
Bab 50
"Devin, kamu gak papa kan nak!" ujar pak sobri seraya memegang pundak Devin.
"Bapak! maafkan kesalahan devin ya pak, karena selama ini devin sudah menjadi anak yang tak berbakti dan durhaka." ucap Devin terisak lalu mencium punggung tangan pak sobri dan memeluk erat bapaknya.
"Sebelum kamu meminta maaf pun, bapak sudah memaafkan mu nak! " balas pak sobri sambil mengusap air mata yang membanjiri netranya di dalam pelukan devin.
Akhirnya bapak dan anak yang telah lama berpisah karena kesalah pahaman itu, kini masalah diantara mereka seolah terlupakan. pak sobri pun sangat bahagia sekali, setelah bertahun-tahun lamanya devin membencinya.
Bahkan selama ini devin tak mau menyentuh bapaknya itu sama sekali, hari ini devin memeluk bapaknya itu dengan penuh kasih sayang. sungguh bahagia yang tak ternilai, hanya ucapan syukur dalam hati yang pak sobri terus lontarkan atas kebahagiaan nya.
"Ya Tuhan, terimakasih atas segala anugrah dan keberkahan yang kau berikan kepadaku." terimakasih juga ya tuhan, engkau telah menyembuhkan anak ku kembali." batin pak sobri tak henti-hentinya bersyukur sambil terus mendekap erat Devin.
Dokter wike beserta perawat yang menyaksikan kebahagiaan itu, mereka pun ikut terbawa suasana sampai bebarengan menitikan butiran-butiran kristal yang membasahi pipi mereka.
*****
Tibalah anjani di salah satu ruangan yang tak kalah bagusnya, dengan ruangan kamar yang ia masuki tadi saat mengintip.
__ADS_1
Di dalam ruangan itu ada seorang perempuan yang sudah sangat tua sekali, terlihat dari kulitnya yang mengkriput serta rambutnya yang panjang terurai sudah memutih semua.
Perempuan tua itu sedang tertidur pulas di ranjang besinya, dengan beralaskan kasur yang dilapisi karpet berwarna hijau. ya namanya sudah tua renta pasti kalau ia pup atau pipis asal aja, makanya kasurnya di lapisi karpet agar tidak cepat kotor dan basah.
"Akhirnya kamu kembali juga Jan." ucap Ki Romo sambil memijit-mijit kaki perempuan itu.
"Ibu, ini aku kenalkan calonku pada ibu! soalnya Karto Jum'at lusa mau menikah lagi, buk. Karto minta restu ibu ya. " ucap Karto sambil menggandeng anjani ke hadapan ibu tua itu.
Namun saat ibu itu membuka kedua matanya, saat ia melihat anjani di hadapannya. ibu itu langsung melotot tajam dan ketakutan, lantas ibu tua itu pun langsung bangun dari tidurnya dan berteriak-teriak.
"Pergi kau dari sini, Pergi..!" pekik ibu tua itu sambil mundur ke ujung ranjangnya.
"Buk, ibu kenapa?" tanya Karto dan juga ki romo kebingungan.
"Buk saya bukan setan! saya ini anjani, calon menantu ibu." kata anjani mendekati ibu itu.
"Jangan mendekat! dasar kau setan jahat, pergi kau dari sini." hardik ibu itu sambil melempari anjani dengan bantal dan benda-benda yang berada di dekatnya.
"anjani lebih baik kau keluar dulu, nanti kalau ibu sudah tenang baru kau masuk." titah Ki romo sambil memegangi tubuh tua ibunya yang sedari tadi terus mengamuk.
__ADS_1
"Karto! cepat kau panggil dokter, sana! bilang kalau ibu mengamuk." ucap Ki Romo dan Karto pun langsung beranjak.
"Hayo keluar dulu Jan." ajak Karto sambil menggandeng anjani keluar.
"Kamu tunggu di sini, ingat jangan pergi kemana-mana! tetap disini." ucap Karto sedikit di tegaskan dan ia pun langsung berlari untuk memanggil dokter.
"Kenapa ibu bang karto bilang aku setan ya? terus Kuntilanak Eyke dikamar mandi, dia juga bilang aku sebangsa dia." apa maksud ini semua sih, aku ko jadi bingung begini." racau batin anjani memikirkan perkataan ibu dan Kuntilanak kamar mandi tadi.
Dokter pun datang bersama dua orang perawat, ke dua orang perawat tadi memegangi tangan dan kaki ibu itu. dengan cepat dokter laki-laki bertubuh tinggi itu pun menyuntikan obat penenang, di tangan ibu tua yang mengamuk tadi. semenit kemudian ibunya Karto dan Ki Romo yang ternyata bernama asih itu, langsung terlihat tenang dan mulai tertidur nyenyak.
"Kenapa ibu asih mendadak mengamuk seperti itu! padahal sebelumnya ia tidak pernah mengamuk seperti ini, saya mohon sekali. tolong ya kepada bapak-bapak, jangan sampai membuat ibu asih tertekan atau ketakutan." cetus dokter tinggi itu memberikan nasihat.
"Iya dok! kami gak akan membuat ibu asih, seperti tadi lagi." balas Ki Romo.
"Ya sudah, lagian sekarang ibu asih sudah tenang ko. saya permisi dulu, ya." ucap dokter itu melangkah pergi keluar.
Namun saat dokter tinggi itu keluar dari ruangan Bu asih, ia sempat berpapasan dengan anjani yang sedang berada di luar ruangan. dokter itu menatap tajam ke arah anjani, yang kala itu sedang duduk di bangku depan.
Bersambung.....
__ADS_1
Selalu mengingatkan! Jangan lupa vote dan like babnya setelah membaca ceritanya. dan jangan lupa berikan komentar positif nya, agar author makin semangat melanjutkan ceritanya.
apalagi kalau di kasih hadiah, makin cemungutz deh..😁😁😁