
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Pedro membanting pintu mobilnya dengan kencang. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar. Lalu berjalan masuk dengan emosi yang tampak jelas.
Kemarahan nya seolah membuncah dan meledak ketika tahu apa yang dilakukan Tasya di belakang nya. Ia masih tak menyangka, wanita yang ia jaga dengan sepenuh hati. Tega mengkhianati cinta yang ia beri.
Langkah Pedro terhenti, saat menyadari bahwa Leona sudah pergi dari rumah. Pria itu terduduk lemah di sofa. Ia kehilangan permata indah demi sebuah perak yang akhirnya menghancurkan harapan yang ia sematkan.
"Tuan," Bik Lian datang membawa segelas air putih untuk Pedro.
"Bi, apa Leona benar-benar pergi?" tanya Pedro menatap Bik Lian dengan mata berkaca-kaca.
Bik Lian menghela nafas panjang, lalu wanita itu menganguk.
"Iya Tuan. Nyonya, sudah pergi dari rumah," jawab Bik Lian menunduk dan terdengar sendu
Pedro memejamkan matanya sejenak. Tangannya mencengkram kuat kulit sofa yang ia duduki. Pipi nya terasa panas. Dia memiliki gensi setinggi langit untuk mengeluarkan air matanya. Namun, saat ini gensi itu seakan hilang ketika tahu bahwa istrinya pergi dari rumah.
Pedro berjalan masuk kedalam kamar Leona. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar istrinya tersebut. Kamar ini rapi dan bersih. Semua tatanan barang di dalam nya menarik untuk ditatap lama.
"Leona," lirih Pedro.
Lelaki itu duduk dibibir ranjang. Tangannya terulur mengusap sprei ranjang sang istri.
Selama lima tahun menikah, mereka tidak pernah satu kamar. Bahkan malam pertama yang harus nya di nikmati sepanjang penggantin, menjadi malam-malam kelabu yang mereka lewati masing-masing.
Kini sudah saatnya Pedro menyadari satu hal. Bahwa ternyata dia telah kehilangan Leona dalam hidupnya. Leona bukan lagi seseorang yang dulu mencintai nya. Semua rasa yang pernah Leona berikan padanya, sudah Pedro jadikan sia-sia. Leona menjelma pergi dan tak kembali. Wanita itu tiba-tiba menjadi asing untuk hal-hal yang dulu tersepelekan oleh Pedro. Pedro menjadi seseorang yang tertinggal dan tertanggal untuk sesuatu yang dulu pernah istrinya tunggalkan. Hal-hal yang dengan sungguh Leona perjuangkan, kini ia lepaskan dan menyerah setelah ia yakini bahwa hatinya takkan bisa mendapatkan seseorang yang dia harapkan.
Pedro menelisik kamar mewah Leona. Harum tubuh Leona masih menyeruak didalam kamar ini. Namun itu hanyalah sebuah kenangan.
"Apa ini?" gumam lelaki itu ketika melihat amplop putih diatas nakas.
"Hasil pemeriksaan?" ucap Pedro.
__ADS_1
Pedro membuka isi amplop tersebut karena penasaran isi didalam nya. Pedro membaca isi dari tinta yang tertumpah disana.
"Sarkoma Jaringan Lunak?"
Deg
Kertas ditangan Pedro langsung jatuh di lantai. Lelaki itu pun luruh dan terduduk disamping ranjang. Ia mematung seketika. Tubuh nya seperti disambar oleh petir yang menjadikan dia lumpuh.
"Leona," lirih Pedro.
Yang terjadi dan Pedro ketahui hari ini adalah hal yang paling ia sesali. Sekuat tenaga ia pertahankan apa yang ia punya. Sepenuh jiwa yang pernah ia korbankan. Namun kini semua fakta dan kebenaran mulai terungkap.
"Aaargghhhhh," lelaki itu memukul lantai berulang kali.
Pedro, seorang suami jahat yang bahkan tidak tahu jika istrinya menderita penyakit serius. Kemana saja dia selama ini? Mereka tinggal dan satu atap yang sama dan lantai yang sama. Tapi ia bahkan tak mengetahui sesuatu sepenting ini.
"LEONA," teriak Pedro terdengar menggema.
Penyesalan, adalah bentuk dari kesalahan yang dibuat secara sengaja. Begitulah yang dirasakan oleh Pedro. Kini, ia merasakan hatinya hampa ketika Leona pergi. Hatinya kosong meninggalkan sesak dihati.
Sejak kapan Leona menderita penyakit serius ini? Kenapa istrinya tak pernah bercerita, atau sekedar mengungkapkan rasa di dada? Pantas saja beberapa waktu terakhir wajah Leona terlihat pucat seperti orang sakit. Ternyata istrinya itu memang menderita penyakit serius.
Ada banyak hal yang mungkin saja melemahkan. Menjalani kehidupan rumah tangga tanpa cinta yang tidak mudah. Pedro, mengabaikan cinta yang selama ini ingin memiliki nya demi sesuatu yang masih bisa terlepas ketika ia genggam. Sekarang, ketika ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Hatinya hancur bagai ditembak dengan peluru beracun.
.
.
.
"Wahhh ini masakkan Kakak," seru Leona.
"Yup tapi bukan buat kamu," sergah Luiz sambil menata makan malam mereka diatas meja.
__ADS_1
"Ya Kakak," Leona merenggut kesal. "Lalu aku makan apa Kak?" wanita itu duduk dengan wajah kesal nya. Leona akan benar-benar manja jika bersama Luiz karena kakak nya itu sosok yang mampu memberikan kasih sayang terbaik untuk nya.
Leona dan Luiz tidak tinggal bersama Abraham dan Juliet. Sebelum nya Luiz memang sudah membeli rumah khusus untuk dia tinggali bersama Leona. Dia tidak ingin satu rumah dengan kedua orang tua nya.
Luiz takkan biarkan siapapun menyakiti Leona. Mungkin kedua orang tua nya perlahan berubah tapi mereka akan tetap mengulangi kesalahan yang sama ketika bersangkutan dengan uang.
"Kamu makan ini," Luiz meletakkan semangkuk sup di depan Leona dengan potongan kentang dan wortel, ditambah kacang panjang dan jangunh manis.
"Kak, kenapa makanan tawar ini sih?" protes Leona.
"Ingat yaa Sayang, kamu tidak boleh makan yang berminyak," Luiz mencubit dengan gemes hidung adiknya.
Leona menghentakkan kaki nya kesal. Apa-apa dia tidak boleh makan. Apapun yang ingin ia makan harus sesuai dengan anjuran Luiz dan Andika, yang pasti makanannya tidak boleh mengandung kalori berlebihan apalagi berminyak.
"Kak, tawar," renggek Leona. "Ini tidak ada rasa apa-apa," sunggutnya.
Luiz tersenyum gemes, "Sayang ini demi kesembuhan kamu. Jadi kamu harus makan, makanan bergizi tinggi," jelas Luiz sabar. Adiknya ini memang cerewet bukan main.
Leona makan dengan kesal. Rasanya dia ingin memuntahkan makanan dalam mulutnya. Tapi kalau dia tidak makan, dia tidak bisa bertahan hidup. Katanya dia ingin bahagia meski tanpa Pedro.
Luiz menggeleng saja ketika melihat Leona makan sambil mengomel. Sudah lama Luiz kehilangan senyum Leona sejak adiknya itu menikah dengan pria bernama Pedro. Luiz rindu Leona yang dulu. Leona yang manja. Leona yang cerewet dan Leona yang selalu cerita dan menebarkan aura positif bagi siapa saja yang ada didekatnya.
"Makan yang benar jangan mengomel," ujar Luiz menahan tawa.
Untuk persiapan kemoterapi selanjutnya. Leona tak boleh makan sembarangan. Ia harus menyiapkan fisik dan mentalnya agar mampu menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat kemoterapi tersebut.
Dan Luiz selalu memantau makanan Leona. Ia harus pastikan bahwa adiknya itu mengkomsumsi makanan yang mengandung protein dan gizi yang tinggi. Leona harus lebih banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan. Untuk sementara dia tidak boleh makan daging kecuali ikan.
Bersambung....
Maaf guys baru update....
Hari ini author lagi ngalamin writer blok..
__ADS_1
makasih buat kalian yang masih setia mengikuti kisah Leona...
Jangan lupa dukungan nya ya guys.