Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 11


__ADS_3

Bab 11


****


Pagi nan indah dengan berselimutkan kabut putih yang masih terlihat tebal, sehingga membuat suasana pagi di desa mekarsari. menjadi terasa lebih dingin dan menyejukkan sanubari. seorang perempuan yang usianya sekitar 40 tahunan, kini ia sedang berlari dan tergesa-gesa sambil menyusuri area pinggiran kebun teh untuk menuju ke suatu tempat.


"Aku harus segera memberitahukan bapak, tentang semua yang aku alami tadi malam." batin bu hani meracau dan ia masih terus saja berlarian dan fokus ke arah depan.


Kelihatan dari raut wajahnya menunjuk-kan guratan kesedihan dan ke khawatiran, yang sedang melanda dirinya pada pagi ini. bahkan saking seriusnya bu hani berlari, sampai beberapa para tetangganya yang menyapanya pun tak di perdulikannya sama sekali.


"Eh bu hani, mau kemana? kenapa lari-lari begitu sih?"sapa tetangganya yang sedang memetik daun teh, tapi bu hani tak menjawab sedikit pun sapa dan tanya mereka, dia pun terus saja berlari tanpa menoleh sedikit pun.


Kebetulan pagi itu para ibu-ibu tetangga desanya, sudah tampil bekerja sebagai buruh pemetik teh di perkebunan milik juragan karto. juragan yang dzolim dan juga lintah darat itu. untungnya saja pak anung suaminya, sudah pindah bekerja dari juragan karto. kalau saja masih bekerja disana, bagaimana nasibnya yang selalu saja ditindas setiap harinya.


Mayoritas pekerjaan rata-rata penduduk di desa MEKARSARI ialah, ibu-ibunya bekerja sebagai buruh pemetik teh di perkebunan, sedangkan para Laki-lakinya bekerja di pabrik tehnya. maklumlah hanya itulah salah satu pekerjaan yang paling mudah, untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. tanpa beban persyaratan apa pun, tak seperti melamar pekerjaan di zaman sekarang ini susahnya minta ampun dan sangat luar biasa.


"Itu bu hani kenapa ya? ko dia lari-lari begitu sih, kaya orang lagi panik dan khawatir aja" ada apa ya kira-kira dengan bu hani?" gosip para tetangganya yang membicarakan tentang ekspresi wajah bu hani tadi.


"Sudah-sudah cepat semuanya kerja!! dasar emak-emak rempong bisanya cuma bergosip saja, kalau mau bergosip itu nanti saja kalau kalian semua sudah pulang ke rumah." oceh sang mandor di perkebunan teh.


"Ini juga lagi kerja dor! huuuuu...! dasar mandor susi alias (suka sirik) aja."umpat para ibu-ibu pemetik teh kompak menyoraki sang mandor lalu sambil kembali bekerja.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, akhirnya bu haniah atau lebih sering di panggil bu hani oleh para tetangganya. akhirnya bu hani sampai juga ditempat yang dituju olehnya. yaitu, pabrik teh milik juragan sobri. bu hani ternyata datang ke pabrik itu sengaja ingin menemui suaminya pak anung, karena dari semalam pak anung itu sengaja tidak pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Sebenarnya suaminya itu sudah ijin terlebih dahulu kepadanya, kalau dirinya tidak bisa pulang ke rumah malam itu. karena ia harus menemani anak laki-laki dari juragan sobri, yang baru saja datang dari kota besar. anak juragan nya itu meminta anung untuk memberitahunya, tentang cara kerja pabrik dan sekitaran kebun teh milik bapaknya itu.


karena perilaku bapaknya anjani yang dibilang Jujur, baik, dan cerdas juga, makanya pak anung dipercaya oleh juragan sobri mengawasi pabrik teh itu. sewaktu juragan sobri beserta istrinya pamit hendak pergi ke luar kota, karena ada pertemuan dengan rekan bisnisnya.


Sebelum juragan sobri pergi, dia juga sudah berpesan kepada pak anung. bahwa akan ada anak laki-laki nya yang tinggal dikota besar akan datang sore ini. jadi pak anung diminta agar mau menemaninya untuk seharian itu saja. dikarenakan anaknya itu, belum pernah sama sekali menginjakan kakinya di desa mekarsari ini. karena sedari kecil dia di lahirkan dan juga dibesarkan di kota besar.


Juragan sobri tinggal di desa mekarsari hanya bersama dengan istrinya saja, yaitu ibu setiyaningsih atau biasa disapa bu ningsih. itu pun semenjak kedua anak-anaknya itu sudah tumbuh dewasa saja, karena pak sobri harus mengurusi perkebunan dan pabrik warisan peninggalan dari almarhum bapaknya.


Karena kedua anak-anaknya juragan sobri, gak ada yang mau di ajak untuk tinggal di desa. makanya pak sobri terpaksa meninggalkan mereka berdua untuk tinggal di kota saja, tapi dengan memperkejakan seorang asisten rumah tangga (PRT), untuk membantu merawat rumah dan kedua anaknya itu.


Juragan sobri memiliki dua orang anak, satu perempuan dan satu lagi seorang anak laki-laki yang akan datang sore ini ke desa mekarsari.


"Ibu..!! Kenapa lari-lari begitu sih? sini duduk dulu biar tenang."seru pak anung kepada istrinya sambil menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi kayu, lalu memberikan bu hani segelas air putih yang diambilnya dari teko kendi di atas meja kayu.


"Anjani....!! Emangnya anak kita sudah pulang lagi bu? tapi, piyon aja belum pulang sampe sekarang, masa iya anjani sudah pulang duluan, Buk..!!"tanya pak anung merasa heran.


"Dengerin ibu dulu dong, Pak! ibu kan belum selesai menceritakan semuanya."rengek bu hani ke suaminya agar di dengar.


"Iya... iya bapak dengerin nih."kata pak anung.


Akhirnya pak anung pun mulai mendengarkan cerita dari istrinya itu, dengan duduk bersila beralaskan lantai tanah pabrik saja, ia duduk tepat di hadapan istrinya.


****

__ADS_1


#Flashback mimpi Bu hani#


Malam itu sekitaran pukul jam 01.00 malam, bu hani langsung terbangun dari pembaringannya. dikarenakan bu hani merasa kerongkongannya tercekat dan terasa kering sekali, lantas ia bangun lalu melangkah keluar dari kamarnya menuju ke arah dapurnya, untuk mengambil air minum meredakan rasa haus dahaganya.


Saat perjalanan menuju dapur, langkah bu hani mendadak terhenti. karena ia melihat ada seorang gadis muda, sedang duduk di teras depan rumahnya. kebetulan juga rumah bu hani itu pintunya terbuat dari kaca tembus pandang dan tidak dikasih gorden untuk menutupi pintunya. Jadi, pemandangan dari luar bisa langsung terlihat jelas dari dalam rumahnya.


Bu hani yang mulai penasaran, karena melihat ada seorang gadis muda, yang kala itu sedang duduk dan menangis di depan teras rumahnya. dia pun mencoba memberanikan diri, untuk menghampiri sosok gadis muda itu. tangisan dari gadis muda itu sungguh sangat menyayat hati siapa saja yang mendengarnya, alhasil sampai membuat bulu-bulu halus ditubunya ikut berdiri dan meremang semua.


Apalagi pada malam itu bu hani hanya sendiran saja dirumah, suaminya pak anung sedang tidak berada di rumahnya. karena pak anung harus menemani anak dari bosnya, yaitu anak dari juragan sobri. sedangkan jana anak lelaki satu-satunya, dia sedang menginap dirumah temannya. dengan langkah yang terasa berat bu hani mulai memberanikan diri untuk menuju ke arah depan pintu rumahnya, dia bermaksud ingin keluar untuk memastikan sosok gadis muda di teras rumahnya itu siapa?


CEKLEK.... KRIIIIEEETTTT.


Terdengar suara anak kunci yang sudah terbuka dari selotnya, diiringi juga dengan suara derit pintu yang sudah tua dan seret dibuka perlahan dari dalam oleh pemiliknya.


****


Bersambung.....


Jangan lupa bantu dukungannya ya readers... dengan cara vote and like di setiap babnya serta bubuhkan komentar positif nya, biar othor makin semangat nulis kelanjutannya..😊😊


satu lagi masukan cerita ini di list vaforit kalian ya... terimakasih.....😊😊


Salam Penasaran Selalu.....🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2