Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Wedding Day Pedho & Leona


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Leona berjalan memasuki mansion. Karpet merah menapaki kakinya. Gaun panjang dan indah itu melekat sempurna ditubuh ramping nya. Mahkota juga tertanam diujung kepalanya.


Bidikan kamera terdengar berpusat padanya. Senyum manis dan mengembang. Wig itu sengaja digerai indah sehingga kecantikan nya berkali lipat.


Abraham dan Luiz mengandeng tangan wanita dengan senyuman ramah itu. Ini adalah hari bahagia yang telah lama di nanti oleh Leona. Pernikahan yang pernah gagal lima tahun yang lalu kita benar-benar bisa dia rasakan lagi. Seperti mimpi.


Pedho sudah menunggu diatas altar. Pernikahan mereka digelar di Mansion mewah keluarga Alexander yang ada di Indonesia. Pemberkatan dan resepsi juga diadakan disana.


Pria itu berkaca-kaca melihat wanita cantik yang tengah berjalan kearahnya dengan digandeng oleh dua pria tampan.


Dia menyeka air matanya haru. Berharap setelah ini kebahagiaan menjadi milik mereka berdua.


"Pedho, Daddy titip Leona sama kamu. Jaga dia dengan baik. Jangan biarkan air mata menetes dipipinya. Jika suatu saat kamu bosan dengan nya. Daddy, mohon jangan sakiti dia apalagi menduakannya. Kembalikan saja dia pada Daddy," ucap Abraham menyerahkan tangan Leona pada Pedho


Leona berkaca-kaca, ketika mendengar pesan dari sang ayah. Ini adalah pernikahan pertama yang benar-benar menguras emosi. Berbeda ketika dia menikah dengan Pedro lima tahun lalu, semuanya terasa hampa.


"Jaga adikku dengan baik. Satu tetes air mata jatuh di matanya. Kamu akan tahu akibatnya," ancam Luiz yang juga menyerahkan tangan Leona pada Pedho.


"Pasti," sahut Pedho dengan tegas.


Pedho mengambil tangan Leona. Dia menatap lama wajah wanita cantik itu. Tangannya terulur mengusap air mata Leona. Dia tahu tangisan Leona adalah tangis bahagia. Hari yang telah mereka nantikan sekian lama akhirnya mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang Kudus.


Tak hanya Leona yang menangis, tapi juga Pedho. Pernikahan yang seharusnya terjadi lima tahun lalu, baru bisa mereka gelar sekarang. Tak apa, karena Tuhan mengizinkan mereka melewati proses yang sangat panjang. Agar saling menjaga dan mengasihi satu sama lain.


Acara pemberkatan dimulai. Suasana haru biru dirasakan oleh Pedho dan Leona, apalagi ketika berlutut meminta restu kepada kedua orang tua mereka.


Tamu undangan yang datang cukup banyak. Kolega bisnis Pedho, Alexander dan Abraham juga menghadiri pesta pernikahan mewah tersebut. Teman-teman Luiz dan Leona juga berdatangan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.


Setelah janji suci diucapkan, dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.


Konsep pernikahan usang internasional. Leona berganti baju mengenakan gaun putih yang tampak pas ditubuh munggilnya. Sementara Pedho memakai tuxedo mahal berdasi kupu-kupu membuatnya tampak lebih tampan dan menawan.


"Selamat putri Daddy," ucap Abraham memeluk anaknya.


"Terima kasih Dad," balas Leona


"Selamat ya Sayang." Luiz memberikan pelukan hangat ada Leona. "Kakak akan bahagia jika kamu bahagia." Dia melepaskan pelukannya dan menyeka air mata wanita cantik itu.


"Terima kasih Kak. Terima kasih Kakak sudah mau merawat dan menjagaku selama ini. Aku juga berharap nanti Kakak menemukan seseorang tepat," sahut Leona menahan air mata harunya.


"Sudah tugas dan tanggung jawab Kakak. Tapi setelah ini peran Kakak akan digantikan oleh suami mu. Jadilah istri yang baik, Ibu yang baik untuk anak-anak mu nanti," sahut Luiz juga berkaca-kaca. Dia sangat menyanyangi Leona, adiknya.

__ADS_1


Leona kembali memeluk kakak nya. Luiz bukan hanya seorang kakak tapi juga Ayah untuk Leona.


Pedho mengusap punggung istrinya. Dia berjanji akan menjaga wanita ini dengan sepenuh hatinya.


"Pedho, terima kasih sudah berjuang untuk Leona. Bahagiakan dia. Sayangi dia. Jaga dia. Aku percaya padamu." Luiz juga memberikan pelukan pada sahabat nya.


"Pasti Luiz. Aku mencintai nya. Sangat," balas Pedho berucap.


"Leona," panggil Juliet.


"Mommy." Leona berhambur memeluk ibu nya itu.


"Selamat ya Sayang." Juliet mengecup kening putri kesayangan nya. Semoga pernikahan Leona yang kedua ini membawa kebahagiaan untuk wanita tersebut. "Semoga kamu bahagia," ucap Juliet tersenyum. Anaknya sangat cantik malam ini.


"Terima kasih Mom," sahut Leona berkaca-kaca.


"Hai, tidak boleh menangis." Juliet mengusap pipi putrinya.


"Nak Pedho," panggil Juliet


"Iya Mom?" balas Pedho tersenyum hangat.


"Titip Leona ya, Nak." Juliet memberikan pelukan hangat pada menantunya.


Pedho tampak bahagia. Apalagi dukungan dari keluarga dan orang-orang tercinta nya membuat nya merasa bangga bisa memiliki Leona. Meski sang ibu hingga kini tak memberi restu. Namun, Pedho tak peduli. Dia tak butuh restu dari ibu nya itu, sejak dulu mereka tak pernah benar-benar dekat layaknya ibu dan anak.


"Pedho. Leona."


Alexander dan Anjani naik keatas pelaminan. Tampak wajah Anjani seperti ditekuk kesal. Pedho seenaknya mengadakan pesta tanpa restu dari nya.


"Selamat ya, Nak," ucap Alexander pada kedua orang itu memeluk kedua orang itu secara bergantian. "Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan kami. Kami akan bahagia jika kalian bahagia," ucap lelaki paruh baya itu.


"Ma," sapa Leona.


Anjani tersenyum pada Leona. Hatinya sakit ketika melihat Leona bersanding dengan Pedho. Bukan ini yang dia mau, dia ingin Leona menikah lagi dengan Pedro, bukan Pedho.


"Selamat ya, Leona," ucap Anjani memberikan pelukan hangat pada menantunya itu.


'Leona sayang, kamu hanya boleh menikah dengan Pedro. Mama akan buat kalian kembali bersama. Mama akan singkirkan Pedho dalam hidup kamu,' ucapnya dalam hati.


"Terima kasih Ma," balas Leona.


Anjani sama sekali tak memberi selamat pada Pedho. Dia melewati anak sulungnya begitu saja. Tanpa ada niat untuk memberikan ucapan.

__ADS_1


Pedho tak peduli, bukankah dari dulu dia dan ibu nya itu memang tak pernah akrab. Lantas, untuk apa dia mengharapkan jiwa ibu nya itu turut memberikan ucapan selamat padanya?


"Haiiii Cinta," panggil Yuna


"Sayangku," balas Leona.


Leona dan Yuna saling memeluk. Pedho hanya menggeleng sambil tersenyum saja. Mau cemburu juga percuma karena kedua wanita itu sama sekali tidak terpengaruh.


Pedro juga tampak hadir. Namun dia tak berani naik keatas pelaminan. Lelaki itu hanya menatap dari jarak jauh saja. Namun, tak ada Tessa disana entah kemana wanita licik tersebut?


Tessa menjadi buronan Pedho, wanita itu belum ditemukan keberadaan nya. Seperti nya Tessa sudah tahu jika Pedho sedang mengincar dirinya untuk memberi hukuman.


.


.


.


.


Pedho mengendong Leona ala bridal style menuju kamar pengantin mereka. Tangan Leona melingkar dileher suaminya. Dia membenamkan kepalanya didada dibidang pria itu. Matanya sudah terpejam karena lelah.


Pedho masuk kedalam lift. Mansion mewah ini memang sangat besar untuk bisa sampai ke lantai atas harus menggunakan lift, jika naik tangga mungkin butuh waktu sedikit lama.


Pedho membaringkan tubuh istrinya diatas kasur king' size yang sudah dihiasi oleh Juliet dan Yuna.


Pedho menatap istrinya yang terlelap. Karena terlalu banyak tamu undangan hingga membuat Leona kewalahan dan akhirnya tertidur.


"Terima kasih sudah hadir di hidup ku. Aku mencintaimu istriku." Pedho mendaratkan kecupan singkat dikening istri nya.


Pria itu membuka heels yang melekat dikaki sang istri.


Leona masih memakai gaun pengantin. Wanita yang baru sah menjadi istri itu malah sudah mendengkur halus membuat suaminya gemes saja.


Pedho tidak mau memaksa Leona untuk malam pertama mereka. Dia tidak mau menyakiti istrinya itu. Walau sebagai pria normal dia sangat menginginkan nya tapi Leona lebih penting dari pada egonya sendiri.


Pedho membersihkan diri dikamar mandi. Jujur saja dalam hati rasa takut itu kembali menyerangnya. Apalagi mengingat perkataan Luiz dan Andika tentang penyakit Leona yang belum sembuh. Rasanya dunia Pedho runtuh seketika.


"Tuhan berikan istriku umur panjang. Aku mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Biarkan kami bahagia dan memiliki anak seperti orang lain. Aku tidak meminta banyak Tuhan, berikan istriku kesempatan untuk hidup selamanya bersamaku," lirih Pedho.


Pedho menangis dibawahan guyuran shower. Dia bukan pria cenggeng tapi jika bersangkutan dengan Leona seluruh jiwanya terasa runtuh dan berantakan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2