
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Tasya wanita cantik mantan seorang dokter dengan segudang prestasi. Dia bahkan pernah menjadi salah satu lulusan terbaik pada masa nya.
"Semangat Tasya, kamu pasti bisa," ucap nya menyemangati diri sendiri.
Tasya keluar dari kamarnya. Hari ini, hari pertama dia bekerja di perusahaan yang Ben pimpin sekarang. Meski awalnya Tasya sedikit keberatan menerima tawaran ini. Namun, tak ada pilihan lain. Sang ibu masih butuh banyak uang untuk biaya perawatan, begitu juga dengan sekolah adik-adik nya.
"Bu, aku berangkat kerja dulu ya. Ibu hati-hati di rumah. Nanti Kak Tama yang akan mengurus makan siang Ibu," pamit Tasya mengecup kening Lena
Lena yang masih terbaring lemah diatas ranjang tidur nya hanya merespon dengan gerakkan tangan. Selama ini dia sudah melakukan beberapa terapi tetapi belum ada perubahan. Namun, Tasya tak menyerah mencari pengobatan agar sang ibu sembuh dari lumpuh nya. Apalagi Tasya seorang mantan dokter yang sudah memiliki banyak pengalaman di dunia medis.
Tasya memesan ojek online untuk menuju perusahaan tempat dia bekerja. Wanita cantik itu menghela nafas panjang. Dia jauh berubah dari sebelumnya.
Jujur saja hingga saat ini perasaan bersalahnya kian menggebu, perasaan hancur karena dia telah memilih membunuh anaknya demi menarik perhatian Pedro agar mau menerima dia apa adanya. Sekarang, kemanapun Tasya pergi perasaan bersalah itu juga masih menghantam dadanya.
Tasya ingin sekali bertemu Leona dan meminta maaf atas semua kesalahan yang dia lakukan. Namun, Tasya tahu bahwa Pedho takkan mengizinkan dia bertemu dengan wanita yang pernah dia sakiti hatinya tersebut.
Tasya menatap gedung pencakar langit didepan nya. Disinilah dia akan memulai hidupnya. Menata hati yang baru demi hidup yang lebih baik.
"Tasya," panggil Ben yang kebetulan keluar dari mobil.
"Ben," balas Tasya tersenyum simpul.
"Sudah lama datang?" tanya Ben melihat Tasya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Baru sampai," jawab Tasya.
Ben tersenyum melihat penampilan Tasya yang sederhana. Dia hampir tak mengenali Tasya karena penampilan wanita itu memang jauh berbeda. Tasya terkesan sederhana, jika dulu dia angkuh maka sekarang dirinya anggun.
"Ya sudah ayo masuk. Sekalian aku mau tunjukkan meja kerja kamu," ajak Ben
"Lho, aku langsung masuk? Tidak interview dulu?" tanya Tasya heran.
"Langsung Sya, 'kan masuknua lewat orang dalam," canda Ben.
Tasya tersenyum simpul. Dia sadar, seburuk apapun masa lalu selagi mau merubah diri akan selalu ada kesempatan untuk mendapatkan kehidupan lebih baik.
"Kamu mau nya di posisi apa?" tanya Ben melirik Tasya.
__ADS_1
"Apa saja Ben, jadi office girl juga tidak masalah yang penting aku mendapatkan pekerjaan," jawab Tasya.
Ben tidak mungkin meletakkan Tasya di posisi tersebut. Sesuai pesan Pedro agar memberikan Tasya pekerjaan yang layak dan sesuai dengan pendidikan nya. Walau bekerja di perusahaan sama sekali tidak bersangkutan dengan ilmu kedokteran. Namun, Ben yakin bahwa Tasya memiliki kemampuan di bidang bisnis.
"Yakin mau jadi tulang lap kaca?" goda Ben.
"Ya its oke yang penting kerja," jawab Tasya semangat.
Tasya sudah merasakan sulitnya mencari pekerjaan, bahkan hanya menjadi penjaga toko saja susah apalagi ingin bekerja di perusahaan besar seperti ini.
"Ayo masuk," ajak Ben.
Tasya menatap kagum ruangan Ben. Lelaki itu sebagai CEO yang memimpin perusahaan.
"Ini ruangan kamu, Ben?" tanya Tasya berdecak kagum.
"Iya, ruangan aku," jawab Ben.
Ben tak lagi canggung bersama Tasya. Jika dulu wanita ini sombong maka berbeda dengan sekarang. Sifat Tasya juga sudah humble dan ramah.
"Bagus sekali, Ben," ucap Tasya.
"Dan itu meja kamu." Ben menunjuk satu meja yang ada dipojokkan ruangan.
"Yup. Kamu jadi sekretaris ku," sahut Ben.
Mata Tasya membulat sempurna mendengar ucapan Ben.
"K-kamu se-serius, Ben?" tanya Tasya tak percaya.
"Tidak bercanda," sahut Ben ketus.
"Ben," renggek Tasya.
"Iya Tasya, kamu jadi sekretaris aku. Kamu yang akan bantu aku menyelesaikan semua pekerjaan diperusahaan," jelas Ben penuh penekanan agar wanita itu mengerti.
"Yess, terima kasih Ben," ucap Tasya.
Tanpa sadar wanita itu malah memeluk Ben saking senang nya. Dia tak pernah bayangkan akan diangkat menjadi sekretaris. Walau tak sebanding dengan gelar dokter yang tersemat di antara namanya.
__ADS_1
Ben terdiam ketika Tasya memeluknya. Kenapa jantungnya berdebar ketika mantan kekasih satu tuan-nya itu malah memeluknya.
Tasya langsung tersadar dan melepaskan pelukan nya pada Ben.
"Maaf Ben, aku terlalu senang," ucap Tasya malu sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
"Its oke," sahut Ben, padahal dia sedang salah tingkah.
Tasya menelusuri ruangan Ben. Memori nya kembali mengingatkan pada Pedro. Dulu dia sering sekali menemani mantan kekasihnya itu dikantor menyelesaikan tumpukan berkas.
Tasya tersenyum kecut, kisah cinta bak Cinderella itu kini hanya menjadi kenangan dalam hidupnya. Ya Cinderella, seorang wanita miskin seperti Tasya berpacaran dengan pria ternama bernama Pedro. Namun, sayang kisah cinta yang dianggap akan kekal didalam keabadian tersebut kandas ditengah jalan karena kebodohan Tasya sendiri.
"Kenapa Sya?" tanya Ben.
"Tidak. Aku hanya teringat pada Pedro," jawab Tasya.
Ben memegang kedua pundak Tasya dari belakang. Dia tahu bahwa Tasya masih mencintai Pedro.
"Sudah tidak usah di ingat lagi," ucap Ben. "Sekarang, kembali ke meja kerja kamu. Itu ada berkas, segera pelajari!" suruh Ben.
"Kalau tidak paham dipersilahkan untuk bertanya. Kata orang malu bertanya sesat di jalan," ucap Ben terkekeh.
"Iya bawel," ketus Tasya berjalan menuju meja nya yang berada di pojok.
Ben sengaja meletakkan meja Tasya di dalam ruangannya. Dia tidak mau kejadian seperti yang sudah-sudah terulang kembali. Apalagi, para karyawan nya sebagian mengenal Tasya.
.
.
Yuna menghela nafas panjang. Dia baru saja menyelesaikan laporan keuangan di restaurant nya.
"Aku tidak menyangka jika Kak Dhika romantis juga," ucap Yuna tersenyum ketika mengingat perlakuan Andika padanya.
"Semoga aku dan Kak Dhika bisa saling jatuh cinta meski perlu waktu," gumam Yuna.
Rasa sakit karena cinta nya pada Luiz masih tertahan di hati Yuna. Jujur saja dia cemburu melihat Luiz dan Lea. Namun, Yuna sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksa. Mungkin hanya perlu waktu, tetapi nanti dia akan melupakan Luiz dan mencintai Andika yang sudah mau menerima dia apa adanya.
"Semoga Kak Luiz dan Lea bahagia," ucap Yuna tersenyum kecut. "Walau aku harus terluka. Tapi tak apa, Kak Dhika adalah tempat ku pulang. Aku yakin suatu saat aku bisa mencintai Kak Dhika seperti aku mencintai Kak Luiz," kata Yuna pada dirinya.
__ADS_1
"Leona saja yang cinta mati pada Pedro kini bisa mencintai Kak Pedho, kenapa aku tidak?"
Bersambung...