Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Api Cemburu


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Pedho memeluk Leona dengan sayang. Sekarang hatinya lega karena wanita ini sudah menerima lamaran yang dia siapkan jauh-jauh hari.


"Terima kasih Sayang." Pedho melepaskan pelukan nya. Lelaki itu membenamkan bibirnya di kening Leona.


"Sama-sama Kak," sahut Leona memejamkan matanya, meresapi ciuman hangat sang calon suami.


Abraham dan Juliet turut bahagia karena Leona telah menemukan laki-laki yang tepat. Pedho memang calon suami Leona, hanya saja karena sesuatu dan lain hal membuat Leona dinikahi oleh Pedro. Begitu juga dengan Luiz, dia yakin jika kali ini Leona akan bahagia. Apalagi Pedho adalah tipe pria penyayang dan lembut pada wanita. Ketika dia menemukan wanita yang tepat maka dia akan sepenuhnya menaruh hati pada wanita itu.


Pedho mengambil sebuket bunga mawar putih ditangan salah satu pelayan.


"Sayang, ini untukmu," ucapnya menyedorkan bunga tersebut pada Leona.


"Terima kasih, Kak." Leona mengambil bunga itu dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sangat menyukai mawar putih.


Leona menghirup wangi bunga yang menyeruak masuk kedalam indra penciuman nya. Dia tersenyum lebar dan juga terharu.


Tanpa ada yang menyadari dari tadi ada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari taman, didalam mobil tersebut terlihat seorang laki-laki yang seperti sedang melihat Pedho dan Leona.


Lelaki itu adalah Pedro. Tangannya mencengkram dengan kuat stir mobil. Rahangnya mengeras. Tatapannya tajam. Terlihat matanya memerah karena amarah.


"Kak Pedho, aku takkan biarkan kalian bahagia. Jika aku tak bisa memiliki Leona. Maka Kakak juga tidak akan bisa memiliki nya," ucapnya penuh penekanan.


Pedro menatap penuh kebencian saat Pedho mengecup kening Leona. Apalagi ketika lelaki itu memasangkan cincin di jari manis Leona, semakin membuat api cemburu kian membara dihati Pedro. Jika saja tak menahan diri, dia sudah lama mengacaukan acara lamaran Pedho untuk Leona.


"Tidak. Tidak. Aku tidak boleh gegabah. Aku harus bisa menahan diri. Jika aku gegabah, aku bisa kehilangan Leona selama nya. Aku tidak mau kesempatan untuk memiliki Leona hilang sia-sia," ujarnya.

__ADS_1


Pedro melajukan mobilnya meninggalkan taman. Beberapa lelaki itu mengumpat dengan kasar. Dia terlambat, harusnya ketika Leona terbaring koma. Dia menyusun rencana untuk menculik wanita itu. Pedro seperti tak memiliki celah untuk mendekati Leona karena Pedho dan Luiz menjaga wanita itu dengan ketat seperti seorang ratu.


Mobil Pedro terparkir didepan sebuah cafe. Dia keluar dari dengan membanting pintu kamar. Lelaki itu hendak mengamuk, tapi pada siapa. Tidak ada yang salah, hatinya saja yang terlambat menyadari bahwa dia mencintai mantan istrinya tersebut.


"Kenapa dengan wajah mu?" tanya Excel, sahabat Pedro.


Lelaki itu malah duduk dengan wajah kusut dan juga berantakan. Dia memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir emosi yang terasa membuncah dada. Masih saja terbayang dikepala nya, saat Pedho memasangkan cincin di jari Leona. Harusnya, dia yang memberikan cincin itu pada wanita nya, bukan sang kakak.


"Masalah Leona lagi?" tebak Excel.


Pedro tak menjawab. Sebelumnya, Excel sudah pernah menasihati Pedro agar membuka hati untuk Leona dan meninggalkan Tasya. Namun, seperti nya lelaki itu tak mengindahkan sama sekali. Dia masih keukeh mempertahankan Tasya disampingnya dan akhirnya dia menerima merasakan luka seperti yang dia turihkan di hati Leona. Lalu, tiba-tiba perasaan yang tak pernah ada sebelumnya malah membelenggu dadanya. Dia baru menyadari jika cinta nya kini berlabuh pada mantan istrinya tersebut. Sayangnya, hal itu sudah terlambat. Dia tidak bisa lagi memiliki cinta Leona.


"Haha, Pedro. Pedro. Marah tidak ada guna nya. Leona tidak akan kembali padamu lagi," ejek Excel.


Beberapa hari yang lalu Excel datang ke New York karena ada beberapa proyek dia kerjakan disini. Kebetulan, dia juga tahu jika Pedro berada di negara ini beberapa waktu lalu. Jadi dia mengajak sahabat nya itu untuk sekedar minum kopi bersama-sama sembari berbincang-bincang hangat.


"Aku tidak bilang begitu," sahut Excel mengangkat bahu nya dan terkekeh pelan. "Pesanlah makanan. Aku sedang baik hati, biar aku yang bayar!" seru Excel tersenyum tanpa dosa.


"Cih, kamu pikir aku tidak mampu bayar. Uang ku banyak," sahut Pedro kesal.


"Ya aku tahu. Tapi uang Kak Pedho lebih banyak, nyatanya Leona lebih memilih kakak mu," ujar Excel lagi sambil tertawa pelan.


Excel memang suka menggoda Pedro. Apalagi dia sudah tahu seluk beluk rumah tangga Leona dan Pedro. Tak kala lelaki itu mengejek Pedro dengan godaan, dia seperti menikmati wajah kesal Pedro saat dirinya membahas Leona dan Pedho.


Pedro terduduk melamun. Dadanya masih terasa panas. Ingin dia menyerang dan menghancurkan acara Pedho untuk melamar Leona. Namun, lelaki itu masih tak memiliki keberanian karena dia takut, kesempatan untuk memiliki Leona tak ada lagi.


"Sedang memikirkan untuk mendapatkan Leona kembali?" tebak Excel sembari menikmati cemilan yang dia pesan. Excel melirik Pedro yang seperti sedang berpikir keras.

__ADS_1


Pedro mendengus kesal. Excel selalu saja tahu pergerakan nya. Padahal dia tidak mengeluarkan reaksi apapun, selain diam saja.


"Jangan menatapku seperti itu, Pedro," cibir Excel. "Aku selalu tahu apa yang ada dipikiran mu," sambung nya.


"Cih, seperti cenayang saja," sindir Excel.


"Yup, kamu benar." Excel tertawa tanpa beban. "Saranku, lebih baik kamu lepaskan Leona dan biarkan dia bahagia bersama Kak Pedho. Kamu harus ingat Pedro, mungkin kamu bisa mendapatkan raga Leona tapi kamu tidak akan bisa mendapatkan hatinya kembali," tutur Excel. Bukan pertama kalinya dia menasihati Pedro, sudah sering. Namun, lelaki yang tengah membara dengan api cemburu itu masih saja keras kepala.


"Leona masih mencintaiku," kilah Pedro. Ya dia yakin Leona masih mencintainya. Pasti Leona takkan mudah melupakan perasaan nya, pada mantan suami nya itu. Sebab Pedro tahu, jika Leona sangat mencintai nya.


Excel tertawa mengejek. Dia menggeleng salut dengan kepercayaan diri Pedro. Meski Pedro sahabat nya tapi dia sama sekali tidak membela perbuatan Pedro. Memang terkadang penyesalan selalu datang di akhir, jadi tidak banyak manusia yang memiliki kesempatan untuk kembali memperbaiki ikatan yang sudah rusak.


"Jika Leona mencintaimu, kenapa dia menerima Kak Pedho? Kenapa dia tidak memberimu kesempatan untuk kembali?" cecar Excel sembari memberikan senyuman mengejek.


"Itu karena dia tidak mau ketahuan jika masih mencintaiku," sahut Pedro cepat. Ya pasti ini hanya alasan Leona agar dia menjauh pergi.


Lagi-lagi Excel menertawakan tingkat kepercayaan diri Pedro. Dia tak masalah jika Pedro percaya diri tapi kalau terlalu tinggi nanti jatuh sendiri malah sakit lagi.


"Ya. Ya. Itu terserah mu, Bro. Percaya tinggi boleh tapi jangan terlalu tinggi nanti kamu terjatuh dan sakit sendiri," ledek Excel salut.


Pedro tak menanggapi, dia ikut mencomot cemilan yang dipesan Excel.


"Ck, pesan sendiri, Pedro. Ini punyaku," ketus Excel menarik piringnya.


"Dasar pelit," sindir Pedro.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2