
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
Tampak orang-orang tengah disibukkan dengan segala kegiatan dirumah mewah Pedho dan Leona. Masing-masing mengerjalan bagian mereka sesuai dengan perintah sang pemilik rumah.
Malam ini Pedho akan mengadakan acara besar-besaran untuk menyambut ketiga anaknya yang sudah berusia lima bulan tersebut. Harusnya acara di laksanakan ketika mereka hadir didunia ini. Namun karena kondisi Leona yang belum stabil membuat Pedho harus mengundur acara tersebut.
Malam ini sesuai dengan kesepakatan nya dan Leona, maka Pedho ingin menyambut kehadiran ketiga anak kembarnya yang kelak akan menemani masa-masa tua mereka.
"Kak ini bagaimana?" ucap Leona meminta pendapat atas baju yang dia pakai.
Sebagai seorang desainer ternama, tentu Leona memiliki selera yang tinggi terhadap fashion. Leona sengaja mendesain baju yang senada dengan warna jas suaminya serta baju yang akan di kenakan oleh ketiga anaknya.
"Kamu cantik, Sayang," ucap Pedho. "Akan lebih cantik kalah pakai ini," sambungnya.
Pedho memasangkan rambut palsu dikepala Leona. Hingga kini rambut wanita cantik itu masih enggan untuk tumbuh lagi.
Leona tersenyum menatap pantulan dirinya didepan cermin. Dia masih tak menyangka jika Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup hingga kini. Wajahnya berseri bahagia. Tak hanya karena dia dinyatakan sembuh tetapi ketika dia masih bisa bersama suami dan ketiga anaknya.
"Sayang." Pedho membalikkan tubuh sang istri.
"Iya Kak?" Leona memperbaiki dasi yang melingkar di leher suaminya.
"Terima kasih ya," ucap Pedho tulus. "Aku bahagia karena hingga kini kita masih bisa bersama," imbuhnya dengan mata berkaca-kaca, menatap kecantikan Leona yang seolah tak tertandingi.
"Aku yang harus berterima kasih pada Kakak karena sudah menerima wanita penyakitan ini apa adanya," sahut Leona mengusap pipi sang suami. "Aku berjanji Kak akan selalu ada untuk kalian berempat, kalian adalah nafas dan jiwaku," tutur Leona.
Leona adalah wanita biasa yang ingin hidup lebih lama setelah dirinya di ponis kanker jaringan lunak oleh dokter. Dia ingin menghabiskan detik disetiap nadi nya bersama sang suami dan ketiga anak yang boleh Tuhan titipkan padanya. Tak hanya sampai disitu, keinginan Leona untuk sembuh pun di jawab oleh Tuhan, sehingga dirinya boleh ada hingga saat ini.
"Terima kasih."
Pedho menarik wanita itu kedalam pelukannya. Wanita hebat yang dia cintai setelah ibu nya. Walau sampai saat ini Pedho tidak pernah melihat wajah ibu kandungnya.
"Aku mencintaimu, sangat," ucap Pedho.
__ADS_1
Tak pernah Pedho bayangkan jika Tuhan mengabulkan segala doa dan harapan nya. Jujur saja Pedho pun hampir menyerah ketika melihat kondisi Leona yang menurun kala itu. Rasanya hatinya luruh dan hancur berkeping-keping. Saat Leona koma, dia menanti didalam doa. Menunggu dengan tetesan air mata.
"Aku juga mencintaimu, Kak," balas Leona.
Keduanya saling berpelukan erat didalam kamar mewah yang khusus Pedho siapkan untuk istri dan ketiga anaknya.
"Ya sudah ayo, mereka sudah menunggu," ajak Pedho.
"Iya Kak."
"Sayang, aku gendong saja," ucap Pedho yang tak mau istrinya itu kelelahan lagi. Sudah cukup kemarin Pedho ketakutan melihat Leona yang drop lagi, sekarang Pedho akan menjadi suami siaga yang menjaga istrinya.
"Boleh, Kak," sahut Leona tersenyum hangat.
Pedho menggendong istrinya keluar dari kamar. Diluar para anggota keluarga sudah menunggu kedatangan dua pasutri tersebut. Pasangan yang membuat orang iri akan keharmonisan dan keromantisan mereka. Terutama Pedho yang memperlakukan Leona bak ratu di istana cintanya.
Semua menatap kearah pasangan yang telah menjadi orang tua dari tiga anak kembar sekaligus. Ada yang terpesona. Ada yang tersenyum gemes dan tak sedikit juga yang geleng-geleng kepala. Lihatlah Pedho yang menggendong istrinya seperti penggantin baru. Padahal mereka sudah lama menikah tetapi keharmonisan keduanya seolah tak lekang oleh waktu. Membuat jiwa para jomblo meronta-ronta.
"Selamat malam semua. Terima kasih sudah hadir di acara penyambutan ketiga anak kembar kami. Terima kasih untuk partisipasi dan antusias semua keluarga terutama kedua orang tua kami," ucap Pedho berdiri diatas panggung kecil yang dibuat oleh para dekorasi.
Suara riuh tepuk tangan terdengar menggema bagi kedua pasangan itu.
"Selamat ya Nak, semoga kalian menjadi orang tua yang bisa membimbing anak-anak kalian ke jalan yang benar," ucap Alexander.
"Terima kasih Dad," sahut Pedho dan Leona secara bersamaan.
"Sehat-sehat yaa Sayang," ujar Abraham juga memberikan pelukan anaknya.
"Terima kasih Daddy." Leona membalas pelukan ayah nya.
"Sama-sama Sayang. Daddy bahagia kalau kamu bahagia. Jadilah ibu yang baik untuk anak-anak mu," ucap Abraham mengecup kening Leona.
Ayah adalah cinta pertama anak perempuan nya. Meski anak perempuan nya itu telah menikah dan memiliki suami serta anak, perasaan sayang seorang ayah pada putrinya tidak akan bisa dirubah oleh apapun.
__ADS_1
Pedro mendekat kearah Pedho dan Leona. Kini perasaan nya tenang melihat Leona bahagia. Benar kata pepatah, cinta sejati itu adalah ketika mampu melepaskan seseorang yang dicintai, bukan karena tidak cinta tetapi demi kebahagiaan seseorang tersebut.
"Kak," panggil Pedro.
Secepatnya Pedho melingkarkan lengannya dipinggang Leona. Pedho takut jika adiknya itu merebut sang istri dari sisinya.
"Selamat ya Kak," ucap Pedro tulus. "Selamat Leona," sambung Pedro.
"Terima kasih Pedro," balas Leona.
"Sama-sama Leona," ucap Pedro. "Kak, aku berharap Kakak bahagia sama Leona. Maaf dulu aku pernah berpikir untuk merebutnya dari Kakak," kata Pedro merasa bersalah.
Namun Pedho malah terdiam. Sampai kapan pun dia tidak akan lupa jika sang adik pernah bekerjasama dengan Tessa untuk menyingkirkan Leona.
"Kak," bisik Leona melihat suaminya hanya diam saja.
"Iya Sayang, kenapa?" seketika singa jantan itu menjadi hangat ketika mendengar suara lembut sang istri.
"Itu Pedro..."
Pedho menghela nafas panjang, "Iya Kakak memaafkan kesalahan mu. Tetapi jika sekali lagi kamu menganggu istri Kakak. Maka Kakak akan melempar mu ke benua Amerika," ancam Pedho.
Pedro terkekeh. Lalu kedua saudara yang pernah saling berselisih paham itu saling memeluk erat dan memaafkan.
Acara berlangsung, para keluarga berebut untuk menggendong ketiga bayi menggemaskan tersebut. Pedho dan Leona bahkan hampir tak memiliki kesempatan untuk menggendong ketiga bayi nya.
**T-A-M-A-T**
_Aku mencintaimu tanpa syarat. Aku mencintaimu sepenuh jiwa dan perasaan. Aku siap menunggu sekalipun harus ratusan tahun lamanya. Tak peduli saat ini kau telah menjadi milik siapa, aku percaya kelak kau akan kembali kedalam dekapan ku. Terbukti sekarang kau menjadi milikku
(Pedho Pannetha)
Aku tak pernah menyangka akan diberikan umur panjang. Ternyata Tuhan mengabulkan doa-doa ku untuk hidup bersama mu dan anak-anak. Terima kasih suamiku, sudah menemani ku dalam segala hal. Membantuku melewati rasa sakit yang hampir membuatku menyerah berjalan ditengah gelap.
__ADS_1
(Leona Juliet)_