
Bab 32
🌠🌠🌠🌠🌠ðŸŒ
Malam harinya di desa Mekarsari, jalanan kampung terlihat sangat senyap dan sepi. jangankan ada manusia yang lewat, kodok dan tikus pun tak menampakkan batang hidungnya malam ini. dikarenakan mungkin dua jam yang lalu, hujan telah turun membasahi bumi desa, sehingga warga merasa malas untuk keluar rumah.
Tapi tidak sebaliknya dengan si iman, bujang lapuk yang sudah berumur kepala empat itu. malam ini si iman malah keluar rumah, untuk menemui pujaan hatinya. yaitu neng rohimah yang aduhai, yang rumahnya terletak di kampung sebelah.
Dengan berjalan kaki, iman menyusuri jalanan kampung yang agak sedikit becek, akibat terkena guyuran hujan yang lebat.
Kebetulan juga rumahnya neng Rohimah itu berada di desa Kedaung, bersebelahan dengan desa Mekarsari. tapi kalau ingin menuju ke desa Kedaung, maka kita harus melewati area pemakaman umum desa yang cukup lumayan panjang.
Sebenarnya iman itu tipe orang yang penakut, tapi demi sang pujaan hatinya ia mencoba menjadi orang yang pemberani untuk malam ini saja. dengan langkah yang agak lebih di cepatkan, iman mulai memasuki area pemakaman kampung.
Matanya terus tertuju ke arah depan, ia juga tak mau menengok kemanapun. kakinya terus diayunkan mengikuti gerak tangannya yang seirama. sesampainya iman dipertengahan makam, tiba-tiba saja langkahnya mendadak terhenti.
Kala itu, iman melihat di sebuah makam baru dan masih terlihat basah tanahnya. makam itu mengeluarkan kepulan asap putih tebal dari atas pusaranya. bukan itu saja yang dilihatnya, makam itu juga mulai bergetar dan terbelah. seketika saja dari tanah yang terbelah, muncul sosok perempuan mengenakan daster putih.
Sontak saja iman langsung ketakutan dan ia langsung mengambil langkah seribu, ia pun langsung berlari tunggang langgang. tetapi apa yang terjadi kepada iman? ternyata eh ternyata, sedari tadi iman hanya berlarian ditempatnya nya saja. sampai sosok perempuan mengenakan daster putih itu, telah hadir dihadapannya.
Sosok perempuan itu menyeringai kepada iman dengan menampakan wajah seramnya, alhasil iman pun langsung ambruk dan tak sadarkan diri.
Lantas sosok perempuan itu pun langsung terbang, menuju ke arah perkebunan teh sembari menyuarakan tawanya yang seram dan melengking.
Kiiikkk....Kiiikkk...Kiikkk
__ADS_1
Sosok itu juga terbang menuju ke sebuah bangunan rumah, yang baru saja selesai di bangun. lantas sosok itu mulai masuk dan menembus ke dalam rumah menuju ke sebuah ruangan kamar. di dalam sana terdapat sepasang suami-isteri yang sedang tertidur sangat pulas, sosok itu pun mendekat ke arah perempuan yang matanya terlihat agak sembab mungkin karena kebanyakan menangis.
"Ibu...!! jangan menangis terus, Jani jadi sedih melihat keadaan ibu seperti ini."Lirih suaranya disertai isakan tangisnya yang pilu, membuat merinding siapapun yang kala itu sedang mendengarnya.
Sosok arwah perempuan itu mengusap air mata, yang tiba-tiba keluar dari sudut netra perempuan yang sedang tertidur. kemudian arwah itu berpindah ke sebelah ibu tadi, menuju laki-laki disampingnya
"Bapak tenang saja, ya, karena Jani tak akan membiarkan orang itu bahagia."ucap tegas sosok arwah itu kemudian ia pergi.
*****
Di dalam sebuah ruangan kamar rumah sakit kota, disana terdapat seorang pria muda yang tengah terbaring lemah dengan luka perban dikepalanya. tiba-tiba saja saat pria muda itu sedang tertidur pulas, mendadak ia langsung terbangun seperti orang yang tersedak saja.
Uhuuukk
Saat ia mencoba membuka kedua matanya, pemandangan tak mengenakan menyajikan penglihatan pertamanya. nampak sosok seorang gadis berwajah pucat pasi, sedang menduduki tubuhnya. tangan pucatnya mulai mendarat di leher pemuda itu, sehingga membuat pemuda iti semakin sulit untuk bernafas.
Ternyata sosok perempuan yang sedang menduduki tubuh feri adalah anjani, kala itu dia datang ingin memperingatkan feri. agar feri mau mengakui semua perbuatan bejatnya itu kepada polisi, serta mulai mempertanggung jawabkan yang ia telah lakukan bersama ketiga temannya.
Feri pun berteriak-teriak dan memanggil perawat, yang sedang berjaga di depan ruang perawatannya. selain itu feri juga meminta kepada perawat disana, agar segera memanggil polisi ke ruangannya.
Setelah polisi datang ke ruangannya, feri pun menceritakan semua perbuatannya. yang telah ia lakukan bersama ke tiga teman-temannya waktu itu, karena ke tiga temanya sudah meninggal semuanya.
Akhirnya feri sendirilah, yang kini harus menanggung semua hukumannya. Polisi pun langsung membawa feri untuk di pindahkan ke sel tahanan, walaupun kondisi feri saat itu masih belum stabil betul. tapi menurut pihak kepolisian, feri masih bisa dirawat dan di jaga di dalam ruang perawatan penjara.
Sosok arwah anjani yang melihat pemandangan itu, seraya tersenyum manis, kemudian menghilang begitu saja.
__ADS_1
****
Iman pun akhirnya tersadar juga dari pingsannya, ternyata dia tak sadarkan diri sudah hampir delapan jam lamanya. bahkan tak ada satu orang pun yang membangunkan dirinya saat itu, mungkin orang-orang masih malas keluar rumah dan melewati area pemakaman. kala itu suasana desa sudah memasuki subuh.
Setelah terkumpul semua nyawa iman dari kesadarannya, ia langsung berlarian kocar-kacir. sembari ia terus menyerukan sesuatu, yang membuat semua orang sedang berada di dalam masjid menjadi gempar. saat itu kebetulan sebagian dari laki-laki warga desa Mekarsari, mereka sedang melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid kampung.
"Tolong....!! ada Kuntilanak. Kuntilanak...!!anjani jadi Kuntilanak!"seru iman sembari ia terus berlari tak tentu arah
Seseorang pun langsung menghadang, untuk memberhentikan larinya si iman yang tak tentu arahnya. saat itu nafas iman begitu berat, bajunya juga terlihat basah kuyup, karena dipenuhi keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.
"Istighfar... Man.. istighfar..!!"kata seorang bapak tua berjanggut putih.
"Coba ikutin saya man, astagfirullah haladzim."ajak bapak tua berjanggut putih tadi, agar iman mengikuti ucapnya.
"Astagfirullah haladzim..." Balas iman.
"Nah, gitu dong. istighfar..!!"kata bapak tua itu lagi yang ternyata kiyai yang sedang memimpin shalat di masjid.
Setelah iman merasa sedikit lebih tenang, ia pun mulai menceritakan apa yang telah menimpanya tadi. Iman bercerita kepada semua yang ada disana, kalau kuburan anjani terbelah dan keluar sosok anjani yang menjadi hantu kuntilanak.
Semua orang yang kala itu mendengar penuturan iman, mereka semua langsung ketakutan. kalau memang benar anjani telah menjadi sosok kuntilanak. secara anjani kan matinya dengan mengenaskan, otomatis pasti arwahnya juga penasaran. semua orang yang kala itu mendengarnya berpendapat sama seperti itu.
Tapi tak sebaliknya dengan pak anung, yang kala itu juga sedang berada di masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Ia malah terlihat bahagia mendengar penuturan warga, kalau anjani telah bangkit menjadi arwah kuntilanak.
****
__ADS_1
Bersambung.....
Salam penasaran selalu...🌹🌹🌹