Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 34


__ADS_3

Bab 34


Kedua orang laki-laki yang mengintip pak anung tadi, kini mereka sudah kembali dengan membawa wadah yang berisikan dupa yang sudah dibakar. aroma dupa itu sangat wangi sekali, menentramkan fikiran siapa saja yang menghirupnya.


Aroma dupa itu pun langsung menyentuh Indra penciuman pak anung, semakin lama pak anung menghirup aroma wangi relaksasi dupa tersebut. semakin terasa berat juga, ia menopang kedua kelopak matanya agar tidak cepat terpejam.


Kini netranya sudah tidak mampu lagi menahan kantuknya, lantas ia pun langsung terjerembab di bale-bale saung yang berada di belakang rumahnya itu.


"Yesss...!! Berhasil."seru kedua lelaki itu sambil berjingkrak-jingkrak dan bertos ria.


Kedua laki-laki itu pun membuka penutup hidung yang dipakainya tadi, soalnya kalau mereka gak pakai penutup. pastinya mereka juga akan kelenger, seperti pak anung yang sudah terkapar di bale-bale. karena ia sudah menghirup aroma dupa, yang bikin orang menjadi relaksasi.


"Ayo dut, kita bawa kerbaunya ke juragan.


pasti juragan seneng dan kita bakalan dapet duit lagi." Ujar si kurus sambil membuka kandang kerbau pak anung.


Mereka berdua pun langsung mengambil salah satu kerbau milik pak anung, tapi saat mereka hendak membawa kerbau itu keluar dari kandangnya. munculah sosok perempuan dengan wajah menyeramkan, dengan mengenakan daster lusuhnya. sosok itu berdiri sambil merentangkan kedua tangannya, yang tertutupi oleh baju gombrang yang dikenakannya.


"Kembalikan kerbau bapa ku, atau kalian akan menerima akibatnya."tunjuk anjani menatap tajam ke arah dua laki-laki tersebut, kedua matanya juga merah menyala menampakkan amarahnya.


"Ka... ka.. kau. a.. a.. anjani.!! "ucap kompak mereka berdua.


"Cepat kembalikan....!!! "pekik anjani.


"I..i..iya... anjani, kami kembalikan."kata kompak mereka berdua sembari menaruh kerbaunya lagi ke tempat semula.

__ADS_1


"Sekarang pergilah kalian berdua dari sini. Cepat Pergi...!! "pekiknya lagi sehingga membuat kayu-kayu dan dedaunan kering yang berada di sana berterbangan.


Mereka berdua pun langsung berlari tunggang langgang, karena ketakutan melihat sosok arwah anjani yang sangat menyeramkan. mereka berdua pun terus berlari menembus pekatnya malam, dan menembus rimbunnya hutan Pinus. akhirnya kedua laki-laki itu pun sampai juga di sebuah rumah kayu, dengan nafas berat yang tersengal-sengal.


HOS.. HOS.. HOS...


"Ternyata arwah anjani serem juga ya Yon,?"Cetus pria berbadan gendut sembari ia duduk bersandar di dinding kayu rumah tersebut.


"Iya Dut. berarti bener ya apa kata para warga, kalau anjani sekarang jadi setan Kuntilanak." balas si kurus yang ternyata bernama Yono.


"Gimana ini yon, malem ini kita udah gagal mencuri kerbau pak anung. semua ini gara-gara arwah anjani. gua takut nih nemuin juragan, pasti juragan bakalan ngamuk dan marah besar."Ujar pria gendut yang bernama dorman dengan wajah yang mulai panik.


"Maka dari itu Dut. gue lebih takut ketemu juragan, ketimbang ketemu arwah anjani yang serem kaya tadi. karena sereman juragan Dut kalau lagi marah.." sahutnya.


"Apa yang barusan kalian bilang? Jadi, kalian samakan aku dengan setan perempuan itu, Hah..!! brengsek kalian berdua, dasar anak buah yang gak berguna.!!"Karto muncul dari dalam rumah kayu itu, langsung menghajar kedua centengnya yang masih terlihat lelah setelah berlarian cukup jauh tadi.


"Iya juragan, kami belum siap mati muda. karena kami berdua kan belum kawin juragan. kami berdua pengen merasakan yang namanya kawin dulu."timpal dorman sembari ia nyengir kuda.


"Kawin...kawin...terus difikirin !! kerbau pak anung tuh banyak, kalian bisa kawini kerbaunya sepuasnya."Hardik karto sambil bertolak pinggang.


"Masa iya kita berdua harus kawin sama kerbau juragan, ya sama gadis lah juragan, yang cantik dan bahenol."Celoteh yono mencoba mencairkan suasana.


"Ah.. sudahlah..!! besok kita atur rencana lagi. sekarang gua mau balik dulu udah ngantuk banget." Ujar Karto sembari melangkah pergi.


Juragan Karto pun meninggalkan yono dan dorman, yang sudah babak belur akibat pukulannya tadi yang bertubi-tubi. begitulah perangai si karto terhadap anak buahnya, kalau mereka berdua gagal melaksanakan perintahnya, pasti selalu habis dihajar oleh si karto.

__ADS_1


Padahal kalau mereka berdua mau melawan, mereka bisa melawannya dan menghabisi si Karto yang sudah tua bangka itu. tapi yono dan dorman tak pernah melakukan itu semua, diniatkan pun mereka tidak akan pernah mau.


Karena bagi mereka, juragan Karto itu udah dianggap seperti orangtuanya sendiri. Kalau bukan karena kebaikan Karto dulu, yang sudah mengangkat mereka berdua dari jalanan. bahkan berbaik hati memberikan tempat tinggal untuk mereka berdua, mungkin nasib mereka akan terus jadi gelandangan.


karena setelah kematian kedua orangtuanya yono dan dorman, yang ternyata Kaka beradik itu. mereka hidup terlantar dijalanan, tidak punya, uang rumah apalagi saudara.


****


Di dalam sebuah ruangan berukuran 3x3 m², dengan perlengkapan isi kamar yang sangat komplit. nampak seorang pria muda, tengah asik bercengkrama dengan sebuah boneka Teddy bearnya yang berwarna coklat tua. dari pancaran mata pria tersebut, menampakan kesedihan yang begitu amat mendalam.


"Dek...!! kamu nanti kalau sudah besar mau jadi apa ? Hhmm... gimana kalau kamu jadi paranormal aja ya dek, biar kamu bisa tahu apa yang akan terjadi kepadamu nanti. agar bisa mencegah dan menyelamatkan diri. "Lontar pria itu dengan tatapan tajam ke arah bonekanya.


"Apa..!! Kamu gak mau jadi paranormal, terus kamu mau jadi seorang pengusaha aja seperti ayah."Ujarnya sambil mendekatkan telinganya ke mulut boneka Teddy bear nya, seolah boneka itu telah menyahuti pembicaraannya.


"Kamu gak boleh jadi seorang pengusaha, apalagi seperti ayah. dia itu orang jahat dek..!! dia juga gak pernah perduli sama kita dek. "hardiknya sembari turun dari ranjang besinya dan berdiri tepat di depan jendela yang berteralis.


Setelah selang beberapa menit, pria muda itu berbalik dan tersenyum manis kepada boneka Teddy bear itu.


"Maafin Kaka ya, dek. tadi kakak udah bentak kamu. ayo dek kita nari lagi, kaya waktu kamu mau pensi di acara sekolahmu dulu."selorohnya sambil mengambil boneka Teddy bearnya.


Pria muda itu lantas berputar-putar dan menari-nari, bersama dengan boneka teddy bearnya yang berukuran besar itu.


Dari balik pintu yang terbuka sedikit, nampak seorang pria tua berkumis tipis. sedang memandangi pemuda itu, dengan meneteskan bulir-bulir bening yang mulai membasahi di kedua pipinya.


****

__ADS_1


Bersambung.....


Salam Penasaran Selalu....🌹🌹🌹


__ADS_2