
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Pedro keluar dari kamarnya dengan stelan jas rapi yang membungkus tubuhnya. Lelaki itu menghela nafas panjang ketika melihat kearah kursi makan yang kosong. Hanya ada beberapa makanan yang sudah di siapkan oleh Bik Lian disana.
"Pagi Pedro," lelaki itu berjingkrak kaget ketika melihat Tasya yang tiba-tiba datang dan mengejutkan dirinya.
"Kenapa kamu disini?" tanya Pedro tak suka lalu duduk.
"Jangan lupa Sayang. Aku 'kan tinggal disini," sahut Tasya mengedipkan matanya jahil.
Pedro tak menanggapi. Ia mengambil roti yang sudah diolesi oleh Bik Lian. Lelaki itu menatap kosong kearah kursi tempat biasa Leona duduk. Kenapa rasanya sangat hampa? Biasanya setiap pagi ia akan di suguhkan dengan senyuman manis istrinya itu tapi sekarang hanya ada bayang-bayang yang tertinggal.
Setelah sarapan lelaki itu melenggang pergi tanpa peduli pada teriakkan Tasya. Pedro sudah lelah berbicara dengan wanita tidak tahu diri itu. Diusir beberapa kali, Tasya sama sekali tidak sakit hati. Masih saja memaksa untuk tinggal di rumah yang mengusirnya pergi.
Pedro masuk kedalam mobil nya. Hari ini Pedro ingin menemui Leona. Ia masih belum puas mengejar wanita itu. Pedro takkan menyerah.
"Aku belikan Leona sarapan saja, dia kan sangat menyukai bubur ayam," gumam Pedro.
Lelaki itu singgah dan membeli bubur ayam untuk mantan istrinya. Sang mantan istri begitu menyukai bubur ayam apalagi ditambah dengan sebutir telur putih dicampur dengan kuningnya kuah daging ayam.
Tak lupa Pedro membelikan Leona sebuket bunga mawar berwarna putih. Leona menyukai sesuatu yang berwarna putih.
Wajah Pedro tampak sumringah ketika keluar dari mobil ditangannya membawa kantong kresek dan sebuket bunga mawar.
Ia masuk kedalam butik Leona. Kemarin Pedro mengunjungi butik ini tapi tidak menemukan mantan istrinya itu.
"Selamat pagi Tuan Pedro," sapa Ayu dan Chika, pegawai Leona yang bekerja di butik tersebut.
"Pagi. Apa Leona sudah datang?" tanya Pedro melirik ruang kerja Leona. Berharap wanita itu ada disana.
"Belum Tuan. Nona belum datang. Silahkan Anda duduk dulu, untuk menunggu," ucap Chika mempersilahkan.
Pedro duduk disofa ruang tunggu. Ia tak meletakkan bunga dan bibit tersebut takut kotor atau rusak. Lelaki itu tampak tak sabar menanti kedatangan sang mantan istri tercinta nya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian deru mobil terdengar dari arah luar. Segera Pedro berdiri dan hendak menyambut kedatangan Leona. Namun, seketika lelaki itu mematung saat melihat Pedho turun duluan dari mobil lalu membuka pintu untuk Leona. Hal itu tidak pernah Pedro lakukan selama ia menikah dengan leona.
"Leona," gumam Pedro.
Hatinya teriris sakit ketika melihat Pedho memperbaiki rambut palsu Leona yang sedia kala bergeser. Mesra sekali mereka berdua dan Pedro merasakan jantungnya seperti meledak.
Leona tampak melambaikan tangannya saat mobil Pedho menjauh dari butiknya. Wanita itu tersenyum manis sambil meneteng tasnya.
Lalu ia berjalan masuk kedalam. Setelah liburan panjang ia rasa cukup untuk melepaskan penat dalam dadanya sebelum ia melanjutkan pengobatan selanjutnya.
"Leona,"
Seketika langkah Leona terhenti ketika mendengar suara yang begitu ia kenal.
"Pedro?" kening Leona berkerut saat melihat mantan suaminya itu. "Ada apa kamu kesini?" tanya nya tak ramah seperti dulu. Bahkan wajahnya saja tampak dingin.
"Aku bawakan kamu bubur," Pedro menunjukkan kantong kresek ditangannya.
Leona setengah terkejut. Selama ia menikah dengan Pedro tak pernah lelaki itu perhatian padanya apalagi soal makanan. Pedro dulu dingin dan terkesan tak peduli pada istrinya sendiri.
"Iya Na. Kamu suka 'kan?" menyerahkan kantong kresek itu pada Leona.
Leona malah menatap Pedro. Ia tahu jika lelaki ini berusaha menarik perhatian nya kembali. Namun, sayang meski cinta masih ada tapi kesempatan itu sudah tiada.
"Iya. Terima kasih Pedro." Leona mengambil kantong berisi bubur itu dari tangan Pedro.
"Ini bunga buat kamu. Kebetulan tadi aku lewat toko bunga dan aku ingat kalau kamu suka mawar putih," ucap Pedro dengan senyuman. Padahal hati nya ingin marah ketika melihat Leona bersama dengan Pedho.
"Tidak perlu repot-repot Pedro," ucap Leona tak enak hati. Dia tak mau memberi harapan palsu pada mantan suaminya tersebut.
"Sama sekali tidak repot Leona," sahut Pedro.
Andai Pedro melakukan ini saat ia dan Leona masih menjadi pasangan suami istri. Pasti Leona akan menjadi wanita paling bahagia didunia. Namun, sayang semua yang terjadi tidak akan bisa mengembalikan dia bersama lelaki tersebut.
__ADS_1
"Aku masuk ya Pedro, terima kasih." Leona melenggang masuk kedalam ruangan nya.
"Ehhhh...." Pedro hendak mencegah Leona dan berharap jika wanita itu mengajaknya masuk kedalam ruangan untuk sekedar berbincang-bincang.
Namun, harapan Pedro lagi-lagi pupus dan patah ditengah jalan. Leona sekarang bukan seperti yang dulu lagi. Jika dulu Leona yang mengejarnya, maka sekarang dia lah yang mengejar Leona.
Pedro merasakan bagaimana sakitnya ditolak. Hal itu yang ia lakukan ketika Leona masih mengagung-agungkan dirinya sebagai lelaki yang menjadi salah satu bagian dari jiwanya.
Pedro keluar dari butik dan masuk ke dalam mobilnya. Sesekali lelaki itu menoleh kearah butik dan berharap Leona memanggilnya masuk dan mengajak mereka sarapan pagi bersama.
"Aku tidak menyerah Leona. Kamu akan kembali menjadi milikku," gumam Pedro menyalakan mesin mobilnya.
Penyesalan yang Pedro rasakan telah membuat ia menjadi lelaki yang penuh obsesi. Ia memaksa Leona kembali padanya. Tanpa ia sadari bahwa rasa sakit yang dulu ia ciptakan dan turihkan di hati mantan istrinya itu telah berubah menjadi rasa kecewa dan benci. Pedro memaksa agar Leona kembali padanya. Ia yakin jika mantan istrinya itu masih memiliki rasa yang sama seperti dulu.
"Kak Pedho. Takkan kubiarkan Kakak merebut Leona dari ku. Aku akan lakukan segala cara untuk menggagalkan rencana Kakak memiliki Leona," Pedro tersenyum licik sambil mencengkram stir mobilnya.
Sampai di gedung pencakar langit lelaki itu langsung turun dari sana.
"Pagi Sayang,"
Lagi-lagi Pedro terkejut ketika ada Tasya disana. Apa yang dilakukan mantan kekasih nya itu ke perusahaan nya?
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Pedro tak suka.
"Sekarang aku jadi sekretaris mu Sayang." Tasya memeluk lengan Pedro dengan manja seperti dulu.
"Lepas Tasya." Pedro menepis tangan wanita itu dari nya. "Sudah berapa kali aku bilang jangan ganggu aku lagi," bentak Pedro.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian para karyawan. Apalagi pakaian Tasya yang terlihat mencolok dan ketat.
Pedro berjalan masuk meninggalkan Tasya. Ia tidak habis pikir dengan wanita itu, apa urat malu Tasya sudah putus. Tidak tahu malu sama sekali.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote ya guys...