Dendam Arwah Anjani

Dendam Arwah Anjani
Bab 53


__ADS_3

Bab 53


Karto dan ki romo pun mulai mengurusi kepulangan buk asih dari RSJ.SEHAT WARAS. tapi sayangnya, kali ini ibunya itu dibawa pulang bukan karena ibunya itu sudah sembuh dan sehat dari gangguan kejiwaannya, melainkan ibunya sudah meninggal dunia.


Hampir lima belas tahun lamanya buk asih di rawat disana, dalam waktu yang selama itu karto juga sering sekali mengunjungi ibunya. namun sayang usaha karto menyembuhkan ibunya selama itu tidak berhasil, kini ibunya malah pergi meninggalkan nya terlebih dahulu.


Selesai mengurus biaya administrasi serta surat-surat kepulangan, jenazah ibunya pun kini dimasukan ke dalam mobil ambulance untuk segera dibawa ke desa Mekarsari. karena karto ingin sekali memakamkan jenazah ibunya itu, tepat disamping makam bapaknya yang sudah terlebih dahulu berpulang meninggalkan nya.


"Gimana pak, apa kita bisa berangkat sekarang?"tanya sang sopir ambulance.


"Iya bisa ko, tapi tunggu kaka saya dulu ya, dia masih di dalam."jawab Karto.


"Baik pak! tapi tolong jangan kelamaan ya, soalnya perjalanan kita lumayan jauh takutnya nanti kemalaman di jalan."balas sang supir.


"Tuh dia kaka saya, mas. hayo kita bisa berangkat sekarang."ucap Karto.


Sang sopir pun langsung masuk ke dalam mobil ambulance, lalu menghidupkan mesin untuk memanaskannya sesaat sebelum jalan.


Dari arah loby rumah sakit, ki romo berlarian kecil menghampiri karto yang sedang berdiri menungguinya di parkiran. ekspresi wajahnya juga kelihatan sedikit bingung dan khawatir.


"Kenapa kau romo? wajahmu kelihatan pucat dan khawatir seperti itu."tanya karto menelisik kala ki romo sampai di hadapan nya.


"Anjani to! dia gak ada dimana-mana, dan lihat aku temukan ini di bawah ranjang ibu."ucap ki romo menunjuk kan sebuah paku hitam.


"Paku? ini kan...."karto menerawang.


"Itu paku yang ku tancapkan persis di kepala anjani, agar dulu ia menjadi manusia kembali. tapi kalau paku ini berada disini, berarti sekarang anjani sudah jadi kuntilanak lagi to. atau jangan-jangan dia juga yang sudah membunuh ibu."ujar ki romo berpendapat.

__ADS_1


"Ah mungkin sama aja kali ki pakunya, lagian paku kaya gitu kan banyak modelnya."ucap karto mencoba menenangkan.


"Gak to, aku gak mungkin salah! ini paku hanya aku yang punya, karena aku yang membuat nya sendiri dari tembaga hitam yang ku pipihkan dan ku bakar untuk menjadikan arwah anjani menjadi manusia waktu itu."bantah Ki Romo.


"Kalau emang benar ini paku yang tertancap di kepala anjani, lantas siapa yang mencabut nya. terus kenapa anjani harus membunuh ibu? apa salah ibu padanya?" aku masih belum percaya ki kalau memang anjani sudah jadi kuntilanak lagi, apalagi sampai membunuh ibu yang tak bersalah." ujar karto berpendapat.


"Aku juga gak tau to, aku sendiri juga bingung. semenjak kita kembali ke ruangan ibu, anjani sudah tidak terlihat kan. padahal waktu kita tinggal ibu masih biasa-biasa saja, anjani pun masih berada di dalam ruangan ibu dan tidak ada yang mencurigakan." balas Ki Romo.


"Coba kau bacai dia mantra, biasanya dia langsung datang dan menurut." titah karto.


"Sudah ku coba to, tetap tidak berhasil. lagian dia menurut saat paku ini masih tertancap di kepalanya, kalau sudah terlepas aku tidak bisa mengendalikan nya lagi."balas Ki Romo.


"Dukun macam apa kau! mana kesaktian mu dan kehebatan mu bertapa selama 5 tahun. percuma kau bertapa dan berguru selama itu, kalau masih bisa dikalahkan sama arwah kuntilanak seperti anjani."maki karto sembari mendorong tubuh ki romo hingga jatuh.


"Kau ini benar-benar ya, karto! dari dulu kau tak pernah berubah, selalu saja merendahkan dan mencaci diriku. sampai bapak dan ibu pun selalu memarahi ku, hanya karena mereka lebih membela dirimu di banding aku."racau batin Ki Romo sambil memanatap tajam ke arah Karto.


****


Kedua anak itu sedang berebut sebuah mainan, yang dibuat dari batang bambu yang sudah di lubangi. lalu di isikan sebuah peluru yang terbuat dari kertas kecil yang dibasahi dan dibulatkan, kemudian disodok menggunakan batang bambu yang di buat lebih kecil lagi.


Nama mainannya itu biasa di sebut pletokan bambu, atau bisa dibilang senapan tiruan. permainan tembak-tembakan di jaman dulu ini, memang sangat populer pada zamannya dan bisa membuat kamu lupa waktu saat sedang bermain karena saking serunya.


"Sudahlah Karto berikan sini!! lagian pletokan ini kan kepunyaan nya tama, jadi kau tidak berhak merebut nya apalagi memilikinya."lerai romo mencoba memisahkan perkelahian dan mengambil mainan pletokan dari tangan karto.


"Kaka macam apa sih kau ini! bukannya kau membela ku malah membelanya, apa pun yang aku inginkan harus selalu menjadi milik ku! jadi jangan kau coba untuk menghalangi aku."hardik karto mendorong romo hingga jatuh.


"Kau tidak boleh seperti itu Karto! aku jelas lebih membela tama dibanding kau, karena apa yang kau lakukan itu salah" ujar romo sambil ia bangkit dari jatuhnya di tanah.

__ADS_1


"Iya, benar apa kata romo barusan. ini mainan kepunyaan ku, jadi kau tak berhak sama sekali memilikinya."sahut tama menatap tajam Karto sambil membantu membangunkan romo.


"Beraninya kau bicara seperti itu padaku! dasar kau anak pengemis, baru punya mainan bambu saja pelitnya minta ampun. asal kau tau ya, kau dan juga kaka mu itu bisa makan tuh dari hasil mengemis dari bapa ku. jadi jangan kau pelit dan sombong kepada ku tama, atau lihat saja keluargamu akan mati kelaparan. kalau bapa ku memberhentikan ibu dan bapak mu bekerja dari kebun dan pabrik milik bapak ku."ancam karto kepada tama sambil menunjuk-nunjuk.


"Jaga ucapan mu karto!"hardik romo sambil menampar pipi kiri karto.


"Kau! beraninya kau menamparku, lihat saja kau romo akan ku adukan itu kepada ibu dan bapak."ucap Karto terisak lalu berlari pulang.


"Romo, kenapa kau membelaku, nanti kamu bisa kena hukuman bapak mu lagi."ujar tama.


"Gak papa ko tam, aku sudah terbiasa. lagian sekali-kali Karto harus ditegasin, biar tidak ngelunjak dan kurang ajar."ucap Ki Romo.


"Nih mainan mu, maaf ya atas kesalahan adik ku yang manja itu." kata Romo sambil memberikan mainan yang tadi di rebut Karto.


"Makasih ya Romo."kata tama.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya." ucap Romo lalu pergi meninggalkan tama.


Saat berjalan kembali pulang ke rumahnya, sebenarnya romo juga sangat takut sekali. kalau memang karto, benar-benar mengadukan perlakuannya tadi kepada kedua orangtuanya. selain romo bakal dihukum di kurung di gudang dan tidak dikasih makan, romo juga akan dipukuli oleh bapaknya dengan rotan apalagi sampai ketahuan menampar pipi Karto.


Dia juga bingung kenapa ibu bapaknya itu selalu tidak adil kepadanya, bahkan terlihat tidak menyayanginya sama sekali. apa pun yang di dahulukan selalu saja karto, bahkan karto di iizinkan bersekolah sampai tingkat tinggi. sedangkan romo hanya diperbolehkan bersekolah sampai SD saja, lalu setelah itu di suruh membantu bekerja di kebun bapaknya.


Sakit memang sangat menyakitkan perlakuan kedua orangtuanya kepadanya, tapi romo selalu ikhlas dan tidak pernah melawan. walaupun hatinya bersedih dan terluka tetapi ia harus menurut, biar bagaimana pun itu orangtuanya yang sudah merawatnya dan menjaganya.


****


Bersambung.......

__ADS_1


Seperti biasa tinggalkan jejaknya ya setelah membaca, dengan cara vote, like and komentar positif nya. apalagi kalau di kasih hadiah, hmm gimana gitu ya...😊😊😊


__ADS_2