
Bab 108
Happy Reading....😚😚😚
"Gimana Nung? Apa kamu sudah membaca semua isi surat itu? Nah sekarang kamu sudah tau kan, apa yang harus kamu lakukan? jadi silahkan kau angkat kaki mu dari rumahku ini.
"Oh begini saja, mumpung aku sekarang lagi berbaik hati nih. kamu masih boleh ko tinggal dirumah ini. tapi dengan satu syarat, yaitu kau harus mau menjadi kacung ku. Hahahaha." kata pak handoko tertawa terbahak-bahak di sahuti oleh ketiga anak buahnya.
"Sebenarnya kau itu siapa handoko? apa maksud dan tujuan mu membuat hancur keluargaku."tegas pak anung.
"Pasti surat ini palsu kan? lagi pula lebih baik aku ini jadi gelandangan di luar sana, dari pada aku harus menjadi kacung mu. Cuih...!"Kata pak anung sambil meludah.
"Surat itu sangat asli ko anung, apa kau tak bisa melihatnya! di atas materai itu ada cap jempol si sobri ayahnya devin, jadi mana mungkinlah surat itu palsu."balas pak handoko menunjuk ke surat yang sedang dipegang pak anung.
"Ternyata kau itu masih sama saja seperti dulu, sangat sombong sekali anung! karena kau sudah berani menolak kebaikan ku, akan ku pastikan hidup mu nanti akan jauh lebih menderita dari pada saat ini anung!"ancam pak handoko sambil menatap tajam ke pak anung.
"Aku tak takut sama sekali dengan semua ancaman mu itu handoko! kita lihat saja siapa yang akan lebih dulu menderita setelah ini, kau atau aku."tunjuk pak anung.
"Hahaha, berani kau menantang ku anung! Oh ya, kau mau tau juga kan kalau aku ini siapa?"kata pak handoko sambil menyeringai dan memutari pak anung yang sedang berdiri.
"Siapa kau sebenarnya bajingan! cepat katakan, jangan kau kebanyakan bertele-tele. Hmm, pasti kau juga sudah mencelakai pak sobri kan? hanya demi mendapatkan semua kekayaan nya? Cepat katakan apa yang kau telah lakukan kepadanya? Katakan!"bentak pak anung sambil mengangkat kerah pak handoko.
Ketiga anak buah pak handoko pun segera menghampiri pak anung, karena mereka merasa bos mereka sedang terancam bahaya. namun pak handoko mencegah mereka bertiga agar tidak menolong pak handoko.
"Sabar anung, sabar..! Ini aku juga mau cerita ko, jadi lepaskan dulu dong tanganmu itu."kata pak handoko santai.
"Cepat katakan!"bentak pak anung.
"Apa kau masih ingat anung, dengan kejadian 35 tahun yang lalu. saat itu ada seorang pria yatim piatu yang mencintai seorang gadis dengan sangat tulus. namun karena kerakusan orangtua si gadis, akhirnya cinta si pria yatim piatu pun jadi terhambat. sang gadis yang di cintai nya itu malah dijodohkan oleh bapaknya dengan seorang pria kaya. hingga kejadian yang sangat menyakitkan pun terjadi, si pria yatim piatu itu bergulat untuk memperebutkan si gadis tercinta sampai pria yatim piatu itu terjatuh ke dalam jurang."papar pak handoko.
"Kau, YANTO!"ucap pak anung pelan.
"Ya, ini aku YANTO anung! apa kabarnya anung, ternyata kau sekarang baru mengingatku."
"Ini tak mungkin, saat itu kau terjatuh ke dalam jurang kasih yanto."gumam pak anung sambil geleng-geleng tak percaya.
"Memang aku terjatuh kedalam jurang kasih, tapi sayangnya nasib baik masih melindungi ku saat itu. dan saat ini aku ada di hadapan mu anung." Kata pak handoko tersenyum jahat.
"Tapi wajah mu itu, bukan seperti yanto yang ku kenal dulu. pasti kau sudah mengada ngada kan?"kata pak anung tak percaya.
__ADS_1
"Aku ini memang yanto yang kau kenal anung. di saat aku terjatuh dari jurang kasih, tubuhku langsung menghantam pepohonan besar dan dahan-dahan kering. sehingga menimbulkan luka-luka di sekujur tubuhku, termasuk wajahku juga sampai hancur tak dapat dikenali oleh siapapun. untungnya saja aku masih bernyawa pada saat itu, lalu ada seorang gadis baik yang menolongku. dia membawaku ke rumahnya, setelah itu dia membawa ku ke rumah sakit di kota, lalu dia juga meminta sang dokter untuk mengoperasi wajahku. sebenarnya aku masih bernyawa pada saat itu, tapi sayangnya semua anggota tubuhku tidak bisa digerakkan.
"Aku melihat gadis itu sangat baik dan tulus dalam merawatku, hingga 1 bulan kemudian aku bisa menggerakkan tubuhku kembali dan aku dinyatakan sembuh. asal kau tau saja anung, ternyata gadis yang menolongku itu adalah seorang gadis yang kaya raya. dan lebih beruntung nya lagi, ternyata dia juga mencintai aku anung. hmm, tapi sayangnya aku tidak mencintainya sedikit pun. karena aku cintanya cuma sama hani seorang, kekasihku tercinta.
Pak anung yang mendengar penuturan cerita pak handoko, berkali-kali ia mengeratkan kepalan tangannya. karena ia ingin sekali meninju wajahnya, tapi pak anung mencoba untuk sabar dan menahan emosinya itu.
"Karena aku gak mau menyia-nyiakan kesempatan langka dan berharga, akhirnya aku berpura-pura saja menerima cinta si gadis kaya itu semata-mata aku hanya ingin menguasai hartanya. Karena fikiran ku saat itu, kalau aku kaya pasti bapaknya hani yang mata duitan itu pasti akan menerima aku jadi menantunya.
"Sampai suatu hari aku nekat mengorbankan gadis yang sudah menolongku dari kematian dan sangat mencintaiku. itu semua kulakukan hanya demi menguasai hartanya dan merebut hani kembali. tapi ternyata semua itu hanyalah sia-sia saja, saat aku kembali lagi ke desa mekarsari untuk menemui hani. ternyata hani sudah menikah dengan mu bahkan mempunyai anak denganmu! yaitu anak jadi-jadian mu, si arwah sialan itu."tunjuk pak handoko ke arah pak anung sambil menatap tajam.
"Saat itu hatiku hancur dan sangat sakit sekali. sehingga aku berniat hanya satu tujuan hidupku, yaitu ingin menghancurkan hidupmu anung dan membuatmu selalu menderita. karena dirimu lah dulu cintaku dengan hani terpisahkan dan hidupku jadi menderita. kau telah merebut hani dariku, kau juga telah memisahkan aku dengan hani. asal kau tahu saja anung, sampai saat ini aku belum menikah dengan wanita manapun. itu semua karena aku hanya mencintai hani seorang, tak ada lagi wanita yang bisa meluluhkan hatiku selain hani my lovely ku tercinta."pak handoko terkekeh sendiri dan berjongkok memegangi kepalanya.
"Lagi pula aku tidak pernah berniat sedikit pun untuk merebut hani darimu yanto. dulu hani sendirilah yang mulai mencintaiku, saat kau dinyatakan meninggal waktu terjatuh ke dalam jurang kasih. aku juga tidak tahu kalau ternyata kau itu masih hidup, kalau aku tahu kau masih hidup saat itu aku juga akan mundur demi kebahagiaan hani. kenapa segitu bencinya kau padaku handoko? sampai kau membuat hidupku dan keluarga ku jadi seperti ini."ujar pak anung lalu mengusap punggung pak handoko yang sedang berjongkok.
"Apa yang kau rasakan sekarang ini tidak sebanding dengan apa yang ku rasakan dahulu anung!" bentak pak handoko langsung bangkit dan mengamuk memukuli dirinya sendiri dihadapan pak anung.
"Sekarang kau katakan saja yanto dimana anak ku anjani dan devin? pasti ini semua juga ulahmu kan?" tanya pak anung.
"Anak dan menantu mu itu sudah aku serahkan kepada sang agung Wil wo, sang penguasa hutan kematian. jadi kau jangan harap mereka kembali lagi kepada mu. hahahah... asal kau tau anung, anak laki-laki mu itu mati. karena akulah yang telah membunuhnya, soalnya dia sudah berani menghalangi ku untuk membawa kekasih ku pergi." Papar Pak handoko.
"Brengsek kau yanto! kau ini memang sudah gila dan tak punya hati. ternyata kau itu lebih gila dan jahat dari saudaramu itu."kata pak anung sembari menarik kerah baju pak handoko hendak meninjunya.
"Maksud kau si karto goblok itu kan! sekarang dia sudah menjadi kacung ku bukan saudara ku lagi. lagian dia juga dulu sama seperti mu sombong dan angkuh, mentang-mentang kaya raya selalu saja menganggap ku rendah. dan kenyataan nya sekarang, semua itu berbalik. kau dan dialah yang sekarang menjadi kacung rendahan.hahaha." maki pak handoko sambil melepaskan kasar tangan pak anung.
"Benar sekali ucapan mu, karto memang ada disini dan bekerja sama denganku. aku sudah membebaskannya dari penderitaan nya disana. tapi dengan syarat dia harus jadi kacung ku. dan sekarang dia sudah jadi kacung ku. kau mau tahu anung siapa yang sudah membunuh pak barnas secara keji? yang membunuhnya adalah karto, sekarang dia sudah aku rubah menjadi monster haus darah. Hahaha" jelas pak handoko sambil terbahak-bahak.
"Memang biadab kau Yanto! pak anung langsung meninju wajah pak handoko sehingga dari hidungnya mengeluarkan cairan darah.
"Sudahlah anung! lebih baik kau jadi kacung ku saja, sambil kau menyaksikan kemesraan ku dengan hani nantinya. atau kau mau ku tumbalkan saja ke sang agung wil wo, sama seperti kekasihku yang kaya raya dan baik hati itu, serta ketiga orang mahasiswa dari kota itu."ujar pak handoko sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya lalu menjilatinya.
"Jadi, ketiga mahasiswa kota itu menghilang akibat ulah kau juga?"tanya pak anung melotot.
"Yes, itu semua karena ulahku. soalnya aku telah membuat perjanjian dengan sang agung agar aku bisa menjadi kaya raya kuat dan sakti. jadi setiap sepuluh tahun sekali aku harus memberikan tumbal kepadanya, setelah aku mengorbankan gadis malang itu, gadis yang baik hati dan tulus telah menolongku. sayangnya aku tidak mencintainya aku cuma cinta sama hartanya saja. Jadi aku tumbalkan saja dia sebagai tumbal pertamaku, dari pada dia mengganggu semua rencana ku. lalu setelah 10 tahun berlalu aku membutuhkan tumbal lagi dan aku melihat mahasiswa kota itu lalu aku korbankan ketiga mahasiswa kota itu. dan sekarang 10 tahun telah datang lagi, jadi aku sengaja mengorbankan anaknya si sobri itu. Hahahaha."jelas pak handoko.
"Benar-benar brengsek, kau sudah gila yanto. akan ku laporkan perbuatan mu itu kepada pak RT dan kepolisian."ancam pak anung.
"Laporkan saja, aku tidak takut. lagian kau juga tidak punya bukti atas semua perbuatan ku itu. Kalau pak RT, hahahha dia RT yang rakus gak bakalan dia berani sama aku."sahut pak handoko dengan santai.
"Apa maksud mu! Jadi RT sudin juga bekerja sama dengan mu."
__ADS_1
"Yes, yes anung anda sangat betul.
"Sekarang kau mau pergi dari sini secara halus atau secara kasar? apa kau berubah fikiran mau tetap tinggal disini dan menjadi kacung ku!"
"Tak sudi aku, lebih baik aku menderita dari pada aku harus menjadi kacung mu.
"Lihat saja kau yanto, semua perbuatan jahat mu itu akan dapat balasannya."kata pak anung sambil berlalu pergi.
"Aku tak takut anung, karena aku ini orang yang sakti dan hebat. bahkan aku orang terkaya no 1 di desa ini. Hahahah."teriak pak handoko.
***
"Pak anung mau kemana? mamang ikut deh sama pak anung."kata mang nano mengejar pak anung.
"Gak tau mang mau kemana, yang jelas saya gak mau berurusan sama orang gila itu. ya sudah hayo mang kalau mau ikut, kita cepat pergi dari sini."kata pak anung lalu berjalan.
"Akang! akang mau kemana? kenapa ninggalin siti sih."panggil siti sambil berlari.
"Astaghfirullah akang lupa, ternyata kamu ketinggalan. maafin akang ya."kata mang nano sambil menciumi tangan siti.
"Hayo mang, siti kita cepat pergi dari sini."ajak pak anung.
"Maaf pak anung, siti sama kang nano mau tinggal disini saja."ujar siti.
"Neng apa maksud ucapan neng, kenapa kita harus tinggal disini. sekarang rumah den devin udah dikuasain si orang jahat, akang gak mau tinggal sama orang kaya gitu."sahut mang nano
"Tapi kang, neng sekarang kan lagi hamil. neng gak mau kalau harus jadi gelandangan, emang akang mau kalau anak kita nantinya terlantar karena hidup di jalanan. pak anung sekarang kan udah susah gak punya apa-apa, kalau kita masih tinggal disini dan jadi pembantu juragan handoko hidup kita masih terjamin dan gak susah-susah amat."timpal siti.
"Tapi neng dia itu kan orang jahat, udah bunuh banyak orang lagi. akang takut ih."kata mang nano sambil bergidik.
"Gak bakalan kang, kalau kita nurut sama dia kita pasti aman." balas siti sambil memegangi tangan mang nano.
"Tapi pak anung gimana, kasian juga dia neng. dia sekarang gak punya siapa-siapa lagi."kata mang nano.
"Ya sudah sekarang akang mau pilih neng dan calon anak kita, apa mau pilih pak anung pergi dari sini."balas siti sambil manyun.
"Ya pilih neng dan calon anak kitalah. ya sudah akang bilang dulu ya sama pak anung." Kata mang nano sambil menghampiri pak anung.
"Pak anung maaf atuh, kayanya saya dan Siti gak bisa ikut bapak. Karena...
__ADS_1
"Ya sudah gak papa mang, tinggallah saja kalian disana. jaga baik-baik calon anak mu ya. semoga kalian bahagia dan semoga kita bisa bertemu lagi. saya sudah dengar semuanya ko, saya pergi dulu ya."
Kata pak anung sambil tersenyum getir, lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan siti dan mang nano. sambil menyeka air mata yang perlahan berjatuhan di kedua pelupuk matanya.