Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 81


__ADS_3

Bab 81


Happy reading....🤗🤗🤗


-------------++++++--------------


NGIIIIIKKKKK.....!!" terdengar suara dari rem mobil yang dibunyikan secara mendadak.


Devin langsung menginjak rem secara tiba-tiba, sehingga membuat semua orang di dalam mobilnya terbentur dan juga terkejut.


"Astaghfirullah...!! Dev ada apa? kenapa kamu ngerem mendadak begitu."pekik dan tanya Bu hani sambil memegangi kepalanya yang sakit akibat terbentur bangku yang diduki Devin.


Soalnya posisi Bu hani duduk di dalam mobil Devin, tepat berada di belakang menantunya duduk dan mengemudikan mobilnya.


"Maafin devin ya buk, pak. soalnya tadi ada rusa yang tiba-tiba nyebrang, makanya devin kaget dan langsung ngerem mendadak."kata devin sambil berbalik menengok ke arah mertuanya.


"Ko bisa ya, ada rusa ke tengah jalan? biasanya kan rusa disini hanya berkeliaran di dalam hutan saja, mereka tak pernah mau turun ke jalanan. tapi kenapa sekarang mereka bisa berada dijalanan?"ujar pak anung merasa aneh dan tidak yakin dengan apa yang telah terjadi pada menantunya barusan.


"Tapi beneran ko pak, tadi Devin liat rusa itu nyebrang. lalu tiba-tiba menghilang."balas devin antusia untuk meyakinkan bapak mertuanya.


"Iya Dev. tenang aja, bapak percaya ko sama kamu. bapak tadi cuma heran aja, saat mendengar ceritamu."kata pak anung seraya menepuk pundak devin diiringi senyum kecil.


Kebetulan saat itu mobil yang devin kemudikan, sudah memasuki jalanan kawasan hutan belantara. hutan yang lebat dan juga terlihat menyeramkan, hutan itu berada persis di tengah tengah antar desa. makanya warga memberikan nya nama hutan Malangnengah, hutan yang berada di tengah-tengah.


"Aw....!! Sakit sekali. kepalaku juga rasanya ko pusing ya."rintih anjani sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat terbentur dashboard mobil saat devin ngerem mendadak.


Terlihat darah segar mulai mengalir pelan di kening anjani, mungkin itu akibat benturan keras tadi. sehingga membuat kening anjani terluka dan sobek sedikit dibagian pinggirnya, sampai mengeluarkan darah segar.


"Ya Allah..!! kamu terluka sayang, kening mu berdarah lagi. kita harus segera ke rumah sakit."ujar devin yang mulai terlihat panik, sambil menahan darah yang mengalir di kening istrinya yang terlihat sedikit menganga.


"Aku gak papa ko mas.!! cuma tinggal di kasih Revanol aja darahnya akan berhenti ko, lukanya juga akan cepat kering."ujar anjani sambil mengambil kotak P3K di bagian laci mobil.


Lalu anjani di bantu devin mengobati luka di keningnya itu dengan revanol, setelah diobati lukanya langsung di tutup dengan plaster.


"Nah sudah selesai kan, jadi gak harus ke rumah sakit deh. lagian luka kecil kaya gini mah, ngapain juga harus di bawa ke rumah sakit segala. diobatin sendiri juga bisa.


Ujar anjani sambil mengejek devin, dengan bibirnya yang di monyong kan. sambil ia membereskan kembali kotak P3K nya, lalu memasukkan nya kembali ke dalam laci dashboard mobil devin.

__ADS_1


"Tapi beneran kamu gak papa Jan?"tanya Bu hani ingin memastikan.


"Bener ko Buk."katanya seraya tersenyum.


Akhirnya devin pun melanjutkan kembali perjalanannya, untuk menuju desa Mekarsari. karena perjalanan yang masih cukup panjang, anjani pun kembali memejamkan matanya yang masih terasa mengantuk. soalnya saat tadi ia sudah tertidur, malah dikagetkan dengan rem dadakan yang diciptakan oleh suaminya itu.


Selain anjani yang mulai memejamkan mata dan mulai masuk ke alam mimpi, pak anung beserta istrinya pun menyusul untuk segera masuk ke dunia khayalan di alam mimpi. terlihat pak anung yang dengan cepat terlelap, sampai terdengar bunyi khas dengkurannya.


Saat semuanya sudah terlelap, kini hanya tinggalah devin yang masih tersadar. karena ia harus fokus dengan kemudinya, kalau dia ikut tertidur dan terlelap juga. siapa yang akan mengemudikan mobilnya itu, masa hantu. hehe.


Enggak tau kenapa setelah kejadian tadi, saat rusa yang tiba-tiba muncul untuk menyebrang. perasaan devin mulai terasa tak enak hati, kaya ada sesuatu yang menyakitkan gitu. sehingga membuat dadanya terasa sesak dan sakit.


Devin juga sempat kepikiran ayahnya yang berada dikota, lalu perasaan itu makin terasa gak enak dan sakit saja, dikala devin makin memikirkan ayahnya terus menerus.


"Kenapa aku kepikiran ayah ya? padahal kan baru beberapa jam yang lalu, kita bertemu. apa ada hal buruk yang terjadi pada ayahku? Aissshh, ko aku jadi kacau begini sih. aku gak boleh berfikir seperti itu."sergah devin saat hatinya mulai merasa kacau dan gelisah karena selalu memikirkan keadaan ayahnya disana.


****


Di sebuah ruangan yang pengap dan temaram, karena hanya terdapat cahaya dari lampu kecil berukuran 5 watt saja. pak sobri perlahan mulai membuka kedua matanya, sambil sesekali ia mengerjap-ngerjapkanya, untuk memastikan dengan benar penglihatannya itu.


"Sudah sadar rupanya kau Sobri..!!"seru seseorang dari arah pintu yang dibuka.


"Kau Handoko..!!"seru pak sobri.


"Yess I am Handoko, Sobri. gimana kabar mu sekarang, bahagia kah? pasti bahagia dong, secara kan habis mengadakan pesta besar."ujar handoko seolah meledek ayahnya Devin.


"Apa maksud dari ini semua Handoko, kenapa kau menyandra dan mengikatku seperti ini. terus dimana kau sandra istri ku?"balas pak sobri sambil memberontak dengan cara menggoyangkan bangku yang di dudukinya.


Soalnya saat ini pak Sobri, ternyata sedang disandera oleh pak Handoko papihnya anabel. pak Sobri sedang diikat tangan dan kakinya disebuah bangku kayu, yang berada di ruangan pengap seperti sebuah gudang tak terpakai.


"Tenang sobri tenang, jangan kau berontak seperti itu. nanti tangan dan kaki kriputmu bisa terluka, terkena gesekan tali yang mengikat mu."kata pak Handoko seraya terkekeh.


"Sebenarnya apa mau mu Handoko..!!"hardik pak sobri mulai terlihat kesal.


"Apa mau ku? apa ya... kalian tau gak? aku maunya apa?"ujar pak Handoko sambil tertawa jahat bertanya kepada beberapa anak buahnya yang berada di dalam ruangan itu.


"Aku mau nya kau tandatangani ini sekarang juga..!! kalau kau tak mau, siap-siap saja ku antarkan kau pulang ke neraka."ujar pak Handoko sambil menyodorkan sebuah map merah yang tadi sudah ia bawa.

__ADS_1


Kebetulan saat itu ikatan tangan pak sobri sudah dibuka oleh anak buahnya Handoko, tapi ikatan dikakinya belum dibuka. pak sobri pun segera membaca isi di dalam map tersebut, ternyata isinya pemindahan hak waris semua harta kekayaan milik pak sobri. dari rumah besar miliknya yang dulu pernah di pakai devin menaruh jenazah anjani, lalu pabrik teh yang dikelola Devin saat di kota, serta perusahaan yang juga bekerja sama dengan Handoko.


Semuanya itu akan berpindah alih kepemilikan, saat pak sobri sudah menandatangani kertas putih di dalam map tersebut. karena pak sobri tak terima atas semuanya itu, lantas ia langsung menyobek kertas itu, dihadapan Handoko yang saat itu sudah tak sabaran.


"Sampai kapan pun, aku gak akan sudi memberikan semua hartaku kepada orang rakus dan licik seperti kau Handoko."ucap pak sobri sambil menyobek kertas tersebut menjadi sebuah potongan kecil kecil lalu ia tebarkan.


"Brengsek kau Sobri..!! Ronald hukum si tua Bangka ini agar dia kapok."titah handoko kepada anak buahnya itu.


Pak sobri pun mulai diikat kembali tangan dan kakinya, tapi kali ini dia dipindahkan ke sebuah kursi lain. sebuah kursi kayu dengan banyaknya kabel-kabel yang tertempel disana, kemudian kepalanya di pasangkan sebuah topi yang terbuat dari seng berwarna silver.


Setelah itu stop kontak pun langsung di pencet, seketika pak sobri langsung menjerit jerit dan tubuhnya mengejang dan bergetar hebat, serta ada asap yang mengepul di atas kepalanya.


Pak Handoko yang melihat keadaan pak sobri tersiksa seperti itu, bukan melepaskan dan menolongnya. dia malah tertawa senang, melihat penderitaan pak sobri.


"Hahahaha...!! rasakan itu sobri, makanya jangan beraninya kau melawan Handoko. apalagi sampai mengecewakan diriku. hahahaha....."ujar handoko dengan tawa yang bergema di ruangan tersebut.


****


Disisi lain....


"Hai mantan calon ibu mertua... sudah kenyang kah tidurnya? kalau sudah kenyang, maen sama aku yuk.."ucap anabel menyapa Bu Ningsih saat tersadar, sambil dia menyeringai menakutkan.


"A..anabel..!! apa maksud ucapan mu itu? kenapa aku bisa disini? kenapa juga aku diikat begini? lalu dimana suamiku?"cecar tanya Bu ningsih sambil berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikatnya saat ini.


Saat Bu ningsih tersadar dari pingsannya, ia ternyata sedang berada di atas sebuah ranjang besi tua tanpa kasur sebagai alasnya. kaki dan tangannya juga sudah terikat sangat kencang, di semua sisi ranjang besi tersebut.


"Ish..ish.. Iiissh...!! bawel banget sih kamu jadi seorang ibu, pantas saja Devin dulu sangat membencimu. ya karena mulut mu itu yang super bawel."oceh anabel sambil melotot tajam ke arah Bu ningsih.


"Devin tidak pernah membenciku, itu semua hanya kesalah fahaman saja. jadi kamu jangan suka mengada-ada."sahut Bu Ningsih kesal.


"Berisik kamu!! kayanya mulutmu itu harus di sumpal ya, biar gak berisik lagi. bisa-bisa permainan ku tidak mengasikan, kalau mulutmu itu terus mengoceh."ujar anabel kemudian menyumpal mulut Bu Ningsih dengan kain lap kotor yang dia pungut dari tanah.


"Emmm... emmm...Emmm..."ucapan Bu Ningsih memberontak tidak terdengar sama sekali, karena mulutnya yang sudah disumpal.


"Siap-siap ya mantan calon ibu mertua... permainan... di mulai."ujar anabel menyeringai lalu mencolokkan kabel yang terhubung ke arah tali-tali yang mengikat Bu Ningsih.


Drrrrtttt..... Drrrrtttt....."suara dari aliran listrik yang sedang menyengat sesuatu.

__ADS_1


*****


Bersambung.....


__ADS_2