
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Leona masih tak berkedip menatap Pedho yang jauh berbeda malam ini. Kenapa lelaki ini begitu tampan di matanya?
"Kak Pedho," panggil Leona gugup.
"Hai Sayang." Pedho mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Leona.
Wajah Leona bersemu merah. Wanita itu menatap sekeliling taman yang di penuhi dengan bunga. Waktu kecil, Leona pernah bermimpi ingin dilamar dengan seribu bunga mawar putih.
"Kak ini..." Leona tak bisa berkata-kata, lidah nya kelu melihat keindahan taman yang bertaburan dengan bunga-bunga.
"Kamu suka, Sayang?" ucap Pedho tersenyum hangat.
Tak hanya Leona yang menganggumi ketampanan Pedho malam ini. Namun, juga Pedho begitu terpesona menatap kecantikan wanita yang dia cintai. Gaun mewah yang sengaja Pedho pesan jauh-jauh hari, bahkan saat Leona masih koma. Terlihat pas di tubuh wanita ini.
"Aku suka banget Kak," sahut Leona berkaca-kaca.
Seumur hidup dia tidak pernah diperlakukan seromantis ini oleh seorang laki-laki, baik oleh mantan kekasih maupun mantan suaminya. Leona benar-benar terharu, hatinya berbunga-bunga merasakan kebahagiaan yang menyeruak didalam sana. Sebelumnya ia tak pernah sebahagia ini.
"Leona." Pedho mengenggam kedua tangan wanita cantik itu.
"Iya Kak?" sahut Leona tersenyum manis.
"Aku memang bukan pria yang romantis. Aku juga tidak bisa merangkai kata-kata manis. Tapi malam ini, aku ingin meminta secara resmi...." Pedho berlutut sambil menyedorkan kotak beludru yang berisi cincin permata indah, dengan balutan intan permata didalam nya.
"Leona Juliet, saya Pedho Pannetha mau melamar engkau menjadi istriku. Saya ingin bersama dengan mu dalam keadaan sakit maupun sehat. Dalam keadaan senang maupun susah. Saya ingin membahagiakan mu dengan seluruh jiwa dan perasaan saya. Saya berjanji akan menjadi lelaki yang mengantar mu menyambut mentari pagi. Memeluk mu jika malam menanti. Membangunkan ku disetiap pagi yang baru. Maukah kamu menikah denganku?" ucap Pedho sambil tersenyum.
Leona menutup mulut tak percaya. Matanya berkaca-kaca, harusnya dia bahagia tapi entah kenapa hati Leona justru cemas. Bagaimana jika saat mereka sudah larut dalam saling mencintai, dia justru pergi mengingkari janji? Sebab Leona tak tahu, kapan usia akan menjemput dia pergi? Bisa saja rasa yang ada di hati dibunuh perlahan oleh kondisi.
"Terima.. terima.. terima.. terima..." Suara tepuk tangan terdengar riuh oleh para anggota keluarga yang hadir disana.
Alexander, Juliet, Luiz, Andika dan Yuna serta Ricard memberikan dukungan untuk kedua pasangan yang tengah kasmaran tersebut. Juliet dan Yuna yang paling heboh sambil berteriak nama Leona agar menerima lamaran Pedho.
__ADS_1
"Kak." Air mata menetes dipipi cantik wanita tersebut.
"Hei, Sayang." Pedho sontak berdiri. Dia panik saat Leona menangis, bisa saja kekasih nya itu kembali merasakan sakit. "Kenapa menangis?" tanya nya dengan jari-jari kekar yang mengusap pipinya.
"Kak." Leona mengigit bibir bawahnya. "Aku takut nanti malah pergi meninggalkan Kakak. Aku_"
"Stttttt," potong Pedho meletakkan jarinya di bibir Leona. "Jangan katakan apapun, Sayang. Aku mencintaimu apa adanya. Kamu tidak akan pergi tanpa seizin ku. Aku mencintaimu, itu saja," ucap Pedho mengusap pipi cantik kekasih nya
Leona menatap lelaki ini penuh cinta. Kadang dalam hatinya ragu, apakah Pedho siap menerima dia apa adanya? Apakah Pedho mau hidup dengan wanita penyakitan seperti nya? Untuk sembuh dari kanker itu hal yang terdengar mustahil. Satu juta penderita kanker didunia, hanya satu persen diantaranya yang benar-benar sembuh. Apakah Leona akan menjadi yang satu persen itu?
"Sayang, kamu masih ragu sama aku?" tanya Pedho menatap bola mata Leona.
"Aku tidak ragu pada Kakak. Tapi aku ragu pada diriku sendiri. Aku takut tidak bisa membuatmu bahagia, Kak," ucap Leona lirih.
"Aku yang akan membuatmu bahagia," sambung Pedho.
"Aku sakit," ucap Leona lagi.
"Kakak." Tangan Leona mengusap wajah lelaki itu. "Aku juga mencintai mu, Kak. Sangat," kata Leona menatap
Pedho tersenyum hangat, jari-jari nya mengelus wajah cantik Leona. Cantik sekali wanita ini, Pedho saja hampir salah tingkah.
"Jadi bagaimana, apakah Leona Juliet ini menerima lamaran saya?" tanya Pedho sambil tersenyum menggoda.
Abraham dan Juliet saling memeluk, untuk memberi kekuatan satu sama lain. Juliet juga tak bisa bayangkan, jika waktu nya tiba Leona akan pergi selamanya. Juliet takkan sanggup hidup tanpa anak perempuan nya itu.
Yuna juga menyeka air mata nya. Dia tak bisa bayangkan, seperti apa hidupnya tanpa kehadiran Leona. Rasanya semua hampa. Saat Leona koma saja, Yuna merasa ada yang hilang dari dirinya. Bagaimana dengan sekarang, jika Leona benar-benar menghilang dan pergi selamanya.
"Bagaimana yaa, terima atau tidak?" ujar Leona mengetuk-ngetuk pelipisnya seolah sedang berpikir keras.
"Awas saja kalau kamu tolak. Aku akan culik kamu dan aku bawa pergi jauh," ancam Pedho dengan bibir cemberut nya.
Leona tertawa lebar, seakan kesedihan diwajah nya hilang seketika.
__ADS_1
"Kalau begitu aku menolak saja," sahut Leona semakin tertawa lebar.
"Kamu ya...." Pedho dengan gemas mengelitik pinggang Leona.
"Hahah ampun Kak, hahah geli, Kak!" seru Leona berusaha menghindar.
Mereka yang lain hanya tersenyum. Begitu lah pasangan Leona dan Pedho, kadang tersenyum kadang tertawa tanpa beban. Apalagi Leona yang jahil suka sekali mengerjai Pedho, sang kekasih. Sifat Leona yang dulu kini kembali ketika dia telah menemukan lelaki yang tepat.
"Sudah ah, capek Kak," ucap Leona berhenti.
Pedho tersenyum lalu menarik pinggang wanita itu agar menempel didada bidang nya.
"Kakak." Leona terkejut
"Kenapa, Sayang? Hem, kamu gugup?" goda Pedho sambil memperbaiki rambut palsu Leona yang setengah bergeser.
"Kak, malu dilihat yang lain," kilah Leona. Ya jelas dia malu apalagi ada kedua orang nya serta sang kakak bersama dengan sahabat nya.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku," ucap Pedho.
"Pertanyaan yang mana, Kak?" tanya Leona tampak bingung.
Pedho mendengus kesal, "Itu yang tadi," jawab Pedho.
"Itu yang tadi? Yang mana, Kak?" tanya Leona lagi, wajah nya dibuat sepolos mungkin.
"Ck, Leona Juliet maukah kamu menikah dengan saya?" ulang Pedho sekali lagi menatap wajah Leona dengan serius.
Leona tersenyum, lalu melingkarkan tangannya di leher Pedho.
"Saya menerima lamaran Anda, Tuan Pedho," jawab Leona dengan yakin
Bersambung...
__ADS_1