Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Ungkapan


__ADS_3

**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**


Kata pepatah, orang yang paling berani adalah dia yang mampu mengungkapkan rasa cinta pada seseorang meski ia tahu, kemungkinan besar untuk ditolak akan menjadi jawaban dari ungkapan perasaan tersebut.


Tidak ada cinta yang benar-benar baik kecuali cinta yang rela menahan sakit ketika perasaan nya belum terbalaskan.


Pedho dan Leona masih duduk di balkon villa tempat mereka menginap. Keduanya sama-sama menatap pantai yang bertabur bintang. Malam yang bernaung di bawah langit hitam. Menjadi saksi bisu bahwa kedua orang tersebut sama-sama sedangkan merasakan luka paling dalam.


"Leona," panggil Pedho. Ini adalah moment yang paling ia nantikan dalam hidupnya, duduk berdua bersama Leona sambil bercerita tentang cinta.


"Iya Kak?" Leona menoleh pada Pedho.


Pedho menatap Leona dengan tatapan dalam. Ia tersenyum saat bulu mata lentik itu bergerak-gerak yang justru membuat wanita ini terlihat imut dan juga menggemaskan. Kadang, Pedho merasa adiknya adalah lelaki paling bodoh yang menyia-nyiakan wanita sebaik Leona hanya karena perempuan murahan seperti Tasya.


"Aku ingin bicara sesuatu padamu," ucap Pedho lembut. Tangan lelaki itu terulur mengusap wajah Leona.


"Apa Kak?" tanya Leona penasaran. Pikiran nya was-was, kira-kira apa yang akan dibicarakan Pedho padanya?


"Sebelum nya, aku mau minta maaf karena mungkin yang aku bicarakan ini tidak pernah kamu pikirkan sama sekali," ucap Pedho memulai perbincangan nya. "Leona, aku menyukai mu sejak pertama kita bertemu. Kamu tahu? Aku sangat kecewa ketika pulang ke Indonesia dan menyaksikan kamu bersanding dengan Pedro," ujar Pedho.


Leona menatap lekat bola mata Pedho mencoba mencari kebohongan. Namun yang ia temukan adalah sebuah ketulusan dari senyuman lelaki yang berstatus mantan kakak iparnya tersebut.


"Aku tahu kamu pasti tidak percaya. Sama aku juga," timpal Pedho lagi. "Awalnya aku menepi dan menjauh pergi. Namun, sejauh mana pun ku berlari bayangmu tetap saja kembali. Aku tak bisa jauh darimu Leona. Itulah yang membuatku kembali, meski aku tahu ada Pedro yang menjagamu," jelas Pedho sambil tersenyum. Sekarang, ia ingin menjadi pemberani yang mengungkapkan perasaan nya pada wanita yang ia cintai.


"Aku juga tahu kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku. Tapi tak apa, itu bukan masalah. Aku akan tetap mencintaimu walau kamu tidak cinta aku," ucapnya lagi.


"Kakak." Lidah Leona terasa kelu untuk mengeluarkan kata-kata.

__ADS_1


"Leona, aku mengungkapkan perasaan ku bukan karena ingin kamu membalasnya. Aku tahu kamu sedang patah hati hebat karena Pedro. Aku ingin kamu tahu saja bahwa aku mencintai kamu dan memastikan jika kamu akan bahagia selama aku ada," ungkap Pedho.


Lelehan bening lolos dipelupuk mata Leona. Ungkapan yang keluar dari mulut Pedho mampu menghangatkan hati dingin nya. Kenapa jantung nya berdebar? Apalagi senyuman lelaki ini memiliki magnet yang mampu menariknya semakin dalam.


"Air mata mu berharga bagiku Leona. Aku takkan membiarkan nya jatuh kecuali saat kamu menangis karena bahagia. Rasa sakit dan patah hati yang saat ini kamu rasakan, aku akan hapus dari bayang-bayangmu. Semua akan baik-baik saja," ucap Pedho. Lelaki itu pun turut meneteskan air mata.


Hidup Leona takkan lama lagi. Dia tak bisa berjanji untuk bertahan sampai nanti. Jika tiba waktu nya penyakit ini menarik nya pergi. Ia hanya berharap ada hati yang selalu memintanya kembali, meski itu tidak mungkin.


"Kak,"


"Leona, aku tahu perasaan kamu seolah mati karena perpisahan itu. Tapi kamu harus tahu Leona bahwa hidup akan terus berjalan. Kamu harus bisa memulai hidup yang baru tanpa Pedro," ucap Pedho menenangkan.


Leona terisak, rasa sakit yang Pedro tancapkan didalam dadanya masih terasa perih dan pedih. Luka itu masih basah, entah kapan akan sembuh?


Pedho menarik wanita itu kedalam pelukannya. Tangannya mengusap punggung Leona dan membiarkan wanita tersebut menangis. Terkadang saat seseorang sedang patah hati mereka tak butuh kata-kata penguat, mereka hanya perlu di dengarkan dan dipeluk bila rasa rapuh menyerang sebagian jiwa.


Disana, di angkasa yang gulita tampak bintang-bintang kecil yang bertebaran dan berjejer. Di Keremangan malam bersama suara ombak yang berdesir memenuhi tepi pantai, dua orang berbeda usia dan jenis kelamin tersebut saling memeluk erat dan menghangatkan lewat bisikkan dan untaian kata.


Leona, ia meluapkan semua rasa sakitnya di pelukkan Pedho. Berharap hati nya yang sekarang luka begitu parah akan sedikit terobati dengan pelukan hangat dan nyaman ini. Pengakuan dan ungkapan perasaan yang Pedho ucapkan malam ini padanya, membuat hatinya semakin sakit. Ia tak bisa bayangkan menjadi Pedho, selama lima tahun mencintai seseorang dalam diam dan orang yang di cintai itu terlihat setiap hari berpelukan bersama pria lain.


"Kak," Leona melepaskan pelukan nya.


"Jangan menangis," tangan Pedho mengusap pipi lembut Leona.


"Aku minta maaf, aku tidak tahu perasaan Kakak selama ini. Maafkan aku Kak," ucapnya penuh penyesalan dan rasa bersalah. Pasti hati Pedho setiap hari seperti di tusuk oleh ribuan pisau karena Leona.


"Kamu tidak salah Leona. Jangan minta maaf. Mencintaimu adalah anugerah dalam hidupku," ucap Pedho tulus dari hatinya yang paling dalam.

__ADS_1


Pedho adalah pria yang jika sudah jatuh cinta maka hatinya akan menetap lama. Begitulah perasaan nya pada Leona. Bukan salah Leona yang tidak tahu, apa salah ia yang memendam dalam dada tanpa berani memberitahu lewat kata-kata.


Leona kembali memeluk Pedho. Saat ini ia tidak tahu jawaban apa yang akan ia berikan. Jujur saja, trauma akan cinta itu masih sangat dalam. Apalagi, Leona baru saja kehilangan sang suami dalam perceraian yang tak pernah ia inginkan.


Leona juga takut, ketika ia sudah sungguh-sungguh mencintai Pedho, kematian malah datang menghampiri nya. Sebab ia merasa semakin hari rasa sakit ditubuhnya terasa menyiksa dan membuat nafasnya sesak didalam sana.


"Istirahat yuk. Sudah malam. Jangan begadang tidak baik untuk kesehatan mu." Pedho memperbaiki jacket Leona yang setengah bergeser.


"Iya Kak," jawab Leona sambil menyeka air matanya.


"Ayo aku antar sampai kamar,"


Pedho merangkul bahu Leona yang tingginya hanya sampai dada itu. Ia memapah pelan wanita tersebut berjalan seakan takut jika Leona terjatuh di lantai.


Percayalah, ketika seorang perempuan jatuh pada tangan pada pria yang tepat ia akan diratukan oleh pria tersebut seperti seorang putri di istana kerajaan.


"Terima kasih," ucap Leona tersenyum. Menatap wajah Pedho mampu menghilangkan rasa sakit yang kini masih bersemayam didalam dadanya.


"Iya. Masuk sana. Ingat langsung tidur oke," Pedho mencentil hidung Leona dengan gemes.


"Kakak," kesal Leona sambil mengusap hidungnya. "Sakit tahu," gerutunya.


Pedho terkekeh. Baginya Leona adalah sosok yang manja dan cerewet.


"Aku masuk ya Kak. Selamat malam Kak," pamit Leona.


Pedho mengangguk dan tersenyum sambil melihat punggung Leona yang masuk kedalam kamar.

__ADS_1


**Bersambung.... **


__ADS_2