Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Bahagia itu sederhana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Leona menatap suaminya yang tengah memasak bubur kesukaan nya. Biasanya Luiz yang memasak. Tapi karena sekarang sedang berada di New York jadi Pedho yang mengambil alih, pria itu memang jago masak terbiasa hidup mandiri.


"Sayang mau pakai bawang goreng?" Pedho melirik istrinya


"Mau.. mau... mau!" seru Leona dengan wajah sumringah nya.


Pedho terkekeh, ucapan Leonasangat lucu. Apalagi wanita itu sambil manggut-manggut seperti anak kecil.


Setelah melakukan beberapa treatment pengobatan, kondisi Leona sedikit membaik meski rambutnya takkan tumbuh lagi tapi setidaknya daya tahan tubuhnya mulai kuat.


"Tidak usah pakai daun seledri yaa?" ucap Pedho


"Tapi Kak tidak enak," protes Leona.


"Tidak boleh Sayang," sergah Pedho.


Leona memutar bola matanya malas. Suaminya ini posesif diluar batas negara. Apa-apa tidak boleh. Semua Pedho yang atur. Leona benar-benar seperti tuan putri di negeri dongeng yang dilayani dengan baik oleh pangeran.


Pedho membawa semangkuk bubur buatannya. Bubur dengan potongan daging ayam serta beberapa potong sosis madu, dibumbui dengan bawang merah goreng, kecap manis dan sedikit garam.


"Wahhh pasti enak!" seru Leona tak sabar.


"Aku suapi," ucap Pedho.


Wajah Leona langsung berubah masam "Kak aku bisa makan sendiri," tolak Leona.


"Tidak Sayang, kamu tidak boleh lelah. Biar aku saja yang suapi yaaa?" bujuk Pedho. Dia tidak mau istrinya itu kelelahan.


"Kakak_"


"Menurutlah Sayang." Pedho dengan gemes mencium bibir Leona hal itu semakin membuat wanita berkepala plontos itu kesal.


"Jangan ambil kesempatan dalam kesimpulan dehh Kak," ketus Leona


"Kesempitan Sayang," ralat Pedho sambil meniup-niup bubur yang masih panas itu.


Leona tersenyum hangat. Suaminya ini paket komplit. Kaya. Tidak pelit. Tampan sudah pasti. Baik hati. Pengertian. Rajin. Lemah lembut. Dan masih banyak lagi. Leona sampai bingung untuk mendeskripsikan suaminya.


"Makan Sayang," ujar Pedho menyedorkan sendok tersebut ke mulut Leona.


Leona menerima suapan Pedho seperti seorang ayah tengah menyuapi putrinya.


"Bagaimana dengan tubuh mu Sayang? Apakah masih terasa sakit?" tanya Pedho cemas, untung saja kondisi Leona tidak seperti kemarin.

__ADS_1


"Sudah lebih baik Kak. Kalau aku tidak sakit lagi, kita pulang ke Indonesia yaa. Aku rindu Yuna, Kak Luiz, Kak Dika, Daddy dan Mommy. Semua tentang Indonesia aku rindu," ucap wanita itu sendu.


"Iya smSayang. Makanya harus semangat sembuh ya. Katanya mau punya anak?," goda Pedho tersenyum simpul.


Leona mengangguk dengan cepat. Anak adalah motivasi terkuat wanita itu untuk sembuh, Leona tak pernah lagi meremang dalam kesakitan yang terdapat didadanya adalah bagaimana dia sembuh dan melewati semua proses penyakitnya.


"Kakak tidak makan?" Leona menatap suaminya.


"Aku masih kenyang Sayang," sahut Pedho "Ayo makan lagi." Lelaki itu kembali menyuapi sang istri. "Setelah makan mandi dan nanti aku ingin mengajak mu ke suatu tempat," ujar Pedho mencolek hidung leona dengan gemas.


"Iya Kak," sahut wanita tersebut dengan semangat.


Leona merindukan dunia luar. Selama kurang lebih tiga bulan berada di Amerika dia hanya terkurung dirumah sakit. Ditempat membosankan dan paling Leona benci. Namun, dia tidak bisa melawan takdir. Leona hanya berusaha menerima apa yang sudah Tuhan takdirkan untuknya, pasti ada kesembuhan di setiap penyakit.


Pedho mengenggam tangan Leona. Dia mengajak istrinya itu berkeliling kota New York.


"Wahh Kak, indah sekali!" seru Leona semangat. "Ternyata bahagia itu sederhana yaa Kak. Cukup saling mencintai dan menerima. Dan aku minta maaf karena selalu merepotkan Kakak. Aku seperti ratu saja," ucap Leona menghela nafas panjang. Dia senang saat Pedho merawat nya seperti bayi. Namun, dia juga merasa bersalah karena gak bisa melayani sang suami.


Pedho terkekeh. Dia menempelkan kedua tangannya di wajah Leona. Dengan senyuman simpul menatap wajah sang istri.


"Tidak Sayang. Kamu tidak pernah merepotkanku. Justru aku yang minta maaf karena belum bisa menjadi suami terbaik untukmu. Kamu ratuku. Aku ingin selalu melayani mu," sahut Pedho mengecup punggung tangan Leona.


"Kak rasanya bunga berterbangan di hatiku, andai saja Kakak bisa lihat," celetuk Leona sambil terkekeh pelan.


"Ayo Sayang," ajak Pedho menggandeng tangan Leona.


Mereka berjalan menikmati keindahan kota New York. Bermain dibawah guyuran salju. Untung daya tahan tubuh Leona sudah kuat jadi tidak rentan terhadap dingin.


Leona bermain sepuasnya diatas salju, bahkan wanita itu berguling-guling saking senangnya. Dari dulu dia memang suka salju hanya saja waktu nya yang tidak sempat untuk liburan ke luar negri.


"Kakak hahha." Leona melempar suaminya dengan salju yang dia satukan.


"Rasakan pembalasan ku ya!" seru Pedho.


Pedho mengejar istrinya. Leona benar-benar jahil suka sekali membuat suaminya kesal.


Mereka saling kejar-kejaran dibawah butiran salju itu. Tertawa lepas tanpa beban. Seolah semua telah baik-baik saja.


Leona, dia tidak pernah meminta banyak hal. Dia hanya ingin bahagia bersama Pedho disisa hidupnya. Mencintai pria itu dan memberi Pedho keturunan


Setidaknya jika suatu saat Leona benar-benar pergi, ada yang menemani Pedho yaitu buah cinta mereka. Leona berharap Tuhan mengabulkan satu doa nya saja. Jika dia tidak bisa sembuh izinkan dia memiliki keturunan.


"Kak capek. Gendong," renggek perempuan itu manja sambil mengulurkan tangannya.


Percayalah pria begitu menyukai wanita yang bermanja-manja dengannya. Merasa dibutuhkan. Merasa berarti. Begitulah perasaan Pedho.

__ADS_1


"Ayo Sayang naik." Pedho berjongkok agar Leona naik ke punggung nya.


Leona naik seperti anak kecil dipunggung Pedho. Wanita itu menggoyangkan kakinya dan bercanda ria dengan jahil juga dia mencium pipi suaminya.


Pedho tersenyum dengan menggeleng. Suasana seperti ini adalah saat terindah didalam hidup Pedho dan Leona. Keduanya tidak meminta banyak, selain bahagia yang ingin di miliki.


"Kakak aku mau makan spaghetti," pinta Leona.


"Tidak boleh," tolak Pedho.


"Es cream." Masih menawar


"Tidak boleh," tolak pria itu kesal


"Boba." Mata berbinar mendengar nama boba. Ahh apa kabar minuman kesukaannya itu?


"Semua tidak boleh Sayang." Pedho dengan gemesnya mengacak wig istrinya dari belakang.


Bibir Leona mengerucut kesal. Memang menjadi orang penyakitan itu terbatas. Tidak boleh makan sembarangan dan semua harus punya peraturan nya. Leona sangat tidak suka. Tapi bagaimana lagi, demi sembuh dia harus tahan untuk pantang.


Pedho masuk kedalam Mansion mewahnya. Beberapa pelayan memberi hormat kepada dua majikan nya itu.


Kadang mereka iri melihat keharmonisan Pedho dan Leona. Selalu bahagia dan manis.


Pedho membawa sang istri masuk kedalam kamar mereka. Dia mendudukkan wanita itu dibibir ranjang.


"Capek tidak?" Melepaskan sepatu istrinya.


"Kak aku bisa sendiri," cegah Leona. Dia tidak nyaman selalu dilayani Pedho harusnya dia yang melayani sang suami bukan sebaliknya.


"Diam Sayang," sanggah Pedho.


Pedho membuka mantel istrinya. Melepaskan kaos tangan Leona. Dia tidak akan membiarkan Leona kelelahan. Dia harus jadi suami siaga yang selalu ada dua puluh empat jam.


"Kakak." Leona memeluk suaminya dengan manja


"Iya Sayang, kenapa? Ada yang sakit?" tanya Pedho membalas pelukan Leona.


Leona menggeleng, "Aku bangga punya Kakak. Jangan berubah yaaa Cinta," ucap Leona sambil menggoda suaminya.


Pedho rasanya ingin terbang melayang. Gombalan Leona selalu membuat hatinya berdebar-debar tak karuan.


Pedho melepaskan pelukannya. Dia langsung menyambar bibir manis milik Leona. Bibir ini, hanya milik Leona dia tidak mau kehilangan bibir ini selamanya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2