
Jika boleh menyesal maka aku sangat menyesal, tapi ku tahu sekedar menyesal takkan mengembalikan kondisi tubuhku.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dan tumor yang efektif menyelamatkan jutaan jiwa. Namun, dibalik itu kemoterapi juga memiliki efek samping yang beragam.
Efek kemoterapi bisa berbeda-beda pada setiap orang, termasuk tingkat keparahan nya. Efek samping ini muncul karena obat-obatan tersebut memiliki tidak memiliki kemampuan untuk membedakan sel kanker dan sel sehat.
Seorang wanita tengah duduk dibrangkar rumah sakit. Didepannya ada meja kecil, dimeja itu ada selembar dan pensil.
Jari lentiknya menari dengan lihai, wajahnya tampak serius seakan tak ingin diganggu oleh siapapun.
Rambut panjang yang dulu menjadi kebanggaan nya, kini hanya kepala plontos yang terlihat polos. Kaca mata tebal minus juga bertengger dihidung mancungnya, dia yang tak pernah memakai kacamata sebelumnya diharuskan memakai benda itu.
"Sayang." Tangannya terhenti ketika merasa ada yang memanggil namanya dan menoleh kearah pintu masuk.
Dia tersenyum hangat lalu meletakan pensil dan kertas tersebut.
"Leona," Yuna langsung berlari kearah arah Leona. Dia naik keatas ranjang wanita yang tengah sakit itu dan memeluk sang sahabat "Rindu," renggek Yuna bergelut manja dipelukkan Leona.
Leona mengusap punggung Yuna dengan sayang. Sudah beberapa hari sejak kemoterapi dia tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Leona sempat koma beberapa hari akibat suntikan hormon yang masuk kedalam tubuhnya.
"Cih, kamu bicara rindu seperti baru bertemu saja," sindir Leona melepaskan pelukan sahabat nya itu.
"Ck, bisa tidak jangan membuatku mengomel?" protes Yuna kesal dengan mengerucutkan bibirnya lalu melipat kedua tangan didada.
"Tidak bisa. Karena aku sungguh menyukai wajah kesalmu itu yang terlihat imut dan juga menggemaskan," Leona tergelak sendiri. Pedho, Luiz dan Andika geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum gemes mendengar percakapan kedua wanita yang sama-sama berisik itu.
"Leona,"
Leona beralih pada kakaknya, "Kakak," sapa Leona tersenyum manis.
"Sini peluk Kakak. Ternyata kamu sudah besar yaa!" seru Luiz
"Ck, Kakak pikir selama ini aku kecil apa?" protes Leona membalas pelukkan Luiz.
"Kamu itu hampir membuat Kakak mati jantungan," gerutu Luiz.
"Jangan mati dulu Kakak," sahut Echy melepaskan pelukannya dan tersenyum menampilkan rentetan gigi putihnya
__ADS_1
"Cepat sembuh ya Sayang. Jangan membuat Kakak panik lagi." Luiz mengecup kening Leona dengan sayang.
"Iya Kak," balas Leona tersenyum. Ia bersyukur memiliki kakak seperti Luiz yang begitu menyanyangi nya dan memperlakukan ia bak ratu.
"Leona, aku punya sesuatu,"
"Apa Yun? Jangan kasih bom bunuh diri. Aku belum mau mati. Rugi belum menikah lagi!" celetuk Leona sambil tertawa lebar menyembunyikan ketakutan yang ada didalam dadanya.
Kelly mendengus kesal, "Jangan asal bicara," ketus Yuna kesal
Yuna mengambil wig dalam tas ranselnya. Wig yang dia beli untuk menutup kepala Leona. Agar warna rambut Leona bisa berubah-ubah.
"Ini untuk sahabatku!" seru Yuna menunjukkan wig dikepalanya dengan bangga.
Leona tersenyum, "Terima kasih sayangku. Cintaku," ucap nya menggoda Yuna.
"Cih, aku masih normal Na," Yuna berdecih jijik. Mereka berdua memang suka sekali saling memanggil dengan panggilan itu.
"Sini, biar aku pasangkan." Yuna memasangkan wig tersebut dikepala plontos Leona.
Luiz menahan tangis, saat ini kondisi Leona setelah kemoterapi benar-benar terlihat lemah. Bahkan adiknya itu terpaksa duduk dikursi roda karena tiba-tiba mengalami kelumpuhan dibagian kakinya.
"Ada satu lagi Cinta." Yuna menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda
"Apa sih Sayang?" Leona berlagak seperti orang tak sabar.
"Rasanya aku ingin muntah mendengar nama panggilanmu itu," ujar Yuna bergidik ngeri.
"Taraaaaaa." Yuna membuka wignya, Yuna memangkas rambutnya agar sama seperti Leona.
Leona terkejut melihat kepala Yuna yang juga tanpa sehelai rambut pun disana.
Wanita itu menutup mulutnya tak percaya. Matanya berkaca-kaca dan terharu.
"Yun,"
"Aku ingin nemanin mu. Jadi kamu tidak sendirian yang tidak ada rambutnya. Aku juga tidak ada rambut!" seru Yuna menyeka air mata Leona.
"Yun," rasanya Leona tak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara.
__ADS_1
Lelehan bening lolos dipelupuk mata Leona. Dia menarik Yuna ke dalam pelukannya. Memeluk sahabatnya ini dengan isakkan tangis. Leona tidak tahu jika Yuna sangat menyanyangi dirinya yang penyakitan ini. Sahabatnya itu rela mencukur rambutnya agar sama dengan nya.
"Terima kasih sayangku," ucap Leona memeluk Yuna.
"Cihh aku benar-benar jijik." Yuna melepaskan pelukannya sambil menatap Leona dengan kesal.
Leona tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua sama-sama tidak memiliki rambut. Yuna memang memangkas semua rambutnya agar sama seperti Leona.
Pedho dan Luiz juga terharu melihat persahabatan antara Leona dan Yuna. Keduanya bersyukur Leona memiliki sahabat seperti Yuna yang sangat menyanyangi Leona dengan tulus.
Sejak kemoterapi, kondisi Leona kembali melemah. Rambutnya rontok, sering mimisan, kehilangan nafsu makan, kepala sakit luar biasa, berat badan Leona juga menurun, sering mual dan muntah darah secara terus menerus, sesak nafas dan kelainan detak jantung atau anemia. Kulit Leona juga kering dan terasa begitu perih. Pendarahan, mudah memar, gusi berdarah dan juga mimisan. Sering terkena infeksi. Sulit tidur. Tidak jarang juga Leona mengalami gangguan psikologis seperti depresi stress dan cemas.
Efek kemoterapi membuat tubuh Leona rentan terhadap rasa sakit. Terpaksa ia harus tinggal ditempat menjijikan seperti rumah sakit.
Mata Leona juga infeksi dan membengkak, Yuna sempat menangis histeris mengira Leona sudah berubah menjadi vampir karena melihat penampilan nya.
Tak hanya itu Leona juga mengalami paru-paru basah, dia harus menjalani beberapa treatment agar daya tahan tubuhnya kuat.
"Na," sapa Pedho.
"Kakak," sahut Leona tersenyum manis. Pedho adalah lelaki yang mencintai nya dengan tulus. Namun, Leona belum bisa membuka hati untuk lelaki itu sepenuhnya.
"Ini buat kamu." Pedho memberikan sebuket bunga mawar berwarna putih pada Leona.
"Terima kasih Kak." Leona tersenyum sumringah lalu menghirup harum yang keluar dari bunga segar tersebut.
Pedho mengangguk dan tersenyum. Ia memperbaiki rambut palsu yang ada di kepala Leona.
"Ohh ya Kak Dika, kapan aku bisa pulang Kak? Aku bosan," ucap Leona sungguh. Rumah sakit seperti horor baginya. Apalagi bertemu jarum suntik dan obat-obat menyebalkan itu.
"Sampai kamu sembuh," jawab Andika tersenyum.
"Makanya cepat sembuh." Pedho dengan gemes menarik hidung mancung leona.
"Kakak," gerutu Leona memukul pelan tangan Luiz.
Ruang rawat inap Leona dipenuhi dengan canda dan tawa yang menggema. Suara kecerewetan dan candaan Leona dan Yuna paling berisik diantara ketiga pria itu.
Abraham dan Juliet belum mengetahui kondisi putrinya begitu juga dengan Alexander dan Anjani. Karena Leona meminta agar jangan memberitahu mereka.
__ADS_1
Bersambung