Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Maafkan aku, bila hasrat ku keliru


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Wajah yang dulu menyambut nya dengan senyum ceria. Kini, terpejam tanpa menunjukkan senyumnya.


Pedro berjalan pelan seraya dengan air mata yang menetes di pipi tampannya. Tatapannya sendu dan menyedihkan. Di mana Leona yang dia kenal dulu? Kenapa sekarang Leona-nya seperti ini?


"Leona," lirih nya.


Pedho sudah berdiri disamping Leona untuk berjaga-jaga, takut jika adiknya melakukan hal-hal yang akan menyakiti kekasih hatinya itu. Pedho takkan biarkan siapapun menyentuh Leona.


"Leona, maafkan aku hiks." Pedro tersungkur dilantai sambil menangis. "Maafkan aku, Leona. Apa yang terjadi kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya nya berjongkok sambil mengenggam tangan Leona.


"Jangan menyentuh nya melewati batas," ucap Pedho memperingatkan.


Namun, Pedro malah tak peduli. Dia masih mengenggam tangan Leona sambil menangis segugukan dan sekali mengecup punggung tangan wanita pucat itu dengan ucapan maaf yang terus keluar dari bibirnya.


"Maaf aku yang terlambat mengetahui penyakit kamu. Seandainya aku sudah tahu dari awal, aku akan merawatmu, Leona," ucap Pedrp penuh penyesalan. Namun, percuma dia menyesal karena tidak akan mengobati luka yang telah dia turihkan di hati Leona.


Pedho terdiam sambil menatap tangan Pedro yang mengenggam tangan sang kekasih. Tanpa sadar tangan lelaki itu mengepal menahan amarah. Ingin rasanya dia mengajak Pedro baku hantam, akan tetapi dia tidak mau egois. Tidak apa memberikan waktu sedikit pada Pedro untuk menyesali segala perbuatannya.


Hati Pedro kembali teriris ketika dia berdiri melihat selang-selang mengalir dibeberapa bagian tubuh Leona yang lainnya. Dia tidak pernah tahu jika penderitaan Leona sekejam ini.


"Bangun, Leona. Ini aku," ucap Pedro berusaha membangunkan wanita yang tengah koma tersebut.


Cukup lama lelaki itu berbicara dengan wanita tidur. Pedro meluapkan perasaan rindu dan menyesalnya lewat kata maaf. Hanya kata maaf saja yang kini keluar dari mulutnya. Sebab tak ada kata lain yang mewakili penyesalan, selain maaf.

__ADS_1


"Waktumu sudah habis," Pedho melirik arloji nya. "Biarkan Leona istirahat. Dia akan baik-baik saja, selama aku ada," ucap Pedho dingin.


Pedho tahu jika Pedro masih berusaha mengejar Leona. Namun, hal itu takkan Pedho biarkan terjadi. Dia akan mengorbankan apapun untuk menjaga dan melindungi Leona agar tidak jatuh kembali ke dalam pelukan Pedro.


'Kamu tunggu aku, Sayang. Aku akan kembali dan membawa mu pergi dari sini. Aku berjanji. Aku pulang dulu karena aku tidak bisa berlama-lama disini,' ucap Pedro dalam hati sambil berdiri.


Pedro kembali menatap wajah pucat Leona. Hatinya ingin sekali memeluk wanita ini. Namun, Pedro belum berani karena ada kakak nya. Dia tidak mau memancing keributan yang bisa menganggu istirahat Leona.


Pedro berbalik, dia membalas tatapan sang kakak dengan sinis. Dia tidak akan biarkan Pedho dan Leona bersatu. Dia akan lakukan segala cara untuk mengambil Leona kembali kedalam pelukannya. Leona adalah miliknya dan hanya dia yang boleh memiliki wanita tersebut.


"Kenapa?" tanya Pedho saat adiknya melihatnya seperti itu. "Kamu ingin marah? Kamu cemburu?" tuding Pedho. "Sudah kukatakan berulang kali bahwa aku adalah orang pertama yang akan mengambil Leona jika kamu menyia-nyiakan dia. Dan sekarang, semua terbukti," jelas Pedho dengan senyuman mengejek.


"Aku tidak akan biarkan Kakak merebut Leona dariku. Aku akan mengambil Leona kembali, karena aku yakin dia masih mencintaiku," sahut Pedro dengan kepercayaan diri yang tinggi


Pedho tertawa mengejek. Sama sekali dia tidak takut dengan ancaman Pedro. Sebab dia dan Leona sudah saling mengintai. Pedho yakin jika Leona mencintainya.


Tak mau lagi berdebat dengan sang kakak. Pedro melenggang keluar dari ruang rawat inap Leona. Tampak wajah lelaki itu merah karena menahan amarah yang membuncah didalam dadanya.


'Hari ini kamu boleh menang, Kak. Tapi akan kupastikan jika Leona jatuh kedalam pelukkan ku,' batin Pedro.


Pedro masuk kedalam mobilnya. Niat hati ingin melepaskan rindu yang membelenggu dada. Nyatanya, dia harus dibuat emosi dengan ucapan Pedho yang membuatnya kesal setengah mati.


Tangannya mencengkram dengan kuat stir mobil. Amarah terlihat jelas dari sorot matanya.


"Arghhhhhhhhhhhhh." Pedro memukul stir mobil kuat. "Leona, kamu tidak boleh menjadi milik orang lain. Kamu harus jadi milik ku. Kamu tenang saja Sayang. Kita kan kembali bersama seperti dulu," ucapnya.

__ADS_1


Mobil Pedro terparkir di basement apartement, dia membeli satu apartemen di New York, demi menemui sang pujaan hati


.


.


.


Pedho terduduk lemah di kursi samping brangkar Leona. Sejujurnya dia ketakutan saat Pedro berkata ingin merebut Leona kembali. Bagaimana jika hal tersebut benar-benar terjadi, apakah dia sanggup hidup tanpa wanita yang dia cintai?


Tatapan mata Pedho terarah pada nyamannya tidur Leona. Wanita yang tengah terpejam dalam alunan dentingan pendeteksi alat jantung, terlihat nyaman dalam tidurnya. Ia tidak terganggu oleh suara-suara yang seperti membangunkan tidur indah nya.


"Sayang, saat kamu terbangun. Apa kamu akan memilih Pedro?" tanya Pedho pesimis.


Pedho merasa tak percaya diri, sebab sejak dulu dia tahu jika Leona sangat mencintai Pedro. Bagaimana jika akhirnya wanita yang dia cintai memilih lelaki lain di banding dirinya?


"Jika itu memang membuatmu bahagia, aku rela melepasmu, Sayang," lirih Pedho.


Leona harus bahagia, meski mungkin tak bersama dengannya. Namun, apakah Leona tahu jika Pedho tak menyukai kalimat tersebut. Lelaki itu ingin membuat sang kekasih bahagia dengan caranya sendiri. Selama Leona tak meminta nya pergi, dia takkan menyerah menyerah dalam keadaan seperti ini.


"Kamu tenang, Sayang. Selama kamu tidak menyuruhku pergi. Aku akan tetap memperjuangkan mu, sampai akhir. Aku ingin menikahimu. Aku tidak peduli kondisi mu. Aku ingin hidup berdua dengan mu. Meski kemungkinan memiliki anak itu sangat kecil. Aku tak butuh anak. Aku hanya butuh kamu berada disamping aku. Sebab kamu perempuan satu-satunya yang membuatku merasa memilih dunia," ucap Pedho tulus sambil mengecup punggung tangan Leona.


"Cepat bangun, Sayangku!" seru nya. "Aku rindu ingin memeluk tubuhmu. Aku rindu manjamu. Aku rindu cerewet mu. Aku rindu semua hal yang ada padamu," sambungnya.


Hati takkan kuat bila melihat seseorang yang sungguh dicintai terbaring lemah tak berdaya dan memiliki tenaga. Begitu lah perasaan hancur yang kini dirasakan oleh Pedho. Berusaha kuat ternyata tak segampang yang dia ucapkan. Tak melihat Leona bagai membuat beberapa partikel dalam dirinya seperti hilang entah kemana? Dia tak benar kuat. Dia tak benar mampu. Dia bertahan karena dia yakin, karena dia yakin Tuhan takkan membiarkan air mata terus menetes dipipi nya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2