
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
**
"Bagaimana bisa dia diterima?" gerutu yang lainnya saat Rere keluar dari ruangan wawancara.
"Iya. Pasti dia menggoda Tuan Pedro," tuding yang lainnya menatap Rere tak suka.
"Sabar Re. Orang sabar itu pasti kesal," ucap Rere menahan amarahnya. Jangan kan menggoda Pedro. Melirik pria itu saja, Rere tidak tertarik sama sekali.
"Benar itu. Aku curiga," sambung yang lainnya.
Rere langsung menatap mereka tajam. Ia bukan gadis yang mudah ditindas. Ia adalah preman kampus. Siapapun yang berani menganggunya. Takkan ia biarkan hidup tenang.
"Apa kamu bilang?" Rere langsung menarik kearah baju wanita yang satunya. "Coba ulangi lagi, aku tidak dengar," ucapnya mencengkram kuat leher baju wanita itu.
"A-ku tidak bilang apa-apa," sahut wanita itu ketakutan.
"Kamu pikir aku tuli, hah?" bentaknya terdengar menggema menariaki wanita itu.
"Heh, memang benar 'kan kamu menggoda Tuan Pedro sehingga kamu bisa diterima menjadi sekretaris nya?" sahut yang lainnya menatap Rere dengan senyuman mengejek
Rere mendorong wanita yang ia tarik kerah bajunya. Lalu ia menatap wanita yang mengatakan bahwa ia menggoda Pedro.
"Atau jangan-jangan kamu yang menggoda Tuan Pedro dan Tuan Pedro tidak tergoda sedikit pun," ledek Rere. "Sayang sekali. Wajah sudah tua, tapi belum laku. Sabar ya Mbak." Rere menepuk bahu wanita itu sambil mengucapkan kata sabar.
"Kamu..." wanita itu hendak melayangkan tamparan nya pada wajah Rere.
Namun secepatnya gadis itu menahan pukulan yang hendak mengenai wajahnya.
"Jangan berani-berani menyentuh wajahku." Dia meminting tangan wanita itu ke belakang.
"Awwwww." Wanita itu meringgis kesakitan.
Sementara temannya yang lain ketakutan. Mereka tak berani melerai atau ikut campur.
"Ampun," ucap wanita itu kesakitan. "Lepaskan tangan ku," mohonnya.
Rere mendorong tubuh wanita itu hingga terjerembab ke lantai. Ia tersenyum mengejek.
"Sekali lagi aku dengar kalian menuduh ku seperti itu. Ku pastikan besok kalian masuk rumah sakit," ancamnya.
Mereka langsung menunduk ketakutan. Mereka adalah wanita-wanita yang tidak lulus dalam seleksi wawancara. Tentu saja mereka iri pada Rere yang bisa lolos dengan penampilan biasa saja. Berdandan tidak. Gaya nya seperti lelaki. Rusuh lagi. Apa nya yang menarik. Sedangkan mereka bersusah payah berpenampilan cantik tapi tidak juga diterima.
Rere melenggang pergi setelah membuat keributan. Kalau dikampus tidak ada yang berani mencari masalah dengannya, baik laki-laki mau pun perempuan. Ia tidak segan-segan menghajar orang yang menuduhnya sembarangan.
__ADS_1
Pedro menggeleng melihat gadis itu. Ia mengintip di CCTV yang memang terpasang disana.
"Apa aku sudah salah menerima gadis aneh itu?" tanya nya pada diri sendiri sembari mendelik ketika melihat Rere meminting tangan lawannya.
"Huffh semoga saja dia tidak berbahaya." Pedro jadi bergidik ngeri membayangkan Chika mengajaknya baku hantam.
"Semoga saja dia tidak membuat kerusuhan nanti kalau suka bekerja," ucap Pedro.
Lelaki itu menutup laptop diatas mejanya. Dia akan makan siang seperti biasa bersama beberapa klien. Begitulah seputar kehidupan Pedro. Hanya pekerjaan dan tumpukan berkas. Dia memang menyibukkan dirinya dengan segala hal agar pikiran nya tidak selalu fokus pada Leona. Memang yang namanya melupakan bukan perkara mudah, apalagi merelakan seseorang yang pernah ada.
Namun, Pedro tak mau terjebak dalam perasaan masa lalunya. Dia mencoba menerima takdir yang memang menjadi jalan hidupnya.
.
.
.
"Sampai kapan kamu akan menginap disini?" ketus Shella menatap Rere jenggah.
"Yaellah Shel. Pelit amat sama teman sendiri. Tunggu aku gajian baru pindah," sahut Rere berbaring di kasur empuk sahabat nya itu.
"Lagian kamu itu ada-ada saja. Orang kaya malah milihnya tinggal di kost. Disini itu tidak enak Rere. Lebih baik kamu kembali kerumah kasihan kedua orang tua kamu," omel Shella sambil menggeleng kepala. Ia sedang merapikan baju-baju nya yang baru saja ia angkat dari jemuran.
Shella menggeleng saja. "Anak orang kaya seperti mu mana bisa mandiri. Kamu tahu jadi orang miskin itu tidak enak," sindir Shella.
"Aku belum tahu makanya aku ingin merasakan nya," sahut Rere santai sambil tersenyum. Ia sedang menyiapkan energi nya untuk masuk bekerja besok. Semoga besok ia bisa menjalani hari pertamanya bekerja dengan baik.
Shella mendelik. Padahal Rere anak orang kaya. Ayah dan ibu nya pengusaha ternama serta memiliki kedua kakak laki-laki dan perempuan yang juga sukses. Tetapi karena kenakalan dan ia menolak di jodohkan akhirnya gadis itu memilih keluar dari rumah serta menolak fasilitas yang kedua orang tua nya berikan.
"Shell, besok pinjam dapur ya. Aku mau bangun pagi-pagi buat masak. Aku janji deh kalau sudah gajian, aku akan ganti beras sama bahan dapur mu," ujar Rere menatap sahabat nya sambil tersenyum.
Shella mendengar tak percaya. Pasalnya Rere tidak tahu masak sama sekali. Pernah gadis itu masak nasi goreng untuk sarapan pagi yang ada rasanya asin seperti garam.
"Yakin kamu mau masak?" tanya Shella ragu.
"Yakin dong. Soalnya semua makanan Boss aku yang tangani," ucapnya bangga.
"Boss, sebenarnya kamu di terima dimana sih?" tanya Shella penasaran. "Dan bagian apa? Kok gaji kamu besar sekali?" sambung Shella penasaran. Gaji tiga belas juta perbulan itu sangat luar biasa besar bagi Shella yang orang biasa.
"Panetta Group jadi sekretaris Tuan Pedro," jawab Rere.
"What's?" pekik Shella terkejut hingga air liur gadis itu mengenai wajah Rere yang tengah berbaring.
"Astaga Shella." Rere mengusap dadanya.
__ADS_1
"Salah. Usap telingamu," ralat Shella.
"Ehh iya salah." Lalu gadis itu mengusap telinganya dan mengelap air liur Shella yang menempel diwajahnya. "Kamu makan apa sih, kenapa bau sekali? Huwekk." Shella sampai duduk mengelap tangannya di baju Arnetta.
"Rere," pekik Shella. "Kamu sembarangan banget lap-lap di baju aku," omel nya
"Ck, salah kamu. Kenapa ngomong sampai keluar air liur begitu. Mana bau lagi," sergah Rere. Ia mana mau kalah. Kalau pun ia salah, ia takkan mau kalah.
"Re, serius kamu bekerja di Panettha Group dan jadi sekretaris nya Tuan Pedro?" ulang Shella sekali lagi. Siapa tahu dia salah dengar.
"Yoiiii," sahut Rere singkat.
"Wahhh beruntung banget kamu Rere bisa dekat sama CEO tampan itu. Ya walaupun duda!" seru Shella.
"B saja," sahut Rere ketus. Beruntung, yang ada dia malah buntung. Jika bukan karena demi kelangsungan hidupnya, ia takkan mau bekerja di perusahaan Pedro.
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan vote ya guys...
Kita skip dulu Leona sama Pedho. Kita bakal tumpas masalah Luiz, Andika dan Pedro...
Bagaimanakah nasib Tasya sekarang???
Siapakah jodoh Tasya????
Yuk simak kisah mereka hanya disini.....
Love kalian banyak-banyak....
Mampir yuk ke karya baru author....
Demons Lucifer and The Power of Chi (Yang suka fantasi boleh mampir ya guys)
Terjebak pernikahan dengan pria beristri (Banyak misteri disini)
Love is Hurt (Poligami Pernikahaan) Yang suka baca rumtang boleh mampir guys...
Follow juga akun author....
FB ; Fitriani Yuri Kwon
IG ; _fitrianiyurikwon_
TikTok; @fitrianiyuri
__ADS_1