
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
"Mama kenapa?" tanya Alexander duduk disamping istrinya. Dia heran melihat wajah wanita itu yang tampak kusut dan kesal.
"Tidak," ketus Anjani.
'Aku tidak akan biarkan Pedho dan Leona bersatu. Pedho tidak boleh bahagia bersama Leona,' ucap Anjani dalam hati.
"Tessa datang lagi Ma?" Alexander menatap istrinya curiga. Dari awal, Alexander tidak menyukai mantan kekasih Pedho itu. Tessa wanita yang licik dan selalu melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau.
"Papa tahu dari mana?" Anjani sudah ketar-ketir apalagi saat melihat tatapan curiga suaminya.
"Dari Pedho," jawab Alexander. "Apa dia punya rencana untuk menganggu Pedho, Ma?" tanya Alexander lagi.
Anjani menelan salivanya, "Mana Mama tahu Pa. Mama saja tidak tahu kalau Tessa datang ke Indonesia," sangkal Anjani berusaha untuk tak terlihat gugup didepan suaminya.
Alexander mengangguk, "Mama jangan macam-macam. Apalagi kalau mau mendekatkan Pedro dengan Leona. Papa tidak akan biarkan itu terjadi," ucap Alexander memperingatkan. Alexander tahu siapa istrinya ini, wanita berambisi yang memiliki misi akurat agar keinginan nya terpenuhi.
Anjani memutar bola matanya malas, "Lagian kenapa sih Pa, kalau Pedro dan Leona kembali? Pedro juga sudah mencintai Leona," ucap Anjani yang membela anak bungsunya itu.
"Mama jangan lupa, kalau Pedro itu yang sudah meninggalkan Leona," jelas Alexander penuh penekanan.
"Tapi 'kan Leona yang mengugat Pedro cerai Pa," sahut Anjani masih keukeh membela anak kesayangan nya itu.
"Oh jadi maksud Mama ini semua salah Leona?" Alexander geleng-geleng kepala melihat cara berpikir istrinya ini. "Kalau Mama yang ada diposisi Leona bagaimana? Mama menikah dengan Papa tapi Papa malah mencintai wanita lain dan menjalin hubungan secara terang-terangan didepan Mama. Bagaimana perasaan Mama?" tukas Alexander menatap istrinya tajam
"Papa," renggek Anjani manja.
Sampai kapanpun ia tidak akan rela jika suaminya mencintai wanita lain. Apalagi dengan terang-terangan menjalin hubungan didepan nya.
"Kalau Mama tidak rela, begitu juga dengan Leona, Ma," sambung Alexander. "Sudahlah, buang pikiran aneh Mama itu." Alexander berdiri dari duduknya. Lelaki paruh baya itu berjalan menuju ruang santai di lantai dua.
__ADS_1
Sementara Anjani malah merenggut kesal. Meski ia tak sanggup jika berada diposisi Leona. Tapi ia tetap ingin Leona kembali pada Pedro.
Drt drt drt drt
Ponsel wanita paruh baya itu berdering. Dengan anggun ia mengambil ponsel diatas nakas.
"Hallo Tessa,"
Anjani tampak serius mendengarkan seseorang yang berbicara didalam ponsel nya. Dia manggut-manggut paham.
Wanita itu menutup telponnya dan mengambil tas lalu melenggang pergi dari sana.
.
.
.
Pedro melamun dan menatap kosong keluar dinding ruangannya yang transparan, di mana menampilkan selut beluk kepadatan kota Jakarta.
"Selamat siang Pedro,"
Seperti biasa, Tasya akan datang menganggu lelaki itu walau dirinya sudah di usir sejak lama dari hidup Pedro.
Pedro sama sekali tak merespon. Ia seperti tak mendengar sapaan Tasya atau bahkan tak mau tahu dengan kedatangan wanita yang pernah ia cintai tersebut.
"Sayang, aku bawakan kamu makan siang," seru Tasya menunjukkan kotak nasi ditangannya dengan bangga.
Lagi, Pedro masih diam. Menoleh pun lelaki itu enggan. Ia terlalu asyik dengan lamunan nya. Lamunan yang membawa ia pada masa lima tahun yang lalu. Ia tak menyangka jika hari itu ketika dirinya pulang kerumah, malah menjadi penggantin pengganti sang kakak, Pedho.
Saat itu, Pedro membenci pernikahan nya. Membenci Leona yang sudah sah menjadi istrinya. Dengan terang-terangan ia mengeluarkan kata-kata yang tak seharusnya didengar Leona. Menyuruh wanita itu pergi dan memilih jalannya sendiri. Namun, Leona masih bertahan selama lima tahun. Berharap cinta yang ia nantikan akan memiliki nya suatu hari ini. Dan siapa sangka, cinta yang dia harapkan menjadi pelabuhan terakhir perasaan nya, malah hilang, pergi dan terlupakan.
__ADS_1
"Pedro," panggil Tasya sekali lagi.
Pedro masih tak menjawab. Melirik saja tidak. Tasya seperti makhluk kasat mata yang tak terlihat.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?" tanya Tasya penuh amarah. Dia sudah lelah terus membujuk Pedro. "Sadar Pedro kalau Leona tidak akan pernah kembali lagi padamu. Dia sudah membuangmu," tegas Tasya.
Pedro membalas tatapan wanita itu dengan tajam dan penuh kebencian.
"Harusnya kamu juga sadar Tasya bahwa aku tidak akan pernah kembali kepadamu lagi," jawab Pedro. "Sekarang kamu keluar dari ruangan ku. Berhenti menganggu ku Tasya," murka Pedro.
Selama ini Pedro cukup sabar dan menahan emosinya. Tasya masih dengan tak tahu dirinya memaksa tinggal bersama Pedro. Padahal sudah diusir puluhan ribu kali dan yang paling mereka bukan lagi sepanjang kekasih hati.
"Kemasi semua barang-barang kamu dan pergi dari rumah ku," usir Pedro.
Hati Tasya bagai teriris ribuan pisau tajam. Air mata wanita itu luruh ketika mendengar bentakan Pedro yang memekik ditelinganya. Tak Tasya dapatkan lagi tatapan cinta yang dulu menatap nya dengan damba. Kini hanya kebencian yang tergambar jelas di sorot mata Pedro padanya.
Tasya menyeka air matanya. Dia hampir jantungan mendengar teriakkan lelaki yang masih ia cintai tersebut. Kenapa cinta berakhir seperti ini? Tak pernah ada dibenak Tasya jika ia dan Pedro akan berakhir dengan cara saling menyakiti satu sama lain.
"Maaf Pedro," Tasya menunduk. Lalu wanita itu berbalik dan melenggang keluar dari ruangan Pedro.
Pedro terduduk kembali dikursi kebesarannya. Tak ada rasa cinta yang tersisa untuk Tasya. Semua perasaan itu hilang bersama penghianatan yang wanita itu berikan padanya.
"Arghhhhhhhhhhhhh." Pedro mengusar rambutnya dengan kasar.
Lelaki itu menyandarkan punggungnya lelah. Sangat lelah. Patah hati ternyata sangat menyakitkan. Membuat seluruh jiwa rapuh dan tulang terasa patah-patah.
"Leona," lirihnya memejamkan mata. "Kenapa disaat aku mencintaimu, kamu malah pergi dan memilih lelaki lain? Tidak adakah lagi rasa cinta yang dulu menggebu untukku?" ucapnya memegang dadanya, menahan sakit.
Mengingat Pedho yang menggendong Leona saat masuk kedalam mobil membuat luka di hati Pedro semakin perih. Sekarang, ia merasakan seperti yang Leona rasakan dulu. Hal itu sering ia lakukan bersama Tasya. Bermesraan didepan Leona tanpa peduli perasaan nya Leona yang mungkin saja sakit melihat perbuatan kejam Pedro.
"Maaf, Leona," setetes butiran tanpa warna itu keluar dari kelopak matanya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like Komentar dan vote ya guys .