Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Terbangun dari tidur panjang


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Jari-jari lentik itu bergerak-gerak, seakan menunjukkan reaksi bahwa sang pemilik akan segera bangun. Perlahan mata wanita itu terbuka.


"Leona."


Dia menatap langit-langit kamar yang terasa asing. Tempat yang belum pernah dia lihat sebelum nya.


"Leona," panggil Pedho sekali lagi.


Tanpa sadar lelaki itu menangis terharu, ketika melihat sang wanita yang telah lama dia tunggu kini membuka mata.


Leona Juliet, nama perempuan yang sudah koma beberapa minggu terakhir. Tubuhnya drop total, seolah ada sesuatu yang masuk kedalam hingga membuat beberapa organ tubuhnya seperti mati.


Lama wanita itu menatap langit-langit kamar. Kepalanya masih terasa berat, pandangan nya belum benar-benar jelas. Samar-samar dia mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Suara itu, suara yang dia rindukan sejak dia tertidur dalam waktu panjang.


Dia melirik kearah pria yang sudah mengenggam tangan nya dengan erat sambil menangis haru.


"K-ka-k," ucapnya pelan, suaranya tidak tembus dan masih kaku.


"Iya Sayang, ini aku. Kamu sudah bangun?" ucap Pedho lembut sambil mengecup tangan wanita tersebut. "Terima kasih sudah kembali dan bertahan bersama ku. Aku sungguh takut kehilangan kamu," lirih Pedho dengan lelehan bening yang menetes dipipinya.


Tangan lemah yang masih di pasang selang infuse, terulur menggapai pipi kekasih hatinya yang sedang menangisi dirinya.


"Ja-jangan me-nangis, Kak," ucap wanita itu memaksakan senyum di bibir pucatnya.


"Leona." Pedho berhambur memeluk wanita itu sambil menangis hebat.


Tangan Leona mengusap punggung Pedho. Setiap hari dia mendengar curahan lelaki ini yang meminta nya untuk segera bangun. Setiap hari lelaki ini menemani nya dengan tangis.


"Kamu tahu? Betapa aku khawatir saat dokter mengatakan bahwa jantung kamu berhenti berdetak," ungkap Pedho melepaskan pelukan nya.


Luiz dan Andika yang berada diruangan tersebut juga ikut tersenyum dan terharu ketika Leona bangun kembali.

__ADS_1


"Jangan membuatku panik lagi, Sayang. Sungguh aku tidak bisa hidup tanpa kamu," ucap Pedho lagi. Bukan gombal, perasaan nya pada Leona memang tak main-main. Bahkan dia tidak bisa tanpa wanita itu dalam hidupnya.


"Leona," panggil Juliet dan Yuna berhambur kearah brangkar itu.


"M-mom," Leona tersenyum melihat wajah sang ibu.


Suasana haru masih menyelimuti ruangan mewah tempat Leona di rawat. Tangis bahagia kian menggema dan saling bersahutan. Juliet dan Yuna memeluk Leona sambil meluapkan semua emosi yang mengendap dalam dada mereka.


Juliet mengecup kening Leona dengan sayang. Dia sangat menyanyangi anak perempuan nya ini. Dia tidak bisa bayangkan akan seperti apa hidupnya tanpa Leona. Dia menyesal karena dulu pernah menyia-nyiakan putrinya ini.


"Nak," panggil Abraham mendekat.


"Daddy," balas Leona dengan senyum mengembang namun matanya malah berkaca-kaca.


Abraham memeluk Leona dengan erat. Lelaki paruh baya yang masih tampan itu menangis dalam diam. Dia bukan ayah yang baik untuk putri nya. Bahkan dia hampir terlambat mengetahui jika anaknya sakit parah. Kemarin, saat jantung Leona di nyatakan berhenti berdekat. Abraham hampir mati jantungan. Dia merasa separuh jiwanya pergi. Dia tidak memiliki banyak waktu bersama Leona. Dulu, baginya uang adalah segalanya. Namun, sekarang dia sadar uang bukan lah segalanya.


"Maafkan Daddy, Nak," kata Alexander. Mungkin ucapan maaf takkan cukup menebus semua kesalahannya pada Leona.


Kondisi Leona mulai membaik, meski ada beberapa partikel dalam tubuh nya yang seperti ada yang rusak. Kemoterapi sudah tak mempan. Namun, keajaiban Tuhan bisa mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin.


"Na," panggil Luiz.


"Kakak," sahut Leona


Leona merasa baru bangun dari panjang. Dia seperti terlahir kembali didunia yang telah lama dia tinggali. Rasanya benar-benar berbeda. Ada banyak hal yang tentu nya tidak sama lagi. Kini, tubuh nya perlahan membaik, tidak seperti saat dia tertidur di pesawat seperti di sayat-sayat oleh benda tajam.


.


.


.


Beberapa hari kemudian......

__ADS_1


Setelah kondisi Leona di nyatakan sudah pulih meski belum sembuh, hari ini wanita cantik berkepala plontos tersebut diperbolehkan pulang oleh dokter.


"Sayang, biar aku gendong," ujar Pedho menyimak selimut Leona.


"Kak, aku dikursi roda saja," tolak Leona. Bukan apa, dia merasa seperti orang yang benar-benar menyedihkan sampai harus di gendong kemana-mana.


"Tidak Sayang. Biar aku gendong saja," sergah Pedho tak mau kalah. Sesuai janjinya akan menjadikan Leona sebagai ratu dalam hidupnya.


Luiz tersenyum gemes melihat calon pasangan ini. Dia bersyukur karena Pedho begitu menyanyangi Leona. Semoga saja cinta Pedho tak Leona tak lekang oleh waktu.


"Sudah, Nak. Tidak apa biar Pedho gendong," ucap Abraham ikut menimpali.


Leona merenggut kesal. Dia melingkarkan tangannya dileher Pedho. Wanita cantik itu tampak cemberut dan menggerutu. Sedangkan lelaki yang menggendong nya malah tersenyum jahil. Inilah hal yang tidak bisa lupakan tentang Leona, kemanjaan wanita ini membuatnya seperti lelaki yang beruntung.


Yuna dan Andika mengekor dari belakang. Tampak kedua orang itu berbincang-bincang sambil menenteng beberapa barang Leona.


"Jadi, setelah Leona sembuh kamu akan kembali ke Indonesia?" tanya Andika seraya berjalan sejajar dengan Yuna.


Yuna mengangguk, "Iya Kak, banyak pekerjaan di Indonesia. Restourant sudah lama aku tinggal," jawab Yuna tersenyum. Kenapa kali ini jantung nya berdebar ketika berdekatan dengan Andika.


"Iya, wanita karier," goda Andika.


Luiz berjalan paling belakang dengan wajah datarnya. Tak ada yang bisa menebak apa yang dipikirkan lelaki yang satu ini. Tadi emosinya membuncah saat sang adik bangun dari tidur panjang. Namun, berbeda dengan sekarang. Dia tampak diam seolah sedang memikirkan sesuatu.


Pedho membawa Leona masuk kedalam mobil dengan pelan. Masih teringat saat pertama kali datang ke New York, dia seperti orang gila yang meneriaki para dokter dan perawat agar segera menangani sang kekasih hati. Pedho tak ingin hal itu terjadi lagi.


Pedho ikut masuk kedalam mobil. Lelaki itu tampak posesif dalam menjaga Leona. Sebab dia tahu jika Leona adalah barang mahal yang harus di jaga dengan sebaik mungkin, sedikit saja dia lenggah atau melepaskan genggaman Leona. Maka dia akan kehilangan wanita itu selamanya.


Abraham, Juliet dan Luiz menaiki mobil yang sama. Entah kenapa kali ini Luiz lebih banyak diam.


"Kamu baik-baik saja, Son?" tanya Abraham menatap putra nya dengan selidik.


"I'm okay, Dad," jawab Luiz singkat padat dan jelas.

__ADS_1


Mobil melaju meninggalkan rumah sakit. Luiz seperti melamun menatap kearah luar jendela mobil. Harusnya hati nya tenang karena sang adik, Leona. Sudah bangun dari tidur panjangnya. Luiz hanya perlu menyiapkan perawatan khusus untuk Leona. Dan memastikan bahwa sel kanker dalam tubuh adiknya itu tidak aktif lagi.


Bersambung...


__ADS_2