
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Seorang wanita masih terbaring lemah diatas brangkar. Kepala plontosnya terlihat begitu mengkilat. Tak ada rambut yang tumbuh dikepalanya. Matanya terpejam damai, sudah hampir satu bulan dia koma tanpa terusik. Tidur panjangnya terlihat tenang dan nyaman.
Disampingnya ada tiga box bayi yang sengaja diletakkan disisinya. Dua box disebelah kanan dan satu box disebelah kiri.
“Owe owe owe owe owe."
“Owe owe owe owe owe."
“Owe owe owe owe owe."
Tangisan bayi itu saling bersahutan satu sama lain. Seakan ingin membangunkan wanita yang ada disamping mereka. Setiap hari bayi-bayi itu pasti menangis.
“Cup cup cup cup sayang, jangan menangis ya," ucap Pedho mengendong putri Leona dan berusaha menenangkan bayi munggil itu.
“Sayang Uncle Luiz angan menangis ya Sayang. Kasihan Mommy nya nanti bangun dengar suara jelekmu," Celetuk Luiz juga mengendong bayi lelaki Leona.
Andika mengendong bayi yang satunya. Dia tersenyum gemes melihat bayi tampan itu. Sialnya sangat mirip lagi dengan ayah kandungnya, Pedho. Mengingat Pedho yang proses diluar batas negara membuat lelaki itu kembali kesal.
“Hai sayang Uncle Dhika," Andika menciumi wajah bayi Leona. Dia tersenyum senang saat bayi itu seperti ingin berbicara dengannya.
“Iya sayang iya," ucap Andika ketika bayi itu mengajaknya berbicara.
“Sayang, ayo bangun. Kamu tidak ingin melihat triple baby. Mereka ingin mendengar suaramu, Sayang," ucap Pedho sambil mengendong bayi Leona.
Luiz mendekat kearah brangkar Leona, “Kesayangan Kakak. Ayo bangun, lihatlah pria kecil ini. Dia juga merindukanmu," ucap Luiz menatap Leona yang masih setia menutup mata.
Pedho dan Andika ikut mendekat dengan bayi yang ada digendongan mereka. Mereka menatap Leona dengan senyum juga.
“Hai Mommy. Ayo bangun Mommy. Aku belum memiliki nama. Apa Mommy tidak ingin memberiku nama?" ucap Andika menirukan suara anak kecil.
“Iya Mommy. Aku juga belum memiliki nama," sambung Luiz.
Mereka bertiga terus saja berceloteh pada Leona yang memejamkan matanya. Berharap jika wanita tiga anak itu terbangun serta mendengar suara mereka. Berharap Leona segera bangun dari koma. Mereka berharap Leona tersenyum bahagia melihat ketiga buah hatinya
Luiz dan Andika cukup kagum dengan bayi-bayi Leona yang imut dan juga menggemaskan. Bayi Leona juga cekatan diusia yang menginjak satu bulan bayi-bayi itu sudah mengerti dan bahkan cekatan ingin berbicara.
Jari-jari lentik Leona mulai bergerak perlahan. Bulu mata lentiknya juga mengerjab-ngerjab.
“Luiz. Cepat periksa istriku!" titah Pedho setengah berteriak saat melihat jari Leona bergerak lincah.
Segera Luiz meletakkan bayi dalam gendongannya. Lalu memeriksa wanita itu. Perasaannya senang bukan main, penantian yang cukup panjang bagi mereka.
“Bagaimana Luiz?” tanya Pedho tak sabar
Luiz tersenyum, “Kondisinya sudah membaik dan sebentar lagi Leona akan sadar," jawab Luiz dengan senyum mengembang diwajah tampannya.
__ADS_1
Perlahan mata Leona terbuka, meski pandangannya masih kabur dan tidak jelas. Orang pertama yang dia lihat adalah wajah suaminya.
“Ka-ka-k," panggil Leona terdengar lirih. Kepalanya masih sakit.
“Sayang."
“Leona."
Ketiga pria itu berkaca-kaca ingin sekali mereka menangis, tangis bahagia karena Leona kembali.
“Sayang."
Pedho memeluk istrinya dengan isak tangis. Tangis haru. Betapa dunia Pedho serasa hancur saat dokter mengatakan jika jantung Leona berhenti berdetak. Pedho ketakutan bukan main, dan dia takkan sanggup melanjutkan hidupnya tanpa sang istri. Leona adalah jantung hatinya.
“Kakak."
Leona membalas pelukkan Pedho. Meski tubuhnya masih terasa sakit. Luka bekas operasi Leona juga terasa sakit
“Awwwww." Sontak Pedho melepaskan pelukkannya.
“Sayang, dimana yang sakit?" tanya Pedho cemas dan panik.
“Leona."
Begitu juga dengan Luiz dan Andika yang sedari tadi berdiri dengan mata berkaca-kaca, karena bahagia melihat Leona terbangun kembali setelah tertidur cukup lama.
“Kak Luiz." Leona tersenyum kearah pria yang mengenakan jas dokter itu.
“Na." Luiz mendekat dan memeluk wanita itu.
“Na, terima kasih sudah kembali," ucap Luiz.
“Kakak." Leona membalas pelukkan Luiz.
Luizmelepaskan pelukkannya dan menatap wajah leona.
“Kakak kangen sama kamu? Dimana yang sakit?” tanya Luiz lembut. Hatinya terenyuh saat melihat wajah Leona yang pucat dan kepala plontos tanpa sehelai rambut pun.
Ara menggeleng, “Aku juga sama Kakak," sahut Leona.
.
.
.
“Sayang, ini anak-anak kita," ucap Pedho menyerahkan bayi perempuan Leona.
__ADS_1
Pedho menggendong kedua anak lelaki nya. Air mata luruh di pelupuk mata pria itu.
Leona berkaca-kaca, dia bahkan menangis dan tak menyangka jika dia sekarang benar-benar menjadi seorang Ibu. Penantiannya selama bertahun-tahun menunggu buah hati, kini bisa Leona rasakan.
"Kak, ini anak kita?" tanya Leona yang masih tak percaya.
"Iya Sayang," jawab Pedho mengecup kening Leona dengan sayang.
“Sayang, kasih nama untuk bayi-bayi kamu," ucap Juliet.
Leona menatap ketiga bayinya. Bayi perempuan dalam gendongannya. Sementara kedua bayi laki-laki di gendong oleh Pedho.
Leona tersenyum hangat menatap wajah imut ketiga bayi menggemaskan itu. Usia mereka baru satu bulan. Namun wajah mereka seperti bayi satu tahun. Bahkan mereka cepat tanggap dan lincah.
“Keynaro Pannetha." Leona menatap putra pertamanya
“Keyzero Panetta." Leona tersenyum kearah putra keduanya.
“Keynara Pannetha." Leona mencium wajah satu-satunya bayi perempuan dalam gendongannya.
“Mereka akan dipanggil Triple Key," ucap Leona dengan senyum.
“Naro, Zero dan Nara," sambung Leona
"Nama yang bagus, Sayang," sahut Pedho tersenyum hangat.
Leona sudah lama menyiapkan nama untuk anak-anak nya. Setelah tahu dia menggandung bayi kembar tiga, segera wanita itu mencari nama yang cocok untuk buah hatinya.
“Sayang, biarkan mereka istirahat dulu ya," ucap Pedho meletakkan Naro dan Zero disamping sang ibu. “Kamu juga istirahat, 'kan baru bangun," sambung nya.
“Iya Kak," sahut Leona tersenyum.
“Ya sudah biarkan Leona dan anak-anaknya istirahat," ucap Abraham pada mereka semua.
"Kakak, ayo naik. Peluk aku dan anak-anak," ajak Leona menepuk ruang kosong di sampingnya.
Pedho sengaja meminta ranjang yang besar pada Luiz dan Andika agar dia bisa tidur seranjang dengan istri dan ketiga anaknya.
Mereka semua keluar, memberi ruang pada Pedho dan Leona menghabiskan waktu bersama bayi-bayinya.
"Kak, aku bahagia," ucap Leona lirih.
"Sayang, aku lebih bahagia. Sangat bahagia. Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi," balas Pedho memeluk istrinya dengan pelan, sebab bekas operasi di perut Leona masih belum kering.
Perjuangan yang tak mudah Leona lewati. Hidupnya dipertaruhkan saat melahirkan ketiga bayi kembar ini dan bahkan dia dinyatakan meninggal dunia beberapa menit. Namun, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup bersama bayi-bayinya.
"Aku akan bertahan demi kalian, Kak. Aku ingin merawat mereka bersama mu," sahut Leona meresapi kecupan Pedho di kening nya.
__ADS_1
Bersambung....