Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 62


__ADS_3

Bab 62


"Ka Anjani!"teriak Jana dan langsung berlari menghampiri anjani.


Jana pun langsung memeluk erat tubuh kakanya itu, lalu ia bersembunyi dibalik punggung anjani sambil ia berucap dan mencoba mengintip sedikit.


"Kaka Jana takut sekali! mereka semua orang jahat, mereka mau membakar bapak dan ibu hidup-hidup, padahal bapak dan ibu tidak salah apa-apa, Ka."ucap Jana pelan dari balik punggung anjani sambil mengintip.


"Kamu gak usah takut, dek. sekarang ada Kaka disini, Kaka juga akan menyelamatkan ibu dan bapak."tegas anjani menyahuti.


Bu hani dan pak anung pun mulai tersadar dari pingsannya tadi, dikarenakan saat api mulai menyulut dan membakar balok kayu tadi. membuat mereka berdua tak kuat menahan panas dan juga sesak di dadanya, karena menghirup banyak asap pembakaran, makanya mereka berdua sampai tak sadarkan diri.


Kedua pasang mata mereka pun perlahan mulai dikerjap-kerjapkan, untuk memastikan seluruh penglihatannya. saat penglihatan mereka sudah sangat sempurna, mereka terkejut dan merasa sangat heran. karena ia melihat api sudah padam, bahkan para warga semuanya sedang terkapar di tanah yang basah.


Walaupun awalnya mereka berdua berfikir, kalau mereka sudah mati dan sudah tiba di alam baka. karena posisi mereka saat tersadar keadaan sekitar gelap dan hening, hanya ada cahaya dari sang rembulan saja menerangi suasana disana.


Selain pemandangan itu sepasang suami-isteri itu pun tersentak, karena di hadapannya kini ada sosok wanita yang mirip sekali dengan anaknya yaitu anjani, sosok itu sedang berdiri membelakangi Bu hani dan juga pak anung.


"Pak, itu seperti anjani anak kita, apakah dia sengaja datang untuk menolong kita."ucap lirih Bu Hani sambil ia terbatuk-batuk karena sesak terkena asap pembakaran tadi.


"Iya buk, itu memang seperti anjani."sahut pak anung setelah memastikan penglihatan Bu Hani tadi yang mengatakan ada anjani.


Untungnya saat angin kencang disertai hujan lebat tadi yang tiba-tiba muncul, langsung memadamkan api yang hampir membakar pak anung dan juga bu hani. alhasil pak anung dan Bu Hani pun selamat, dari ganasnya sang jago merah yang hampir menghanguskan mereka.


"Itu bukan kah Ki romo kakanya Karto! kenapa dia bisa bersama dengan anjani ya pak."ucap Bu hani heran.


"Ya kan anjani waktu itu pernah tinggal bersama mereka Bu, makanya sekarang anjani bisa bersama dengan ki Romo."sahut pak anung menjelaskan.

__ADS_1


Semua mata kini tertuju kepada anjani dan juga ki Romo, mereka sedang berdiri di hadapan para warga yang masih terkapar. akibat terkena serangan angin dan hujan lebat dadakan tadi, salah satunya adalah RT Sudin. ia sampai mengucek-ucek beberapa kali matanya, karena ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


RT Sudin seperti itu karena ia terkejut dan tak percaya, anjani yang ia ketahui sudah meninggal dunia itu, bahkan sempat menjadi arwah kuntilanak gentayangan di kampungnya. kini berada dihadapannya dan juga di depan banyak orang, dengan wujud seperti manusia normal pada umumnya.


"I..itu kan anjani! ke..kenapa dia gak terlihat seperti arwah ya, le..lebih persisnya seperti manusia biasa."ucap RT Sudin sedikit gagap dan meracau pada dirinya sendiri.


"Hai warga semuanya, Lepaskan pak anung dan juga isterinya! mereka berdua tidak bersalah, mereka hanyalah korban fitnah yang Karto buat. Karto melakukan itu karena ia mempunyai dendam di masa lalu, kepada mereka berdua."ucap Ki Romo dihadapan para warga.


"Fitnah dan dendam masa lalu! maksudnya apa? kami semua tidak mengerti, lalu anda sendiri siapa? kenapa anda bisa berkata seperti itu."sahut dan tanya pak Ramon.


"Saya kakanya Karto, bahkan saya juga yang sudah beberapa kali melancarkan perbuatan jahatnya Karto. saya melakukan ini, karena sekarang saya sudah sadar dan tak ingin berbuat jahat lagi"ucap Ki Romo menjelaskan.


"Jangan dengarkan ucapan si Romo dukun bodoh itu!"ucap Karto lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Ki romo.


"Apa-apaan kau Romo, beraninya kau bicara seperti itu didepan para warga. dasar saudara pungut yang tak tau di untung."maki Karto sambil menunjuk kasar kening Ki romo.


BUGS...!! "tinju mentah dari tangan tua Ki Romo, tepat mengenai hidungnya, sampai Karto mengeluarkan lelehan darah dari hidungnya.


"Aaakkhh! makin kurang ajar kau ya Romo, sekarang beraninya kau memukul ku."ucap Karto hendak membalas Ki Romo.


Namun tangan Karto langsung dicekal oleh pak Jainudin, bapak yang anaknya hilang dan ditemukan sudah tak bernyawa dengan luka sayatan di leher yang hampir putus.


"Coba jelaskan ini semua pak Karto, apa yang sebenarnya terjadi! karena ini semua terjadi, atas laporan dan kedatangan mu kemari."tukas pak Jainudin dengan tajam.


"Yang terjadi, ya seperti tadi adanya. seperti apa yang kalian lihat tadi, pak anung dan istrinya itu penganut aliran sesat. tuh, lihat saja arwah anaknya anjani pun ada disini."sahut Karto sambil menunjuk ke sosok gadis yang berada di samping Ki Romo.


"Tapi gadis itu tidak terlihat seperti arwah penasaran, yang kau bilang jahat dan akan menghabisi warga disini. malahan gadis itu seperti manusia normal pada umumnya, ya, kaya kita-kita semua ini, benar gak warga semuanya."timpal ibu ringgih ibu tua berbadan gendut yang sudah menaruh curiga sedari awal.

__ADS_1


"Iya benar!"sahut warga lainnya.


"Sudahlah Karto akui saja perbuatan mu, atau aku yang akan membeberkan nya kepada mereka semua."sahut Ki Romo.


"Benar apa yang ki Romo bilang! kalau kau tidak mau mengakuinya, akan ku suruh makhluk besar ini memaksamu untuk bicara."timpal anjani sambil menunjuk kan makhluk hitam, tinggi besar dan berbulu lebat dengan mata yang merah menyala bagaikan bara api.


"BRENGSEK KAU ROMO DAN KAU ANJANI! beraninya kau mengancam ku, sebelum kau mencelakaiku akan ku habisi kau duluan."ucap Karto sambil mengeluarkan bungkusan hitam.


Karto mencoba melempari anjani dan makhluk besar tadi, dengan serbuk halus yang diambilnya dari dalam kantong hitam yang diambil dari saku celana kulotnya, sambil sesekali karto mulutnya berkomat-kamit seolah sedang membaca mantra.


"Hah! enyalah kau setan jahanam kembali saja kau ke neraka sana, bersama teman-teman mu."ucap Karto sambil menghentakkan kakinya ke tanah dan melemparkan serbuk itu kearah anjani dan makhluk besar tadi.


Namun sayang perbuatan nya itu langsung dihalau oleh Ki Romo, dengan sebelah tangan Ki Romo yang dikibaskan pelan lalu serbuk itu malah bertaburan di atas kepala karto. Sontak saja membuat semua orang yang melihatnya tertawa geli, karena Karto ingin mencelakai orang lain malah kena dirinya sendiri.


Lagi pula Karto bisa seperti itu pun, itu semua karena Ki romo yang mengajarkan nya. semua itu ia berikan agar adik angkatnya keluarga satu-satunya itu, terlindung dari marabahaya makhluk halus yang jahat.


Sosok Makhluk tinggi besar menyeramakan itu, kini sudah berada dihadapan Karto dan berusaha mencekik lehernya. dengan berbagai lafalan mantra-mantra yang ia bisa, Karto berusaha memberontak dari makhluk itu.


Tapi sayangnya tak sedikitpun makhluk itu takut, dengan mantra-mantra yang diucapkan Karto tadi. makhluk itu langsung mencekik Karto hingga ia terangkat ke atas, warga yang melihatnya langsung berteriak teriak ketakutan.


KEK...KEK...KEK"terdengar suara nafas sesak Karto akibat dicekik makhluk besar itu.


"Le..pas..kan! sa..ya a..kan me..ngakui se..muanya."ucap Karto terpatah-patah karena masih dalam cekikikan makhluk itu.


Ki Romo hanya memberikan aba-aba kepada makhluk itu, dengan telapak tangan kanannya yang ke atas lalu dihentakan ke bawah. alhasil tubuh Karto pun langsung terhempas ketanah, ia pun kesakitan dan berteriak teriak menahan dan merasakan tulang-tulangnya yang terasa remuk akibat hempasan makhluk besar itu.


Para warga hanya bisa melongo memperhatikan dari jauh kejadian itu, karena mereka takut dan juga bingung atas semuanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2