
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Jangan ge-er," ketus Luiz memutar bola matanya malas.
Entah kenapa godaan Lea malah membuatnya salah tingkah. Dia seperti anak remaja yang kepergok menyukai teman sebangku.
"Ya siapa tahu saja kalau ternyata Om suka sama Lea," sahut Lea dengan percaya dirinya. "Tapi Lea mau mengingatkan ya, Om. Jangan suka sama Lea. Soalnya Lea itu suka nya sama ketua OSIS di sekolah, nanti Om malah patah hati lagi gara-gara Lea," ujar gadis itu tersenyum tanpa dosa sambil menampilkan senyum polosnya pada Luiz yang sudah kesal setengah mati.
Andika menahan tawanya. Lea ini memang suka sekali mengerjai orang. Entah itu karena ucapannya ataupun tingkahnya.
"Lea, seperti nya Daddy dan Mommy masih lama. Kamu tidak apa tunggu disini, Kakak ada jadwal operasi," ucap Andika melirik arloji di tangannya.
"Kenapa tidak suruh Om Luiz saja yang mengantar Lea, Kak. Lagian Om Luiz tidak sibuk 'kan?" saran Lea menatap Luiz dengan senyuman menggodanya. Entah kenapa dia suka melihat wajah kesal lelaki yang menjadi teman kakak nya tersebut?
"Oh iya benar. Luiz, kamu tidak sibuk 'kan? Bagaimana Kalau kamu antar Lea pulang?" ujar Andika menatap Luiz penuh harap.
"Aku s_"
"Yes. Om Dokter mau, Kak," potong Lea tanpa menunggu Luiz menyelesaikan ucapannya.
Luiz menatap gadis itu tajam. Namun, yang ditatap malah santai-santai saja sambil duduk di bibir ranjang rumah sakit. Lea tersenyum tanpa dosa.
"Bagaimana Luiz?" tanya Andika sekali lagi, dia melirik arloji di tangannya. "Aku buru-buru," ucapnya. "Luiz, tolong antar Lea." Tanpa menunggu respon dari Luiz, lelaki itu langsung keluar dari ruangan Lea.
"Tapi_"
Belum sempat Luiz menolak, Andika sudah keluar duluan. Pria itu mendengus kesal sembari menatap Lea tajam.
"Kamu pikir saya taksi online apa yang siap mengantar kamu ke mana saja?" ucap Luiz kesal.
"Yaellah, Om. Jangan banyak protes. Sini gendong Lea." Gadis itu melambaikan tangannya pada Luiz agar pria tersebut mendekat.
"Memang nya kamu tidak bisa jalan sendiri?" Luiz memutar bola matanya malas.
"Bisa. Tapi Lea ingin di gendong sama Om. Siapa tahu nanti kita tidak bertemu lagi," ucap Lea santai.
Tanpa Lea ketahui, bahwa ucapan nya tersebut membuat lelaki tampan itu menatapnya dengan intens.
"Om," panggil Lea sekali lagi.
"Kalau saya gendong kamu, siapa yang bawa barang-barang ini?" tanya Luiz tak habis pikir. Tidak mungkin dia membawa barang sebanyak itu dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Tenang Om. Biar nanti anak buah Daddy saja yang bawa," jawab Lea.
"Memang kamu tidak bisa pakai kursi roda?" Bukan menolak, hanya saja entah kenapa saat bersentuhan dengan kulit.
"Lea mau nya digendong sama Om. Kursi roda gratis, tanpa di dorong," sahut Lea cekikikan sambil menutup mulutnya.
Luiz mencebik kesal. Ada-ada saja gadis ini. Untung semua pekerjaan nya sudah selesai, pasiennya hari ini juga tidak terlalu banyak. Jadi, Luiz bisa bersantai-santai sampai selesai jam makan siang.
Meski kesal dan menggerutu, pria itu tetap mengikuti perintah Lea. Luiz selalu tak bisa menolak, dia seperti di dihipnotis oleh tatapan sendu Lea.
"Sini."
Luiz menyelipkan tangannya di kedua kaki Lea. Sedangkan gadis itu memeluk leher Luiz dengan erat. Dia tersenyum penuh kemenangan saat Luiz mau mengikuti keinginan nya.
"Terima kasih Om," ucap Lea.
"Sama-sama," ketus Luiz.
Luiz menggendong Lea keluar dari ruangan rawat inap. Dia heran sendiri, mendengar gadis ini terus berceloteh. Apa Lea tidak bosan mengoceh serta bercerita? Padahal lelaki yang menggendong nya sama sekali ta merespon.
"Saya penasaran, berapa ribu kosa kata yang ada dikepala kamu ini? Kenapa tidak bosan-bosannya berbicara?" tanya Luiz sambil menyindir dan tak habis pikir.
"Jangan kan Om. Lea juga heran," sahut Lea.
"Om," panggil Lea.
"Kenapa?" tanya Luiz ketus.
"Kenapa ya, Lea merasa nyaman kalau digendong sama Om?" tanya Lea heran.
Luiz tak menanggapi karena dia juga merasakan hal yang sama. Hanya saja lelaki itu terlalu gengsi mengakui apa yang dia rasakan, apalagi Lea ini masih ingusan yang cocok menjadi anaknya.
"Ehh Kak Yuna," sapa Lea yang melihat Yuna berjalan meneteng rantang nasi ditangannya.
Langkah Yuna terhenti, begitu juga dengan Luiz yang menggendong Lea. Tatapan Yuna tertuju pada tangan Luiz yang terselip diantara kedua kaki Lea. Dan Lea melingkarkan lengannya di leher lelaki. Lagi, hati Yuna terasa perih bagai ditumpahi cuka asam.
"Lea," balas Yuna berjalan menghampiri Luiz dan Lea.
"Pasti Kakak mau bawakan Kak Dhika, makan siang?" tebak Lea seraya melirik rantang nasi ditangan Yuna.
"Iya," jawab Yuna. Wanita itu tak bisa menyembunyikan wajah sendu nya di hadapan Luiz dan Lea.
__ADS_1
"Kak Dhika lagi ada jadwal operasi, Kak. Kakak simpan saja di ruangan nya," ucap Lea dengan senyum manis.
"Bagaimana keadaan kamu, Lea?" tanya Yuna mencoba menguatkan hatinya. Padahal dia ingin berteriak dan meminta Luiz mengerti. Akan tetapi lelaki itu malah dingin seperti biasa.
Makanan yang dibawa Yuna sebenarnya untuk Luiz. Dia berharap bisa meluluhkan hati lelaki itu. Akan tetapi, dia dipatahkan oleh satu kenyataan bahwa Luiz tak memiliki rasa apapun padanya.
"Ayo," ajak Luiz.
"Kak Yuna, Lea duluan yaa," pamit gadis itu melambaikan tangannya.
"Iya, Lea. Hati-hati," jawab Yuna membalas lambaian tangan Lea.
Yuna merasakan pipinya panas dan matanya berkaca-kaca. Segera wanita itu membalikkan badannya, tak mau melihat adegan yang membuat hatinya berdenyut sakit.
"Sadar Yuna. Dia tidak mencintaimu," ucapnya menggelengkan kepala menepis semua perasaan yang ada didalam dada.
.
.
Luiz mendudukkan Lea dengan pelan di samping kemudi. Lalu, Lelaki itu masuk dan duduk dengan nyaman dibalik kemudi.
"Om," panggil Lea.
"Ada apa?" ketus Luiz.
"Om punya hobby marah ya? Perasaan Om marah terus kalau bicara sama Lea," protes gadis tersebut sambil melipat kedua tangannya kesal.
"Suka-suka saya. Mulut-mulut saya," sahut Luiz malas.
"Lea tidak bilang itu mulut Lea, Om," jawab Lea cepat. Perempuan mana ada yang mau kalah jika masalah berdebat.
"Lalu?" Luiz melirik Lea jenggah. Gara-gara gadis ini dia harus repot mengantar Lea pulang.
"Kak Yuna suka sama Om, ya?" tebak Lea.
Luiz mendelik, "Jangan asal bicara!" kilah Luiz. Padahal memang kenyataan nya.
"Om, kenapa tidak menikah saja dengan Kak Yuna? Kak Yuna orang nya baik, sama Kak Dhika saja di bawakan bekal setiap hari," jelas Lea yang mengingat Yuna membawakan Andika bekal makan siang.
Luiz tak menjawab. Lelaki itu fokus menyetir. Untuk sekarang, dia tidak ingin memikirkan hubungan asmara. Trauma patah hati di masa lalu seperti menahan kaki nya untuk melangkah.
__ADS_1
Bersambung.....