Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 84


__ADS_3

Bab 84


Happy reading again


----------------------------------


"Papih... ada apa ko berisik sekali sih, jadi terganggu kan mimpi indah ku tadi. what..!! berantakan sekali ruangan kerja papih, apa yang telah terjadi disini pih?."pekik anabel matanya terbelalak dan mulutnya juga terbuka lebar, saat ia memasuki ruangan kerja ayahnya yang terlihat sangat berantakan.


"Maafkan papih ya, sudah mengganggu mimpi indah kamu sayang. Kalau ruangan ini jadi berantakan begini, tadi si banaspati marah sama papih. dia gak mau disuruh lagi, buat mencelakai devin dan keluarganya anjani."ujar pak handoko menjelaskan kepada anabel.


"Ko bisa pih, si banaspati menolak perintah papih. kan selama ini dia selalu takhluk sama papih, dan selalu menuruti apapun perintah dari papih."balas anabel sambil fikirannya menerawang.


"Papih juga gak tau, Bel." oh ya papih harus segera ke gudang nih, mau meminta tanda tangan si sobri lagi."cetus pak handoko kemudian dia langsung membuka setelan baju kerjanya yang berwarna serba hitam. lalu menggantungnya di paku ruangan kamar.


"Anabel ikut ya pih. soalnya, aku lagi kepengen maen setrum-setruman lagi sama Bu ningsih."rajuk anabel seraya menggelayuti pundak papihnya.


"Tapi kan ini sudah malam sekali, Bel."belum juga pak handoko melanjutkan ucapannya, anabel sudah memasang muka masamnya. sehingga pak handoko tak bisa menolak permintaan anabel." Ya sudah anabel boleh ikut papih."ajaknya.


"Asiikk...!! maen setrum-setruman lagi."kata anabel berjingkrak kegirangan.


Bapak dan anak itu pun akhirnya pergi bersama, mereka juga di kawal oleh empat orang bodyguard untuk menuju ke sebuah pabrik tua terbengkalai. pabrik yang sudah tak beroperasi lagi, lalu di ubah menjadi sebuah gudang penyimpanan bahan-bahan pabrik yang sudah tak terpakai, letak gudang itu juga jauh dari pemukiman warga, lebih tepatnya berada di tengah-tengah hutan.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lamanya, akhirnya mereka tiba juga di sebuah gudang tua. dari luar terlihat gudang itu seperti gudang tak terpakai, banyak kardus-kardus bekas dan karung-karung yang berjejer rapih menghalangi pintu masuk gudang.


Mobil yang dikendarai oleh bodyguard pak handoko pun, di parkir tepat disamping gudang yang gelap. lalu pak handoko, anabel dan bodyguard nya, mereka masuk lewat sebuah pintu kayu yang sengaja ditutupi banyak jerami. diatasnya juga di taruh kardus-kardus bekas, sehingga tak nampak ada sebuah pintu masuk menuju ke dalam gudang tak terpakai itu.


Mereka juga harus menuruni beberapa anak tangga yang curam, untuk menuju ke dalam gudang tersebut.


"Ronald, buka pintunya sekarang juga."titah pak handoko berteriak dan menggedor dari balik pintu besi.

__ADS_1


Sebuah pintu yang terbuat dari besi baja yang keras, kayanya peluru pun tak akan bisa menembus ke dinding pintu tersebut. entah untuk apa pak handoko membuat pintu seperti itu, mungkin sebagai tempat persembunyian dari penjajah kali.


Pintu pun secepatnya dibuka oleh Ronald, anak buah pak handoko yang menjaga gudang tersebut. secepatnya pak handoko pun masuk ke dalam ruangan di mana pak sobri disekap, sedangkan anabel dia segera berlari menuju ruangan bu ningsing. ruangan kamar yang sempit dan lumayan jauh, dari ruangan pak sobri di sekap di dalam gudang itu.


"Papih... aku langsung ke ruangan bu ningsih ya, aku sudah gak sabar."ucap anabel lalu berlari diikuti dua bodyguar.


"Ya sayang, maenya jangan lama-lama ya. soalnya kita kesini hanya sebentar saja."kata pak handoko sedikit berteriak karena anabel sudah berlari.


"Iya papih ku sayang."balas anabel berteriak juga sehingga menimbulkan suara yang bergema.


Sesampainya pak handoko diruangan pak sobri di sekap dan disiksa, ia langsung membangun kan pak sobri yang sedang tertidur pulas di kursi kayunya. posisi kaki dan tangannya masih terikat sangat kencang, serta kepalanya masih tertempel topi dari seng berwarna silver.


Kebetulan saat lampu di dalam gudang itu mendadak mati, sudah gitu si Ronald lama sekali membetulkannya. akhirnya pak handoko bosan karena nunggu terlalu lama, akhirnya pak handoko pun pulang ke rumahnya, dan meninggalkan pak sobri yang masih terikat di kursi listrik.


"Hey sobri..!! bangun kau, jangan tidur melulu kerjaannya. cepat kau tanda tangani berkas ini."kata pak handoko sambil memberikan map tersebut di atas pangkuan pak sobri, lalu dia membuka ikatan tangan pak sobri.


Namun pak sobri tak bergeming sama sekali, atas ucapan pak handoko tadi. ia masih saja terdiam dan membisu di kursi kayunya, dengan kepala yang terjatuh lemas ke samping pundak kirinya.


"Eh sobri..!! tadi gua kan udah bilang elo harus buruan bangun dan tandatangani berkas itu, bolot banget sih lo jadi orang."maki pak handoko kesal lalu menoyor kepala pak sobri sehingga ia jatuh tersungkur ke lantai pabrik yang masih tanah bersama dengan kursi kayu dan topi listrik terpakai dikepalanya.


Walaupun pak sobri sudah terjatuh dan tersungkur ke tanah, ia sama sekali tak mau bergerak sedikit pun. kini pak handoko pun mulai terlihat panik dan geram, lalu mencoba membangunkan pak sobri memakai kakinya.


"Sobri... bangun. sobri...."ucapnya lirih sambil menendang-nendang pak sobri dengan kakinya. tapi tetap saja tak ada jawaban dari mulut pak sobri.


"Ronald..!! coba kau bangunkan situa Bangka itu."panggil dan titah pak handoko kepada anak buahnya yang berjaga diluar ruangan pak sobri disekap.


Saat anak buahnya handoko menyentuh tubuh pak sobri, karena ia hendak membangunkannya. tubuh pak sobri sudah terasa kaku dan dingin, kemudian hembusan nafasnya juga tidak ada. detak jantungnya juga tak terdengar, bahkan denyut nadinya sudah tak terasa.


"Sepertinya bapak ini meninggal bos."ucap Ronald setelah memastikan keadaan pak sobri.

__ADS_1


"Apa meninggal!! ini gak mungkin."pekik pak handoko dengan mata terbelalak.


Pak handoko masih gak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, bahwa pak sobri sudah meninggal dunia sebelum ia menandatangani berkas pengalihan seluruh harta warisannya.


"Brengsek lu sobri, ngapain lu mati secepat ini sih. kan lu belum tandatangani berkas pengalihan semua harta lu."umpat pak handoko kesal.


Disaat pak handoko sedang kacau, bingung dan juga panik. anabel malah membuat keributan, dengan berteriak kencang sehingga membuatnya kesal.


"Papiiihh....!! papih...!! cepetan kesini."teriak anabel dengan kencang memanggil pak handoko.


Pak handoko pun langsung berlari menuju rauangan anabel, diikuti oleh Ronald. ternyata di ruangannya bu ningsih di sekap, kondisi bu ningsih juga sudah dalam keadaan tak bernyawa. matanya melotot dan mulutnya juga menganga. rambutnya kering, wajahnya menghitam.


"Ada apa sih, bel. kamu teriak-teriak begitu, bikin orang panik aja tau. gak tau apa papih lagi kebingungan."ucap pak handoko dengan nada tinggi.


"Papih lihat itu, Bu ningsih sudah mati. aku masuk keruangan ini dia sudah kaya begitu."tunjuk anabel ketakutan ke arah Bu ningsih terbaring di ranjang besi.


"Apa..!! ningsih juga mati, aduuhh... suami istri ini bikin aku banyak masalah aja deh ah."pak handoko kembali terbelalak matanya, ia juga memegangi kepalanya dan mengacak-acak rambutnya.


Akhirnya mayat pak sobri dan juga Bu ningsih pun, di kuburkan langsung di hutan belakang pabrik. sebelum pak sobri dikuburkan, jempol tangannya di tekan ke kotak tinta stempel berwarna biru, lalu jempol tangan pak sobri di tempelkan di atas sebuah kertas putih bermaterai.


Pak handoko pun tersenyum senang, saat berhasil mendapatkan apa yang dia mau. bahkan ia tak memperdulikan kematian sahabatnya itu, dengan teganya dia juga malah menyuruh anak buahnya. untuk menguburkan jasad pak sobri dan Bu ningsih dalam satu liang saja.


Ternyata pak sobri dan Bu ningsih bisa meninggal itu, karena terkena setruman listrik yang terlalu lama. pada saat listrik padam, pak handoko bahkan anabel lupa mencabut colokan atau stop kontak, yang menghubungkan ke tali-tali yang terikat di tubuh pak sobri dan juga Bu ningsih.


Sehingga pas listrik menyala lagi, listrik itu kembali terhubung ke pak sobri dan Bu ningsih. alhasil pak sobri dan Bu ningsih mati tersetrum, bahkan colokan atau stop kontaknya juga sampai meledak.


****


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2