
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Luiz mengenggam tangan Lea, gadis itu terlelap pulas setelah di berikan obat penenang. Bayangan kejadian yang Leona alami beberapa waktu lalu, terngiang di kepala Luiz. Entah kenapa dia benar-benar panik ketika melihat darah keluar dari hidung Lea.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Luiz pada Andika yang juga duduk menatap Lea.
Kedua orang tua Lea sedang mengurus kepindahan mereka di luar negeri. Lea sebenarnya di titipkan pada Andika. Namun, gadis itu malah keluyuran tidak jelas. Kadang Lea juga kabur dari rumah karena tak mampu di kekang oleh kedua orang tua nya. Apalagi dirinya anak kesayangan yang di jaga seperti telur. Bahkan Lea lebih memilih tinggal bersama Andika daripada ikut kedua orang tua nya keluar negeri.
"Sebenarnya Lea harus menjalani kemoterapi. Tapi ahhh susah sekali anak ini keras kepala," keluh Andika.
Andika juga begitu menyayangi Lea. Apalagi dia anak tunggal yang tidak memiliki saudara selain Lea, mereka berdua sama-sama anak tunggal.
"Kenapa tidak dipaksa?" tanya Luiz melirik Andika.
"Ck, kamu pikir mudah bicara sama anak kecil seperti Lea," ketus Andika. "Tapi aku akan tetap paksa dia," tegas nya menghela nafas panjang.
Yuna mendengarkan saja. Dia berusaha menahan perasaan nya ketika melihat Luiz yang begitu perhatian pada Lea. Tampak lelaki itu panik seperti ketakutan.
"Harus dipaksa," sambung Luiz.
Lelaki itu entah sadar atau tidak dengan tangannya yang mengenggam tangan Lea. Menatap wajah polos yang tengah terpejam itu membuat hatinya terenyuh. Rasa takut seketika menyeruak dalam hati Luiz. Kenapa rasanya dia takut jika Lea pergi meninggalkan nya? Apakah sesungguhnya Luiz sudah jatuh cinta pada Lea? Atau perasaan itu hanya hadir sesaat saja karena dirinya yang sudah terlalu lama dalam kesendirian.
"Hoammmmm."
Luiz, Yuna dan Andika sontak melihat kearah Lea yang menguap beberapa kali. Sontak tangan Luiz terlepas dan mendelik.
Lea mengeliat nyaman sembari membuka matanya.
"Lea," ucap Andika.
"Enak sekali Kak tidurnya," ucap Lea memijit-mijit bahu nya. Tangan kirinya terpasang infuse.
"Dimana yang sakit?" tanya Luiz.
"Cie yang mulai perhatian, awas lho Om dari perhatian bisa terbawa perasaan" ledek Lea mengedipkan matanya jahil dan tersenyum tanpa dosa.
"Bisakah kamu tidak membuat saya kesal?" omel Luiz. Gadis ini benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Entah kenapa jantung Luiz berdebar ketika mendengar kalimat itu dari mulut Lea.
"Kak, Lea lapar," renggek gadis itu tanpa peduli dengan wajah kesal Luiz.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa?" tanya Andika lembut.
"Seblak," pinta Lea. Rasanya air liur nya ingin meleleh ketika membayangkan makanan kesukaan nya itu.
"Ck, tidak boleh," sergah Luiz menatap Lea tajam.
"Terima kasih Om," goda Lea.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Luiz bingung. Benar-benar aneh gadis yang ada di atas brangkar ini.
"Terima kasih sudah perhatian sama Lea, Om. Terhura," ucap Lea dengan senyuman menggoda.
"Terharu Lea," ralat Andika.
Andika dan Yuna menahan tawanya ketika melihat wajah merah Luiz yang tampak begitu marah. Bahkan lelaki itu sampai meniup-niup rambutnya keatas saking gemes nya dengan gadis diatas ranjang rumah sakit tersebut. Andai saja Lea tidak sakit, sudah pasti Luiz akan melempar gadis itu ke planet lain. Sialnya, dia malah salah tingkah.
"Kam_"
"Sttt, jangan marah-marah Om. Nanti cepat tua ehh memang sudah tua sih," ucap Lea sambil menepuk bibirnya lalu tersenyum tanpa dosa. "Maaf ya, Om. Lea sengaja." Seraya menunjukkan jari v nya tanda damai.
"Sudah. Sudah. Kakak sudah pesankan makanan, nanti setelah ini kamu makan ya," ucap Andika lembut.
Gadis itu hendak bersandar, dengan cepat Luiz membantu Lea. Lagi wajah Luiz panas ketika sedekat ini dengan Lea.
"Terima kasih, Om," ucap Lea.
Luiz tak menanggapi dia menaikkan selimut Lea. Jika terus meladeni kegilaan gadis ini bisa-bisa dia kembali ke masa remaja nya. Aneh nya, kalau bersama Lea sifat asli Luiz seperti terlihat.
"Sayang, kamu lapar 'kan? Ayo kita makan keruangan ku saja. Tadi aku sudah pesan makanan untuk kita," ajak Andika mengulurkan tangannya pada Yuna.
Luiz dan Lea sontak melihat kearah Andika dan Yuna. Dalam hati Luiz bertanya-tanya sejak kapan Andika dan Yuna jadian? Kenapa panggilan Andika terdengar begitu mesra? Aneh kenapa Luiz biasa saja? Padahal dia akui bahwa Yuna sempat menjadi wanita spesial dihatinya.
"Iya Sayang," jawab Yuna.
"Luiz, aku titip Lea ya. Aku sudah pesan makan siang untuk kalian," ucap Andika mengenggam tangan Yuna.
"Iya," jawab Luiz.
Andika dan Yuna keluar dari ruang rawat inap Lea. Andika sengaja menyiapkan ruangan untuk adiknya itu. Untuk beberapa hari kedepan Lea harus di rawat, sampai gadis itu bisa menjalani kemoterapi.
__ADS_1
"Cemburu ya, Om?" ledek Lea menahan tawanya.
"Jangan asal bicara," ketus Luiz. Dia sama sekali tidak cemburu. Malah dia senang jika akhirnya Yuna memilih Andika dan menjalin hubungan dengan sahabat nya itu.
Lea tersenyum saja. Tatapan mata Yuna pada Luiz memang tak bisa bohong. Walau mungkin wanita itu melihat kesembarangan arah akan tetap terlihat.
"Lea," panggil suara kearah pintu masuk.
Tampak tiga orang siswa-siswi yang masih memakai seragam sekolah dan berjalan masuk kedalam ruangan Lea.
"Kak Galang, Kak Icha, Kak Akmal," ucap Lea.
Ketiga siswa itu berjalan menuju brangkar Lea. Mereka adalah anggota OSIS yang ditugaskan untuk menjengguk Lea.
Lea siswa kelas XIl fisika l, tetapi karena dia jarang masuk sekolah dan terpaksa harus homeschooling, sehingga dia banyak ketinggalan pelajaran yang seharusnya.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Galang tampak panik.
Galang adalah siswa favorite di sekolah Lea. Tak hanya tampan, lelaki yang sebentar lagi lulus sekolah itu juga pintar dan berprestasi serta pemain basket andalan sekolah.
"Lea sudah baikan, Kak," jawab gadis itu tersenyum simpul.
"Syukurlah," ucap Akmal dan Icha bersamaan.
Sementara Luiz merenggut kesal. Entah kenapa dia tidak suka melihat Lea dan Galang yang begitu akrab. Apalagi tatapan tak biasa Galang pada Lea, membuat bujang lapuk itu kesal setengah mati.
"Siang Om," sapa mereka pada Luiz.
"Siang," ketus Luiz.
Gara-gara Lea yang memaksa Luiz mengantar nya ke sekolah saat mengambil nilai raport siswa, alhasil semua siswa-siswi beranggapan bahwa Luiz adalah ayah Lea.
"Oh ya, ini Kakak bawakan buah kesukaan kamu," ucap Galang menunjukkan kantong plastik ditangannya.
"Wah terima kasih Kak, Lea suka sekali buah ini!" seru gadis itu tersenyum sumringah.
Akmal dan Icha saling melihat, kedua remaja itu tahu jika Galang menyukai Lea. Sudah lama siswa terpopuler itu mengejar Lea. Namun, karena sifat Lea yang bar-bar sehingga tidak tahu bahwa dirinya menjadi incaran ketua OSIS di sekolah nya.
Bersambung....
__ADS_1