Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
03. Pedro & Rere


__ADS_3

Sampai di restaurant Yuna, kedua orang berbeda usia tersebut turun dari mobil. Ricard sampai lupa berkedip menatap kecantikan Rere. Gadis kecil yang dulu nya sering bermain dengannya. Gadis kecil yang dulunya memanggil dia om lantaran beda usia mereka yang sangat jauh. Kini gadis ini benar-benar akan menjadi istrinya. Ricard tak sabar untuk menikahi Rere.


"Ayo," ajak Ricard.


Ricard melingkarkan tangan Rere ke lengan kekar lelaki itu. Ricard tak kalah tampan, wajahnya tegas dan berwibawa. Apalagi bekerja sebagai asisten Pedho cukup lama sehingga membentuk karakter keras pada dirinya.


Rere tersenyum malu, tetapi kenapa dia tidak merasakan getaran rasa pada lelaki ini. Padahal sejak kecil dia sudah mengajak Ricard menikah. Namun, kenapa sekarang tidak ada lagi rasa itu? Apakah rasa itu perlahan memudar seiring berjalannya waktu, apalagi selama ini Ricard sibuk dengan pekerjaan nya.


Keduanya berjalan masuk kedalam restaurant mewah tersebut. Restaurant yang memiliki desain unik sehingga menarik para pengunjung untuk berlama-lama disini.


"Silahkan duduk, Tuan Putri," ucap Ricard menarik kursi untuk Rere


"Terima kasih Kak," sahut Rere duduk dikursi dengan nyaman.


Kebetulan malam Minggu, kata anak muda adalah malam yang tepat untuk berkencan bersama sang kekasih hati. Para pengunjung yang datang juga rata-rata anak muda yang makan bersama pasangan nya.


"Kamu mau pesan apa, Re?" tanya Ricard sambil membuka buku menu makanan.


"Apa saja Kak," jawab Rere.


Ricard tersenyum dan menatap Rere. Usia mereka memang terpaut sangat jauh, tetapi Ricard yakin jika dia bisa menjadi suami yang baik untuk Rere. Dia tahu semua tentang Rere, tak masalah jika Rere adalah preman kampus. Setelah bersamanya sudah lain cerita.


"Apakah Kakak sudah lama tahu jika mau dijodohkan sama aku?" tanya Rere


"Sudah lama," jawab Ricard.


Ricard tersenyum gemes ketika tahu bahwa Rere kabur dari rumah karena tidak mau dijodohkan. Dan lebih membuat Ricard geleng-geleng kepala Rere bekerja di perusahaan Pedro dan menjadi sekretaris.


"Kenapa?" tanya Ricard menatap wajah cantik Rere.


Rere menghela nafas panjang. "Aku tidak menyangka ternyata lelaki tua yang dijodohkan sama aku itu ternyata Kakak," jawab Rere.


Bukannya tersinggung karena dibilang tua, Ricard malah tersenyum simpul. Ada-ada saja gadis ini.

__ADS_1


'Kenapa aku malah ingat sama Tuan menyebalkan itu,' ucap Rere dalam.


Gadis itu tersenyum sendiri seperti orang gila ketika mengingat wajah Pedro yang sering berdebat dengannya. Kemarin, lelaki itu mencium nya. Aneh nya, Rere malah merasa pikiran nya melayang. Padahal itu ciuman pertamanya.


"Re, kenapa?" Ricard melambaikan tangan kearah mata Rere saat gadis itu hanya diam sambil tersenyum seperti orang gila.


"Ehhh iya Kak, tidak apa-apa," sahut Rere cenggesan.


'Stress kamu Re, kenapa coba harus mengingat wajah lelaki menyebalkan yang sudah merebut ciuman pertamamu,' rutuk nya dalam hati.


Entahlah kenapa bayangan Pedro menciumnya masih terngiang dikepala gadis itu. Apakah sudah sudah jatuh cinta boss nya sendiri? Ataukah perasaan tidak harusnya ada ini hanya sebagai bumbu dari pekerjaan nya.


Meski setiap hari mereka berdebat karena satu dan lain hal, tetapi saat tak bersama keduanya saling merindukan satu sama lain. Apalagi sosok Rere yang menyebalkan dan membuat kesal, sehingga walau kesal setengah mati dengan gadis tersebut, Pedro merasakan rindu didalam hatinya.


"Sayang."


Obrolan mereka berdua terbuyarkan ketika mendengar seseorang memanggil dengan nama sayang.


"Tuan," ucap Ricard dan Rere secara bersamaan.


Pedro berjalan santai menuju meja mereka. Wajahnya tampak tampan dengan stelan jas yang membungkus tubuh kekarnya. Rambutnya disisir dengan rapi ke belakang, sehingga membuat wajahnya seribu kali lipat. Pedro tak terlihat tua meski sudah berstatus duda. Ketampanan nya tak lekang oleh waktu. Apalagi sejak hidup dalam kesendirian, dia lebih fokus mengurus diri dan hidupnya sendiri.


"Tuan Pedro," gumam Rere tanpa sadar gadis itu berdiri dari duduknya.


Pedro tersenyum melihat kecantikan sekretaris menyebalkan nya itu. Terbiasa melihat Rere yang memakai blazer dan rok selutut membuat Pedro tak bisa mengedipkan matanya. Kecantikan Rere seolah mampu menyihirnya masuk kedalam bola mata indah gadis tersebut.


"Kamu cantik sekali malam ini, Sayang," puji Pedro sambil menyelipkan anak rambut Rere.


Senyum Pedro memudar ketika melihat belahan dada Rere yang tampak transparan. Lelaki itu merenggut kesal dengan cepat dia melepaskan jas ditubuh nya.


"T-tua-n." Rere tak bisa berkata apa-apa. Lidahnya terasa kelu melihat perlakukan Pedro.


Sementara Ricard mengepalkan tangannya dengan kuat. Apalagi Pedro merupakan mantan dari rival nya ketika memperebutkan Leona. Jadi Ricard benar-benar geram melihat Pedro.

__ADS_1


"Lain kali jangan pakai baju yang kurang bahan," gerutu Pedro.


Rere menelan salivanya susah payah, jantungnya berdebar-debar saat Pedro merangkul bahu nya. Kenapa rasanya berbeda sekali? Apakah benar jika Rere sudah memiliki rasa pada tuan-nya tersebut?


"Tuan, apakah Anda tahu jika Rere adalah calon istri saya?" tatap Ricard tajam pada Pedro.


Pedro tersenyum mengejek, "Tentu saja tahu, tetapi Rere menyukai saya," jawab Pedro dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.


Mata Rere membulat sempurna dan menatap Pedro dengan dalam, sejak kapan dia mengatakan suka pada Pedro. Bahkan mengungkapkan rasanya saja Rere tidak pernah, apalagi menyukai lelaki ini.


Ricard menatap Rere, dia tahu bahwa gadis ini sejak kecil menyukainya jadi tidak mungkin jika Rere malah menyukai orang lain.


"Tuan, apa yang kau lakukan?" bisik Rere. Wajahnya sudah merah merona. Kenapa dia bisa salah tingkah hanya karena mendengar ucapan Pedro?


"Kami sudah di jodohkan," sahut Ricard menatap kearah Rere yang diam saja ketika Pedro memeluknya, kenapa hatinya sakit dan kecewa?


"Ya dan saya tahu. Tetapi bagaimana kalau Rere tidak menyukai Anda?" Pedro tersenyum devil melihat Ricard. Dia masih ingat bagaimana dulu lelaki itu menahan nya ketika dia ingin masuk kedalam ruang rawat Leona.


Ricard kembali duduk menenangkan hatinya. Tidak mungkin kalau gadis kesayangan nya itu malah jatuh cinta pada orang lain.


"Re, ayo pulang. Ada yang ingin Kakak bicarakan sama kamu," ajak Ricard.


"Eitss tidak bisa. Harus bicara disini. Saya yang akan mengantar nya pulang nanti," cegah Pedro.


"Tuan." Rere menatap Pedro.


"Kenapa?" Pedro pun menatap Rere. "Ayo kita pulang." Lelaki itu langsung menarik tangan sekretaris nya.


"Tuan lepaskan, jangan tarik-tarik. Anda pikir tangan saya karet apa?" protes Rere


Pedro tak peduli, dia tetap menarik tangan Rere keluar dari restaurant. Kali ini Pedro tak mau kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Dia tidak akan melepaskan Rere. Tak peduli seluruh dunia menghakimi sifat ego nya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2