andika.


Tanpa pikir panjang, Luiz melenggang keluar dengan setengah berlari. Pokoknya dia harus bertemu Lea. Dia tidak bisa membiarkan gadis itu pergi meninggalkan dirinya.


Luiz masuk kedalam mobil nya dengan wajah tampak panik.


"Lea, jangan pergi," lirihnya.


Mobil Luiz melaju dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Semoga dia masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan gadis menyebalkan seperti Lea.


Sampai di bandara, lelaki itu langsung keluar dari mobil. Langkah kaki Luiz tampak lebar dan dia berjalan dengan setengah berlari.


"Lea," gumam lelaki itu.


Ada begitu banyak orang di bandara. Namun Luiz tak menemukan keberadaan gadis kecilnya. Apa Lea benar-benar akan pergi meninggalkan hidupnya.


"Lea," teriak Luiz ketika melihat Lea dan kedua orang tua nya masuk kedalam mobil.


Namun, Luiz terlambat pesawat yang ditumpangi oleh Lea dan kedua orangtuanya telah mengudara.


"Lea," teriak Luiz melambaikan tangannya berharap gadis itu akan melihat nya.


Luiz terduduk lemah dibangku. Lelaki itu menutup wajahnya sambil menangis dengan badan bergetar. Kali ini dia merasakan kehilangan untuk yang kesekian kalinya.


"Lea," lirih Luiz.


Lelaki itu tampak patah hati. Dia menyesal karena sudah mengabaikan Lea selama ini. Tanpa dia sadari bahwa hatinya sudah merasa nyaman dengan perusuh kecil yang selalu membuatnya naik darah tersebut.


Tanpa Lea hidup Luiz kembali sepi. Dia akan kembali meresapi rasa sepi yang menghantam bagian dadanya.


"Maafkan saya, Lea," ucap Luiz.


Seseorang akan benar-benar terasa berarti setelah dia menghilang serta pergi dan tak kembali. Hal itulah yang dirasakan oleh Luiz. Selama ini Lea sudah memberikan warna dalam hidupnya yang hanya hitam dan abu-abu tersebut.


Luiz berdiri dari duduknya lalu melangkah meninggalkan bandara. Wajahnya tampak kusut dengan dasi yang sudah bergeser kemana-mana. Kedua kalinya Luiz kehilangan seseorang yang dia cintai dalam hidupnya.


'Saya berharap masih bertemu kamu Lea. Saya akan menunggu kamu pulang kesini. Saya tidak akan menyerah,' batin Luiz.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2