
Bab 26
Piyon kini mulai menaiki anak tangga dengan sangat berhati-hati, langkahnya sedikit agak celingak-celinguk untuk memastikan keadaan disekelilingnya. setibanya di lantai atas sana, harapannya masuk ke dalam rumah besar itu kembali sirna. karena diatas sana ia kembali tidak mendapati apa-apa, selain ruangan besar dan kosong dengan tiga buah pintu.
"Ini rumah apa labirin sih..!! banyak banget ruangannya, bikin orang pusing aja."batin piyon.
Tebakannya saat itu, mungkin dari ke tiga buah pintu tersebut terdapat jalan masuk untuk menuju ke dalam rumah besar itu. Piyon pun agak mulai mempercepat langkahnya menuju ke depan tiga buah pintu tersebut, karena dibawah sana terdengar dukun itu kayanya sudah selesai ritualnya. ia pun mulai membuka dengan perlahan pintu itu satu persatu. pintu pertama di buka.....
CEKLEK!! NGEEEEKKKKK.....
Pintu pertama pun terbuka, Piyon langsung disambut oleh jaring laba-laba yang menggantung lebat di depan daun pintu tersebut. ruangannya juga sangat pengap dan banyak sekali debu, sehingga membuat dadanya terasa sesak sekali saat memasuki ruangan tersebut.
Selain debu dan jaring laba-laba, disana banyak juga tersimpan barang-barang yang sudah tak terpakai. mungkin ruangan ini adalah gudang rumah besar ini, jadi piyon putuskan untuk keluar lagi dari ruangan itu menuju pintu yang lain.
Piyon hanya melangkahkan kakinya sedikit ke samping, tepat dimana pintu kedua berada. karena pintu kedua berada, jaraknya hanya bersebelahan saja dengan pintu pertama tadi yang sudah dibuka.
CEKLEK..!! KREKEEEETTTT.
Pintu ke dua pun terbuka, walaupun di dalam sana terlihat sangat gelap. karena tak ada cahaya di dalam sana, tapi piyon masih bisa melihatnya remang-remang lewat cahaya dari ruang tengah. di dalam sana ia juga tidak mendapati apa-apa, selain ruangan kosong yang dindingnya sudah pada mengelupas. piyon pun menutup kembali pintu tersebut, dan berbalik badan menuju pintu ke tiga.
Tapi sayangnya saat piyon mau menuju pintu ke tiga, derap langkah kaki milik seseorang terdengar cepat menaiki anak tangga di bawah sana. sepertinya mau menuju ke atas dan semakin mendekat. Piyon pun kembali masuk ke pintu ke dua, untuk bersembunyi dulu dari pada dia harus ketahuan. Pintu sengaja tak ditutupnya dengan rapat, agar ia bisa melihat seseorang yang naik itu siapa.
Ternyata suara langkah kaki tadi adalah, suara langkah kaki si dukun yang hendak naik ke atas. setelah dukun itu naik ke atas, dukun itu mulai menarik lagi tangga yang tadi menuju ke bawah. Pantas saja tadi pas piyon berada di ruang belakang rumah besar itu, tidak menemukan jalan atau ruangan lagi. ternyata atap rumah besar itu adalah jalan untuk menuju ke atas sana, dengan menaiki sebuah anak tangga yang hanya bisa diturunkan oleh seseorang yang berada diatas sana.
Jantung piyon pun langsung berdegup sangat kencang, keringat dingin mulai mengucur deras membasahi kening dan telapak tangannya. karena tiba-tiba saja dukun itu datang, menuju ke arah tempat dimana piyon berada. piyon pun mulai sedikit panik dan kebingungan, karena dia memikirkan kini ia harus bersembunyi lagi dimana? soalnya ruangan itu kosong melompong. Akhirnya ia bersembunyi tepat dibelakang pintu, sembari berdoa agar dirinya tak ketahuan oleh dukun itu.
__ADS_1
"Perasaan sebelum saya ke bawah, pintu ini tadi ketutup deh. terus siapa yang ngebuka ya? "gumam si dukun sambil membuka pintu untuk memastikan.
Krekeeeeettttt
Terdengar suara pintu yang rada sedikit seret, mulai di buka setengahnya saja.
"Gak ada siapa-siapa..!! Mmm... mungkin tadi saya yang udah buka pintu ini kali ya.? tapi saya lupa menutupnya kembali. maklumlah namanya juga sudah tua, jadi kaya begini deh. hehehe "gumamnya terkekeh sambil menutup rapat pintu itu.
Untuk kedua kalinya piyon selamat lagi, karena hampir saja selalu ketahuan. setelah tidak terdengar lagi suara dari si dukun tua tadi, piyon pun memberanikan membuka pintu itu. saat sudah dipastikan keadaan aman, ia mulai keluar dari dalam pintu ke dua. keadaan ruangan tengah sekarang sudah sangat gelap. mungkin karena dukun tua itu, sudah mematikan lampunya. dia pun berjalan menuju pintu ke tiga, yang berada lurus dekat tangga.
Piyon sangat yakin sekali, kalau pintu ke tiga adalah jalan masuk ke dalam sana. soalnya saat ia bersembunyi tadi di pintu ke dua, ia gak mendengar pintu pertama dibuka yang berada tepat disamping pintu ke dua. sudah di pastikan kalau dukun itu masuk ke pintu ke tiga, karena letaknya sedikit jauh dari ke dua pintu tersebut.
CEKLEK...!!
Pintu ke tiga perlahan terbuka, kali ini di dalamnya nampak sebuah kamar tidur plus perlengkapan kamar yang lainnya. piyon mulai mencari-cari sesuatu yang ada disekitar kamar tersebut, tapi tetap gak ada apa-apa di sana. akhirnya piyon pun merasa prustasi, piyon juga langsung berteriak-teriak, karena ia merasa kesal tak bisa menemukan jalan didalam sana.
"Pergi sana...!! Jangan ganggu saya..!!"Hardiknya kepada arwah anjani.
"Mas piyon.... Ini aku Jani mas.."ucapnya dengan nada lembut khas anjani.
Tapi piyon masih belum yakin, ia masih saja bersembunyi dikolong ranjang.
"Ka.. ka.. mu bukan Jani ku...!! Kamu itu udah persis kaya zombi, suka makan daging dan darah. tolong pergi jauh-jauh deh sana, jangan makan saya ya. karena daging saya gak enak tau! rasanya pait dan alot tau, nanti dagingnya bisa nyelip di gigi kamu dan nyangkut di usus."Tutur piyon gemetaran, dan masih tetap berada di kolong ranjang sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.
"Mas, ini beneran aku, Jani.!! yang tadi mas liat itu bukan aku, tapi iblis yang disuruh menyerupai ku.!! "Balasnya.
__ADS_1
"Maksudmu.?" Tanya piyon penasaran.
"Makanya mas keluar dulu dari bawah sana."Pinta Anjani.
Akhirnya piyon pun menurut keluar dari kolong ranjang, walaupun dirinya masih merasa was-was dan takut sekali.
"Jani...!! ini beneran kamu, kan..?? "Tanya piyon yang dijawab dengan anggukan.
Anjani meminta kepada piyon agar segera mengambil jenazahnya dari tangan devin, setelah itu segera menguburkannya dengan layak. karena ia merasa kesakitan dan tersiksa sekali, soalnya jenazahnya itu sudah diawetkan oleh devin. dengan menggunakan formalin dan ramuan dari sang dukun. selain itu alat-alat medis yang masih menempel di tubuhnya, juga membuat ia makin terasa tersakiti.
Piyon yang mendengar penuturan anjani barusan, semakin menjadi kesal kepada si Devin. ia makin sangat bersemangat, ingin segera membongkar kebusukan devin dan segera memenjarakannya.
"Tapi Jan, Mas terjebak di ruangan ini.!! Mas juga gak bisa masuk ke dalam sana, karena mas gak berhasil menemukan jalan masuknya."ujarnya kesal.
"Mas tinggal dorong saja rak lemari buku itu, dibelakang sana ada tangga menuju ke atas, untuk masuk ke dalam rumah besar ini."ucap anjani menunjuk rak besar yang berisikan buku-buku tua.
"Cepat mas, tolong bantu aku. karena kalau sedikit saja terlambat, setelah iblis itu membunuh dua orang pemuda yang waktu itu melecehkan dan membunuhku. iblis itu akan merasuk dan menguasai tubuh ku nantinya, kalau sampai semua itu terjadi aku akan menjadi sosok manusia setengah arwah yang sangat jahat dan haus darah."Imbuhnya sambil terisak dan menghilang.
"Tenang Jan, mas akan berusaha membantu mu secepatnya."seru piyon.
Piyon pun langsung berlari menuju rak lemari buku dan mendorongnya, benar saja disana nampak sebuah anak tangga menuju lantai atas.
****
Bersambung.....
__ADS_1
Bantu dukungannya ya, raiders semuanya. dengan cara, vote, like, and sisipkan komentar serunya... thanks...😊😊