
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺*****
Seorang wanita cantik tengah turun dari pesawat. Kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya. Gaun mahal berwarna merah menyala ikut membungkus tubuh rampingnya. Ia sangat cantik dengan rambut bergelombang yang sengaja ia gerai dengan indah.
Tatapan kekaguman dilayangkan padanya. Ia berjalan dengan angkuh dan aroggant sambil menyeret kopernya dengan santai.
Dia masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu nya. Wanita itu duduk dengan senyuman licik.
"Aku kembali Pedho," ucapnya tersenyum sinis. "Maafkan aku. Semoga kamu memberikan aku kesempatan kedua," sambungnya dengan lirihan.
Wanita itu menatap keluar arah jendela mobil, menikmati kepadatan kota Jakarta. Sudah lama ia tak kembali ke negara ini. Wajah nya yang tadi sombong dan angkuh seketika sendu, ketika mengingat masa lalu dan membuat dia kehilangan bagian terpenting dari hidupnya.
"Apa kabar kamu Pedho? Aku rindu sama kamu!" wanita itu memejamkan matanya merasapi rasa rindu dan sakit yang membelenggu didalam sana. "Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku terpaksa," gumamnya penuh penyesalan.
Sampai disebuah restourant wanita itu turun. Ia singgah untuk makan siang. Sebab penerbangan yang cukup menyita waktu tersebut membuat isi perut nya mengurang.
Wanita itu masuk dan memilih tempat di pojok, lalu memesan makanan untuk dirinya.
Sejenak ia tampak terdiam dan melamun. Tempat ini menjadi salah satu saksi perjalanan cinta nya yang kandas ditengah jalan. Perjalanan cintan yang tak bisa dilanjutkan karena dirinya yang egois.
"Kamu mau makan apa Na?" tanya seseorang yang terdengar jelas di wajah nya.
Wanita itu menoleh kearah dua orang wanita yang tampak asyik berbincang-bincang sambil tertawa lepas.
"Kamu ini ada-ada saja. Sudahlah, 'kan aku jadi malu," kilah Leona menyembunyikan perasaan nya.
"Cie yang punya gebetan baru, cie. Tapi aku lebih setuju kamu sama kakak nya dari pada adiknya," ucap Yuna menggoda Leona.
Wanita itu tersenyum melihat kearaban dua wanita yang duduk tidak jauh dari nya. Ia menganggumi kecantikan Leona, wajahnya lembut dan manis. Pastilah akan sangat beruntung bagi lelaki yang bisa memiliki hatinya.
"Nona, pesanan Anda," lamunannya terbuyarkan saat mendengar pelayan memanggil namanya.
"Terima kasih," ucap nya lembut dan halus.
Ia menikmati makanan itu. Namun, sesekali ia menoleh kearah Leona dan Yuna yang saling berbincang hangat.
"Kalian sudah lama?" tanya seorang pria yang baru saja datang bersama temannya.
__ADS_1
Wanita itu kembali terdiam. Suara itu? Suara yang begitu ia kenal dan hilang selama sepuluh tahun ini. Ia menoleh kearah meja Leona dan Yuna.
"Siang Leona," sapa Pedho.
"Siang Kak," sahut Leona. "Makan Kak," ajaknya.
Pedho tersenyum. Tatapannya tak beralih dari wanita cantik ini. Meski Leona belum menerima ungkapan cintanya. Tapi ia yakin bisa meluluhkan hati wanita ini nantinya. Leona akan jadi miliknya dan selamanya akan seperti itu.
"Kamu pesan apa?" tanya nya. "Ingat jangan makan yang pedas apalagi asam," ucap Pedho mengingatkan. Sebab Leona ini wanita yang keras kepala. Ia harus memantau makanan Leona.
"Iya Kakak," sahut Leona kesal. Pedho sama saja seperti Luiz yang cerewet sekali jika masalah makanannya.
"Ehem. Ehem." Yuna sengaja berdehem keras agar kedua orang itu menyadari kehadiran nya.
Andika hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala saja. Mereka berempat memang seperti sahabat yang sering menghabiskan waktu bersama. Kadang Luiz juga ikut bergabung jika tidak sibuk
"Umphhhhhh." Leona menutup hidung nya.
"Leona," ketiga orang itu langsung panik.
"Astaga, Leona kamu berdarah lagi," ucap Yuna dengan wajah paniknya.
"Bersandar sama aku saja," pinta Pedho
Leona mengangguk dengan wajah lemes nya. Tubuhnya sangat sakit seperti di tusuk-tusuk oleh benda tajam.
Pedho menyandarkan Leona di bahunya. Sementara Andika sibuk mengambil alat medis yang memang selalu dia bawa kemana-mana.
"Tahan yaaa Na," ucapnya menutup lobang hidung Leona agar darah nya berhenti keluar.
"Kak, sakit," lirih Leona.
"Kak, kita bawa saja Leona kerumah sakit," saran Yuna.
Pedho dan Andika mengangguk. Pedho langsung mengangkat tubuh Leona. Wanita itu meringgis kesakitan. Memang akan tiba waktunya bahwa penyakit ini akan mengalahkan dia dan membuatnya terbaring dalam waktu yang lama.
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi nya. Wanita itu tampak terdiam melihat betapa paniknya Pedho saat melihat wajah pucat Leona.
__ADS_1
"Apa dia kekasih Pedho?" tanya nya pada diri sendiri.
Wanita tersebut menghela nafas panjang. Harapannya seperti pupus, ketika pulang ia sudah mendapati lelaki yang ia cintai bersama wanita lain. Dia menunduk lemah, nafsu makan nya seketika berkurang.
"Pedho, apa kamu tidak rindu aku? Apa kamu tidak ingat kalau aku adalah wanita yang menemani masa-masa sulit kamu?" gumam nya.
Ia melamun cukup lama. Makanan yang ada diatas meja hanya sebagai panjangan yang menemani nya duduk. Ia hanya makan beberapa sendok saja, ketika melihat kedatangan Pedho semua nafsu makan itu hilang.
"Tessa," panggil seorang wanita.
Dia menoleh. "Ehh Tasya," balas nya.
"Kamu sudah lama datang?" tanya sambil duduk dan bergabung dengan wanita tersebut.
"Lumayan," jawab nya tersenyum. "Hem, bagaimana hubungan mu dan Pedro?" tanya Tessa penasaran.
Tessa Ramdhani Lestaluhu, wanita cantik yang berprofesi sebagai model ternama pada masa nya. Dia adalah mantan kekasih Pedho yang memilih pergi meninggalkan lelaki itu dan memperjuangkan karier nya. Dia juga sahabat baik Tasya, mereka berteman sejak duduk dibangku sekolah menengah atas. Kedua nya sangat jarang bertemu, karena Tessa yang sibuk dengan karier nya sehingga tak memiliki waktu untuk mengunjungi sahabat nya tersebut. Tessa juga pernah menjalin hubungan dengan pria lain di belakang Pedro.
Tasya menghela nafas panjang, "Entahlah, Pedro semakin menjauh," jawab Tasya putus asa.
"Menjauh?" ulang Tessa.
Tessa sangat tahu bagaimana cinta nya Pedro pada Tasya. Bahkan dulu ketika mereka sama-sama duduk dibangku sekolah, Pedro menjadikan Tasya satu-satunya wanita yang ia cintai dan rela menentang kedua orang tua nya.
"Hufh, Pedro sudah menikah," ucap Tasya berat. "Tapi sekarang sudah bercerai," sambungnya.
"Jadi, Pedro sudah menikah?" tanya Tasya setengah tak percaya.
"Iya," jawab Tasya.
Tessa terdiam. Begitu banyak hal yang dia lewatkan selama tidak kembali ke Indonesia.
"Apa Pedho sudah menikah?" tanya Tessa mengalihkan perbincangan, ia masih penasaran siapa wanita yang bersama Pedho tadi. Mereka tampak tak biasa, ada kedua nya seperti memiliki sesuatu.
Tasya menggeleng, "Belum," sahutnya.
Kedua wanita itu masih saling bercengkrama satu sama lain. Sudah lama tak bertemu tentunya banyak cerita yang terlewatkan. Dulu, saat masih sama-sama menjadi kekasih dari lelaki yang mereka cintai, kedua nya sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar bertukar cerita.
__ADS_1
Bersambung....