
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Leona Juliet, wanita cantik berkepala plontos. Rambutnya yang terkikis seperti takkan tumbuh lagi. Sel kanker yang bersarang didalam tubuhnya membuat wanita tersebut, harus tinggal dirumah selama dua puluh empat jam. Kondisi tubuhnya yang menurun tak memaksa nya untuk banyak istirahat.
Wanita tersebut, mengelus perut nya yang sudah setengah membuncit. Usia kandungan nya memasuki bulan kelima, tapi dia sudah kewalahan dan mudah lelah. Padahal baru lima bulan kenapa serasa tujuh bulan saja? Kadang Leona berpikir jika manusia yang berdiam didalam perut nya lebih dari satu.
Leona berjalan pelan menelusuri taman. Dia menikmati setiap proses dalam hidupnya. Dia tak lagi meremang dalam kesakitan, yang terapal dalam dada adalah bagaimana dia terus hidup bersama suami dan bayi nya.
"Sayang," panggil Pedho.
Tampak Pedho berjalan dengan membawa nampan ditangannya, berisi buah-buahan dan makanan sehat khusus untuk ibu hamil. Pedho sama sekali tidak keberatan mengikuti permintaan Leona yang diluar nalar. Dia memaklumi karena istrinya adalah wanita hamil. Keinginan wanita hamil harus di ikuti.
"Ini salad nya, Sayang," ucap Pedho sambil duduk disamping suaminya.
"Makan yang banyak, supaya kamu dan calon anak kita sehat-sehat," ucap Pedho mengusap kepala plontos istrinya.
"Iya Kak," sahut Leona.
Motivasi Leona sembuh adalah kandungan nya. Dia rela melakukan apa saja agar anaknya itu bisa melihat dunia. Tak peduli, jika dia harus kehilangan nyawa nya sendiri.
"Biar aku saja yang menyuapimu, Sayang," ucap Pedho mengambil alih sendok istrinya.
Leona mengangguk dan menurut saja pada ucapan sang suami. Dia menyukai buah-buahan dan makanan-makanan sehat, selain ajuran dari dokter. Buah juga memiliki vitamin yang tinggi yang berperan penting sebagai antioksidan.
"Bagaimana kabar anak, Daddy?" tanya Pedho mengusap perut istrinya.
"Acu bayik-bayik saca Dedci," sahut Leona menirukan suara anak kecil.
Pedho terkekeh pelan. Ya, Pedho tak lagi bisa menolak takdir. Memaksa Leona membunuh bayi tak berdosa pun tak lagi dia lakukan. Pedho ingin menemani Leona melewati semua proses dalam hidupnya.
"Sayang, apakah ada yang sakit dibagian perutmu?" tanya Pedho menatap istrinya dengan tatapan intens. Setiap kali melihat senyum sang istri, hanya bagai teriris ribuan pisau. Tak bisa dia bayangkan jika suatu saat Leona benar-benar pergi meninggalkan nya. Entah, apa yang akan terjadi padanya jika saat itu tiba?
"Tidak ada, Kak. Aku hanya tidak sabar menyambut kelahiran nya nanti," jawab Leona tersenyum sumringah.
Ya sebagai seorang wanita hamil, tentu Leona bahagia bisa menikmati proses-proses kehamilan yang benar-benar menguras tenaga dan emosinya. Jika boleh jujur, Leona tak baik-baik saja dengan kehamilan nya saat ini. Dia kadang merasa bahwa nafasnya seperti di tercekat ketika rasa sakit itu menyerang bagian tubuhnya. Dia belum boleh mengkonsumsi obat jika tanpa anjuran dokter.
Leona bersandar dibahu Pedho seraya menikmati setiap rasa yang menyelip masuk kedalam dadanya. Tak bisa dipungkiri bahwa Leona memiliki ketakutan tersendiri.
__ADS_1
"Kak," panggil Leona.
"Iya Sayang, kenapa?" tanya Pedho tanpa melihat istrinya. Namun, tangannya dia gunakan untuk mengusap kepala plontos wanita tersebut.
"Kak, jika suatu saat aku pergi. Apa Kakak akan tetap mencintai ku?" tanya Leona menatap fokus kedepan.
"Sayang_"
"Jawab saja, Kak," potong Leona.
"Aku akan tetap mencintai mu. Apapun yang terjadi," jawab Pedro terdengar lirih. Suaranya bahkan sudah serak membayangkan hal tersebut benar-benar terjadi padanya.
"Terima kasih, Kak. Aku juga mencintaimu." Leona memeluk lengan kekar sang suami lalu memejamkan matanya dengan nyaman.
Keduanya larut menikmati suasana taman disore hari. Pedho menyandarkan kepalanya diatas kepala Leona. Dia juga memejamkan matanya dengan tangan kanan yang mengenggam jemari Leona.
Tanpa sadar, lelehan bening perlahan lolos di mata lelaki itu. Sakit, dadanya seperti di hantam oleh ribuan ton batu. Kenyataan yang tak ingin Pedho terima, harus menimpa istrinya. Pedho takkan rela kehilangan Leona. Leona adalah nafas hidupnya. Hidupnya akan benar-benar hancur jika Leona tidak ada.
Mereka berdua saling duduk dikursi taman, samping rumah mewah yang dibelikan Pedho untuk istrinya. Menikmati angin-angin sepoi yang mendinginkan raga. Juga jari-jari Leona yang memainkan jemari sang suami.
"Kamu jangan patah semangat lagi, ya. Aku yakin kita bisa lewati ini berdua dan kamu tidak akan pergi meninggalkan aku," ucap Pedho.
"Kamu ya...." Pedho mencium ujung kepala plontos istrinya.
.
.
"Lea, sudah boleh pulang 'kan, Kak?" tanya gadis kecil tersebut. "Lea bosan disini, Kak," renggeknya.
"Iya, kamu sudah boleh pulang. Makanya, lain kali kamu harus jaga kesehatan. Untuk sekarang kamu homeschooling dulu, jangan kemana-mana," ucap Andika menegaskan sebab Lea ini keras kepala sama seperti Leona, yang sulit diatur. Akan tetapi manja luar biasa.
"Iya Kak," jawab Lea tersenyum.
Gadis itu memperhatikan Andika yang melepaskan selang infuse ditangannya. Andika memang memutuskan merawat Lea sendiri, karena dia ingin memastikan perkembangan sel kanker yang ada ditubuh adiknya.
"Kak, Kakak yang cantik itu kemana?" tanya Lea.
__ADS_1
"Kakak yang cantik? Yang mana?" ulang Andika tampak bingung.
"Itu lho Kak, yang sering bawakan Kakak makan siang. Siapa nama nya, Kak?" tanya Lea penasaran. Sebab dia melihat Yuna hampir setiap hari datang kerumah sakit hanya untuk membawakan Andika makan siang.
"Yuna," jawab Andika singkat padat dan jelas.
"Oh Kak Yuna." Gadis itu hanya beroh-ria saja. "Cantik ya, Kak," sambung Lea.
"Namanya juga wanita," ketus Andika.
"Kakak tidak tertarik padanya?" goda Lea.
"Jangan mikir yang aneh-aneh," ketus Andika sambil membuang bekas infuse Lea.
"Aneh-aneh bagaimana sih, Kak? Lagian Kak Yuna cantik, Kakak juga tampan. Apa salahnya?" tanya Lea tak habis pikir.
"Anak kecil seperti kamu, tidak akan paham," ketus Andika mendorong kening Lea dengan gemas.
"Ihh, Kakak. Kekerasan dalam persepupuan ini namanya," gerutu Lea.
Andika terkekeh saja sambil menyimpan barang-barang Lea. Sebentar lagi kedua orang tua gadis itu akan datang menjemput nya.
Andika sangat menyanyangi Lea. Apalagi dia tidak punya saudara.
Luiz masuk kedalam ruang rawat Lea. Entah alasan apa-apa tiba-tiba lelaki itu datang.
"Hai Om Dokter," sapa Lea tersenyum genit.
"Lea," tegur Andika geleng-geleng kepala.
Luiz malah tenang-tenang saja. Meski sering dibuat kesal oleh sikap kekanak-kanakan Lea. Namun, sebenarnya wanita itu terhibur.
"Bagaimana kondisi nya?" tanya Luiz tanpa melihat Lea.
"Seperti yang kita lihat, dia sudah sehat," jawab Andika.
"Cie yang perhatian. Hati-hati lho, Om. Lama-lama Om bisa jatuh cinta sama Lea," goda gadis itu seraya mengedipkan matanya dengan jahil.
__ADS_1
Bersambung.....