
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Ada apa Papa dan Mama suruh aku kesini?" tanya Pedro sambil duduk disoffa gabung bersama kedua orang tuanya.
"Ada yang ingin Papa dan Mama bicarakan sama kamu," ucap Alexander menghela nafas panjang.
Pedho ikut bergabung karena ia juga dipanggil oleh Papa nya. Entah apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tua nya. Sebenarnya ia tak ingin melihat Pedro, jenggah sekali bertemu adiknya itu.
"Apa Pa?" tanya Pedro tampak heran. "Apa aku melakukan kesalahan?" sambungnya. Tak biasanya ia dipanggil oleh kedua orang tua nya jika tidak ada sesuatu yang penting.
Alexander dan Anjani tampak saling melihat satu sama lain. Lalu kompak menatap kearah Pedro. Sementara Pedho hanya mendengarkan dengan wajah tenang.
"Ini masalah kamu dan Leona," ujar Alexander. "Ada yang ingin Papa tanyakan tentang hubungan kalian berdua," timpal Alexander.
Pedro tampak bingung. Perasaan ia dan Leona baik-baik saja. Tidak ada masalah. Kalau pun ada masalah itu sudah ada sejak mereka menikah.
"Masalah apa Pa?" tanya Pedro masih tak mengerti.
"Apa kamu mencintai Leona?" tanya Alexander menatap putra kedua nya itu.
Deg
Pedro langsung terdiam. Ini adalah pertanyaan yang tidak akan pernah bisa ia jawab. Apakah ia mencintai Leona? Sama sekali tidak. Apakah ia sanggup kehilangan Leona? Tidak. Meski ia tak mencintai Leona tapi ia tidak bisa berpisah dari Leona. Meski Pedro sudah sering menyuruh Leona menyerah atas pernikahan mereka. Namun beberapa waktu terakhir ia seperti memiliki sesuatu yang ia jelaskan tentang Leona.
"Kenapa Papa menanyakan hal itu?" kilah Pedro supaya tak menjawab pertanyaan yang tidak ada jawaban nya.
"Papa hanya ingin tahu Pedro. Kalian menikah bukan karena cinta tapi karena perjodohan," jelas Alexander. "Apa kamu masih berhubungan sama Tasya?" sambungnya menatap Pedro yang terlihat gugup.
Pedho tersenyum sinis. Apa Pedro akan mengakui apa yang sudah ia lakukan pada Leona? Mencintai wanita lain saat ia sudah memiliki istri sempurna seperti Leona.
Pedro menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa melepaskan Tasya," jawab Pedro jujur. Pedro memang tidak bisa jauh dari Tasya. Entahlah, ia sangat mencintai wanita sederhana itu.
Alexander menggeleng. "Jadi selama ini kamu menjalin hubungan dengan Tasya dibelakang Leona_"
"Leona tahu," potong Pedro. "Dia tidak keberatan," tuturnya tanpa menatap kedua orang tua nya.
__ADS_1
"Kamu tahu dia tidak keberatan dari mana?" Alexander menggeleng, tak habis pikir apa sebenarnya yang ada di otak Pedro.
"Dia tidak pernah mempermasalahkan nya, artinya dia tidak keberatan," jelas Pedro yakin. Ia tak tahu saja sudah berapa banyak air mata yang Leona keluarkan karena ulahnya.
Tangan Pedho terkepal. Ia menatap adiknya tajam. Jika saja tidak ada kedua orang tua nya sudah pasti ia akan menyerang Pedro dengan membabi buta.
"Pedro, kamu tidak bisa menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus. Tinggalkan Tasya dan perbaiki hubungan mu dengan Leona," pinta Anjani penuh harap. Anjani tidak mau kehilangan Leona sebagai menantunya. Leona sudah seperti anaknya sendiri.
"Aku tidak bisa Ma," jawab Pedro tegas. "Aku tidak bisa meninggalkan Tasya. Aku mencintainya,"
"Pedro buka matamu. Kamu tidak tahu siapa Tasya sebenarnya. Sebelum kamu menyesal lebih kamu tinggalkan dia dan hidup bahagia bersama Leona," tegas Alexander terlihat marah.
"Aku tidak peduli Tasya siapa. Aku mencintai nya itu saja," sahut Pedro santai.
"Kalau kamu tidak bisa meninggalkan Tasya, berarti kamu harus tinggalkan Leona," sambung Pedho.
Mereka bertiga sontak menatap kearah Pedho yang tampak marah karena terlihat dari wajahnya yang memerah.
"Aku tidak bisa meninggalkan Leona," tegas Pedro.
Bugh bugh bugh bugh bugh
Pedho langsung melayangkan pukulan diwajah adiknya. Ia marah. Leona bukan barang yang bisa dipermainkan oleh Pedro.
"Pedho hentikan!" hardik Alexander memeluk Pedro dan melerai lelaki itu saat memukul Pedro dengan membabi buta.
"Leona bukan barang yang bisa kamu permainkan. Lepaskan dia kalau kamu tidak bisa memilih nya," sentak Pedro.
"Pedho," Anjani menangis ketakutan sambil membantu Pedro berdiri karena ia terjerembab di atas lantai akibat pukulan dari Pedho.
"Kenapa Kakak ikut campur? Ini bukan urusan Kakak," Pedho menyeka darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya.
"Apapun yang bersangkutan dengan Leona, akan menjadi urusan ku," sahut Pedho tegas dengan menatap adiknya penuh amarah. "Lepaskan Pa," Pedho menyingkirkan tangan Alexander yang memeluk.
"Kenapa Kak? Kakak tidak berhak ikut campur," balas Pedro tak kalah tajam. Ia masih bertanya-tanya saat Leona keluar dari mobil Pedho.
__ADS_1
"AKU MENCINTAI LEONA. AKU TIDAK AKAN BIARKAN SIAPAPUN MENYAKITI HATI NYA," akunya penuh penekanan.
Mereka semua tercengang mendengar pengakuan lelaki dingin itu. Setelah berkata, Pedho melenggang pergi meninggalkan Alexander, Anjani dan Pedro yang masih mematung ditempatnya. Memikirkan ungkapan Pedho.
"Awwwww," Pedro meringgis kesakitan ia terduduk kembali disofa. Kakak nya benar-benar kuat. Ia sampai tak bisa melawan.
"Biar Mama obati," Anjani segera memerintahkan pelayan untuk mengambil kotak P3K
Sedangkan Alexander duduk terdiam. Ia masih syok mendengar pengakuan Pedho. Apa selama ini, ia yang telah mematahkan hati putranya? Alexander tak tahu jika Pedho mencintai Leona karena wajah Pedho selalu dingin dan sulit ditebak. Oleh sebab itu ia meminta Pedro menggantikan kakak nya untuk menikahi Leona.
"Maafkan Papa, Son," gumam Alexander merasa bersalah.
Anjani masih mengobati luka diwajah Pedro. Sesekali Pedro meringgis kesakitan. Pukulan Pedho serasa ingin mematahkan batang hidung nya.
Alexander menatap kearah putra bungsu nya itu. Tampak Pedro memegang wajah nya sambil kesakitan.
"Pedro," panggil nya.
"Iya Pa. Kenapa?" Pedro melirik Papa-nya sambil memegang wajah nya yang luka-luka.
"Lepaskan Leona," pinta Alexander.
Pedro menggeleng. "Aku tidak bisa Pa," Pedro masih egois. Ia tidak tahu kenapa ia tak bisa melepaskan Leona. Jika dulu dia ingin menceritakan istrinya tapi sekarang perasaan nya berubah.
Pedro berdiri dari duduknya. Ia menatap Papa dan Mama nya secara bergantian.
"Aku minta maaf, aku tidak bisa memilih antara Tasya dan Leona," lalu ia melenggang pergi.
Anjani terisak. Kenapa jadi rumit seperti ini? Kenapa jadi begini saling menyakiti seperti ini?
"Pa," Anjani memeluk suaminya sambil menangis. "Mama tidak tahu jika Pedho mencintai Leona, Pa," ucapnya penuh penyesalan. Jika waktu bisa di ulang kembali mungkin pernikahan Pedro dan Leona takkan terjadi jika Alexander dan Anjani tahu dari awal kalau Pedho mencintai Leona.
Alexander tak merespon apapun. Ia mengusap punggung istrinya dengan tatapan kosong. Pantas saja sejak Pedro dan Leona menikah hubungan mereka renggang. Pedho selalu dingin dan jarang bicara. Ia seperti menghindari keluarga nya terutama Pedro dan Leona.
"Kita telah mematahkan hatinya,"
__ADS_1
Bersambung........