Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 47


__ADS_3

Bab 47


Atas mimpinya semalam anjani mulai resah,


ia berusaha mencari tahu tentang semuanya. anjani pun langsung bergegas menuju kamar mandi, tak lupa ia melihat sebentar ke dalam kamar bapak angkatnya itu.


Ternyata Ki Romo tidak ada di kamarnya. "apa mungkin bapak di ruangan kerjanya? "ucap batin anjani dan ia langsung mengecek, ke ruangan ujung dekat halaman belakang.


Anjani pun mengintip sedikit lewat lubang kunci ruangan itu, ternyata bapak angkatnya lagi semedi di kamarnya. karena bapaknya itu kalau lagi semedi, pasti lama sekali bahkan seharian.


Makanya anjani langsung buru-buru mandi dan bergegas pergi, soalnya hari ini ia akan menemui keluarga anak laki-laki tempo hari itu. ia ingin menanyakan perihal mimpi anehnya semalam, ia yakin mimpi itu pasti ada kaitannya dengan dirinya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, anjani pun langsung buru-buru melangkah pergi. tak lupa ia membawa tas slempang bermotif bunga ke sayangan nya, yang ia pernah temukan di bekas rumah yang terbakar di kampung sebelah.


Tapi saat ia baru membuka pintu kamarnya,


Ki Romo sudah hadir dan berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Mau kemana kamu?" tanya Ki Romo sambil bertolak di ambang pintu.


"Bapak! Bu..Bu.. bukanya bapak lagi semedi ya ?"jawab anjani gugup.


"Iya, tapi sudah selesai! sekarang kamu mau kemana, pagi-pagi begini sudah rapih." ucap Ki Romo sambil memperhatikan anjani dari atas sampai ke bawah.


"A..aku, mau ke pasar pak! mau belanja, soalnya perlengkapan dapur sudah pada habis semua." ucapnya sedikit gugup.


"Kamu gak boleh ke pasar! hari ini, kita akan pergi ke kota, bapak dan Karto ingin menjenguk ibunya bapak di rumah sakit! jadi kamu harus ikut juga, biar ibu tau kalau kamu calon nya Karto." ujar Ki Romo menjelaskan.


"Ibu! emang bapak masih punya ibu ya pak? tapi ko, aku gak pernah melihatnya." tanya anjani sedikit terkejut.


Gimana ia tidak terkejut selama ini, anjani tidak pernah melihat dan di beri tahu kalau bapaknya itu masih mempunyai ibu. namun hari ini bapaknya berkata, akan menjenguk ibunya.


Walaupun ia bingung dan merasa aneh, karena anjani tidak pernah mengingat sedikit pun tentang ibu bapak nya itu. tapi ia tetap menurut dan ikut serta ke kota, dari pada bapaknya itu marah dan menghukumnya lagi.


TIN..... Tiiiiinnnn.....

__ADS_1


Suara klakson mobil terdengar sangat keras memekan telinga, seolah orang itu sengaja membunyikan nya agar orang di dalam keluar.


"KARTO....!!! " hardik Ki Romo sambil berlari.


"Hahahaha, ku fikir kau tak mendengar nya Ki! habisnya tadi ku panggil tidak menyahut, ya sudah ku panggil dengan klakson saja." ucap Karto sambil terkekeh.


"Kau fikir telingaku ini tuli apa! sampai kau bunyikan kencang klakson mobil segala, HAH! yang ada telinga ku ini bisa tuli, karena suara mobil butut mu ini." tukas Ki Romo kesal sambil memukul mobil pw milik Karto.


"Hey! jangan kau pukul mobil ku, bisa lecet nanti." masih mending aku punya mobil, dari pada kau!" ucap Karto meledek.


Akhirnya mereka berdua pun saling beradu mulut, bahkan kalau tidak di pisahkan akan makin panjang dan merembet.


Karena tak mau melihat pertikaian mereka terlalu lama, lantas anjani pun langsung mencoba memisahkan Kaka beradik yang terlihat aneh itu. gimana gak aneh coba, sebentar mereka akur, sebentar kemudian mereka berantem dan musuhan lagi.


"HENTIKAN..!! jangan berantem terus dong! katanya mau ke kota, nanti keburu ke siangan. bukanya kata bapak perjalanan nya jauh?" ucap anjani melerai mereka sambil berdiri di tengah mereka dengan tangan yang direntangkan.


Akhirnya mereka berdua pun mereda, lalu melanjutkan perjalanan menuju kota.


Sepanjang perjalanan anjani masih bingung tentang pernikahan nya itu, lagian mana boleh sih ponakan di nikahkan dengan pamannya. belum lagi ia bingung memikirkan itu, kini kebingungan nya bertambah lagi saat ia mengingat mimpinya semalam.


"Ibu, bapak!" panggil anjani dari balik kaca mobil.


"Stop Jani! bapak kan sudah bilang, kau tidak boleh berhubungan dengan mereka." pekik Ki romo melototi anjani.


"Tapi kenapa pak? aku tidak boleh mendekati atau bertemu mereka? apa salah mereka?" tanya anjani tanpa sadar bulir kristal bening terjatuh di sudut netranya.


Tiiiiiinnnnn!!!!


Karto pun membunyikan klakson mobilnya, selain itu ia pun menyenggol sedikit Bu hani dengan bamper mobilnya. alhasil Bu Hani pun terjatuh dan barang dagangannya, yang berupa makanan matang jatuh semua ke tanah.


"Hey! kalau jalan ke pinggir dong, ngalangin orang lewat saja. bisa lecet mobilku, kalau menyenggol orang susah seperti kalian." ucap Karto meledek sambil nongol di jendela.


"Karto? brengsek kau ya, sudah salah malah menyalahkan orang lain." lihat istriku terluka, dagangannya rusak! kau harus tanggung jawab." tutur pak anung sembari menarik kerah baju Karto.


"Pak sudah! tidak usah di ladeni, ibu tidak papa ko." panggil Bu hani sambil memegangi lutut dan telapak tangannya yang berdarah akibat terjatuh karena di senggol mobil Karto tadi.

__ADS_1


"Haaahhh!! pekik pak anung kesal.


Ia pun melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Karto, lalu menolong istrinya. karena anjani tak tega melihat kedua orang tua itu, ia mencoba diam-diam keluar dari mobil.


"Anjani! tetap duduk di bangku mu, jangan coba untuk keluar." titah Ki romo kala mendapati anjani yang hendak keluar mobil.


"Tapi pak, mereka kasian! kenapa sih bang? selalu saja menyakiti mereka?" tanya anjani.


"Karena aku suka, melihat mereka menderita!" jawab Karto sambil melajukan mobilnya.


Anjani pun hanya bisa memperhatikan kedua orang tua itu, dari dalam mobilnya yang perlahan mulai menjauh meninggalkan mereka.


*****


Perjalanan dari desa Sangiang tanjung menuju kota memakan waktu, hampir 4 jam perjalanan. akhirnya mereka sampai juga di tempat yang di tuju, yaitu RUMAH SAKIT JIWA SEHAT WARAS.


"Rumah sakit jiwa? " gumam anjani bingung.


"Hayo turun Jan!" ucap Ki Romo sambil membuka pintu mobil.


"Pak! kenapa kita kesini? "tanya anjani.


"Menjenguk ibunya bapak!" jawab Ki Romo singkat.


"Berarti ibu bapak dan bang karto gila?" ceplosnya.


"Jangan kau bilang ibuku gila! ibu ku itu sedang sakit, jadi dia harus di rawat. sekali lagi kau bilang seperti itu, awas kau!" cetus Karto kesal disertai matanya yang melotot tajam.


Anjani pun langsung terdiam dan mengikuti kedua laki-laki di hadapannya itu, namun saat perjalanan menuju ruang perawatan ibu dari Karto dan ki Romo anjani kebelet pipis.


Bersambung.......


Sudah Baca kan lanjutan nya...😊😊 jangan lupa di like bab nya, lalu vote dan tinggalkan jejak komentar positif nya.


jangan lupa juga masukin novel ini di list favorit kalian, agar bisa tau kalau bab kelanjutan nya sudah di buat.

__ADS_1


__ADS_2