
Bab 52
"Ibu...!!!" pekik karto dan Ki Romo diiringi tangisnya yang pecah bersamaan.
"Apa yang telah terjadi padamu, buk?" ucap lirih Ki Romo memandangi tubuh ibunya.
"Jangan tinggalkan aku, buk!" kata Karto sambil terisak memeluk ibunya.
"Ada apa ini? apa yang telah terjadi pada Bu asih!" tanya dokter muda berperawakan tinggi saat memasuki ruangan Bu asih.
"Gak tau dok! saat kami kembali, kondisinya sudah seperti ini." Jawab Ki Romo karena Karto masih sibuk dengan tangisan nya.
"Coba saya cek dulu, kondisi buk asih." ucap dokter itu menghampiri tubuh Bu asih.
Ki Romo pun langsung menarik Karto, yang kala itu masih terus memeluk dan menangis di tubuh ibunya. wajar saja Karto berprilaku seperti itu, karena dulu saat kondisi ibunya masih waras ia termasuk anak yang paling dimanja dan disayang oleh Bu asih.
Ya, mungkin karena Karto anak bontot kali, makanya ia diperlakukan seperti itu oleh ibunya.
Dokter muda itu langsung memeriksa kondisi ibu asih, yang kala itu sudah terbujur kaku dengan matanya yang melotot, serta lidah yang terjulur keluar, Ia cuma ingin lebih memastikan saja apakah ibu asih masih bernafas atau tidak.
Tetoskop yang di kalungkan di lehernya, dengan cekatan ia ambil dan di tempelkan di dada Bu asih. ternyata denyut jantungnya sudah tak berdetak lagi, lalu ia memeriksa di pergelangan tangannya Bu asih, ternyata sama denyut nadinya Bu asih juga sudah berhenti.
Dokter muda itu menghela nafasnya," Ibu asih sudah meninggal, saya harap bapak berdua bisa bersabar dan segera mengurus kepulangan jenazahnya." ucap lirih dokter itu.
"Apa! berarti ibu saya benar sudah meninggal?"tanya Karto tak percaya.
"Iya pak! buk asih memang benar sudah meninggal, jantungnya sudah tidak berdetak dan nadinya sudah tidak lagi berdenyut." tutur dokter muda itu menjelaskan.
"Ibu... jangan pergi buk! Karto gak mau ibu mati, Karto pengennya ibu sembuh, biar kita bisa kumpul lagi seperti dulu."racau karto disela tangisnya.
Karto sempat terlintas dan membayangkan kejadian 30 tahun yang lalu, saat itu ia masih remaja dan usianya baru berumur 20 tahun. akibat kejadian hari itu, ibunya jadi hilang kewarasan nya lebih tepatnya lagi gila.
__ADS_1
****
#Flashback 30 tahun lalu#
Hari itu Karto baru saja pulang dari rumah temannya, dengan mengandarai motor Honda benly kesayangan nya. yang selalu menemani nya untuk menjelajah desa dan menggoda para kaum hawa, yang mau di ajaknya beruforia.
Motor Honda Benly Karto
Kehidupan Karto dari dulu memang sudah sangat mewah, apa pun yang ia inginkan tanpa menunggu lama langsung didapatnya. ya, keluarga Karto bisa dibilang orang kaya dan terpandang dikampung Mekarsari, karena orangtuanya itu adalah salah satu pemilik perkebunan teh terbesar dan sukses disana.
Makanya Karto begitu songong dan kurang ajar, serta berprilaku seenaknya terhadap orang susah. itu semua karena didikan kedua orangtuanya yang selalu memanjakan, dan menuruti apapun yang ia minta.
berbeda dengan ki romo sifatnya bertolak belakang dengan Karto, ia sangat penurut dan pendiam bahkan sering membantu bekerja di perkebunan. walaupun orangtuanya kaya dan banyak harta, Romo selalu baik kepada semua orang apalagi orang susah.
Sampai kejadian tak mengenakan itu terjadi, bahkan membekas di ingatan Karto. ayahnya ia dapati sudah tergeletak di lantai, serta ibunya hanya berteriak-teriak sambil memandangi jenazah bapaknya.
Entah apa yang terjadi saat itu ia tak tahu, sedangkan ibunya ditanyai hanya menjawabnya dengan tawa, kadang tangis, dan teriakan. dengan wajah yang sendu serta tangis yang tertahan, Karto memeluk jenazah bapaknya.
"Dia... orang jahat! Bramantyo, ia! dia yang sudah membuat bapak mu mati kena serangan jantung. huaaaaa.." Isak Bu asih dengan pandangan kebencian, ke arah sebuah gambar yang berada di sebuah kabar berita.
"Bramantyo! ini kan ayahnya si anung! apa! sekarang dia jadi pemilik perkebunan teh terbesar di kampung ini, serta perkebunan bapak ku sekarang juga dimilikinya, gak mungkin! ini gak mungkin terjadi, pasti dia yang sudah merebut dengan curang perkebunan bapak." ucap Karto sambil membanting kabar berita yang dipegangnya.
Hari itu selain Karto berduka karena bapaknya yang meninggal, ia juga harus kehilangan perkebunan dan rumah mewah yang ditinggalinya sekarang. soalnya perkebunan dan rumah itu, sekarang menjadi hak milik dari keluarganya ayahnya anung. orang yang selalu menjadi musuh bebuyutan nya, karena bagi Karto Anung itu penghalang kebahagiaan nya.
Karena pada zamannya waktu itu, setiap kali cewek yang Karto taksir selalu memilih Anung. sampai ia pernah naksir sekali pada perempuan cantik berhidung mancung, yaitu Hani yang ternyata malah disunting Anung duluan.
Bukan itu saja selagi jamannya sekolah juga, setiap kali ada perlombaan di sekolah ia selalu dikalahkan oleh anung. makanya dari situ Karto mulai membenci dan memusuhi Anung, berbagai cara ia lakukan untuk menghancurkan hidupnya anung namun tak pernah berhasil.
Ditambah lagi saat ia mengetahui bapaknya meninggal karena ayahnya anung, serta rumah dan perkebunan nya jadi milik ayahnya anung. Karto makin membenci dan dendam sekali, kepada Anung dan juga keluarga nya.
__ADS_1
Setelah selesai pemakaman bapaknya, Karto beserta Ki Romo kala itu sedang berbenah. karena mereka akan meninggalkan rumah yang menjadi saksi bisu, saat mereka lahir dan tumbuh disana. kala itu pak Anung tiba-tiba datang, ia kesana bermaksud untuk mengucapkan bela sungkawa, karena tadi tak sempat menghadiri pemakaman pak Sarwono.
"Karto, Romo! kalian tidak usah pergi dari rumah ini, kalian masih bisa tetap tinggal disini. pakailah rumah ini saya ikhlas, lagian kalau kalian pindah juga mau pindah kemana." ujar pak Bramantyo.
"Hey! asal Anda tahu, ini memang rumahku dari dulu juga. bapa ku membangun nya sendiri, dengan hasil jerih payahnya. tapi kau malah merebutnya, bahkan merampas juga perkebunan kami dengan tega."hardik karto menunjuk pak Bramantyo.
"aku tidak pernah merampas apa pun dari bapak mu Karto! kau salah faham, biar ku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."ucap pak Bramantyo.
"Tak perlu kau menjelaskan apa pun! aku sudah tau semuanya, dasar kau orang jahat, tamak dan rakus." caci Karto sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah pak Bramantyo.
"Turunkan tangan mu Karto! beraninya kau menunjuk ayahku seperti itu." sahut anung saat memasuki rumah itu.
"Kalian ayah dan anak, sama-sama penjahat!"hardik Karto.
"Jaga ucapan mu Karto, sekali lagi kau bilang seperti itu.
"Apa kau mau membunuhku, seperti ayahmu membunuh ayahku." ucap Karto memotong ucapan anung lalu menantangnya berduel.
karena tak mau anaknya itu ribut, pak Bramantyo pun membawa anung dan meninggalkan rumah Karto. Saat itu Karto beserta Romo kakanya, meninggalkan rumah itu dengan mengendarai sebuah mobil pick up.
"Liat saja, suatu hari nanti aku akan merebut rumah ini kembali. dan kau anung juga kau Bramantyo, tunggu pembalasan ku." batin Karto saat meninggalkan rumahnya.
Karto saat itu bersama dengan ibu dan kakanya, tinggal bersama adik dari ibunya Karto yang berada dikota, karena ibunya semakin hari semakin parah kejiwaannya. serta bibinya itu gak sanggup dan kewalahan, lantas ibunya pun di taruh di rumah sakit jiwa.
****
"To, hayu kita urus jenazah ibu!"ucap Ki Romo sambil menepuk pelan pundaknya.
"I..iya Ki, "sahutnya gelagapan karena ia baru tesadar dari lamunannya.
Bersambung.....
__ADS_1
Maaf ya satu hari ini gak up, soalnya lagi di sayang sama pencipta nih dengan diberikan kenikmatan sakit.🤒🤒
seperti biasa, jangan lupa vote like and komentar nya ya.😊😊 apalagi kalau dikasih hadiah, uwu bangets deh.