Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 59


__ADS_3

Bab 59


Semua warga desa sangiang tanjung, malam itu berbondong-bondong mendatangi kediaman pak anung yang berada tepat di ujung pinggiran hutan desa. tampak di raut wajah semuanya, menampakan amarah yang memuncak.


"Pak anung keluar kau sekarang juga!"teriak pak komar saat tiba di depan rumah pak anung.


"Iya keluar kau anung sekarang juga!"


"Woy anung keluar kau!"


Karena pak anung sedang berada di gubug belakang yang cukup jauh dari kediamannya, ia tak mendengar panggilan para warga yang meneriakinya terus menerus. namun Jana yang sedang tertidur pulas pun langsung terbangun, karena mendengar suara gaduh dari para warga yang berteriak-teriak memanggil bapaknya itu.


Ia mengintip dari balik bilik dinding rumahnya yang terbuat dari bambu, disana nampak pak RT Ramon beserta beberapa warga. bahkan disana juga ada RT Sudin dan pak Karto, ketua RT dan juragan teh didesa Mekarsari itu.


Jana pun langsung berlari menuju ke kamar kedua orangtuanya, tapi ia tak mendapati keduanya disana. Jana kebingungan dan juga ketakutan, karena ia merasa sendirian disana.


"Aduh, ibu dan bapak kemana sih, Jana takut buk, pak."batin Jana menangis saat berada dikamar orangtuanya.


Jana pun langsung bersembunyi di kolong ranjang besi orangtuanya, sambil sesekali tubuhnya gemetaran menahan rasa takutnya.


"Hayo pak Ramon, kita dobrak saja pintu rumahnya."hasut Karto.


"Iya hayo kita dobrak saja. "sahut pak komar mengiyakan.


Akhirnya pintu depan rumah pak anung pun langsung di dobrak oleh beberapa warga, mereka semua menggeledah seluruh ruangan yang berada didalam sana. namun warga tak menemukan siapapun didalam sana, sampai akhirnya ia menemukan jana yang sedang ketakutan di bawah kolong ranjang besi.


"Tidak ada siapa-siapa boy di rumah ini."ucap pria berbadan pendek kepada temannya.


"Iya, benar. hayo kita lapor ke semuanya." balas pria satunya lagi.


KROTLAK.." Jana tak sengaja menyenggol meja kayu yang berada di samping ranjang, sehingga membuat gelas plastik yang berada di atasnya jatuh dan menggelinding ke bawah.


"Tunggu yom! kaya nya ada seseorang didalam sana!"ucap lirih pria bernama Boyan.

__ADS_1


Yoman dan Boyan yang ternyata saudara kembar itu, mereka pun saling berpandangan mata dan merencanakan melihat kedalam kamar. tapi agar orang yang bersembunyi tidak curiga, mereka berdua berpura-pura keluar.


"Ah, mungkin itu tikus boy. sudahlah tidak ada siapa-siapa juga disini, hayo kita keluar saja."ucap yoman sengaja sedikit berteriak.


"Iya yom, hayo kita lapor ke pak RT dan yang lainnya."sahut Boyan.


GEBRUK..! Yoman sengaja menutup pintu depan rumah pak anung, lalu mereka berdua bersembunyi dibalik dinding kamar.


"Alhamdulillah, akhirnya mereka pergi juga aku harus cepat mencari ibu dan bapak."ucap Jana lalu keluar dari kolong ranjang.


"Nah! ketahuan ya, ternyata ada yang ngumpet disini."ucap yoman dan boyan bebarengan saat melihat Jana.


"Ampun om! tolong jangan sakiti saya, emang salah saya apa dan kedua orangtua saya."ratap Jana kepada yoman dan boyan.


"Kesalahan kalian itu banyak, jadi kalian harus dihukum. dengan DIBAKAR HIDUP-HIDUP!"kata Boyan sedikit ditegaskan.


"Apa dibakar! tolong jangan om, kalian pasti salah paham kepada keluarga ku." ucap Jana membela diri.


"Alah gak usah banyak cakap kau bocah kecil! dimana kedua orangtua mu?"kata Yoman.


"Sudahlah yom! hayo kita bawa anak ini ke pak RT dan warga, nanti juga orangtuanya muncul kalau anaknya sudah tertangkap."ucap Boyan.


Karena tak menemukan pak anung dan buk Hani di dalam sana, Mereka berdua pun membawa Jana ke hadapan pak RT dan warga. Jana juga berusaha memberontak dan kabur melarikan diri, saat ia terlepas dari cengkeraman tangan Boyan dan Yoman.


Namun Jana berhasil ditangkap lagi, karena posisi nya selain ia masih kecil. dia juga pasti kalah melawan mereka, yang jumlahnya banyak dan sudah pada dewasa.


"Pak di dalam sana tidak ada siapa-siapa, kami hanya menemukan anaknya saja."ucap Boyan kepada pak RT.


"Kemana perginya pak anung dan istrinya, apa mereka tahu kita akan kemari? lalu mereka pergi dan meninggalkan anaknya sendirian."terka pak Ramon menjelaskan.


"Gak mungkin, anung dan hani tega meninggalkan anaknya sendirian begitu saja. coba kita tengok saja ke belakang rumahnya, setahu saya gak jauh dari rumah ini ada gubug, mungkin anung dan istrinya berada disana."sahut Karto.


"Ko pak Karto tahu sih gak jauh dibelakang rumah ini ada gubug? saya saja warga asli sini tidak pernah tahu."timpal salah seorang ibu berbadan gemuk.

__ADS_1


"Em, saya..saya tahu waktu itu pernah maen ke rumah pak anung pas siang hari, saya gak sengaja melihat gubug itu. makanya saya tahu."ucap Karto membela diri.


"Ya sudah, hayo kita buktikan disana."sahut warga yang lainnya.


Akhirnya seluruh warga yang ikut kesana pun, langsung menuju ke belakang rumah pak anung. benar saja gak jauh dibelakang rumahnya, terdapat sebuah gubug tua yang berukuran sepetak kecil saja.


Ternyata gubug tua itu adalah rumah pertama pak anung dulu, saat ia pertama kali tinggal didesa Sangiang tanjung. waktu mereka di usir dari kampungnya sendiri, lalu memutuskan tinggal disana di dekat pinggiran hutan desa.


"Astagfirullah haladzim, anung! ucap RT Ramon saat melihat kedalam ruangan gubug itu.


"ada apa pak RT!"


"Allahu Akbar! anung apa apaan kau, apa yang kau lakukan pada anak ku."hardik pak Jainudin saat melihat tubuh anaknya yang sedang di pegang pak anung.


"Kau memang biadab anung, kau sudah membunuh anak ku dengan sesadis ini."ucap pak Jainudin langsung menghajar pak anung bertubi-tubi.


"Sudah, sudah pak Jainudin hentikan."teriak pak Ramon mencoba menghentikan.


Pak Jainudin yang anak laki-lakinya hilang itu, ternyata di temukan berada di dalam gubug pak anung. tapi kondisinya sudah dalam keadaan meninggal, dengan leher yang hampir putus.


"Hayo kita bakar saja mereka, perbuat mereka sudah sangat biadab. lihat saja kan anak pak Jainudin sudah menjadi korban, mereka ingin membangkitkan arwah anaknya kembali dengan cara menumbalkan anak laki-laki. makanya mereka menganut aliran sesat, lihat saja banyak sajen dan alat-alat ritual disini." timpal Karto menghasut warga.


"KARTO!" ucap lirih pak anung terkejut.


"Tunggu, kalian semua sudah salah faham. semua ini tidak seperti apa yang kalian lihat, saya dan suami saya tidak tahu apa-apa tentang semua ini."bela Bu hani sambil menangis sesenggukan.


"Alah kalian sudah kepergok, masih saja tidak mau mengaku. sudah hayo bakar saja mereka."cetus Karto kembali.


"Iya cepat bakar mereka, aku gak sudi melihat manusia macam mereka hidup di dunia ini."ucap pak Jainudin menatap tajam ke pak anung sambil memangku jenazah anaknya.


"Ternyata kau lagi karto, aku sudah tau pasti kali ini juga ulahmu kan?"ucap pak anung lirih saat Karto menghampiri nya.


"Aku tak akan pernah membiarkan hidupmu tenang anung, kali ini aku ingin kau mati dan hancur bersama seluruh keluarga mu! seperti dulu ayahmu telah menghabisi nyawa bapaku, lalu membuat ibuku gila dan hidupku hancur berantakan."balas Karto berbisik pada Anung.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2