
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Leona menatap Pedro dingin. Rasa sedih yang dulu bertahan berbulan-bulan itu ternyata perlahan pergi. Ia pikir akan patah hebat setelah ia tak lagi memiliki. Kini, semua terasa hambar, kabar Pedro bukan lagi hal yang membuat dadanya berdebar.
"Leona aku mohon maafkan aku. Jangan pergi Leona," Pedro bersimpuh di kaki Leona. "Setelah kamu pergi, aku menyadari satu hal, bahwa aku ternyata sudah jatuh cinta padamu. Aku menyesal Leona pernah menyia-nyiakan mu," ucap Pedro. Tak peduli lagi dengan rasa gengsi yang membelenggu hati. Ia hanya ingin Leona tahu, bahwa kini ia menyadari perasaan di hati.
Leona terdiam, seharusnya jantung wanita itu berdebar mendengar ungkapan cinta dari lelaki yang dia cintai. Tapi kenapa hatinya terasa hampa? Tak ada debaran lagi di dalam sana. Apakah benar bahwa perasaan yang dulu menggebu kini menjadi debu?
"Pedro, apa yang membuat kamu menyadari perasaan kamu? Kamu tahu kan Pedro, apapun yang kamu katakan dan rasakan tidak akan mengubah keputusan aku untuk bercerai dari kamu?" ucap Leona dingin. Tak ada lagi senyuman di wajah cantik wanita yang biasanya selalu ceria itu.
Jika saja bukan Andika dan Pedho yang menahan Luiz dia pasti sudah menghajar Pedro dan memberi pelajaran pada lelaki itu. Lelaki itu adalah penyebab adiknya menderita. Luiz takkan biarkan siapapun menyakiti Leona.
"Aku menyesal Leona. Aku, aku memang jahat," Pedro menyadari kesalahannya. Tapi ia masih berharap ada kesempatan yang Leona berikan untuknya.
Leona menghela nafas panjang. Tangannya terulur mengusap dadanya yang berdenyut sakit. Mengingat dirinya yang dulu begitu liar mengejar cinta Pedro. Tak menyerah sekalipun lelaki itu dengan terang-terangan mengatakan takkan pernah mencintainya. Kini, Leona menyadari bahwa dulu dirinya adalah wanita bodoh yang terobsesi mengejar cinta lelaki yang sama sekali tak menginginkan ia ada.
"Terlambat Pedro," lirih Leona. Pertemuan nya dengan Pedro adalah hal terburuk dalam hidup Leona. "Kamu tidak bisa lagi membuat aku kembali untuk mu," ucap Leona menatap Pedro, "Semua sudah berakhir. Pergilah Pedro, cari kebahagiaan mu disana. Biarkan aku....." Leona tampak meringgis kesakitan memegang dadanya.
"LEONA," Luiz dan Pedho berhambur menyambut Leona yang terjatuh pingsan.
"Leona," Pedro hendak menghampiri Leona namun dengan cepat Luiz mendorong tubuh lelaki itu.
"Jangan pernah sentuh adikku lagi," hardik Luiz.
"Pedho, cepat bawa Leona ke rumah sakit,"
Ketiga lelaki itu tampak panik bukan main. Apalagi melihat wajah Leona yang pucat dan darah segar keluar dari hidung wanita cantik tersebut. Tangannya dingin.
__ADS_1
"Luiz, kenapa tubuh Leona dingin?" tanya Pedho panik.
"Leona. Bangun, Sayang. Bangun. Buka matamu. Tolong Leona jangan bercanda. Kakak tidak bisa hidup tanpa kamu," Luiz menepuk-nepuk pipi Leona berusaha membangunkan wanita yang tertidur lelap itu.
"Leona," Pedho memeluk Leona dengan erat sambil menangis. "Kumohon bertahanlah," lirihnya.
Andika yang menyetir di belakang juga terlihat panik dan sesekali menoleh ke belakang.
Luiz sebenarnya tak mengizinkan Leona bertemu Pedro. Namun, adiknya itu setengah memaksa karena mungkin ada sesuatu yang penting mau dibicarakan oleh Perdro. Sebab Luiz tahu kesehatan mental Leona akan benar-benar terganggu jika bertemu dengan Pedro. Ia tak baik-baik saja.
Persidangan perceraian antara Pedro dan Leona sedang di proses oleh hakim. Luiz juga mengumpulkan beberapa bukti sebagai penguat agar sidang tersebut berjalan lancar. Pedro pasti akan menyewa pengacara untuk mempertahankan pernikahan nya. Dia takkan cerai kan Leona. Namun, Luiz tidak akan diam saja. Apapun yang terjadi Leona harus lepas dari jeratan cinta Pedro yang tak pasti itu.
.
.
.
Istrinya itu sedang sakit parah. Ia bisa lihat betapa menderitanya Leona menahan sesak yang menghantam dadanya. Pedro, menggeleng menolak takdir yang menerpa nya. Kenapa semua terjadi? Kenapa takdir tak mau memberinya kesempatan untuk sekedar mengobati luka di hati sang istri.
"Hiks hiks hiks hiks," Pedro menutup wajahnya.
Pedro berdiri sambil menyeka air matanya. Harusnya ia menyerah untuk memperjuangkan kembali cinta hamba Leona berikan padanya?
"Aku baru menyadari jika perasaan yang dulu tak ku inginkan, kini mulai tumbuh memekar didalam sana,"
Lelaki itu berjalan keluar dari kediaman Luiz. Sebelum masuk kedalam rumah ini, ia harus menghadapi kekejaman Luiz. Bahkan wajahnya di pukul dan ditampar oleh kakak Leona itu. Tapi Pedro tak bisa melawan, ia rela di sakiti seperti apapun asal ia bisa bertemu dengan Leona. Ia ingin memeluk istrinya itu meski terdengar tidak mungkin.
__ADS_1
Pedro masuk kedalam mobil. Lelaki itu masih terisak menyesali segala perbuatan yang pernah ia lakukan. Pedro menyalakan mobilnya. Entah kemana ia akan pergi? Mencari tempat untuk mengadu.
Saat ini tidak akan ada yang membantunya untuk kembali pada Leona. Ia telah di buang dan di usir dari kepercayaan. Sebab dulu, dia adalah orang yang telah membuang kepercayaan yang disematkan untuk nya.
Pedro menghentikan mobilnya tepat didepan rumah kedua orang tua nya. Niat hati ingin ke rumah sakit menyusul Leona. Tapi ia tahu, ia akan di usir dari sana. Sebeb kehadiran nya sekarang bukan lagi sesuatu yang di inginkan oleh Leona.
"Pedro," kening Anjani berkerut heran melihat penampilan Pedro yang berantakan.
"Ma," Pedro berhambur memeluk Anjani, dia ingin mengadukan segala rasa sakit yang terasa menghantam didalam dadanya.
"Pedro, kenapa?" Anjani mengusap punggung putranya itu. "Katakan pada Mama kamu kenapa?"
Anjani juga merasakan kecewa yang sama seperti Pedho dan Luiz. Namun, bagaimanapun Pedro adalah putranya juga. Ia tak bisa membenci anak nya sendiri.
"Ma," tangis Pedro pecah memeluk Anjani.
Harusnya Pedro bersyukur karena istri pilihan kedua orang tua nya adalah wanita yang paling baik setelah sang Ibu. Namun, kenyataan nya dia menyia-nyiakan kesempatan untuk mencintai wanita baik itu hanya karena ego nya. Pedro, berpikir Tasya wanita paling baik yang pernah Pedro temui. Tapi apa yang terjadi sekarang memberinya pelajaran arti penyesalan.
"Aku tidak berpisah dengan Leona Ma. Aku sudah mencintai nya. Aku ingin dia kembali untukku, Ma. Tolong aku Ma, tolong aku," mohon Pedro sambil memeluk Anjani dengan erat.
Anjani tak dapat berkata apa-apa. Semua memang kesalahan dari Pedro. Kesalahan yang membawa penyesalan serta kesedihan dan kepedihan. Mau bagaimana lagi, Pedro tak bisa menolak takdir yang akan memisahkan nya dengan Leona.
"Hiks aku mencintai Leona, Ma,"
Anjani ikut menahan kepedihan seperti yang putranya rasakan. Dia juga sangat menyanyangi Leona. Apalagi sosok Leona masih melekat di hati Anjani.
Namun sebagai seorang Ibu ia hanya berharap yang terbaik. Berharap agar Pedro akan berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
__ADS_1
Bersambung...