
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
Leona memutuskan pindah ke rumah Luiz, sebelum sidang perceraian nya dengan Pedro selesai di proses. Dia tidak bisa bertahan lama di rumah yang memberikan tekanan batin padanya.
"Mau Kakak temani?" tawar Luiz.
"Tidak Kak, aku ditemani Yuna saja," sahut Leona.
"Ya sudah kamu hati-hati. Kakak tunggu dirumah," ucap Luiz mengusap kepala adiknya dengan sayang.
"Iya Kak."
Luiz menatap punggung adik nya yang masuk ke dalam mobil. Wajah pria itu langsung berubah dingin. Tatapannya tajam.
"Aku akan menghancurkan mu Pedro. Seperti kamu menghancurkan hati adik ku," ucap Luiz dengan tangan yang mengepal kuat.
"Bagaimana Dika?" ketiga nya kembali masuk kedalam rumah mewah Luiz. "Pengobatan apa yang akan Leona jalani selanjutnya?" mereka bertiga duduk serentak di sofa.
"Kemoterapi," jawab Andika. "Tapi kita harus menunggu kondisi Leona stabil. Saat ini, sel kanker sudah menyebar di bagian syaraf. Kita harus secepatnya mengambil tindakan," jelas Andika dengan wajah serius.
"Apa kita bawa saja Leona ke luar negeri?" sambung Pedho ikut menimpali. Lelaki itu tampak gusar dan tak tenang. Tidak akan dia biarkan lagi Leona menderita. Tidak apa wanita itu tak mencintai nya. Pedho akan tetap mencintai Leona sebagaimana perasaan nya yang sudah memekar sejak awal.
"Aku sedang menghubungi beberapa teman ku yang memiliki relasi dokter spesialis kanker," jawab Andika.
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Pedho. Dia mencoba tenang dan tidak panik. Dia percaya, Leona wanita yang kuat dan bisa melewati ini.
"Sidang perceraian Pedro dan Leona, bagaimana?" tanya Pedho lagi.
Luiz menatap Pedho curiga. Nada pertanyaan Pedho, terdengar seperti tak sabar. Apakah ada hal yang tidak Luiz ketahui tentang Leona?
"Sedang dalam proses. Kemungkinan satu atau dua Minggu, perceraian mereka akan segera masuk tahap sidang," sahut Luiz.
Pedho manggut-manggut. Pedho mungkin egois karena bahagia mendengar perceraian Pedro dan Leona. Tapi ia sendiri tak bisa menetralisir emosi nya jika bersangkutan dengan Leona. Bagi Pedho, apapun yang bersangkutan dengan Leona. Ia tak bisa mengabaikan hal-hal penting tentang wanita itu.
__ADS_1
.
.
.
Leona dan Yuna turun dari mobil. Leona menghela nafas panjang. Ia menatap rumah mewah yang ia tinggali selama lima tahun terakhir. Sebentar lagi, rumah ini akan menjadi tempat asing bagi nya. Walau hati terasa berat pergi dari rumah mewah tersebut. Tapi tak ada pilihan lain lagi, ia harus memilih agar ia tak terjebak dalam cinta yang tak mungkin memiliki nya.
Leona masuk bersama Yuna. Langkah keduanya tampak lebar memasuki pekarangan rumah mewah Pedro dan Leona. Rumah yang sebentar lagi akan menjadi kenangan kisah perjuangan Leona memperjuangkan rumah tangganya.
"Leona," Pedro menyambut kedatangan sang istri.
"Kenapa Pedro?" tanya Leona santai. Tapi tidak dengan hatinya.
"Ini surat apa? Kenapa ada surat panggilan dari pengadilan?" cecar Pedro. Ia berusaha tenang dan kuat, siapa tahu Leona sedang bercanda?
"Pedro, seperti yang sudah aku katakan kemarin. Aku ingin kita berpisah. Aku tidak bisa lagi memperjuangkan cinta yang ada dihatiku," jelas Leona. Suaranya mulai serak, menahan lelehan bening yang mungkin sebentar lagi anak menganak. Lalu keluar dan membasahi pipi mulus nya.
Leona tersenyum mengejek. Lelaki ini masih bertanya kenapa? Apakah Pedro belum sadar apa yang sudah dia lakukan pada Leona? Sikap dan tingkah lelaki itulah yang membuat Leona menyerah pada pernikahan mereka.
"Pedro, aku rasa kamu paham kenapa aku meminta pisah? Bukankah selama ini kamu yang ingin aku pergi? Bukankah selama ini kamu menyuruhku menyerah?" ujar Leona menatap Pedro.
Yuna ikut geram dengan sikap Pedro yang seperti membuat dirinya tak bersalah. Harusnya lelaki itu sadar bahwa, dia telah menyakiti hati istrinya.
"Leona, aku minta maaf," ucap Pedro sungguh-sungguh. Dia berharap Leona mempertimbangkan kembali masalah perpisahan mereka.
"Aku sudah memaafkan mu, Pedro. Tapi maaf, aku pamit. Sampai menunggu sidang, aku akan tinggal bersama Kak Luiz," ucap Leona berpamitan.
Pedro mematung ditempatnya. Ia menatap Leona yang berjalan melewati dirinya. Ia mendengar tak percaya ketika Leona ingin pergi dari rumah ini.
Leona masuk kedalam kamarnya bersama Yuna, untuk mengambil beberapa barang penting miliknya.
Leona duduk dibibir ranjang. Kepedihan telah membawa jari-jarinya mengepal di sprei kasur yang ia duduki. Tidak ada lagi yang Leona takutkan akan kehilangan Pedro.
__ADS_1
"Na,"
Yuna merengkuh tubuh wanita itu kedalam pelukannya sambil mengusap punggung Leona. Yuna tahu tidak mudah melepaskan seseorang yang begitu di cintai.
Leona masih terdiam tanpa membalas pelukan Yuna. Air mata yang luruh menandakan bahwa ia sangat terluka. Hatinya bagai teriris pisau lalu di bubuhi cuka yang menjadikan nya perih.
"Aku yakin kamu bisa lewati ini, Na," ucap Yuna. Dia juga merasakan keperihan yang menyeruak dihati Leona.
Leona memejamkan matanya meresapi luka yang mengangga lebar di dalam sana. Cinta membawa luka yang tak pernah ia bayangkan. Terlalu dalam dan kejam. Harapannya setelah memutuskan pergi, ia berharap membawa pedih hatinya lari. Meski ia tahu lari dari kenyataan, bukanlah hal yang akan mengobati. Namun, bertahan dengan rasa sakit ditempat yang sama, melihat orang yang sama, seseorang yang tidak pernah memiliki perasaan yang sama seperti yang ia rasakan. Bukankah itu akan menimbulkan sesak dan rasa pilu?
Leona melepaskan pelukan Yuna, lalu mengusap pipinya dengan kasar.
"Yun, ayo bantu aku," Leona berdiri lalu mengambil kopernya.
Yuna membantu Leona. Meski sesekali wanita itu melirik sahabat nya. Yuna tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, ia lega karena akhirnya Leona melepaskan Pedro dan memilih jalan ceritanya seorang diri.
'Pedro, aku akan belajar melupakan rasa sakit yang kamu ciptakan. Belajar ikhlas menjalani hidupku tanpa kamu. Sebab aku tahu, cinta di hatiku takkan bisa mati walau kita berpisah dan memilih saling pergi. Aku tak benar-benar rela melepaskanmu. Namun, aku sadar menahanmu bukan hal yang bisa aku lakukan dengan mudah. Mungkin aku bisa saja memiliki raga mu tapi hati mu takkan bisa menjadi milikku,' ucap Leona dalam hati dan menyeka sudut matanya.
Setelah memasukkan semua barang-barang nya. Leona mengajak Yuna pergi dari rumah Pedro.
"Nyonya," panggil Bik Lian.
"Bik," Leona berhambur memeluk Bik Lian, assisten rumah tangga yang sudah menemaninya sejak ia kecil.
"Nyonya mau pergi kemana?" tanya Bik Lian melepaskan pelukan Leona.
"Maaf Bi, aku harus pergi. Maaf yaaa Bi, sudah merepotkan Bibi selama ini," ucap Leona terisak. Andai dia bisa membawa Bik Lian tinggal bersamanya, pasti Leona sudah mengajak wanita paruh baya itu.
"Nyonya, jangan tinggalkan Bibi,"
Bersambung....
Jangan lupa dukungannya guys...
__ADS_1