
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
Leona duduk dimeja makan untuk sarapan pagi sambil menunggu Yuna. Hari ini dia akan melakukan pemeriksaan ulang sebelum Kemoterapi selanjutnya.
Hari ini juga kedua orang tua nya akan kembali ke Indonesia. Dan Leona akan membahas perceraian nya bersama Pedro. Sudah cukup sampai disini. Ia tak sanggup hati nya di poligami. Bagaimana pun ia punya hati. Hatinya akan sakit bila diperlakukan tak adil seperti ini.
Pedro dan Tasya juga menuju meja makan. Tasya tersenyum licik. Dengan manisnya Tasya malah memeluk lengan Pedro, ia ingin tunjukkan pada Leona bahwa Pedro adalah milik nya dan tidak ada yang boleh merebut lelaki itu dari pelukannya.
"Pagi Leona," sapa Pedro sambil memaksakan senyum. Sejujurnya ia tak nyaman saat Tasya memeluk lengannya seperti ini.
Leona mengangkat pandangan nya. Ia menatap Tasya yang memeluk lengan Pedro, seolah menandakan bahwa Pedro adalah miliknya yang tak bisa disentuh oleh siapapun.
"Pagi," balas Leona. Nafsu makannya tiba-tiba hilang.
Pedro dan Tasya duduk di kursi dan ikut sarapan bersama Leona.
"Sayang, biar aku yang olesi roti nya yaaa," ucap Tasya manja sambil mengambil dua lembar roti.
"Tidak perlu Tasya, aku bisa sendiri," tolak Pedro tak enak hati.
"Tidak apa-apa Sayang," senyum Tasya. Tasya mulai jengkel dengan sikap Pedro yang tiba-tiba dingin padanya. Biasanya lelaki ini akan bersikap manja.
Leona sadar betapa menyedihkannya ia. Mencintai seseorang yang tidak mencintainya sama sekali. Ia mengira perlahan bisa meluluhkan hati Pedro. Padahal ia sudah tahu bahwa hati Pedro takkan bisa menjadi miliknya. Pedro bukan tercipta untuknya dan Leona harus menelan pil pahit bahwa cinta yang selama ini ia perjuangkan tak ingin memiliki nya.
"Na," panggil Pedro.
"Iya," wanita itu tetap tersenyum meski hatinya pedih. "Kenapa?" tanya Leona. Kebar-baran nya akan hilang jika berhadapan dengan Pedro.
"Daddy dan Mommy datang ya hari ini ke Indonesia?" tanya Pedro memulai pembicaraan dengan Leona. Sebab ia tak nyaman dengan Leona yang ingin.
"Iya Pedro dan....." Leona menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Dan apa Na?" tanya Pedro penasaran. Ia menunggu kelanjutan dari ucapan Leona.
Sementara Tasya tenang-tenang saja. Namun dalam hatinya ia sudah menyumpahi Leona. Tasya iri dengan kehidupan Leona yang lebih baik dari dirinya. Leona terlahir dari keluarga kaya raya, memiliki segalanya kecuali cinta Pedro. Sedangkan Tasya, terlahir dari keluarga miskin yang tak memiliki apapun. Untung saja ia pintar dan cerdas di bidang akademik sehingga ia bisa kuliah dengan beasiswa penuh.
"Aku mau pisah Pedro," ucap Leona menatap Pedro.
Deg.
Pedro menatap Leona tak percaya. Tanpa sadar roti ditangannya sampai jatuh kembali kedalam piring.
Sedangkan Tasya mulutnya terbuka lebar. Ia menatap Pedro dan Leona bergantian.
"Maksud kamu?" Pedro menatap Leona lekat.
Wanita itu malah santai-santai saja sambil melanjutkan kembali makannya, seolah tak terjadi apapun padanya.
"Na, jawab aku. Maksud kamu apa? Pisah apa Na?" cecar Pedro masih tak mengerti dengan keputusan dari Leona.
"Sayang, kamu tidak mengerti bagaimana sih?" Tasya ikut bicara.
"Tapi_"
"Cepat Tasya sebelum aku marah," bentak Pedro.
Tasya menatap Pedro tak percaya. Selama hubungan mereka kurang lebih delapan tahun tidak pernah Pedro membentaknya dan ini adalah pertama kali nya Pedro bersikap kasar padanya.
"Kamu jahat," Tasya berdiri dan menatap Leona tajam sebelum akhirnya ia melenggang pergi.
"Na, maksud kamu tadi apa?" tanya Pedro lembut sekali lagi ia ingin memastikan.
Leona menghela nafas panjang. "Pedro, aku mau kita pisah," sahut Leona sekali lagi penuh penekanan. Apakah Pedro tahu saat ia mengucapkan kata pisah, hatinya teriris sakit seperti ditusuk oleh jarum-jarum yang melubangi nya.
__ADS_1
Pedro menggeleng. "Tapi kenapa Na?" tanya Pedro menatap Leona dalam.
"Harusnya kamu tanya sama hati kamu Pedro, kamu harusnya paham. Istri mana yang kuat melihat suaminya membawa wanita lain ke rumah mereka. Kamu masih bilang kenapa? Apa kamu sadar Pedro, apa yang sudah kamu lakukan sama aku? Kamu tidak punya hati. Selama ini aku cinta sama kamu tulus tanpa alasan apapun. Kamu pernah bilang untuk menyerah dan pergi meninggalkan kamu. Sekarang aku mau pergi, kamu malah bilang kenapa? Kamu tidak merasa salah sama sekali Pedro!" Leona menggeleng saja.
"Na," Pedro berdiri dari duduknya.
"Pedro, seperti nya hubungan kita memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Aku lepaskan kamu untuk Tasya. Karena dia yang kamu cintai," Leona menyeka air matanya. "Aku manusia biasa Pedro. Aku bukan malaikat apalagi Tuhan. Aku sudah terlalu banyak menahan sakit selama ini. Aku tidak mau merasakan nya lagi," ucap Leona.
"Leona, ma-maaf," suara Pedro tercekat.
Leona berdiri sambil mengambil tas nya.
"Sampai bertemu dipengadilan Pedro,"
Lalu wanita itu beranjak dan pergi meninggalkan Pedro yang menunduk lemah di meja makan.
Pedro menggeleng tidak mau. Ia tidak tahu kenapa ia tidak bisa melepaskan Leona. Ia tidak tahu. Hatinya sakit ketika melihat Leona dingin padanya.
'Aku pernah sehangat mentari pagi memelukmu dibawah cakrawala. Namun kau mendiamkan ku hingga membeku seperti salju yang bertebaran di kota New York,' batin Leona menyeka air matanya.
Tidak lama Yuna datang menjemput wanita itu. Leona memang belum bisa membawa mobil sendiri. Badannya masih bergetar efek dari kemoterapi itu.
"Pagi Cin_" kening Yuna langsung berkerut ketika melihat wajah Leona yang basah. "Na kamu kenapa?" tanya Yuna heran.
"Jalan Yun," suruh Leona tanpa menjawab pertanyaan sahabat nya itu.
"Iya Na," Yuna menjalankan mobilnya. "Na, apa yang terjadi? Kamu habis menangis?" cecar Yuna
"Aku pikir melepaskan Pedro semudah yang aku katakan Yun. Ternyata aku keliru, saat mengucapkan kata pisah saja. Kenapa rasanya sakit sekali?" lirih Leona mengusap pipi nya
"Na," tangan Yuna yang satu mengenggam tangan Leona. "Kamu yang kuat yaaa. Aku yakin nanti kamu akan bisa lepasin Pedro. Aku paham perasaan kamu sekarang," ucapnya menenangkan sahabat nya itu.
__ADS_1
Leona mengangguk. Leona ingin menjalani kisah yang seimbang dengan Pedro. Perasaan yang terbalas. Bukan rindu yang terhempas lalu kandas. Namun, semua kini akan berakhir dengan sebuah perpisahan. Leona, akan mencoba hidup tanpa Pedro. Melepaskan lelaki itu untuk kebahagiaan lain. Tak apa ia terluka, asal Pedro bisa bahagia. Tak apa batin nya terluka asal Pedro tidak apa-apa. Bukankah level mencintai tertinggi adalah ketika mampu melepaskan seseorang demi kebahagiaan nya? Kata-kata itu terdengar pesimis dan menyerah tapi Leona tak bisa lagi memperjuangkan cinta yang dari dulu memang tak menginginkan ia ada
**Bersambung....**