
Bab 100
Maaf ya readers semuanya, kalau othor up nya suka kelamaan. soalnya akhir-akhir ini banyak kesibukan dan lambung othor seringkali kumat. semoga readers setia dendam arwah anjani, tetap setia dan gak pernah jemu ataupun bosan menunggu kelanjutan ceritanya...😊😊😊
Happy Reading.....
****
Setelah tak mendapati ibunya di dalam kamar, anjani pun segera kembali lagi ke ruang tamu. tempat di mana terdapat mang nano dan teh siti yang sedang menangis sambil menunggui jenazah jana yang sudah terbujur kaku.
"Mang, ibu tidak ada di kamarnya! sebenarnya apa yang telah terjadi di sini mang? bukan kah mamang tadi sedang berada di teras depan? masa mamang tidak mengetahui apapun yang telah terjadi di sini."oceh anjani dengan sederet pertanyaan saat ia kembali ke ruang tamu.
"Demi tuhan neng! mamang tidak tahu apa-apa tentang semua kejadian ini. setelah kepergian pak anung dan den devin meronda, mamang langsung berjaga-jaga di teras depan. tapi gak tahu kenapa tiba-tiba mamang ngantuk sekali, habis itu mamang tiduran di sofa dan gak tahu apa-apa lagi. sampai mendengar neng menjerit mamang baru kebangun."papar mang nano menjelaskan secara detail apa yang terjadi.
"Kamu ini gimana sih kang! makanya kalau tidur itu jangan suka ngebo, jadi kaya gini kan." timpal siti memarahi suaminya.
"Kamu juga sama beb, tidurnya juga ngebo. buktinya aja, kita semua udah heboh kamu baru bangun."sahut mang nano dan akhirnya siti pun terdiam karena merasa bersalah juga.
"Sudah, sudah! kalian berdua jangan pada ribut begitu dong mang, teh. lebih baik kalian berdua bantu saya, tolong panggil tetangga terdekat sini dan urus segera jenazah jana." titah anjani dan mang nano beserta teh siti pun segera berlari keluar memanggil tetangga terdekat.
"Kasihan sekali adik ku jana, sampai saat ini aku belum bisa membahagiakannya. aku juga belum sempat mewujudkan keinginannya, tapi dia malah sudah pergi. hiks.. hiks." anjani terisak seraya mengelap darah yang masih mengalir di kepala jana yang terlihat berlubang.
Para tetangga terdekat rumahnya, yang telah di panggil oleh siti dan mang nano pun langsung terkejut saat melihat kondisi jana. setelah itu mereka pun segera mengurus jenazah jana.
"Mang! aku mau pergi dulu, mencari mas devin dan juga bapak. karena mereka harus tau apa yang telah terjadi dengan jana, lalu segera mencari ibu ku yang telah menghilang."pamit anjani seraya bangkit dari duduknya selesai ia membantu para tetangga mengkafani jana.
"Lebih baik mamang saja neng, yang mencari pak anung dan den devin. soalnya ini sudah tengah malam, takutnya nanti ada apa-apa di jalan." sahut mang nano mencegah anjani.
"Tak apa mang, lebih baik saya saja. mamang tetap disini membantu teh siti dan yang lainnya, saya pamit dulu ya mang."balas anjani lalu pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
Anjani pun segera berlari untuk mencari suami dan bapaknya yang sedang berkeliling ronda.
****
"Pak RT, pak anung tunggu!" panggil azril, niko dan ozi sambil berlari menghampiri kelompok pak anung dengan nafas yang tak beraturan.
"Kalian bertiga ini kenapa? sini duduk dulu. nah minum dulu nih, untung saja saya tadi bawa air dari rumah." ujar pak RT sudin lalu menyuruh mereka bertiga untuk duduk, serta memberikan sebotol air mineral. lalu segera diminum oleh mereka bertiga secara bergantian.
"Alhamdulillah, lega juga."cetus mereka bertiga seraya mengusap dada masing-masing.
"Nah, sekarang kalian bertiga cerita ada apa? sampai membuat kalian lari-lari begitu." tanya pak RT sudin menelisik.
"Oh ya, devin kemana? bukankah tadi bersama kalian berem.." omongan pak anung terpotong karena melihat ke empat pemuda tadi, kini hanya tinggal bertiga orang saja yang datang.
"Terus satu lagi teman kalian itu kemana juga?" imbuh pak anung bertanya kepada ketiga pemuda itu sambil matanya menelisik kesana kemari seolah sedang mencari-cari sesuatu.
"Iya bener! seno sama devin kemana?" timpal pak RT sudin ikut menanyai mereka bertiga.
"Apa! hutan kinarang!"sahut pak anung dan pak RT sudin dengan sangat terkejut.
"Ko bisa sih sampai mereka berdua masuk ke dalam sana?" tolong di ceritakan yang jelas loh, ko!" ucap pak RT sudin.
"Gini loh pak RT ceritanya. tadi itu saat kami berlima sedang keliling ronda. tiba-tiba saja muncul sesosok makhluk seperti manusia tapi berbulu lebat, udah gitu serem lagi wujudnya. karena den devin beranggapan kalau makhluk itulah yang telah membunuh pak barnas kemarin, makanya den devin mengejar makhluk itu yang ternyata malah berlari dan masuk ke dalam hutan kinarang. eh si seno malah ikut-ikutan juga mengejar den devin, masuk ke sana. "papar niko menjelaskan semuanya.
"Terus gimana ini pak RT! menantu saya masuk ke dalam hutan kinarang, apakah kita semua bisa menolongnya?"kata pak anung dengan raut wajah yang mulai terlihat panik.
"Saya sendiri bingung pak anung harus berbuat apa! kayanya saya beserta warga desa lainnya, gak bisa dan gak sanggup deh, kalau harus masuk ke dalam hutan kinarang. pak anung tahukan, kalau hutan kinarang itu adalah hutan kematian! " ujar pak RT sudin.
"Ya, saya tahu itu pak RT! tapi menantu saya harus segera di tolong pak. kasihan anak saya anjani, kalau suaminya menghilang begitu saja. kalau kalian semua tidak berani! biar saya sendiri yang masuk ke dalam hutan kinarang untuk menyelamatkan devin dan seno." tegas pak anung sambil ia melangkah pergi.
__ADS_1
"Percuma pak anung! yang ada nanti den devin tak kembali pak anung juga. terus bagaimana nasib istri dan anak-anak bapak nantinya. serta nasib pabrik dan perkebunan teh bapak, kalau bapak dan den devin menghilang."seru azril.
Pak anung pun menghentikan langkahnya, saat mendengar penuturan azril tadi. ia juga mulai berfikir lagi dan menimbang-nimbang, semua perkataan pemuda desa yang bernama azril itu.
Disaat pak anung dan warga semuanya, sedang dilanda kebingungan dan kepanikan. dikarenakan seno dan devin yang sudah masuk ke dalam hutan kinarang. Eh kelompok si iman juga ikutan datang, dengan membawa kabar berita yang lebih mengejutkan mereka semua.
"Pak RT, semuanya! syukurlah, untung saja kita ketemu disini." seru goman dengan nafas yang ngos-ngosan, karena keberatan menggendong si iman yang masih saja pingsan.
"Tadi si azril, niko dan ozi yang lari-lari. nah sekarang kalian berempat! sebenarnya ada apa sih? terus si iman kenapa lagi, pake di gendong segala." tanya RT sudin menelisik.
"Si iman kampret pingsan pak! gara-gara si judin tuh, tadi nakut-nakutin dia pake pocong boongan."sahut si beni kesal.
"Lagian kalian bertiga ini kurang kerjaan banget sih! di suruh ngeronda merikasa keadaan desa, ini malah main pocong-pocongan lagi."oceh pak RT sudin seraya menoyor ketiganya.
"Aduh sakit pak RT! lagian yang main-main mah judin tuh, kita berdua mah enggak."sahut beni dan goman secara berbarengan.
"Saya juga sebenarnya gak niat main-main pak! tapi, tadi saya nemuin kain kafan ini di semak ilalang sana dekat pohon beringin tua. sudah gitu saya nemuain banyak sesajen lagi disana." tutur judin menjelaskan seraya menunjukan kain kafan yang di pegangnya.
"Emangnya dimana kamu menemukan sesajen itu judin?" tanya uda yuda.
"Kan saya tadi udah bilang uda! kalau sesajen itu, saya temukan di semak ilalang dekat pohon beringin tua." jelas goman dengan nada bicara yang sedikit di perlambat.
Maklumlah soalnya uda yuda itu orangnya rada rada sedikit bolot, terus Lola dalam menangkap sinyal omongan dari seseorang.
"Apa jangan-jangan, ada orang yang menganut ilmu hitam di desa ini pak?" kata pak anung.
"Bisa jadi pak anung! hayo lebih baik kita lihat ke sana, kita buktikan omongan si judin tadi." ajak pak RT sudin lalu di ikuti semuanya.
Akhirnya rombongan pak anung, beserta pak RT sudin dan azril, niko juga ozi, mulai menuju ke tempat yang di ceritakan oleh judin tadi. sedangkan beni dan goman yang masih saja menggendong iman di punggungnya, karena si iman belum sadarkan diri juga, mereka bertiga pun segera kembali ke pos ronda.
__ADS_1
****
Bersambung.....