Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 99


__ADS_3

Bab 99


🏡 Back to the present 👉 (di kamar bu hani).


...........


"Mas, perasaan cintaku padamu hanya ada di masa lalu saja. saat ini aku hanya mencintai suamiku seorang, yaitu ka anung." ucap tegas bu hani, seraya mengibaskan tangan pak handoko yang berusaha menyentuhnya lagi.


"Itu gak mungkin! aku masih tak percaya kalau kau itu benar-benar telah mencintai anung dan melupakan aku. buktinya saja, liontin itu masih berada di lehermu. berarti tandanya kau itu masih mencintaiku hani." ucap pak handoko sambil menunjuk ke arah leher bu hani.


"Ucapan mu semuanya salah, mas! Liontin ini, masih ku pakai sampai sekarang. itu semua bukan karena aku masih mencintaimu, tapi...." sahut bu hani sedikit menerawang jauh.


"Sebenarnya waktu itu, saat aku mau menikah dengan ka anung. sekaligus ingin melupakan mu juga, mas. liontin ini ingin aku buang ke dalam jurang kasih. tapi pada saat itu ka anung melihatnya, lalu melarangku membuangnya. dia malah menyuruh ku untuk memakainya saja, sampai sekarang ini. padahal aku sudah tidak ingin memakainya lagi, karena liontin ini selalu saja mengingatkan tentang dirimu. jadi asal kau tau saja ya, mas. aku masih memakai liontin ini sampai sekarang, itu semua karena aku menuruti apa kata suamiku!"tegas bu hani.


"Jadi itu semua kau lakukan, hanya karena si anung brengsek itu! kurang ajar kau anung. karena dialah dulu aku bisa terpisah dengan dirimu, bahkan dia juga sudah berani merebut kau dariku hani. jadi, aku ta'akan membiarkan si anung itu hidup bahagia selamanya." ujar pak handoko sambil menyeringai.


"Tolong mas! jangan kau sakiti suami dan keluarga ku, ikhlaskan lah semua yang telah terjadi." mohon bu hani dengan sedikit terisak seraya mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Dengan mudahnya kau bisa berbicara seperti itu, tanpa memikirkan perasaan ku! asal kau tau saja hani, sekarang ini harta kekayaan ku jauh lebih banyak dari si anung suami sialan mu itu. aku Handoko Widjayanto bukanlah seorang laki-laki miskin yang yatim piatu seperti dulu lagi" seloroh pak handoko dengan bangga.

__ADS_1


"Sekarang ikutlah bersama ku hani, kita bangun kembali cinta kita yang sempat tertunda dulu. selama ini, tak ada satu wanita manapun yang mampu membuatku jatuh cinta, selain dirimu seorang. karena dulu aku sudah berniat hanya kaulah wanita satu-satunya, yang aku cintai dan sayangi sampai aku mati." tutur pak handoko seraya mencoba mengusap pipi bu hani.


"Jauhkan tanganmu itu dariku yanto!" hardik bu hani, lalu mengibaskan tangan pak handoko.


"Ternyata, kau memang sudah benar-benar berubah hani! jadi, aku harus pakai cara lain untuk mendapatkan mu kembali kedalam pelukan ku lagi." umpat kesal pak handoko.


Lalu sorot matanya, kini mulai berubah menjadi merah menyala seperti bara api. mulutnya juga mulai nampak berkomat-kamit, seolah sedang merafalkan mantra-mantra. dengan seketika, bu hani yang tadinya terlihat ketus dan marah, kini iya berubah jadi penurut kepada pak handoko. pandangan mata bu hani saat ini pun terlihat kosong, seperti orang yang terkena hipnotis.


Pak handoko pun langsung mengajak bu hani untuk keluar dari rumahnya. namun saat mau keluar dari rumahnya. jana yang terbangun, karena habis menuntaskan hajat kecilnya di kamar mandi dekat dapur. ia malah memergoki ibunya yang akan di bawa oleh pak handoko.


"Hey siapa kau! mau kau bawa kemana ibuku? "hardik jana meneriaki pak handoko.


Namun pak handoko tak menggubris teriakan jana tadi. ia malah terus saja berjalan, sambil menggendong bu hani yang tatapannya terlihat kosong di atas pundaknya. jana pun segera mengejar pak handoko yang akan membawa ibunya pergi. berkali-kali jana menarik-narik baju dan tangan pak handoko, bermaksud agar dia mau melepaskan ibunya. tapi sayangnya, pak handoko tak menggubrisnya sedikitpun.


"Dasar anak sialan! beraninya kau menggigit tanganku sampai berdarah."pekik pak handoko geram dengan tatapan matanya yang merah.


Pak handoko pun langsung mengangkat tubuh kecil jana, lalu melemparkannya ke dinding di ruangan tengah rumahnya. alhasil membuat jana memuntahkan banyak darah, serta dari kepalanya yang juga terlihat berlubang ,mulai mengalirkan darah segar. soalnya, pas tubuh jana di lemparkan ke dinding oleh pak handoko. ternyata di dinding itu, ada sebuah paku besar yang tertancap disana. makanya kepala jana menjadi berlubang, akibat tertancap paku besar itu. karena darah yang keluar begitu banyak, akhirnya jana pun meregang nyawanya.


Saat itu posisi rumah devin sangatlah sepi dan keadaan di sekitar juga sudah tengah malam. ditambah di rumah itu tidak ada sosok laki-laki pemberani, ada juga mang nano. tapi saat ini dia sedang tepar di teras depan, akibat di sirep oleh pak handoko saat mau memasuki rumah.

__ADS_1


Lalu anggota keluarga yang lainnya seperti, teh siti istrinya mang nano. ia juga sama terkena sirep yang di buat oleh pak handoko, makanya ia tidak mendengar suara keributan di tengah rumahnya. mungkin karena pak handoko tidak mengetahui tentang jana, makanya saat itu jana masih tersadar dan tak kena sirepnya.


Sedangkan anjani, dia sampai telat terbangun. di karenakan tadi dia sedang berada di alam mimpi, sedang berduel dengan iblis WILL WO si makhluk berjubah hitam. sosok makhluk halus yang begitu kuat dan menyeramkan, makhluk itu suka mengambil jiwa-jiwa yang tersesat.


Saat terbangun dari tidurnya, anjani sudah mendapati jana dalam keadaan tidak bernyawa.


"Jana adikku! bangun Jan." Isak tangis anjani pecah, sehingga membuat mang nano tersadar dan terbangun dari tidurnya. begitupun halnya dengan siti, karena mendengar jeritan anjani ia juga langsung terbangun dengan langkahnya yang gontai menuju ruang tengah rumah itu.


"Neng jani, ada apa ya ko teriak-teriak begitu? astaghfirullah si kasep! "pekik mang nano saat melihat kondisi jana yang bersimbah darah.


"Ada apa ya kang? ko tadi neng ngedenger non anjani teriak kenceng banget."tanya siti yang baru muncul, sambil mengucek-ngucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya.


"Masya allah jana! akang... den jana kenapa? ko bisa jadi kaya begini?" tanya siti kembali seraya terduduk lemas bersama anjani dan suaminya tepat di hadapan jenazah jana.


"Ibu! ibu ku kemana mang?"tanya anjani seraya celingak-celinguk kesana kemari.


"Bu hani, mungkin masih ada di kamarnya neng."jawab mang nano singkat.


Anjani pun segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju ke kamar ibunya, yang letaknya berada paling ujung di samping kanan ruangan keluarga. namun setelah anjani sampai disana, iya tak mendapatkan ibunya berada di dalam kamarnya. yang terlihat, hanya sebuah ruangan kamar yang amat berantakan, dengan barang-barangnya berserakan dimana-mana.

__ADS_1


****


Bersambung....


__ADS_2