
**Happy Reading 🍡 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
Pedho menyuapi Leona dengan senyuman manis. Hari ini wanita tersebut sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, setelah dirawat beberapa kali karena terlalu kelelahan.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh capek lagi. Nanti aku akan minta Mama dan Mommy tinggal bersama kita untuk merawat Triple Key," ucap Pedho pada istrinya.
"Aku masih bisa merawat mereka Kak, 'kan ada Kakak juga yang bantu," ucap Leona. "Tidak enak merepotkan orang tua kita, Kak," sambung Leona.
"Kenapa tidak enak? Mereka juga mau, Sayang. Aku tidak aku kamu mengalami hal seperti ini lagi. Aku juga harus kerja demi masa depan kita," jelas Pedho menarik hidung istrinya dengan gemas.
Dia hampir jantungan ketika Leona jatuh pingsan. Pedho takut jika penyakit Leona kambuh lagi, dia tidak tahu harus bagaimana. Apalagi dengan bayi yang masih berusia beberapa bulan tersebut.
Untungnya beberapa sel kanker dalam tubuh Leona sudah tidak aktif lain. Hanya wanita ini benar-benar harus rutin menjalani perawatan, untuk memastikan bahwa sel kanker tersebut tidak lagi menyebar ke bagian tubuh yang lain nya.
"Nanti kamu bisa rawat mereka bersama Mommy dan Mama," sambung Pedho.
Sebenarnya Pedho pun sama seperti Leona yang tidak enak merepotkan orang tua merawat anak mereka. Orang tua bukan pembantu atau babysitter. Namun, Anjani dan Juliet menawarkan diri untuk merawat ketiga anak mengemaskan tersebut. Anjani dan Juliet melarang Pedho ketika lelaki itu ingin mencari pengasuh untuk si kembar. Sebab Anjani dan Juliet tidak mau nanti cucunya tumbuh tanpa kasih sayang dari kedua orang tua nya.
Luiz masuk kedalam ruang rawat adiknya. Dia tersenyum hangat ketika melihat Leona yang sudah duduk sambil disuapi oleh Pedho.
"Kak Luiz," sapa Leona.
"Bagaimana keadaan mu, Sayang? Apakah sudah lebih baik rasanya?" tanya Luiz.
"Sudah mendingan Kak," jawab Leona.
"Ya sudah, Kaka lepaskan dulu infuse nya," ucap Luiz.
Luiz melepaskan alat-alat medis ditubuh adiknya. Sama seperti Pedho dia juga merasakan takut yang sama. Takut jika penyakit Leona kembali aktif.
"Makan teratur dan tidak boleh lelah," pesan Luiz mengusap kepala plontos adiknya.
"Iya Kak," jawab Leona.
__ADS_1
Pedho membantu istrinya duduk dikursi roda. Mereka sudah di jemput oleh para bodyguard yang ditugaskan Alexander dan Abraham.
"Kak, aku pulang ya," pamit Leona.
"Iya Sayang, kamu hati-hati. Jika sakit jangan dipaksakan," ucap Luiz mengecup ujung kepala plontos Leona.
Pedho tersenyum melihat kemesraan Luiz dan Leona. Jujur saja dia sedikit iri karena dia dan Pedro tidak seakrab itu bahkan hingga kini pun keduanya belum saling menyapa setelah Pedho tahu bahwa adiknya berkerjasama dengan Tessa untuk memisahkan dia dan Leona.
Pedho mendorong kursi roda Leona keluar dari ruangan. Senyum tampak mengembang diwajah lelaki tampan itu. Dia bernafas lega karena akhirnya Leona boleh sembuh dan terbebas dari penyakit mematikan tersebut, meski tak sepenuhnya sembuh. Setidaknya tidak seperti dulu yang membuat Leona harus menetap tinggal dirumah sakit selama berbulan-bulan.
"Pelan-pelan, Sayang." Pedho mengangkat tubuh wanita itu dan memasukkan nya kedalam mobil.
Leona bersandar nyaman di bahu Pedho. Tangan kedua nya saling mengenggam satu sama lain
"Aku kangen sama anak-anak, Kak," ucap Leona yang merindukan ketiga anaknya.
"Sebentar lagi kamu bertemu mereka, Sayang," jawab Pedho mengusap kepala plontos Leona dan mengecup nya dengan sayang.
'Kapan aku bertemu dengan jodohku?' batin Ricard.
Sampai dirumah mewah Pedho. Ricard turun duluan dan membuka pintu untuk Pedho.
Pedho mengangkat tubuh Leona. Kali ini dia membawa istrinya masuk kedalam tanpa kursi roda. Tangan leona melingkar di leher kekar Pedho. Dia menatap dengan cinta wajah lelaki tampan yang telah menjadi suaminya tersebut. Tak Leona sangka bahwa dia akan sebahagia ini. Dulu, dia pikir takkan pernah bertemu dengan cinta sejatinya, setelah jiwanya di patah kan oleh Pedro yang tega memasukan orang ketiga didalam kehidupan rumah tangga mereka.
.
.
Lea tampak duduk melamun di taman seorang diri. Dia memeluk boneka panda kesayangan nya, hadiah ulang tahun dari Galang beberapa tahun yang lalu. Lea memang dekat dengan Galang, ketua OSIS di sekolah nya. Tetapi dia mengangkat lelaki itu hanya sebagai kakaknya.
Gadis itu memakai baju pasien rumah sakit. Entah kenapa dia melamun? Biasanya wajah nya selalu ceria dan dia suka membuat orang kesal termasuk Luiz dan Andika.
Lea sedih karena dia harus pindah keluar negeri dan menetap disana dalam waktu yang tidak diketahui oleh Lea. Kenapa hatinya begitu berat meninggalkan Indonesia? Dia sudah merasa nyaman di tanah air.
__ADS_1
"Apakah aku akan sembuh?" tanya nya lirih.
Gadis itu mengigit bibir bawahnya. Mengingat rasa sakit yang sering dia rasakan, membuat gadis belia itu pesimis akan kesembuhan nya.
"Tapi Kak Leona bisa sembuh dan menikah sekarang sudah punya anak," ucap nya menyeka air mata nya dengan kasar.
Dibalik wajah ceria nya, Lea menyembunyikan kepedihan dihatinya. Dia menyimpan rasa sakit yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain. Lea menutupi segala kesedihan dengan kejahilan yang selalu membuat naik darah.
"Kalau aku pergi, apa Om Luiz akan kangen ya sama aku?" gumam nya.
"Pasti hidupnya sepi tanpa aku," celetuk Lea dengan terkekeh pelan.
"Hmmmm."
Lea berjingkrak kaget ketika mendengar seseorang yang berdehem di belakang nya.
"Astaga Om, kalau mau kagetin itu bilang-bilang dong," protes Lea mengusap telinganya.
Luiz duduk disamping Lea. Lelaki itu dari tadi mendengar celoteh Lea. Gadis kecil yang diponis menderita kanker.
"Kamu mau pindah?" tanya Luiz tanpa melihat Lea.
Luiz sudah tahu tentang kepindahan Lea dari Andika. Entah kenapa lelaki itu merasakan ada yang kosong didalam hatinya karena Lea akan pergi menetap keluar negeri. Apakah lama atau sebentar, Luiz tidak tahu kenapa hatinya malah tidak ikhlas?
"Iya Om. Pasti Om senang deh kalau Lea pergi, karena tidak ada yang buat Om marah-marah lagi," singgung Lea.
Luiz malah menatap wajah Lea. Wajah polos seolah tanpa beban, padahal dihati nya terluka parah.
"Lea tahu kok Om, selama ini Lea sudah buat Om kesal, sudah buat Om marah. Maafkan Lea ya Om, semoga kita bertemu lagi," ucap Lea sambil tersenyum melihat Luiz.
Luiz masih terdiam. Lidahnya terasa kelu mendengar ucapan gadis tersebut. Apakah benar dia akan merasa sepi kembali setelah Lea pergi? Ada apa dengan hati Luiz, kenapa dia tidak rela jika Lea pergi dari hidupnya?
Bersambung....
__ADS_1