
Bab 36
Yono pun segera berlari untuk menuju ke pintu keluar, karena saat itu ia mulai merasa sangat ketakutan. sayangnya sosok wanita mengenakan daster warna putih yang panjang, dengan menampakan wajah seramnya. kini tengah berdiri dan menghadang yono tepat di pintu keluar.
Walaupun keadaan di dalam warung bu hani, saat itu gelap gulita tanpa cahaya. tetapi yono masih bisa melihat dengan jelas, kalau wajah arwah itu sangatlah marah kepadanya. lantas sosok arwah itu mulai mendekat ke arah yono, sambil kedua tangan pucatnya seolah hendak mencekik lehernya. langkah yono pun perlahan mulai mundur secara teratur, untuk menghindari arwah tersebut.
"Ja.. jangan Jan..!! Gua cuma disuruh, ampuni gua Jan. Lepasin gua..!! gua janji deh gak bakalan ganggu keluarga lu lagi, kalau lu lepasin gua sekarang. "ratap yono berharap anjani melepaskannya.
Sosok anjani pun tak memperdulikan ratapan yono tadi, anjani malah semakin mendekat ke arah yono. sampai akhirnya yono terpojok juga tepat di sudut dapur bu hani. tangan anjani yang terus diarahkan ke depan, ditambah kuku-kuku di jarinya mulai keluar panjang sekali.
Setelah sampai di hadapan yono, anjani langsung mengangkat tubuh kurus yono tinggi ke udara, dengan menggunakan satu tangannya saja. lantas kedua kaki yono pun menggelinjang keras di udara. sampai akhirnya gerak kakinya berhenti, lalu nampak jelas kedua matanya yang melotot tajam dengan lidah yang terjulur keluar. lalu dihempaskan nya tubuh yono ke arah dorman, yang sedari tadi sedang menunggu yono berjaga diluar warung.
"Yono!! Lu kenapa yon, bangun dong yon. jangan tinggalin gue yon. huhu.. yono bangun!! "Jerit tangis dorman sambil meratapi jenazah yono dan sesekali mengguncang-guncangnya dengan keras.
"Hey Dorman..!! Lihat, Itu suatu peringatan untuk mu. Dan awas, kalau kalian berani ganggu keluarga ku lagi, kau dan bos mu itu akan merasakan seperti ini. bawa sekarang mayat saudara mu itu dari sini, cepat dorman.!! "hardik arwah anjani dengan sorot matanya yang tajam dan dipenuhi amarah yang memuncak.
Dorman pun langsung menggendong tubuh saudara nya itu, untuk menuju ke rumah juragan Karto. dengan langkah yang tergopoh-gopoh, ia berusaha menggendong jasad saudaranya itu.
Sesampainya dorman di rumah juragan Karto, bukannya Karto bersedih dan berduka atas kematian yono. Karto malah marah besar dan memaki dorman, karena si dorman telah gagal untuk menjalankan perintahnya, kini malahan membuat yono celaka dan meninggal dunia.
Sebenarnya di dalam lubuk hati si Karto yang keras bagaikan batu itu, ia merasa sangat sedih sekali melihat yono mati secepat itu. Ia sempat teringat saat pertama kali mengangkat yono dan juga dorman dari jalanan, kebetulan saat itu Karto sudah ditinggal istrinya meninggal.
Makanya karto mengangkat yono dan dorman dari jalanan, untuk menemaninya yang merasa kesepian sendiri di rumah. karena ditinggalkan oleh istri tercintanya meninggal dunia, kembali ke pangkuan sang maha pencipta alam semesta.
Saat-saat kebersamaan itu lah yang tak pernah bisa ia lupakan, namun ia tak mau menampakan kesedihan nya itu di hadapan dorman. karena bagi Karto, pantang seorang laki-laki bersedih apalagi menangis meratapi kepergian seseorang.
"Juragan.... Huhuhuhu..!! yon."Isak dorman sambil memangku jenazah yono, ia terus saja menangis meratapi saudaranya itu.
"Sudah diam kau dorman!! jangan kau jadi macam lelaki cengeng begitu, kita harus bales kematian yono.!! "ucap Karto sambil menampakan aura liciknya.
Lantas karto dan dorman pun, membawa mayat yono yang mulai kaku dengan menggunakan gerobak kayu. mereka berdua mulai berjalan di dalam kesunyian malam, saat mereka berdua tiba di pos ronda kampung. Karto langsung membunyikan sebuah kentongan yang menggantung di tihang sebuah saung, untuk membangunkan warga kampung.
Tong Tong Tong Tong
__ADS_1
Tak perlu menunggu waktu lama, warga pun mulai berdatangan ke pos ronda, termasuk RT Sudin pun datang kesana.
"Ada apa Karto!! kenapa tengah malam begini kamu membunyikan kentongan, memang apa yang terjadi?"tanya pak RT sudin, mewakili warga yang kebingungan.
"Lihat semuanya, yono anak buah ku sudah mati dibunuh Kuntilanak itu. arwah penasaran anak si anung dan hani."Karto berucap sambil menunjukan mayat yono yang berada di dalam gerobak kayu.
Warga pun berbarengan melihat kondisi mayat yono yang mengenaskan, dengan mata melotot dan lidah yang terjulur keluar. mereka semua pun bergidik ngeri melihatnya, bahkan sampai ada yang pingsan melihat kondisi mayat yono.
Karto pun mulai menghasut para warga, dengan kebohongan yang ia buat-buat sendiri. ia mengatakan kepada para warga dan RT sudin, kalau bu hani itu berjualan nasi liwetnya memakai daging dari tikus sawah yang sudah mati.
Kalau kerbaunya pak anung suka pada mati mendadak itu, karena buat di kasih makan ke arwah anjani. dengan cara anjani menghisap darah si kerbau sampai habis tak bersisa. itu semua dilakukanya karena pak anung dan bu hani tak mau kalau harus kehilangan anaknya.
Selain itu Karto juga menghasut para warga setempat, kalau kuburan anjani harus segera dibongkar. mayatnya harus segera di pindahkan ke tempat lain, yang penting jangan di pemakaman desa ini.
Menurut penjelasan Karto, agar arwahnya itu tidak mengganggu dan meneror lagi di kampungnya ini. akhirnya para warga pun termakan hasutan Karto dan berbondong-bondong untuk menuju rumah pak anung.
Tok Tok Tok Tok Tok
"Ah kelamaan pak RT!! "Karto langsung menggantikan pak RT sudin mengetuk rumahnya pak anung dengan kencangnya.
Dok..Dok..Dok..Dok..Dok
"Woy... anung keluar lu...!! buka pintunya, jangan pura-pura tidur aja..!!" teriak Karto dengan keras memanggil pak anung.
"Anung keluar... !! buruan woy keluar...!! ia pak anung cepetan dong, keluar....!! "warga bersorak riuh ikutan memanggil.
Pak anung dan bu hani yang saat itu baru saja terlelap, karena habis memasak nasi liwet untuk dijual di warungnya nanti pagi. mereka berdua pun langsung terbangun, karena suara berisik dan ramai dari depan rumahnya. Lantas mereka berdua pun bergegas turun dari ranjang besinya, menuju ke arah pintu depan rumahnya.
"Ada apa ini, kenapa malam-malam ramai di depan rumahku? "Tanya pak anung.
"Kita semua kemari, ingin membongkar kuburan anakmu anung. "Jawab Karto.
"Hal licik apa lagi, yang kau bakal lakukan kepada keluarga ku Karto. memangnya apa salah anak ku? hingga kau masih saja terus mengusiknya, padahal dia kan sudah meninggal. "tegas pak anung.
__ADS_1
"Salah anak mu itu telah membunuh anak buah ku. Lihat ini, yono anak buah ku sudah mati ditangan arwah anakmu yang bergentayangan"Karto menunjuk mayat yono yang tebaring di dalam gerobak.
"Apa kau sendiri yang melihatnya, kalau itu semua perbuatan arwah anak ku, anjani, Hah..!!"tunjuk pak anung.
"Aku memang tidak melihatnya sendiri, tapi dorman yang sudah melihatnya. Ngomong man, jangan mewek melulu lu..!! "Titah Karto sambil memukul dan menyeretnya ke depan pak anung.
"I..iya.. pak anung, yono memang mati ditangan arwah anjani.!! "ucap lirih dorman sambil menunduk.
"Tuh, warga semuanya dengarkan apa yang di bilang dorman tadi. kalau anjani anaknya si anung, sekarang sudah jadi arwah penasaran yang jahat. bahkan sudah sering meneror beberapa warga kampung, sekarang malah membunuh. apa kalian semua mau, kalau keluarga kalian nanti akan bernasib sama dengan yono.? "Koar Karto di depan para warga.
"Gak mau! gak! gak! "sorak sorai para warga menyahuti ucapan Karto.
"Maka dari itu, kita bongkar sekarang kuburan anjani.!! kita pindahkan dari makam desa..!! setuju gak para warga semuanya yang ada di sini."lontar Karto sambil mengangkat tangannya ke atas.
"Setuju! Setuju! ayo kita bongkar, ayo...!!!" kata para warga kompak.
"Tunggu warga semuanya.!! tolong jangan kalian salahkan anak saya, mungkin saja anak ku anjani membunuh yono karena ada sebabnya."hadang bu hani agar para warga tidak pergi untuk membongkar kuburan anaknya yang masih basah.
"Tolong, jangan bongkar kuburan anak saya, biarkan dia beristirahat dengan tenang. saya mohon, pak RT!! "ratap bu hani kepada pak RT dan warga sambil menangis dan bersimpuh di tanah.
"Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi bu hani, itu sudah keputusan semua warga. Karena memang akhir-akhir ini arwah anjani, sedikit mengganggu dan meneror warga."Tegas pak RT sudin menjelaskan.
"Sudah Buk!! biarkan saja kalau mereka semua memaksa, mau membongkar kuburan anak kita."sahut pak anung dengan santai sambil membangunkan istrinya itu yang masih terduduk ditanah.
Pak anung pun memandangi Karto dan warga dengan tatapan tajam, dan juga tarikan nafasnya yang besar.
Warga pun berbondong-bondong malam itu diiringi Karto yang memimpin, mereka semua membawa beberapa pacul dan obor untuk menerangi perjalanan mereka menuju pemakaman kampung.
****
Bersambung.......
Salam Penasaran Selalu....🌹🌹🌹
__ADS_1