
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Leona menatap pantulan didepan cermin sambil memasang wig yang menutupi kepala plontos nya. Rambut yang terkikis masih enggan tumbuh ditempat asalnya. Hingga membuat wanita itu harus memakai rambut palsu untuk sementara waktu.
Leona tersenyum sinis. Hari ini adalah hari pertama ia mendapat gelar janda. Tak pernah ia bayangkan, akan menjanda di usia yang masih terbilang muda. Namun, sebagai wanita ia rela melepaskan cinta yang memang harusnya ia lepaskan.
"Kamu akan terbiasa Leona," ucapnya pada diri sendiri.
"Kamu hanya terbiasa hidup dengan nya bukan tak bisa hidup tanpa nya," sambung nya lagi menguatkan diri dengan ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya.
Padahal bahasa apapun sekarang yang akan ia dengar dan ucapkan. Tetap saja tak bisa mengubah perasaan sakit nya saat ini. Patah hati memang tak pernah bercanda, sebab ia mampu meremukkan seluruh dada. Kata orang-orang putus cinta itu tidak sakit, yang sakit saat putus tapi masih cinta.
Leona memasukkan beberapa barang kedalam kopernya. Sesuai dengan permintaan nya pada Luiz, setelah selesai sidang ia mengajak kakak dan sahabat nya itu liburan untuk menghilangkan penat dan juga dahaga.
"Cinta." Yuna sudah datang dengan kacamata hitam dan celana pendek diatas lutut serta baju kaos yang kedodoran.
"Sudah lama Yun?" Leona duduk disamping sahabat nya.
"Baru datang," jawab Yuna cepat, "Kak Luiz mana?" wanita itu celinggak-celinguk mencari keberadaan kakak Leona.
Leona tersenyum tipis. Dalam hati ia berharap yang sama, jika Yuna menjadi kakak iparnya. Namun, sayang hati Luiz yang sedingin salju itu masih enggan membuka hati untuk orang yang baru.
Luiz datang dengan menyeret kopernya. Ia mengenakan kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Penampilan nya persis seperti orang yang ingin ke pantai.
Yuna tanpa sadar berdiri dengan mulut terbuka lebar. Matanya berbinar, menatap ukiran Tuhan yang paling sempurna di matanya.
"Heh, awas nanti nyamuk masuk kedalam mulutmu," celetuk Leona menutup mulutnya menahan tawa.
"Selamat pagi Kak Luiz," sapa Yuna genit, "Heh, lumayan dapat vitamin A pagi ini!" serunya sambil mengedip-ngedipkan matanya berulang kali.
"Pagi Yun," balas Luiz sambil tersenyum.
__ADS_1
Tahukah Luiz jika senyuman itu mampu menyentrum bagian tubuh Yuna yang lain nya? Yuna sampai tak berkedip ketika melihat wajah tampan Luiz saat tersenyum.
"Ehem," Leona berdehem hingga membuyarkan lamunan Yuna.
"Sayang kamu sudah siap?" Luiz duduk disamping adiknya. "Biar Kakak yang bawa." Ia mengambil alih menarik koper adiknya. "Ada bawa obat?" tanya nya lagi.
"Beres Kak," sambil menunjukkan tanda nya dengan tidak oke.
"Ya sudah ayo berangkat. Pedho dan Andika sudah menunggu di bandara," ajak Luiz.
"Gas Kak!" seru kedua wanita itu dengan sumringah.
Ketiga nya masuk ke dalam mobil. Leona tetap ceria seperti tak sedang patah hati. Ia sama sekali tak kelihatan meratap seperti Pedro. Malah ia terlihat baik-baik saja.
"Kak, kita mau liburan kemana?" tanya Leona tak sabar.
"Ke Hawai, Sayang," jawab Luiz sambil menyetir tak lupa senyuman manis ia lemparkan.
"Kamu mau ke Bali? Kalau kamu nya ke Bali, kita bisa putar arah," ujar Luiz.
"Ehh tidak Kak. Kita ke Hawai saja," sanggah Leona. "Kan aku belum pernah kesana Kak. Kalau Bali sudah sering," sambungnya.
Luiz mengangguk, "Iya Sayang." Tangan Luiz terulur mengusap wig yang Leona kenakan.
Luiz sengaja mengajak adiknya liburan ke pantai. Agar adiknya itu tidak larut dalam kesedihan. Meski itu takkan mengurangi sakit yang Leona rasakan. Tapi setidaknya bisa membuat ia sedikit melupakan keperihan yang tengah melilit hatinya.
Leona menikmati perjalanan menuju bandara. Kini, ia telah menata hatinya dengan sebaik-baik mungkin. Belajar dari kesalahan di masa lalu, untuk tidak mencintai seseorang dengan dalam. Entahlah, mungkin setelah ini Leona takkan percaya lagi pada kata cinta. Ia ingin menjalani hidup nya seperti biasa tanpa ada cinta. Tanpa ada orang yang beresiko menurihkan luka yang sama di hatinya.
Leona tak peduli lagi tentang Pedro. Namun, bukan berarti rasa perih dan cinta itu hilang begitu saja. Rasa sedih yang dulu tertahan cukup lama dan bersemayam dengan nyaman. Kini perlahan pergi menjauh. Semua terasa hambar, nama Pedro pun bukan lagi yang membuat dadanya berdebar.
Harapan Leona, semoga Pedro bahagia dan semua yang Pedro terima bukan kejahatan yang sama. Perpisahan memang menyakitkan. Namun perlahan Leona akan mengubur perasaan dalam terhadap mantan suaminya. Biarlah Pedro bahagia dengan pilihan hatinya.
__ADS_1
Leona mulai menyadari satu hal perihal jatuh dan menjaga hati. Pedro ada di bagian yang bisa menguat ia jatuh hati, tetapi lemah urusan menjaga hati. Perasaannya Pedro biarkan dibeli rayuan, lalu ia lepaskan pas hal-hal yang dihitung angan.
Saking asyik nya wanita itu melamun. Ia sampai tak sadar jika mobil yang membawa tubuhnya telah berhenti tepat di depan bandara.
"Sayang, ayo." Luiz menepuk bahu adiknya.
"Ehhh iya Kak." Leona turun dari mobil.
Tampak Pedho dan Andika sudah menunggu disana. Ada Ricard juga sang assisten yang siap disuruh apa saja.
"Kak Pedho," sapa Leona ramah.
"Pagi Leona," balas Pedho tersenyum simpul, "Bagaimana keadaan kamu?" sambungnya.
"Sudah sehat Kak," sambil menunjukkan otot-otot tangannya hingga membuat yang lain terkekeh.
"Ayo. Kita sudah mau berangkat," ajak Luiz.
Mereka berangkat dengan jet pribadi milik Pedho. Sebenarnya Leona meminta memakai penerbangan umum saja dengan kelas ekonomi. Namun, Pedho yang sudah terbiasa dengan kemewahan itu tidak bisa berada ditempat sempit. Jadi, mau tidak mau mereka semua harus mengikuti keinginan lelaki itu.
"Aku duduk didekat Kak Pedho saja." Leona langsung duduk disamping mantan calon kakak iparnya itu.
"Boleh," sahut Pedho.
Yuna duduk ditengah-tengah antara Luiz dan Andika. Wanita cantik itu seperti sedang berada di drama Korea yang di himpit oleh dia pria tampan sekaligus. Namun, sayang ini bukan drama Korea. Kebucinan Yuna hanya terjadi di otak nya yang jomblo akut tersebut.
"Apakah tidak apa-apa kamu duduk ditengah?" tanya Andika. Dia pikir Yuna akan merasa sempit.
"Tentu saja tidak apa-apa Kak," Yuna tersenyum malu. Mimpi apa dia semalam bisa duduk satu bangku dengan dua lelaki limited edition seperti Luiz dan Andika.
Luiz dan Andika tampak mengangguk. Kedua lelaki dewasa ini selalu menampilkan wajah seriusnya. Tapi tidak apa Yuna suka. Seandainya salah satu dari mereka menyukai Yuna, maka Yuna akan tetap memilih Luiz. Sebab Luiz adalah lelaki paket komplit yang langka dan sulit ditemukan.
__ADS_1
Bersambung...