
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Hari ini Pedho menemani Leona jalan-jalan. Wanita ini butuh refreshing untuk menghilangkan penat dalam dadanya.
Mereka jalan berdua saja. Tidak ada Yuna atau Luiz apalagi Andika. Pedho ingin waktu nya bersama Leona lebih lama. Entahlah, penyakit yang diderita Leona masih saja menyerang bagian syaraf nya.
Keduanya jalan-jalan di pantai. Leona menyukai pantai dan air kepala hijau. Duduk berdua sambil bercerita dengan kisah-kisah yang membuncah dada.
"Kak," Leona bersandar nyaman dilengan Pedho.
"Iya Sayang, kenapa?" tanya Pedho mengusap bahu Leona.
Leona terkekeh. Pedho memang tidak malu memanggil dia sayang. Padahal dia belum juga membalas ungkapan cinta lelaki yang sudah nyaman di hatinya ini.
"Pelukkan Kakak itu nyaman," ucap Leona manja.
Ia tak pernah menemukan lelaki yang benar-benar sayang padanya. Bahkan mantan kekasih Leona yang dulu memiliki sifat yang tempramental dan suka main fisik. Apalagi Pedro yang memang sama sekali tidak pernah mencintai mantan istrinya itu. Hanya Pedho lah lelaki yang benar-benar memperlakukan dia bak ratu.
"Benar?" Pedho menarik wanita itu kedalam pelukannya. "Seperti ini?" ujarnya terkekeh.
"Heheh iya Kak," jawab Leona.
Keduanya tertawa lebar sambil menikmati keindahan pantai. Leona yang dengan nyaman bersandar didada bidang Pedho. Keduanya tampak seperti pasangan serasi.
"Kak," panggil Leona. Tatapannya tertuju kedepan.
"Iya Sayang?" tangan Pedho mengusap bahu Leona. "Apa ada yang sakit?" tanya nya panik. Melihat Leona merintih sedikit saja sudah membuat Pedho ketakutan bukan main.
"Tidak Kak," Leona mengeratkan pelukan nya dipinggang Pedho.
Seperti nya Leona sudah jatuh cinta pada lelaki ini. Hanya saja ia terlalu takut mencintai Pedho dengan hatinya. Ia takut malah mematahkan harapan lelaki itu untuk hidup bersama nya lebih lama. Leona tidak tahu, apakah ia tetap bertahan hidup atau malah pergi untuk selamanya.
"Lalu?"
"Aku mencintai Kakak," sahut Leona malu-malu. Ia menyembunyikan wajahnya didada bidang Pedho.
Pedho mendengar tak percaya. Benarkah Leona mencintainya?
__ADS_1
"Sayang benarkah?" Pedho mengangkat tubuh Leona dari pelukkan nya.
"Tidak benar," goda Leona menahan senyum nya.
"Sayang, tolong jangan bercanda," renggek Pedho.
Leona terkekeh. Ia mengenggam kedua tangan Pedho dan menatap lelaki itu penuh cinta. Pedho sudah melakukan banyak hal untuk Leona. Lelaki itu rela mengorbankan apa saja demi kesembuhan nya. Namun, bukan itu yang membuat Leona jatuh hati. Tutur dan bahasa Pedho lah yang menarik wanita itu masuk kedalam api membara cinta Pedho.
Leona tak tahu kapan perasaan nya tumbuh? Sejak sering menghabiskan waktu dengan lelaki itu perlahan nama Pedro terkikis di hatinya. Meski awalnya ia berpikir akan mati rasa terhadap semua laki-laki karena perbuatan mantan suaminya. Namun, sekarang Leona sudah menyakinkan hatinya. Bahwa Pedho adalah pelabuhan terakhir cintanya.
"Hari ini, 16 Mei 2023. Pedho Pannetha dan Leona Juliet, resmi menjadi sepasang kekasih. Hal-hal yang mengenai perasaan dan cinta akan berlangsung selama-lamanya," ucap Leona mengenggam tangan Pedho dengan tatapan cinta.
"Seperti Dilan menembak Milea?"
"Tapi ini tentang Leona yang mengungkapkan perasaan nya pada seorang Kak Pedho," sahut Leona.
Pedho terkekeh lucu, "Kamu yaaaa," ia menciumi wajah Leona dengan gemes.
"Hahaha Kakak geli," Leona tertawa terbahak-bahak saat benda kenyal itu menempel di wajahnya, terasa geli.
"Terima kasih, saya juga mencintaimu," Pedho memeluk Leona dengan sayang.
Leona telah mengungkapkan perasaan nya pada Pedho. Menyakinkan hatinya bahwa lelaki tersebut adalah cinta sejati yang telah ia nantikan selama ini.
Lama kedua orang itu saling meresapi pelukkan dibawah langit yang mulai gelap. Matahari telah di tutupi oleh awan dan tenggelam menampilkan jingga.
"Terima kasih sudah menerima saya," ucap Pedho. Tanpa sadar lelaki itu menangis terharu.
Lima tahun bukan waktu singkat yang Pedho lalui. Memendam perasaan nya seorang diri dan kadang menangis didalam diam ketika melihat wanita yang ia cintai mengemis cinta pria lain. Sekarang, takkan Pedho sia-siakan kesempatan untuk membuat Leona bahagia. Dia berjanji sepenuh hidupnya, bahwa Leona akan menjadi wanita terakhir yang ia cintai. Takkan ada wanita lain di hati Pedho.
"Terima kasih Sayang," Pedho mengecup kening Leona dengan lembut. Ucapan terima kasih terus ia sematkan sebagai rasa syukur karena wanita ini telah mau memberi dirinya kesempatan untuk mencintai.
"Aku yang harus berterima kasih Kak. Kakak sudah sabar menunggu aku meski aku sama sekali tidak melihat Kakak. Terima kasih Kak. Aku ingin Kakak menjadi yang terakhir dalam hidupku. Aku tak ingin patah hati lagi Kak. Aku tidak mau kehilangan lagi, aku_"
"Sttttt," Pedho meletakkan jari telunjuk nya dibibir Leona. "Kamu tidak akan kehilangan saya. Saya tidak akan menyakiti kamu. Saya mencintai kamu. Jika saya menyakiti kamu, sama saja saya menyakiti diri saya sendiri," ucap Pedho mengusap pipi basah Leona.
Leona tak bisa berkata apa-apa. Betapa beruntungnya ia memiliki lelaki sebaik Pedho. Lelaki yang sabar menunggu cinta nya.
__ADS_1
"Sudah, ayo kita pulang," ajak Pedho berdiri. Tak lupa ia mengulurkan tangan nya agar Leona berdiri.
Leona hendak berdiri, "Awww," wanita itu merintih sambil memegang kaki nya.
"Sayang, kenapa?" tanya Pedho panik.
"Tidak tahu Kak. Kaki ku berat sekali rasanya," keluh Leona.
"Ya sudah biar saya gendong," Pedho menyelipkan tangannya di sela kaki Leona.
Leona sontak melingkarkan tangannya dileher Pedho.
"Kak, terima kasih yaa," ucap wanita itu tersenyum simpul.
"Terima kasih untuk apa?" kening Pedho berkerut heran.
"Terima kasih sudah bucin sama aku. Maaf ya Kak, tadi aku pura-pura supaya digendong Kakak," Leona menahan tawanya.
"Kamu yaaa...," Pedho mencium hidung Leona dengan gemes nya. Wanita ini ada-ada saja. Dia sudah panik setengah mati, ehh ternyata Leona hanya bercanda agar di gendong oleh nya.
"Kamu, kalau mau minta gendong tinggal bilang saja. Tubuh sekecil ini tidak akan membuat tulang saya sakit," ucap Pedho menyombongkan dirinya.
"Yakin pinggang Kakak tidak sakit. Berat badan ku 55 kilo, lho Kak," jelas Leona dengan senyuman menggodanya.
"Ringan itu," jawab Pedho. Padahal pinggang nya sudah terasa encok.
Pedho membawa Leona masuk kedalam mobil. Mereka berdua sedang berbincang-bincang sambil tertawa tanpa beban. Maklum baru jatuh cinta, kata orang tai kucing saja bisa rasa coklat.
"Pelan-pelan Sayang," Pedho meletakkan Leona dengan pelan di bangku kemudi.
"Terima kasih Kak,"
Pedho menyusul masuk kedalam mobil. Lalu melajukan mobil dan meninggalkan pantai.
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan.
"Takkan kubiarkan kalian bahagia," ucapnya
__ADS_1
Bersambung........