
Pedro Pannetha, pria tampan dengan sejuta pesona. Tak hanya tampan tetapi dia juga kaya raya dan memiliki cabang bisnis yang berkembang pesat di Asia dan Amerika. Putra kedua dari pasangan Alexander Lemos dan Anjani Lemos. Pedro sudah berusia 33 tahun. Trauma dalam hubungan serta rumah tangga yang hancur membuat pria yang berstatus duda tersebut betah dalam kesendirian nya. Meski tak bisa dipungkiri, terkadang dia memiliki keinginan untuk menikah. Namun, rasa sakit yang tertinggal itu hingga kini masih ada.
Penghianatan Tasya, seorang wanita yang Pedro anggap sebagai pelabuhan terakhir cintanya, malah menggandung anak dari pria lain. Tak hanya sampai disitu, dia baru menyadari perasaan nya pada sang istri menjelang perceraian mereka. Segala cara telah Pedro lakukan untuk mendapatkan hati Leona kembali. Namun, sayang mantan istrinya tersebut benar-benar tak ingin memberi dia kesempatan walau hanya sebentar.
Hingga akhirnya, Pedro memilih menyerah dan melanjutkan hidupnya seperti biasa. Meski Pedro seperti pria mati rasa. Namun, bagaimanapun dia pria normal yang tentu nya merindukan sosok kehadiran teman hidup. Walau bibir nya berkata tidak, mata Pedro memancarkan sinarnya.
Menghabiskan waktu dalam dunia pekerjaan dengan tumpukan berkas diatas meja ternyata tak juga mengalihkan pikiran Pedro terhadap mantan istrinya yang kini telah bahagia bersama sang kakak. Pedro berusaha melupakan bayangan-bayangan Leona yang seolah berjalan dibagian kepalanya.
"Permisi Tuan."
Seorang gadis cantik kedalam ruangan Pedro, sehingga membuyarkan lamunan lelaki itu tentang mantan istrinya.
"Hmm, ada apa?" tanya Pedro ketus. Padahal dalam hatinya gugup. Entahlah, kenapa setelah sekian lama bekerja dengan sekretaris menyebalkan nya ini, dia menjadi gugup sendiri.
"Rindu, Tuan," sahut gadis itu asal tetapi malah sibuk dengan berkas yang ada ditangannya.
Pedro menatap gadis itu dengan tajam. Kenapa gadis ini selalu membuatnya kesal? Dan ini lagi, jantung nya berdebar-debar saat sekretaris menyebalkan nya mengatakan rindu.
"Kamu......"
__ADS_1
"Jangan di masukkan kedalam hati, Tuan. Saya kalau bicara memang suka bohong," celetuk nya seraya menampilkan rentetan gigi putihnya. "Ini berkas yang Anda minta, Tuan. Silahkan periksa dan jangan lupa ditandatangani," ucapnya memberikan berkas tersebut pada Pedro.
"Apa sudah lengkap?" tanya Pedro mengambil berkas tersebut tetapi tatapannya malah tertuju pada gadis itu.
"Jangan menatap saya seperti itu, Tuan. Kata Armada awas jatuh cinta. Jatuh cinta sendirian itu sakit lho." Sambil menutup mulutnya menahan tawa.
Pedro tak menanggapi. Dia malah menyibukkan diri dengan berkas yang ada ditangannya. Cinta dia meladeni Rere bisa gila seperti gadis itu juga dia nanti. Meski menyebalkan dan suka membuat naik darah tetapi Rere jika dalam pekerjaan bisa diandalkan. Padahal gadis ini masih duduk dibangku kuliah tetapi cara bekerja nya seperti orang yang sudah profesional.
"Siapkan semua nya kita meeting di restaurant Yuna!" titah Pedro menutup berkas ditangannya.
"Sekarang, Tuan?"
"Bulan depan," jawab Pedro kesal. "Ya sekarang lah Rere. Kamu itu melamun terus, pasti sedang memikirkan ketua BEM itu 'kan?" tuding Pedro tak suka.
"Hmm, kok tahu, Tuan? Bisa baca pikirannya?" goda Rere sambil tertawa lebar.
"Kamu suka di incar banyak lelaki?" Pedro memincingkan matanya curiga dengan tangan yang terlipat didada. Kenapa dia bisa sepanas ini ketika melihat ada yang mendekati sekretaris nya? Tidak mungkin Pedro jatuh cinta pada bocah ingusan seperti Rere.
"Ya suka lah Tuan, artinya 'kan saya cantik," sahut Rere dengan percaya diri sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
__ADS_1
Pedro berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekati Rere. Sontak saja langkah Rere mundur apalagi melihat tatapan Pedro yang tak biasanya. Ada apa dengan boss nya ini? Kenapa terlihat aneh hari ini?
Rere berjalan mundur sedangkan Pedro berjalan maju.
"Tuan ini sama seperti film Dono, maju kena mundur kena," celetuk Rere gugup. Wajah nya panas dan jantungnya berdegup kencang. Sial, kenapa dia bisa merasakan hal aneh seperti ini saat berdekatan dengan duda seperti Pedro.
Hingga tubuh Rere terpental di dinding. Pedro menatap licik gadis didepannya ini. Gadis lucu yang cocok menjadi keponakan nya. Pedro sudah tahu siapa Rere dan dia tidak akan melepaskan gadis ini begitu saja. Apalagi Rere terikat kontrak dengan nya.
"T-tua-n, kenapa?" tanya Rere gugup memalingkan wajahnya kesembarangan arah. Pokoknya kearah mana saja yang penting tidak bertemu dengan tatapan mata Pedro.
"Lihat mata saya," ucap Pedro.
Pedro menarik dagu gadis itu hingga tatapan mereka berdua bertemu. Pedro menatap bola mata Rere yang begitu indah. Sejak gadis ini masuk kedalam hidupnya, dirinya seperti ditarik oleh magnet dan pesona Rere yang terlihat biasa saja.
"T-tua-n, ad-a ap-a?" tanya Rere. Rasanya dia mau kencing saking gugupnya, apalagi sentuhan kulit Pedro ditangannya, seperti menyentrum seluruh aliran darah Rere.
"Riana Antoinette, kamu adalah milik saya. Kamu tidak boleh dekat dengan siapapun termasuk ketua BEM gadungan itu," tegas Pedro.
Rere mendelik. "Ck, enak saja Tuan mencap saya menjadi milik, Tuan. Memangnya saya SCTV satu u_"
__ADS_1
Cup
Mata Rere membulat sempurna ketika benda kenyal itu menempel di bibir nya. Dia melihat mata Pedro yang terpejam sembari ******* bibirnya dengan lembut. Sial, jantungnya tak bisa di ajak bekerjasama.