
Bab 33
Pagi harinya....
Seperti biasanya pagi-pagi sekali bu hani sudah bersiap-siap, untuk menuju warung makannya, yang berada di pinggiran jalan desa. kali ini bu hani pergi ke warungnya, hanya bersama jana adiknya anjani. soalnya pak anung suaminya, sedang sibuk mengurusi kerbau-kerbau ternaknya yang tiba-tiba saja mati tadi pagi.
Bu hani pun mulai mendorong gerobak kayunya, yang berisikan bahan-bahan makanan yang akan di jual di warung makanan nya nanti. mereka berdua mulai menyusuri jalanan kampung yang agak sedikit becek, karena terkena sisa hujan semalam yang mengguyur kampung nya.
Terlihat dari tanah yang menempel tebal di roda ban karet gerobaknya, walaupun agak sedikit kewalahan, bu hani akhirnya bisa melajukan juga gerobak kayunya.
Kala itu bu hani melewati sekumpulan ibu-ibu yang sedang berbelanja sayur, di sebuah warung yang berdindingkan anyaman bambu. bu hani menangkap pembicaraan salah seorang ibu berbadan gendut, yang tengah membicarakan almarhumah anaknya yaitu anjani.
"Eh, bu ibu." masa semalem pas saya lagi bikin kue di dapur. saya denger ada suara orang lagi nangis dibelakang rumah saya. Eh, pas saya coba cek keluar. mau tau gak siapa yang nangis tadi? ternyata itu anjani, bu ibu. sekarang dia udah jadi setan Kuntilanak.!!" seloroh bu gembi, sosok ibu berbadan gendut dengan logat maduranya.
"Iya bener, apa yang dibilang bu gembi barusan. saya juga sama semalem denger ko suara tangisannya, Iihh... serem banget tau, malah suaranya itu ada diatas genteng lagi."timpal bu rasmi bergidik.
"Bener banget tuh, apa yang udah dibilang bu gembi dan bu rasmi.!! anjani sekarang udah jadi setan Kuntilanak, si iman semalem di bikin klenger di tengah kuburan. tadi pagi, suamiku cerita pas pulang dari masjid. "Imbuh Bu Ani.
"Ih serem ya, sekarang kampung kita jadi gak aman, ada arwah penasaran gentayangan." Bu Imas menambahkan sembari menjejerkan dagangannya ke atas meja kayu yang panjang.
"Namanya juga mati dengan cara gak wajar, pantaslah anjani jadi arwah penasaran."timpal Bu gembi meperjelas kata-katanya tadi.
Bu Hani yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka, seketika langsung meneteskan bulir-bulir bening dikedua pipinya. Ia merasa sangat sedih, karena anaknya yang sudah meninggal malah jadi pembicaraan warga kampungnya.
"Bu..!! Jangan di dengar omongan mereka, Ka anjani gak mungkin jadi arwah penasaran, apalagi jadi setan. "Ucap Jana mencoba menenangkan ibunya.
"Iya, Jan. hayo kita jalan lagi." sahut bu hani sambil tersenyum getir.
Bu hani pun terus saja melajukan gerobaknya, sembari hatinya menangis dan meracau sedih. sesampainya bu hani dan jana di warungnya. ternyata disana sudah ada si Karto juragan licik itu, ia datang bersama dengan kedua centeng setianya, yaitu Yono dan dorman.
__ADS_1
"Hani... Hani..!! kau ternyata masih nekad saja ya berjualan. setelah apa yang terjadi diwarungmu seminggu yang lalu."katanya sembari menyeringai memutari bu hani.
"Apa urusanmu, Karto..!! terserah aku lah mau berjualan atau tidak. toh ini warungku, bukan warungmu..!!"sahut ketus bu hani tak memperdulikan lalu mulai membuka warungnya.
"Percuma kau bertahan dengan usahamu ini hani, lagi pula tak akan ada lagi orang yang mau membeli daganganmu !!" lebih baik kau tutup saja dan kau jual warungmu ini sama aku. Ha..ha..ha.."ucap Karto diiringi tawa liciknya.
"Sampai kapan pun, aku gak akan pernah mau menjual warung ini Karto. apalagi menjualnya padamu. Lebih baik sekarang kau pergi dari sini, atau aku teriakin kau maling, pergiiii..!!."Bentak bu hani.
"Santai dong hani, santai..!! jangan kau usir aku dengan cara seperti itu, Kau dan anakmu ternyata sama saja, selalu menggemaskan. sayangnya saja anakmu itu kini sudah mati. "Ujarnya.
"Pergi karto..!!!" pergi....!!"pekik bu hani berteriak-teriak kesal.
Akhirnya Karto dan kedua centengnya pun pergi meninggalkan warung Bu Hani, tapi sebelum pergi betul dari sana, karto sempat menatap tajam ke arah warung bu hani. seolah karto mempunyai rencana jahat, yang akan dilakukannya.
*****
Seminggu yang lalu....
Saat itu ada seorang pembeli seorang laki-laki asing, gak tau asalnya dimana. karena bu hani baru kali ini melihatnya. sosok laki-laki itu memesan nasi liwet komplit beserta segelas kopi, laki-laki itu pun langsung menyantap makanan yang dipesannya dengan lahap sekali.
Saat sedang menyantap nasi liwet buatan bu hani, tiba-tiba saja laki-laki itu tersedak dan batuk-batuk. lalu laki-laki asing itu malah ambruk ke tanah dan tubuhnya mulai kejang-kejang. kemudian dari mulutnya yang menganga lebar, malah mengeluarkan cairan busa.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu panik dan ketakutan, mereka langsung memuntahkan semua makanan yang mereka sudah telan. Keadaan diwarung bu hani pun mulai memanas, saat Karto beserta kedua centengnya datang.
Mereka malah menghasut warga yang sedang berada disitu, katanya kalau makanan yang dijual bu hani memakai bahan-bahan yang berbahaya. makanya orang yang tadi langsung kejang, karena keracunan makanan yang bu hani jual.
Bu hani yang kala itu terpojok akibat diserbu wloleh warga, mencoba membela diri sebisanya. Ia menjelaskan kepada para warga, kalau ia selalu berjualan jujur, memasak makananya juga dengan benar. bahan-bahannya pun asli dan murni tanpa ada kandungan sesuatu yang berbahaya.
Ada salah satu warga yang melaporkan kejadian tersebut ke polisi, setelah di periksa di ruangan lab. memang benar di dalam makanan yang bu hani masak, ada mengandung zat berbahaya, makanya sampai membuat orang itu keracunan.
__ADS_1
Alhamdulillah nya bu hani tidak di pidanakan atas kejadian itu, ia cuma diminta warungnya untuk tutup sementara waktu. dan kalau berjualan lagi jangan pakai bahan-bahan yang mengandung zat berbahaya.
*****
Di belakang rumahnya pak anung sedang kebingungan, sambil ia memperhatikan kerbau-kerbaunya yang semakin lama ternak kerbaunya semakin habis saja. gak tau kenapa sebabnya, setiap hari ada saja kerbaunya yang hilang atau mati secara
tiba-tiba. waktu itu ia sempat berjaga-jaga di kandang kerbaunya semalaman, tapi anehnya kerbaunya masih saja selalu menghilang atau mati.
Entah perbuatan manusia atau apalah, tapi ia mencurigai bandot tua si Karto.
****
Akibat kejadian jenazah anjani dirumah besar devin waktu itu. perkebunan dan pabrik teh milik juragan sobri, yang dulu dikelola oleh devin. kini sudah tutup dan tak beroperasi lagi. Juragan sobri terlihat menghilang, dan sudah tak menampakan batang hidungnya lagi di desa Mekarsari.
Pabrik teh miliknya pun terbengkalai, serta perkebunannya pun tak terurus. devin beserta pak sobri, hilang bagaikan ditelan bumi saja.
****
Malam ini pak anung sengaja ingin berjaga-jaga di belakang rumahnya, untuk menunggui kandang kerbaunya. soalnya kali ini kerbau pak anung, sudah tinggal tersisa tiga ekor lagi, dia gak mau kalau harus sampai kerbau miliknya itu habis.
Pak anung juga merasa penasaran sekali, ingin menemukan pelakunya siapa. kalau memang benar kecurigaannya nanti,kalau kerbau-kerbau nya itu mati dan hilang karena di curi atau sengaja dibunuh oleh seseorang yang sirik kepadanya.
"Sial...!!" si anung malah berjaga di kandangnya lagi. "umpat seorang laki-laki mengenakan sarung sebagai penutup kepala dan wajahnya agar tak dikenali.
"Tenang aja dut, kita lakuin lagi cara kaya kemarin."ahut temanya yang bertubuh kurus dengan menyeringai jahat.
****
Bersambung.....
__ADS_1
Salam penasaran selalu....🌹🌹🌹