
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
"Kak, kenapa baju Kakak berdarah?" tanya Leona heran, saat melihat kemeja yang dipakai suaminya banyak darah.
"Oh, ini tadi tidak sengaja menabrak kucing dijalan, Sayang," jawab Pedho asal. Dia merutuki kebodohan nya yang lupa ganti baju. Saking tak sabarnya untuk membawa istrinya ke dokter kandungan, lelaki itu sampai lupa mengganti baju.
"Kucing nya mati, Kak?" tanya Leona penasaran. Wanita ini jiwa ingin tahu nya sangat tinggi.
"Mati Sayang," jawab Pedho.
"Kakak kuburkan tidak? Ya ampun Kak kasihan sekali kucing nya," ucap Leona sendu. Wanita ini pencinta hewan, apalagi kucing. Bahkan dia memiliki beberapa kucing peliharaan dirumahnya.
"Tadi aku sudah suruh Ricard yang mengubur nya, Sayang," ucap Pedho. Jangan sampai istrinya marah perkara kucing. Pasalnya Leona sangat sensitif.
"Iya Kak," jawab Leona. Tapi air mata wanita itu malah leleh.
"Heh, Sayang. Kenapa menangis?" tanya Pedho panik sambil menyeka air mata istrinya.
"Kasihan kucingnya, Kak. Hiks," renggek wanita hamil itu.
Pedho menghembuskan nafasnya kasar. Disinilah, kesabaran nya di uji ketika menghadapi mood istrinya yang berubah-ubah.
"Sudah. Sudah. Kucingnya sudah tenang di alam sana. Kamu jangan menangis lagi ya," ucap Pedho menenangkan. "Ayo kita masuk, Sayang. Dokternya sudah menunggu," ajak Pedho sabar
"Tapi Kak, kuci_"
"Nanti kalau Sayang sedih dedek bayi nya ikutan sedih lho," ujar Pedho
Leona menyeka air matanya seperti anak kecil, lalu wanita hamil itu mengangguk.
Pedho turun duluan dari mobil. Dia memang tak peduli dengan darah yang menempel di kemeja putihnya. Setelah selesai memberi hukuman pada Adam dan Tessa, lelaki tampan itu segera menjemput istrinya untuk pemeriksaan kandungan hari ini.
"Sayang, pelan-pelan," ucap Pedho.
Pria tampan itu melindungi kepala Leona dengan tangannya seolah takut jika istri tercinta nya tersandung kap mobil.
"Sayang, pakai kursi roda saja bagaimana? Aku takut kamu kelelahan," ucap Pedho.
"Kak, aku tidak sakit kaki," protes Leona. "Aku masih kuat berjalan," sambung nya.
"Tapi_"
"Ayo Kak," ajak Leona memutar bola matanya malas, suami nya ini memang sangat posesif.
Keduanya berjalan masuk, Pedho menuntun istrinya takut jika wanita itu terjatuh ke lantai. Sementara Leona terus mengomel, apa-apa dia tidak boleh melakukan nya sendiri karena dilarang oleh suami tercinta nya.
__ADS_1
Para dokter dan perawat membungkuk hormat menyambut kedatangan sahabat dari pemilik rumah sakit tersebut. Apalagi kedua pasangan ini sedang hangat diperbincangkan oleh para pencinta media sosial.
Ricard mengekor dari belakang sambil memantau. Asisten Pedho yang ini tak kalah dingin dari tuan-nya. Namun, dalam hal pekerjaan Ricard tak pernah lalai. Dia selalu mengerjakan perintah Pedho dengan baik.
"Silahkan masuk, Tuan," ucap Ricard membuka pintu ruangan dokter kandungan.
"Kamu jangan masuk, Ricard," ucap Pedho menegaskan dan menatap asisten nya tajam.
"B-baik Tuan," sahut Ricard, langsung kikuk dengan tatapan tajam Pedho.
Pedho dan Leona masuk kedalam ruangan dokter kandungan. Disana ada Luiz dan Andika juga yang sudah menunggu serta seorang wanita paruh baya, yang tidak lain adalah dokter yang akan memeriksa kandungan Leona.
"Kalian mau apa?" tanya Pedho memincingkan matanya curiga.
"Ya ikut memeriksa Leona lah," jawab Andika malas.
"Memang nya kalian, Dokter kandungan?" Pedho mendengus kesal. Entahlah, sejak Leona hamil dia menjadi pria paling posesif.
"Ya Allah Pedho, sabar. Sabar." Andika mengelus dadanya.
Sementara Luiz tertawa pelan. Dia bersyukur melihat Pedho yang begitu mencintai dan menyanyangi adiknya.
"Ck, kalian keluar. Enak saja mau melihat perut istriku, makanya menikah," ketus Pedho.
"Kakak," tegur Leona.
"Baiklah. Baiklah, kami akan keluar," ucap Luiz mengalah. Sebab berdebat dengan orang yang tengah cemburu tak akan menang.
"Bagus kalau kalian sadar," sindir Pedho.
Leona menghela nafas panjang. Pedho memang begini sifatnya, ketika dia sudah menemukan orang yang tepat maka dirinya akan seperti seorang ibu yang menjaga putri nya.
Luiz dan Andika keluar dari ruangan dokter kandungan dengan wajah ditekuk kesal. Terutama Andika, entah di ciptakan di planet mana dulu si Pedho sehingga jiwa cemburu nya luar biasa.
"Kakak tidak boleh begitu," tegur Leona menggelengkan kepalanya salut.
"Tidak Sayang. Aku tidak akan rela bagian tubuh mu di lihat pria lain. Hanya aku yang boleh melihat nya," jelas Pedho penuh penekanan.
Sang dokter hanya tersenyum mendengar percakapan kedua pasangan suami istri tersebut.
"Mari Tuan, silahkan bantu Nona naik keatas brangkar," ucap sang dokter.
Pedho mengangguk, lalu membantu istrinya naik keatas brangkar. Pedho mulai cemas, dia memikirkan keselamatan antara bayi dalam kandungan istrinya serta keselamatan sang istri. Apapun yang terjadi, Pedho percaya jika Tuhan memiliki rencana yang terbaik untuknya.
Leona berbaring diatas ranjang. Sedangkan Pedho mengenggam tangan wanita tersebut, seraya merapalkan doa dan harapan di hatinya semoga istri dan anak nya baik-baik saja.
__ADS_1
Sang dokter menuangkan gel diatas perut buncit Leona. Usia kandungan nya memasuki bulan ketujuh. Perut wanita itu sangat besar.
"Apakah Anda melihat benda bergerak itu, Tuan, Nona?" tanya sang dokter sambil menunjukkan layar monitor.
"Dok, kenapa itu seperti ada tiga?" tanya Pedho heran.
"Ya benar Tuan, bayi Anda kembar tiga," jelas sang dokter.
"Kembar tiga, Dok?" ulang Pedho dan Leona bersamaan.
"Iya Tuan," sahut sang dokter tersenyum.
Dokter membersihkan bekas gel diperut Leona dengan tissue, lalu mempersilahkan wanita tersebut turun dari ranjang.
"Sayang." Pedho tak mampu menahan haru nya. Dia mengecup kening wanita itu dengan sayang.
"Kak, anak kita kembar tiga," ucap Leona juga terisak karena bahagia.
"Iya, Sayang," sahut Pedho.
"Dok, apakah kandungan istri saya sehat?" tanya Pedho.
"Bayi dalam kandungan istri Anda sehat, Tuan," sahut dokter tersebut sambil tersenyum. "Saya akan berikan vitamin untuk Nona," sambung nya seraya menuliskan resep vitamin di selembar kertas.
"Dok, apa jenis kelamin anak saya?" tanya Leona.
Leona ingin anaknya berjenis kelamin perempuan, pasti akan sangat menggemaskan saat memakaikannya pakaian dan gaun yang cantik.
"Laki-laki dan perempuan, Nona," jawab dokter
Leona menyeka air mata bahagia nya. Semoga ketiga anaknya lahir sehat dan mereka bisa berkumpul bersama dan hidup bahagia selamanya.
"Kalian sehat-sehat didalam sana ya, Sayang. Sebentar lagi kita bertemu," ucap Leona mengusap perut buncit nya.
Pedho tersenyum hangat, lalu ikut mengelus perut istrinya. Kebahagiaan terpancar di wajah Leona. Namun, tidak dengan Pedho. Bukan dia tak bahagia menerima kehadiran ketiga anaknya. Hanya saja, dia takut kehilangan sang istri.
"Ayo Sayang." Pedho mengulurkan tangannya.
"Ayo Kak." Leona menyambut uluran tangan Pedho dengan senyuman bahagia.
"Kami permisi, Dokter," pamit Pedho.
"Iya Tuan. Hati-hati," pesan sang dokter sambil membungkuk hormat.
Dokter itu menghela nafas panjang. Sebelumnya dia memang sudah diberitahu oleh Luiz dan Andika agar tidak menceritakan kondisi Leona.
__ADS_1
Bersambung...........